KH Hasyim Asy’ari : Ulama, Pendiri Nahdlatul Ulama, Pendiri Ponpes Tebuireng

Hasyim Asy’ari dilahirkan pada hari Selasa Kliwon, tanggal 24 Dzulqa’dah 1827 H bertepatan dengan 14 Februari 1871 M. Kelahirannya berlangsung di kediaman kakeknya, Kiai Usman, di lingkungan Pondok Pesantren Gedang, sebuah dusun di Wilayah Tambakrejo Kecamatan Jombang. Ia adalah putra dari Kiai Asy’ari dan Nyai Halimah.

Konon, sejak masa kehamilan yang berlangsung empat bulan, sudah terlihat tanda-tanda yang mengisyaratkan bahwa calon jabang bayi dalam kandungan itu, kelak akan menjadi tokoh besar. Antara lain, sang ibu, Nyai Halimah ketika mengandung putra ketiganya ini pernah bermimpi perutnya kejatuhan bulan purnama. Ketika hal ini diberitahukan kepada suaminya, ia pun tak tahu apa yang akan terjadi. Cuma, Kiai Asy’ari pernah mendengar bahwa mimpi semacam itu merupakan pertanda anugerah Allah. Boleh jadi, itu lantaran sang ibu jauh sebelumnya sudah melaksanakan olah batin dengan berpuasa tiga tahun berturut-turut. Niat beliau, satu tahun berpuasa untuk dirinya sendiri, satu tahun lagi untuk anak cucunya dan satu tahun berikutnya untuk seluruh santrinya.

Hasyim kecil tumbuh dalam asuhan ayah ibu dan kakek neneknya di Gedang. Mereka mencurahkan kasih sayang, juga memperkenalkan kitab suci Al Quran dan budi pekerti luhur serta menanamkan jiwa kepemimpinan dan semangat juang. Sejak kecil Hasyim sudah menunjukkan jiwa dan watak yang santun tetapi tegas. Tak heran jika Hasyim tampak menonjol di antara teman-temannya. Menjelang usia enam tahun, Hasyim diajak ayahnya pindah ke Desa Keras, Kecamatan Diwek, sepuluh kilo meter di sebelah selatan Kota Jombang. Di tempat inilah Kiai Asy’ari mengembangkan ilmu dengan membangun masjid dan pondok pesantren. Di tempat ini, Hasyim dididik intensif mengenai dasar-dasar ilmu agama hingga usia 13 tahun

Haus Ilmu

Seperti lazimnya anak seorang kiai di masa itu, Hasyim tak puas 
hanya dengan belajar kepada ayahnya sendiri. Didorong oleh tingginya cita-cita, maka setelah cukup memiliki bekal, Hasyim mengemukakan maksudnya untuk merantau. Kedua orang tuanya memahami maksud Hasyim yang ingin menambah pengetahuan dan meluaskan wawasan. Karena itu, di usia 15 tahun, diiringi doa restu ayah ibu, Hasyim berangkat
menuntut ilmu yang lebih mendalam.

Mula-mula masuk Pondok Pesantren Wonokoyo Pasuruan. Lalu pindah ke Pondok Pesantren Langitan Tuban. Selanjutnya Hasyim menimba ilmu di Pondok Pesantren Tenggilis Surabaya. Mendengar bahwa di Bangkalan Madura ada seorang kiai besar bernama Kiai Muhammad Kholil yang terkenal sebagai waliyullah, Hasyim pun tertarik. Maka setelah tamat mengaji di Tenggilis, Hasyim berangkat menuju Pondok Pesantren Demangan Bangkalan. Hasyim tak lama belajar kepada Kiai Kholil. Karena ilmunya sudah dianggap cukup, maka Kiai Kholil meminta Hasyim segera pulang dan menularkan ilmunya kepada orang lain yang membutuhkan.

Namun, Hasyim yang haus ilmu tak langsung pulang. Keinginan memperdalam ilmu, mendorongnya untuk berguru kepada kiai Ya’qub di Pondok Pesantren Siwalan Panji Sidoarjo. Rupanya, Kiai Ya’qub yang arif, terus mengamati kecerdasan dan keistimewaan santri baru ini, sehingga kemudian tertarik untuk mengambilnya menjadi menantu.

Sebagai santri yang selalu taat pada perintah gurunya, Hasyim tak kuasa menolak permintaan Kiai Ya’qub. Apalagi setelah Kiai Ya’qub menyakinkan bahwa pernikahan tidak menjadi kendala dalam menuntut ilmu. Akhirnya, setelah memperoleh restu dari ayah ibu, pernikahan Hasyim dengan putri Kiai Ya’qub yang bernama Nafisah dilangsungkan pada tahun 1892. Saat itu Hasyim baru berusia 21 tahun.

Tak lama kemudian, bersama mertua dan istrinya yang sedang hamil muda, Hasyim berangkat menunaikan ibadah ke tanah suci sambil memperdalam ilmu. Tujuh bulan di Mekkah, Nafisah jatuh sakit dan wafat. Kesedihan kian bertumpuk lantaran empat puluh hari kemudian, buah hatinya, Abdullah, yang diharapkan menjadi pelipur lara, meninggal dunia mengikuti ibunya.

Kesedihan itu hampir tak tertanggungkan oleh Hasyim muda. Untuk menghibur diri, Hasyim lebih giat beribadah di Masjidilharam serta lebih tekun mengkaji kitab-kitab agama. Tahun berikutnya, Hasyim kembali ke tanah air tapi tak seberapa lama karena pada akhir tahun yang sama sudah
kembali ke Mekkah disertai adik kandungnya, Anis. Mungkin Allah memang sengaja menguji ketabahan, karena setelah bermukim beberapa waktu di Mekkah, Anis pun meninggal.

Meski sedih Hasyim pantang surut mengejar cita-cita. Waktunya
dicurahkan penuh untuk meningkatkan ibadah dan menimba pengetahuan. Hasyim juga menyempatkan berziarah ke tempat-tempat mustajab guna memanjatkan doa agar cita-citanya terkabul, termasuk diantaranya ke makam Rasulullah di Madinah. Bahkan setiap Sabtu pagi, Hasyim berangkat menuju goa Hira’ di Jabal Nur, kurang lebih 10 km di luar kota
Mekkah. Di gua tempat Nabi Muhammad melakukan khalwat hingga menerima wahyu pertama ini, Hasyim sering menyendiri sambil mengkaji kitab-kitab agama.

Selama di Mekkah, Hasyim berguru kepada banyak ulama besar. Antara lain Syeikh Syuaib bin Abdurrahman, Syeikh Muhammad Mahfudz At Turmudzi dan Syeikh Khotib Minangkabawi, sebelum beliau mengikuti faham reformasi Syeikh Muhammad Abduh. Juga kepada Syeikh Ahmad Amin Al Aththar, Syeikh Ibrahim Arab, Syeikh Said Yamani, Syeikh Rahmatullah dan Syeikh Sholeh Bafadal.

Sejumlah sayyid juga menjadi gurunya, antara lain, Sayyid Abbas Al Maliki, Sayyid Sulthon Hasyim Ad Daghistani, Sayyid Abdullah Az Zawawi, Sayyid Ahmad bin Hassan Al Aththas, Sayyid Alwi bin Ahmad As Saqqaf, Sayyid Abu Bakar Syatha Ad Dimyati dan Sayyid Husein Al Habsyi yang ketika itu menjadi Mufti Mekkah.

Dari sekian banyak guru, ada tiga orang yang sangat mempengaruhi wawasan keilmuannya. Mereka adalah Sayyid Alwi bin Ahmad As Saqqaf, Sayyid Husain Al Habsyi dan Syeikh Mahfudz At Turmudzi. Ketika belajar di tanah suci, Hasyim menunjukkan minat yang besar pada semua disiplin ilmu. Tetapi yang paling menonjol terlihat pada Ilmu Hadits.

Menurut sejarawan Arab, Sayyid Muhammad Asad Syihab, para 
pelajar di tanah haram yang datang dari berbagai belahan dunia, terutama Afrika dan Asia, ketika itu sempat menggalang solidaritas untuk membebaskan umat Islam dan tanah air mereka dari penindasan kolonialisme Barat. Pada suatu malam di bulan suci Ramadlan, mereka berdiri di depan Multazam dan bersumpah demi Allah, masing-masing akan berjuang untuk menegakkan kalimah Allah, memperkokoh umat Islam dengan membangkitkan kesadaran untuk bersatu serta
memperdalam ilmu dan agama demi mendapatkan ridla Allah tanpa mengharapkan harta dan kedudukan bagi diri sendiri. Ikrar suci ini bukan cuma dipegang teguh Hasyim muda, melainkan juga dilaksanakan sepenuhnya ketika ia pulang ke tanah air dan menjadi ulama besar.

Meski sudah lama merantau, begitu pulang ke kampung halaman, Kiai Hasyim tak lupa pada kebiasaannya dulu yaitu mencari nafkah dengan bertani dan berdagang. Di sela-sela kegiatan mengajar Hasyim meluangkan waktu pergi ke sawah dan ke pasar. Ia ingin mengajarkan agar berusaha mandiri dan tidak bergantung pada orang lain.

Dari hasil usahanya, Kiai Hasyim mampu membangun mahligai
rumah tangga yang bahagia dan berkecukupan. Beberapa santri kerap membantu kiainya ke sawah dan ke pasar. Antara lain Kiai Ahyat Halimi dari Mojokerto dan Kiai Muchtar Syafaat dari Banyuwangi.

Namun limpahan kekayaan tak membuat Kiai Hasyim lupa diri dan hidup mewah. Ia justru meneladani kehidupan Rasulullah yang amat sederhana. Kendati mampu, ia tak mau membangun rumah megah. Kediaman beliau bahkan tak mencerminkan rumah seorang kiai besar karena cuma berdinding bambu dan berlantai semen.

Di dalam rumah beliau tak ada perabotan mahal, satu-satunya yang
tergolong mewah adalah ratusan judul kitab yang menjadi bahan telaah
beliau tiap hari. Untuk merawat kitab-kitabnya yang mahal itu, sebulan
sekali dijemurnya. Dalam merawat kitab ia dibantu para santri di
antaranya Kiai Abu Syuja’ dari Kediri dan Kiai Achmad Siddiq dari
Jember.

Kiai Hasyim sangat konsisten dengan pola hidup sederhana dan
selalu menekankan hal itu kepada anak cucunya. Iming-iming jabatan dan
harta yang disodorkan pemerintah penjajah baik Belanda maupun Jepang 
ditolaknya karena ia tak ingin menjadi antek kolonialisme yang 
menyesatkan rakyat. Termasuk anugerah emas dari Ratu Belanda,
Wilhelmina, yang hendak diberikan kepadanya pada 1937.

Memang, ia pernah menerima jabatan sebagai Ketua Djawa
Hokookai (Perhimpunan Kebaktian Rakyat Jawa) dan Ketua Shumubu-co
(Kantor Urusan Agama) untuk seluruh kemaslahatan masyarakat banyak,
khususnya umat Islam. Namun dalam pelaksanaan sehari-hari ia menunjuk putranya, Kiai Abdul Wahid Hasyim, yang ketika itu sudah tampil sebagai
kader penerus yang potensial.

Istiqomah

Berkat didikan kakek dan ayahnya di masa kecil serta bimbingan 
para gurunya di masa remaja, Hasyim tumbuh dewasa dengan iman yang
teguh, jiwa yang matang, ilmu yang luas dan watak yang santun. 
Salah satu sikap yang menonjol dalam kepribadiannya ialah
istiqomah. Ia amat konsisten dalam memegang prinsip terutama jika sudah
manyangkut pendirian yang ia yakini kebenarannya. Namun ia juga sangat
toleran. Seperti diungkapkan sahabatnya yang menjadi salah seorang
ulama Al Azhar di Kairo, Syeikh Rabbah Hasunah, Kiai Hasyim justru
tokoh yang amat toleran. Ia tak pernah memaksakan kehendak kepada 
orang lain. Pendapat yang ia sodorkan selalu didukung argumentasi 
rasional yang mudah diterima lawan bicara. Itu sebabnya banyak dari
umat beragama lain yang secara tulus memeluk Islam, setelah berdiskusi
dengannya dan yakin akan kebenaran ajaran Islam. Salah satunya adalah
Karl von Smith, seorang insinyur berkebangsaan Jerman yang ketika itu
bekerja untuk pemerintah kolonial Belanda. Setelah Indonesia merdeka,
Karl von Smith pulang ke Jerman dan menyebarkan Islam di negaranya
melalui Islamic Centre di Hamburg.

Sabar

Sifat lain yang menonjol pada diri Kiai Hasyim adalah sabar. Sifat 
ini lahir berkat tempaan kesulitan dan musibah yang kerap dialami sejak
kecil. Kesabarannya teruji setelah menikah dan mengalami musibah
dengan meninggalnya dua isteri dan beberapa anak tercinta. Kiai Hasyim
menghadapi dengan tabah dan menyerahkan semuanya kepada takdir
Allah.

Tak berbeda ketika ia merintis berdirinya Pondok Pesantren
Tebuireng yang semula dikenal sebagai daerah kriminal. Tantangan dan
gangguan datang silih berganti, namun semuanya dihadapi dengan penuh
ketabahan yang akhirnya membuahkan keberhasilan. 
Begitupun saat berjuang melawan penjajah, Kiai Hasyim
menunjukkan kesabaran luar biasa. Pada tahuan 1942, beliau ditangkap
pemerintah militer Jepang dengan tuduhan menggerakkan aksi perlawanan
rakyat terhadap Jepang di Indonesia.

Ia ditahan di Mojokerto lalu dipindahkan ke Bubutan, Surabaya.
Sebagai tanda cinta dan khidmat kepada guru, sejumlah santri meminta
ikut dipenjarakan bersama sang guru. Kiai Hasyim mendekam di penjara
lebih enam bulan dan diperlakukan tidak manusiawi. Akibatnya salah satu
tangan beliau menderita cacat yang cukup menyedihkan. 
Sifat Kiai Hasyim yang menonjol adalah kejujuran dan keikhlasan,
tak punya pamrih duniawi. Itu sebabnya nasihat dan fatwanya mudah
diterima orang lain. Tak sedikit tokoh besar yang sengaja datang ke
Tebuireng untuk meminta saran dan petunjuknya. Di antaranya, Panglima
Besar Jenderal Soedirman dan Soetomo alias Bung Tomo, pemimpin
pemberontak arek-arek Suroboyo yang sangat heroik itu. Bahkan ketika
diadakan pertemuan antara pembesar Negara dengan para alim ulama
Jawa Timur di Kediri, Presiden Soekarno sangat memperhatikan dan
memuji pesan-pesan moral yang diberikan Kiai Hasyim pada forum
tersebut.

Sehari-hari

Sejak remaja Kiai Hasyim dikenal sebagai anak muda yang 
berpandangan religius dan berorientasi ukhrowi. Ia terbiasa melakukan
olah batin dengan berpuasa guna mencegah godaan hawa nafsu. Kebiasaan
itu ia warisi dari ibundanya, Nyai Halimah. Sekalipun tak berpuasa, ia
jarang makan. Paling banyak dua kali sehari yakni sarapan dengan
secangkir kopi susu serta makan malam usai mengajar. 
Beliau memanfaatkan seluruh waktu dengan baik: mencari nafkah,
mengajar santri, menerima tamu dan terutama melaksanakan ibadah.
Nyaris tak ada waktu terbuang. Usai shalat subuh berjamaah diikuti wirid yang sangat panjang lalu mengajar para santri di serambi masjid hingga menjelang matahari terbit. Kitab yang dibacanya cukup beragam antara lain kitab Asy Syifa dan At Tahrir.

Sesudah itu Kiai Hasyim menemui para tukang dan kuli sambil
memberi petunjuk mengenai tugas-tugas yang harus mereka kerjakan pada
hari itu. Hingga pukul 10.00 ia mengajar kitab-kitab besar seperti Al
Muhadzdzab dan Al Muwaththo’ yang dikhususkan untuk para santri
senior. Selepas mengajar ia punya sedikit waktu yang dipergunakan untuk
berbagai keperluan seperti menemui tamu, membaca kitab atau menulis

karangan. Sebelum jamaah salah dhuhur, ia kadang tidur sebentar. Usai
berjamaah, ia mengajar di serambi masjid hingga menjelang waktu asar.
Kegiatan dilanjutkan dengan menerima laporan dan memeriksa pekerjaan
para tukang dan kuli. Sesudah itu mandi dan kembali ke masjid untuk
berjamaah shalat asar, disusul dengan mengajar di masjid. Pelajaran
selepas asar adalah kitab Fath Al Qorib yang wajib diikuti semua santri.
Hingga akhir hayatnya, kitab ini tetap dibaca sebagai wirid sehabis asar. 
Sambil menunggu bedug maghrib, Kiai Hasyim mengisi waktu
dengan membaca kitab yang hendak ia ajarkan. Setelah berjamaah
maghrib, ia secara khusus menyediakan waktu untuk para tamu yang
datang dari jauh, terutama wali santri. Kegiatan ini berlangsung hingga
masuk waktu shalat isya’. Usai shalat isya’ ia mengajar di masjid hingga
pukul 23.00. Kitab yang diajarkan di waktu malam adalah Ihya Ulum Ad
Din dan Tafsir Ibnu Katsir. Setelah itu, barulah Kiai Hasyim makan
malam.

Setiap minggu, kegiatan rutin harian itu hanya libur dua kali yakni
Selasa dan Jum’at. Dua hari itu digunakan untuk memeriksa garapan di
sawah atau dagangan di pasar. Untuk hari Jumat, ia memiliki kegiatan
khusus yakni memperbanyak bacaan Al Quran dan shalawat Nabi. Usai
menjadi khatib dan imam Shalat Jumat, secara rutin ia memberikan
pengajian umum. Kitab yang dibaca adalah Tafsir Al Jalalain. Ia
mengakhiri kegiatan harian dengan beranjak tidur menjelang tengah
malam. Itu pun tak lama, karena menjelang subuh sudah bangun.

Pergaulan Luas

Kiai Hasyim adalah tokoh yang memiliki hubungan luas yang 
melintasi batas-batas negara hingga menembus belahan dunia lain. Ini
terjalin sejak ia belajar di tanah suci Mekkah. Di antara para sahabatnya itu tercatat antara lain: Sayyid Sholeh Syatha, Syeikh Thoyyib Al Sasi, Syeikh Bakr Shobbagh, Sayyid Sholeh bin Alwi bin Uqail, Syeikh Abdul Hamid Quds, Syeikh Muhammad Fathoni, Syeikh Muhammad Said Abdul Khoir, Syeikh Abdullah Hamduh, Sayyid Idrus Al Bar, Sayyid Alwi Al Maliki dan Sayyid Muhammad Thohir Ad Dabbagh.

Dari kalangan pejuang dan negarawan tercatat nama Pangeran
Abdul Karim Al Koththobi, tokoh revolusi kemerdekaan Maroko yang
melawan penjajah Perancis dan Spanyol, juga dengan Sultan Pasya Al

Athrasy, pemimpin Suriah yang bangkit menentang kolonial Prancis.
Ketika pada tahun1924 kedua tokoh itu mengobarkan jihad, serta merta
Kiai Hasyim mendukung. Guna menggalang solidaritas kaum muslimin
Indonesia terhadap perjuangan saudara-saudara mereka melawan
kolonialisme asing, demonstrasi besar, rapat umum dan arak-arakan
raksasa digelar di berbagai kota dan ia selalu hadir memberikan dukungan
moral. Upaya ini dihambat penjajah Belanda yang takut kalau gerakan
tersebut membangkitkan aksi perlawanan di Indonesia.

Selain itu, Kiai Hasyim menjalin hubungan erat dengan Sayyid
Muhammad Amin Al Husaini, Ketua Kongres Islam se dunia asal
Palestina yang kemudian menetap di Berlin, Jerman. Juga dengan Sayyid
Dliyauddin Asy Syairozi, serta Muhammad Ali dan Syaukat Ali,
ketiganya tokoh Islam India yang berjuang melawan Inggris. Tak kalah
eratnya hubungan Kiai Hasyim dengan Muhammad Ali Jinnah, Bapak
Kemerdekaan Pakistan. Lalu Sayyid Hibbatuddin, mantan Menteri
Pendidikan Irak, dan Sayyid Alwi bin Thohir Al Haddad, mufti kerajaan
Johor Malaysia. Tak ketinggalan Syeikh Ahmad Az Zein, pemilik dan
pendiri majalah Al Irfan dan koran Jabal ‘Amil.

Kiai Hasyim juga akrab dengan sejumlah ulama, filsuf dan
budayawan kaliber internasional. Misalnya budayawan Mesir terkemuka
Amir Syakib Arsalan, filsuf Pakistan Muhammad Iqbal, kritikus Iran
Sayyid Masdi Asy Syairozi dan penulis kitab produktif Syeikh
Muhammad Husein Ali Kasyif Al Ghitho’. Hampir seluruh guru besar di
Universitas Al Azhar Kairo juga beliau kenal dengan baik. Antara lain
Syeikh Yusuf Ad Djawawi dan Syeikh Ahmad Saad Ali. Kedua tokoh
yang dikenal sebagai penyunting handal untuk kitab-kitab terbitan Kairo
itu, bahkan ikut memberi pengantar pada salah satu kitab yang ia karang. 
Reputasi Kiai Hasyim sebagai ulama dan pejuang dikenal luas di
dunia Islam. Itu sebabnya, tak sedikit organisasi sosial maupun lembaga 
ilmiah dalam dan luar negeri yang mengangkatnya sebagai ketua 
kehormatan. Salah satunya adalah Jam’iyyah Asy Syubhan Al Muslimin
(Organisasi Pemuda Islam) yang berpusat di Kairo, Mesir. 
Tentunya relasinya dengan tokoh-tokoh di tanah air lebih luas lagi.
Kiai Hasyim akrab dengan para tokoh pergerakan nasional, misalnya
Presiden Soekarno, Panglima Besar Soedirman dan sejumlah Perdana
Menteri. Beliau juga berhubungan baik dengan para pemimpin puncak
organisasi Islam, antara lain KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah yang pernah belajar bersama beliau di tanah suci, HOS Tjokroaminoto,
pemimpin organisasi Syarikat Islam dan Syeikh Ahmad Surkati, tokoh
puncak organisasi Al Irsyad.

Hubungan Kiai Hasyim dengan ulama besar di lingkungan
Nahdlatul Ulama juga terjalin sangat baik, misalnya KH Ridwan
Abdullah, pencipta lambang NU, KH Alwi Abdul Aziz, pengusul nama
NU, keduanya dari Surabaya. Lalu KH Asnawai Kudus, KH Abdul Halim
Cirebon, KH Abdul Karim dan KH Ma’ruf dari Kediri serta Syeikh
Ahmad Ghonaim Al Mishri.

Setiap Ramadhan tiba, ratusan kiai dari penjuru tanah air datang ke
Tebuireng untuk mengikuti pengajian Kiai Hasyim. Selama bulan suci itu,
secara khusus Kiai Hasyim menggelar pengajian kitab Shohih Al Bukhori
dan Shohih Muslim, dua kitab hadits rujukan utama setelah kitab suci Al
Quran. Meski para kiai itu sudah tergolong alim di bidang masing-masing,
mereka sengaja datang untuk mengambil sanad (mata rantai) yang bakal
menghubungkan mereka dengan Rasulullah. Selain itu mereka juga ingin
mendapat berkah dari ilmu Kiai Hasyim.

Persahabatan Kiai Hasyim dengan banyak tokoh, sama sekali tidak
mengurangi perhatiannya terhadap masyarakat biasa, terutama tetangga
sekeliling. Hubungannya dengan penduduk Tebuireng, tak ubahnya ayah
dan anak. Ia jadi tempat pelarian untuk minta pertolongan dan hampir tak
ada yang pulang dengan tangan hampa. 
Konon ketika isterinya yang ketujuh masih hidup, setiap hari sang
kiai menyediakan nasi dan lauk pauk untuk menghormati sekurangkurangnya
50 orang tamu. Ini membuktikan betapa banyak tamu beliau, sekaligus menunjukkan luasnya hubungan beliau dengan berbagai kalangan.

Perjuangan

Sebagai ulama besar, Kiai Hasyim dikenal memiliki pemikiran 
brilian yang meliputi banyak bidang mulai dari agama, pendidikan, sosial
hingga politik. Percikan pemikirannya tertuang dalam teks-teks khuthbah
iftitah (pidato pengarahan) yang dikemukakan di forum muktamar NU
dalam kapasitas sebagai Rois al-Akbar. Polemik dan korespondensinya
dengan sejumlah tokoh. Fatwa dan tulisannya dimuat di dua majalah:
Soeara Nahdlatoel Oelama dan Berita Nahdlatoel Oelama.

Pemikiran Kiai Hasyim di bidang agama cenderung puritan. Sebagai
tokoh ulama beraliran Sunni, rujukannya tak lepas dari kitab Allah dan
Sunah Rasul. Dalam pandangannya, agama harus diamalkan secara murni
sesuai tuntunan Nabi.

Menurut Kiai Hasyim, puncak keberagamaan dan jenjang
kerohanian tertinggi hanya dapat dicapai melalui proses pentahapan yang
urut dari syariat, tarekat hingga hakekat. Karena ketiganya saling berkait,
maka ketika seseorang mencapai hakikat bukan berarti syariatnya gugur.
Itu sebabnya ia mengecam anggapan yang menyatakan bahwa bila sudah
menjadi wali, mereka tak perlu lagi menjalankan syariat seperti, shalat,
puasa dan sebagainya.

Di bidang pendidikan, ia menulis kitab standar mengenai etika
kesantrian berjudul Adab al-‘Alim wa al- Muta’allim. Kitab ini merupakan
adaptasi dari karya Ibnu Jamaah Al Kinani yang bertajuk Tadzkirot as
Sai’wa a- Mutakallim.

Wanita

Berbeda dengan pandangan yang berkembang luas di masyarakat 
Jawa yang menganggap kaum wanita sekadar konco wingking dan tak
memerlukan pendidikan, Kiai Hasyim justru memandang pendidikan bagi
mereka sangat penting. Sebab merekalah yang oleh Nabi disebut sebagai
‘imad al bilad (tiang negara) yang mesti dilibatkan secara aktif dalam
mempersiapkan generasi penerus. Pemikiran yang dilontarkan di forum
muktamar NU ini akhirnya disepakati mayoritas ulama. Ketika keputusan
itu digugat sebagian kiai, beliau menjawab dengan argumen amat rasional
disertai fakta historis, sebagaimana bisa dibaca dalam karya beliau
berjudul Ziyadah Ta’liqat.

Sejak itu muncul sejumlah pondok pesantren yang secara khusus
didirikan untuk anak dan remaja puteri. Misalnya, Pondok Pesantren 
Mambaul Maarif Denanyar Jombang yang dirintis KH. Bishri Syansuri. 
Sebagai bukti kepeduliannya terhadap pendidikan kaum wanita, Kiai
Hasyim mendidik sendiri putrinya Khoiriah. Setelah suaminya, Kiai
Ma’shum Ali yang terkenal sebagai pakar ilmu falak (astronomi) dan ilmu
shorof (sintaksis) wafat, Khoiriah menikah lagi dengan Kiai Abdul
Muhaimin dan mengikuti suami barunya bermukim di Mekkah. Atas izin
Kiai Hasyim, Khoriah lalu mendirikan sekolah khusus kaum wanita yang
dinamakan Madrasah al-Banat di Mekkah. Ini merupakan langkah pendobrakan terhadap tradisi Arab yang menabukan sekolah bagi kaum
hawa. Tak heran bila sekolah itu sempat terkenal dan banyak kaum wanita
dari keluarga Kerajaan Arab Saudi yang masuk menjadi muridnya.

Sosial Politik

Di bidang sosial politik, perhatian Kiai Hasyim terfokus pada 
pembinaan ukhuwah Islamiyah guna mempersatukan umat dan
menggalang potensi agar bisa dioptimalkan untuk memperjuangkan
kepentingan umat Islam. Kiai Hasyim amat prihatin dengan gejala
perpecahan umat Islam, apalagi jika terjadi saling mengkafirkan satu sama
lain. Pandangan beliau mengenai hal ini dituangkan dalam risalahnya yang
berjudul At Tibyan.

Selain itu, ketika muncul pertentangan sesama tokoh Islam akibat 
perbedaan pendapat tentang madzab, ia menulis surat terbuka bertajuk Al 
Mawa’izh yang dibacakan pada Muktamar NU ke XI tahun 1935 di
Banjarmasin, lalu disebarkan kepada seluruh ulama di Indonesia. Isinya
merupakan anjuran ishlah, meninggalkan fanatisme buta dan
mengesampingkan perbedaan pendapat dalam hal-hal yang tidak prinsip
guna menghindari perpecahan yang merugikan umat Islam sendiri.
Menurut Kiai Hasyim, jika umat Islam pecah maka yang diuntungkan
adalah orang lain, terutama kaum penjajah yang ingin menancapkan
kukunya di bumi pertiwi.

Terkesan oleh isi surat tersebut, maka pada tahun 1959, Haji Abdul
Malik Karim Amrullah (Buya Hamka) menerjemahkannya ke dalam
Bahasa Indonesia untuk disebarluaskan melalui majalah Panji Masyarakat.

Perjuangan

Di kancah perjuangan, Kiai Hasyim adalah tokoh yang penuh 
dedikasi, baik untuk agama maupun negara. Di bidang pendidikan,
perjuangannya diawali sejak pulang dari tanah suci Mekkah dengan
mendirikan Pondok Pesantren Tebuireng yang diasuhnya hinggga wafat.
Sejak didirikan, lembaga ini terus tumbuh dan menjadi inovator bagi
pembaruan pendidikan Islam tradisional di tanah air. Misalnya dengan
menerapkan sistem madrasi (pembelajaran dengan sistem persekolahan)
yang semula tak dikenal di lingkungan pondok pesantren salaf
(tradisional).

Kiai Hasyim juga membantu para santri yang setelah menamatkan
pelajarannya di Tebuireng bermaksud mendirikan pondok sendiri.
Misalnya, ketika Kiai Jazuli Utsman mendirikan pondok pesantren di
Ploso Kediri, ia mengirimkan sejumlah santri untuk belajar ke Tebuireng.
Beliau pula yang memberi nama Al-Falah untuk pondok Kiai Jazuli yang
baru itu. Tak terhitung jumlah pondok pesantren dan madrasah yang
pernah dibantunya, baik moril maupun materil.

Di arena kemasyarakatan, perjuangan Kiai Hasyim tak perlu
diragukan. Ia menggugah masyarakat supaya menyadari hak-hak politik
mereka untuk hidup merdeka dan bebas dari penjajahan. Menurutnya,
kolonialisme asing hanya bisa dilawan dengan gerakan kebangkitan
nasional. Untuk menunjang gerakan tersebut, bersama sejumlah kiai, ia
mendirikan Jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU) pada tanggal 31 Januari
1926. Berkat kharisma dan ilmunya, Kiai Hasyim disepakati menjadi
Roisul Akbar NU. Dialah satu-satunya tokoh yang menyandang gelar
kehormatan ini, karena para tokoh selanjutnya tak satu pun berkenan
menyandangnya.

Ekomomi

Beberapa murid Kiai Hasyim menuturkan, gurunya tak cuma 
membangkitkan kesadaran politik umat Islam, tetapi juga mengupayakan
pemberdayaan ekonomi. Melihat kondisi sosial ekonomi masyarakat yang
memprihatinkan, maka pada 1918, Kiai Hasyim merintis kerjasama para
pelaku ekonomi pedesaan yang disebut Syirkah Al ’Inan li Murohathoh
Ahli At Tujjar. Bentuk usahanya mirip koperasi namun dasar
operasionalnya menggunakan syariat Islam. Badan usaha ini kemudian
berkembang dengan lahirnya Nahdlatut Tujjar sebagai wadah para
pengusaha Islam, khususnya kalangan santri. 
Resolusi Jihad

Tak kalah pentingnya adalah peran Kiai Hasyim dalam perjuangan 
merebut dan mempertahankan kemerdekaan RI. Berkat pengaruh dan
kharismanya yang besar, ia berhasil menghimpun kekuatan umat Islam
melalui jaringan pondok pesantren dan NU. 
Kiai Hasyim makin gigih berjuang justru di usia senja. Saat Belanda
menyatakan wilayah Indonesia dalam keadaan darurat perang dan 
merencanakan Ordonansi Milisi Bumi Putera pada tahun 1940, Kiai
Hasyim memanggil beberapa kiai ke Tebuireng. Melalui musyawarah
akhirnya ia memutuskan menolak rencana tersebut. Bahkan diharamkan
menyumbangkan darah untuk mereka. Musyawarah itu menyepakati
tuntutan Indonesia Berparlemen yang disuarakan melalui MIAI dan Gapi
(Gabungan Politik Indonesia).

Perjuangan Kiai Hasyim berlanjut di zaman Jepang. Ia menolak
segala Nipponisasi, seperti menyanyikan lagu Kimigayo dan mengibarkan
bendera Hinomaru. Apalagi kewajiban seikeirei (menghormat Kaisar
Jepang, Tenno Heika, yang dianggap titisan Dewa Amaterasu Omikami)
dengan membungkukkan badan 90 derajat ke arah Tokyo), yang menurut
Kiai Hasyim haram hukumnya. Akibat penolakan ini, ia harus mendekam
di penjara selama enam bulan dan diperlakukan secara tidak manusiawi
sehingga tangannya cacat akibat siksaan tentara Jepang. 
Dalam upaya menyiapkan kader-kader Islam yang militan untuk
mempertahankan tanah air sewaktu-waktu diperlukan, Kiai Hasyim
menganjurkan para santri memasuki tentara Pembela Tanah Air (PETA)
yang dibentuk pada tanggal 3 Oktober 1943, dipelopori puteranya Abdul
Hafidz alias Abdul Kholiq yang kemudian diangkat menjadi daidanco
(komandan batalion). Pembentukan PETA diikuti pembentukan milisi
Islam sukarela yang disebut Hizbullah pada akhir 1944 lalu disusul dengan
terbentuknya laskar jihad lain yang terkenal dengan sebutan Barisan
Sabilillah.

Perjuangan Kiai Hasyim berlanjut setelah proklamasi kemerdekaan
dikumandangkan 17 Agustus 1945. Saat tentara NICA mendompleng
pasukan Sekutu, hendak memaksakan kembalinya kekuasaan Belanda,
Kiai Hasyim mengundang seluruh konsul NU se Jawa dan Madura. Hasil
musyawarah, Kiai Hasyim mengeluarkan seruan yang kemudian dikenal
dengan sebutan “Resolusi Jihad”. Isinya: kemerdekaan yang sudah 
diproklamasikan dan pemerintah RI sah, hukumnya wajib dibela dan 
dipertahankan. Selanjutnya, umat Islam Indonesia, khususnya warga NU,
wajib hukumnya mengangkat senjata melawan Belanda dan sekutunya
yang akan kembali menjajah. Kewajiban ini adalah jihad yang bersifat
fardlu ’ain, dalam arti berlaku bagi setiap muslim yang memenuhi syarat
dan berada dalam radius 94 kilometer dari tempat musuh. Yang di luar
radius itu wajib membantu segala sesuatu yang diperlukan dalam
perjuangan.

“Resolusi Jihad” inilah yang membakar semangat umat Islam untuk
bahu-membahu mempertahankan kemerdekaan. Peristiwa heroik 10
November 1945 yang diperingati sebagai Hari Pahlawan, tak bisa
dilepaskan dari semangat “Resolusi Jihad” yang dicetuskan di markas NU,
Bubutan Surabaya.

Detik-detik Terakhir

Detik-detik terakhir kehidupan Kiai Hasyim terjadi pada malam 
tanggal 7 Ramadhan 1366 H bertepatan 25 Juli 1947. Sehabis mengimami
shalat tarawih ibu-ibu muslimat, seperti biasanya, ia memberikan
pengajian kepada mereka. Baru saja akan dimulai, Muhammad Yusuf Masyhar, memberitahukan datangnya dua orang tamu utusan Panglima Soedirman dan Bung Tomo. Karena hal itu dipandang lebih penting, beliau menunda pengajian.

Kiai Hasyim meminta adik perempuannya menyiapkan teh dan kue 
lantas menemui tamu di ruang depan. Setelah berbasa-basi sejenak, Kiai
Ghufron, salah seorang komandan Barisan Sabilillah Surabaya yang
menyertai kedua tamu tersebut, menjelaskan bahwa maksud kedatangan
mereka adalah untuk menyerahkan sepucuk surat dari Bung Tomo. Saat
itu, masuklah Kiai Adlan Ali, suami keponakannya yang sering diajak
musyawarah untuk memecahkan masalah-masalah penting. Tak lama
kemudian Kian Adlan berpamitan karena ada suatu urusan. 
Surat Bung Tomo ternyata berisi permohonan agar Kiai Hasyim
mengomandokan jihad kepada seluruh umat Islam untuk melawan
Belanda. Lantaran pentingnya hal itu, ia minta waktu semalam untuk
berpikir. Kebiasaan Kiai Hasyim setiap menghadapi masalah rumit adalah
malaksanakan shalat istikhoroh (memohon petunjuk kepada Allah) lebih
dulu sebelum mengambil keputusan.

Sementara di depannya, Kiai Ghufron menceritakan serangan tentara 
Belanda yang berhasil merebut daerah-daerah strategis dan memakan
banyak korban penduduk sipil. Selain itu, dikabarkan pula tentang
jatuhnya markas tertinggi laskar Hizbullah-Sabilillah di Singosari,
Malang. Kabar ini rupanya mengejutkannya, sehingga tiba-tiba Kiai
Hasyim berkata: “Masyallah….! Masyaallah…!” sambil menekan kepala
kuat-kuat.

Kiai Hasyim pingsan dalam keadaan duduk. Tangannya berpegangan pada tepi balai-balai tempat beliau biasa beristirahat. Semula, Kiai Ghufron menyangka gurunya tak dapat menahan kantuk lantaran terlalu letih. Kiai Ghufron menganjurkan kedua tamu tadi supaya pulang dulu, karena Kiai Hasyim amat lelah. Keduanya setuju. Berungkali Kiai
Ghufron memberitahu bahwa kedua utusan Bung Tomo itu hendak pamit,
namun Kiai Hasyim tak menjawab. Ia cuma mengulurkan tangan untuk
dijabat.

Sepeninggal para tamu, Kiai Ghufron memperhatikan Kiai Hasyim
secara seksama. Ternyata, sang guru sudah tak sadarkan diri. Tergopohgopoh Kiai Ghufron memeluknya. Dengan bantuan
Yusuf Masyhar, Kiai Hasyim dibaringkan di tempat tidur. Rupanya, secara mendadak ia terserang hersenbloeding (pendarahan otak).

Seluruh keluarga datang mengerumuni. Semua putranya yang berada
di medan tempur atau di luar kota segera dihubungi. Menjelang tengah
malam, Dokter Mas Angka Nitisastra dari RS Jombang tiba. Setelah
memeriksa dengan teliti, dokter menegaskan keadaan Kiai Hasyim sudah
kritis. Atas persetujuan keluarga, dokter mengambil darah beliau agar tak
terlalu menderita. Meskipun setelah itu rasa sakitnya berkurang tetapi raut
wajah Kiai Hasyim tak memperlihatkan harapan hidup.

Akhirnya, tepat pukul 03.45 dini hari, dengan tenang Kiai Hasyim
menghembuskan nafas terakhir untuk memenuhi panggilan Allah.
Sebagian besar keluarga yang menunggui beliau larut dalam tangis duka.
Dua orang putranya yang bertugas di luar kota, tak sempat menyaksikan
saat-saat akhir beliau karena baru tiba menjelang pemakaman. 
Berita wafatnya Kiai Hasyim segera menyebar ke seluruh penjuru
tanah air dan mengundang duka cita yang mendalam dari segenap lapisan
masyarakat. Ribuan orang berdatangan ke Tebuireng untuk ikut mengantar
jenazah kiai besar itu ke tempat peristirahatan terakhir, termasuk para 
ulama dan petinggi sipil maupun militer. Tak ketinggalan para pemimpin 
puncak dari sejumlah partai politik dan organisasi kemasyarakatan. Ia
dimakamkan di belakang masjid di kompleks pondok pesantren yang
didirikannya, Tebuireng.

Demikian, Kiai Hasyim telah pergi meninggalkan umat Islam
Indonesia khususnya dan bangsa Indonesia umumnya, untuk selamalamanya. Ulama besar itu pergi setelah menunaikan tugas dan baktinya untuk kepentingan agama dan umat dengan penuh keikhlasan.[]

Sumber : Disadur utuh dari Buku : Profil Tokoh Kabupaten Jombang
© Pemerintah Kabupaten Jombang, tahun 2010

KH WAHAB HASBULLAH – Pendiri NU

Nama KH Wahab Hasbullah amatlah terkenal dalam sejarah perkembangan Islam di Indonesia modern. Kiai kharismatik ini adalah tokoh yang bersama KH Hasyim Asy’ari dan sejumlah ulama mendirikan Nahdlatul Ulama, yang kini menjadi organisasi massa Islam terbesar di Indonesia.

Sebagai seorang kiai, ia juga dikenal sebagai pengembang Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU), yang didirikan KH Abdus Salam, seorang keturunan Raja Majapahit, pada tahun 1838 M di Desa Tambakberas, 5 km arah utara kota Jombang Jawa Timur. Kiai Wahab sendiri adalah cicit Kiai Abdus Salam

Banyak cerita yang mengisahkan secara kronologis bahwa KH. Abdus Salam seorang keturunan ningrat, bisa sampai ke desa kecil yang kala itu masih berupa hutan belantara penuh dengan binatang buas dan dikenal sebagai daerah angker. Dalam kisah tersebut, Kiai Abdus Salam meninggalkan kampung halamannya menuju Tambakberas untuk bersembunyi menghindari kejaran tentara Belanda. Bersama pengikutnya, ia membangun perkampungan santri dengan mendirikan sebuah langgar
(mushallah) dan tempat pondokan sementara buat 25 orang pengikutnya. Karena itu pondok pesantren itu juga dikenal pondok selawe (dua puluh lima).

Perkembangan pondok pesantren ini mulai menonjol saat
kepemimpinan pesantren dipegang oleh KH Wahab Hasbullah, sang cicit. Setelah kembali dari belajar di Mekkah, ia segera melakukan revitalisasi pondok pesantren. Pertama kali yang didirikan adalah madrasah yang diberi nama Madrasah Mubdil Fan. Ia juga membentuk kelompok diskusi Taswirul Afkar dan mendirikan organisasi Nahdlatul Wathon yang kemudian dideklarasikan sebagai organisasi keagamaan dengan nama Nahdlatul Ulama (NU). Deklarasi itu ia lakukan bersama dengan KH. Hasyim Asy’ari dan ulama lainnya pada tahun 1926

Nama Bahrul Ulum itu tidak muncul saat KH. Abdus Salam
mengasuh pesantren tersebut. Nama itu justru berasal dari KH Wahab Hasbullah. Ia memberikan nama resmi pesantren pada tahun 1967. Beberapa tahun kemudian pendiri NU ini pulang ke rahmatullah pada tanggal 29 Desember 1971.

Sepeninggal KH Wahab Hasbullah, pondok Bahrul Ulum
mengalami perubahan. Mulai tahun 1987 kepemimpinan pondok pesantren dipegang secara kolektif oleh Dewan Pengasuh yang diketuai oleh KH. M. Sholeh Abdul Hamid. Mereka juga mendirikan Yayasan Pondok Pesantren
Bahrul Ulum yang diketuai oleh KH. Ahmad Fatih Abd. Rohim. Para kiai yang mengasuh PP Bahrul Ulum itu diantaranya, KH. M. Sholeh Abdul Hamid, KH. Amanullah, KH. Hasib Abd. Wahab

Di bawah kepemimpinan KH. M. Sholeh, PPBU mengalami
perkembangan sangat pesat. Hal ini dapat dilihat dengan semakin membludaknya santri yang belajar di pondok pesantren yang telah banyak menghasilkan ulama dan politisi ini. KH. Abdurrahman Wahid, mantan Presiden RI keempat juga alumni pesantren yang sering kedatangan tamu dari pemerintah pusat ini. Santri yang belajar di PPBU tidak hanya datang dari daerah Jombang tapi juga dari seluruh wilayah Indonesia, bahkan juga dari Brunei Darussalam dan Malaysia. Pada 2006, PPBU dihuni hampir 10.000 santri.

Sesepuh Ansor

Dalam sejarah NU, KH Wahab Hasbullah juga amat terkait dengan kelahiran Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor), yang diwarnai oleh semangat perjuangan, nasionalisme, pembebasan, dan epos kepahlawanan. Kiai Wahab adalah “sesepuh pendiri” organisasi itu. Seperti diketahui, GP 
Ansor terlahir dalam suasana keterpaduan antara kepeloporan pemuda pasca-Sumpah Pemuda, semangat kebangsaan, kerakyatan, dan sekaligus spirit keagamaan. Karenanya, kisah Laskar Hizbullah, Barisan Kepanduan
Ansor, dan Banser (Barisan Serbaguna) sebagai bentuk perjuangan Ansor nyaris melegenda.

Ansor dilahirkan dari rahim Nahdlatul Ulama (NU) dari situasi “konflik” internal dan tuntutan kebutuhan alamiah. Berawal dari perbedaan antara tokoh tradisional dan tokoh modernis yang muncul di tubuh Nahdlatul Wathan, organisasi keagamaan yang bergerak di bidang
pendidikan Islam, pembinaan mubaligh, dan pembinaan kader. KH Wahab Hasbullah yang berhaluan tradisional dan KH Mas Mansyur yang berhaluan modernis, akhirnya menempuh arus gerakan yang berbeda justru saat tengah tumbuhnya semangat untuk mendirikan organisasi
kepemimpinan Islam bersatu.

Dua tahun setelah perpecahan itu, pada 1924 para pemuda yang mendukung KH Wahab Hasbullah – yang kemudian menjadi pendiri NU – membentuk wadah dengan nama Syubbanul Wathan (Pemuda Tanah Air).
Organisasi inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya Gerakan Pemuda Ansor setelah sebelumnya mengalami perubahan nama seperti Persatuan Pemuda NU (PPNU), Pemuda NU (PNU), dan Anshoru Nahdlatul Oelama
(ANO).

Nama Ansor merupakan saran KH Abdul Wahab – ulama besar sekaligus guru besar kaum muda saat itu, yang diambil dari nama kehormatan yang diberikan Nabi Muhammad SAW kepada penduduk Madinah yang telah berjasa dalam perjuangan membela dan menegakkan agama Allah. Dengan demikian ANO dimaksudkan dapat mengambil hikmah serta tauladan terhadap sikap, perilaku dan semangat perjuangan para sahabat Nabi yang mendapat predikat Ansor tersebut. Gerakan ANO (yang kelak disebut GP Ansor) harus senantiasa mengacu pada nilai-nilai dasar Sahabat Ansor, yakin sebagai penolong, pejuang dan bahkan pelopor dalam menyiarkan, menegakkan dan membentengi ajaran Islam. Inilah komitmen awal yang harus dipegang teguh setiap anggota ANO (GP Ansor).

Meski ANO dinyatakan sebagai bagian dari NU, secara formal organisatoris belum tercantum dalam struktur organisasi NU. Hubungan ANO dengan NU saat itu masih bersifat hubungan pribadi antar tokoh. Baru pada muktamar NU ke-9 di Banyuwangi, tepatnya pada tanggal 10 Muharram 1353 H atau 24 April 1934 M, ANO diterima dan disahkan sebagai bagian (departemen) pemuda NU dengan pengurus antara lain: Ketua H.M. Thohir Bakri; Wakil Ketua Abdullah Oebayd; Sekretaris H. Achmad Barawi dan Abdus Salam (tanggal 24 April itulah yang kemudian dikenal sebagai tanggal kelahiran Gerakan Pemuda Ansor).

Dalam perkembangannya secara diam-diam khususnya ANO Cabang Malang mengembangkan organisasi gerakan kepanduan yang disebut Banoe (Barisan Ansor Nahdlatul Oelama) yang kelak disebut BANSER (Barisan Serbaguna). Di Kongres II ANO di Malang tahun
1937, Banoe menunjukkan kebolehan pertama kalinya dalam baris berbaris dengan mengenakan seragam yang dikomandani oleh ketua ANO Cabang Malang Moh. Syamsul Islam. Sedangkan instruktur umum adalah
Mayor TNI Hamid Rusydi, tokoh yang namanya tetap dikenang dan bahkan diabadikan sebagai salah satu nama jalan di kota Malang

Salah satu keputusan penting Kongres II ANO di Malang tersebut adalah didirikannya Banoe di tiap cabang ANO. Selain itu, kongres ini juga menyempurnakan Anggaran Rumah Tangga ANO terutama yang menyangkut soal Banoe

Pada masa pendudukan Jepang organisasi-organisasi pemuda diberangus oleh pemerintah kolonial Jepang termasuk ANO. Setelah revolusi fisik (1945-1949) usai, tokoh ANO Surabaya, Moh. Chusaini Tiway, mengemukakan ide untuk mengaktifkan kembali ANO. Ide ini mendapat sambutan positif dari KH. Wahid Hasyim – Menteri Agama RIS kala itu, sehingga pada tanggal 14 Desember 1949 lahir kesepakatan untuk membangun kembali ANO dengan nama baru Gerakan Pemuda Ansor, disingkat Pemuda Ansor (kini lebih populer disingkat GP Ansor).

GP Ansor hingga saat ini telah berkembang sedemikian rupa hingga menjadi organisasi kemasyarakatan pemuda di Indonesia yang memiliki watak kepemudaan, kerakyatan, keislaman dan kebangsaan. GP Ansor
hingga saat ini telah memiliki 433 Cabang (Tingkat Kabupaten/Kota) di bawah koordinasi 32 Pengurus Wilayah (Tingkat Provinsi) hingga ke tingkat desa. Ditambah dengan kemampuannya mengelola keanggotaan khusus BANSER (Barisan Ansor Serbaguna) yang memiliki kualitas dan kekuatan tersendiri di tengah masyarakat.

Di sepanjang sejarah perjalanan bangsa, dengan kemampuan dan kekuatan tersebut GP Ansor memiliki peran strategis dan signifikan dalam perkembangan masyarakat Indonesia. GP Ansor mampu mempertahankan eksistensi dirinya, mampu mendorong percepatan mobilitas sosial dan kebudayaan bagi anggotanya, serta mampu menunjukkan kualitas peran maupun kualitas keanggotaannya. GP Ansor tetap eksis dalam setiap episode sejarah perjalanan bangsa dan tetap menempati posisi dan peran yang strategis dalam setiap pergantian kepemimpinan nasional.

Beliau adalah seorang ulama pendiri Nahdatul Ulama. KH Abdul Wahab Hasbullah adalah seorang ulama yang berpandangan modern, dakwahnya dimulai dengan mendirikan media massa atau surat kabar, yaitu harian umum “Soeara Nahdlatul Oelama” atau Soeara NO dan Berita Nahdlatul Ulama.

Beliau adalah pengarang syair “Ya Lal Wathon” yang banyak dinyanyikan dikalangan Nahdliyyin, lagu Ya Lal Wathon di karangnya pada tahun 1934. KH Maimun Zubair mengatakan bahwa syair tersebut adalah syair yang beliau dengar, peroleh, dan di nyanyikan saat masa mudanya di Rembang. Dahulu syair Ya Lal Wathon ini dilantangkan setiap hendak memulai kegiatan belajar oleh para santri.

Ia juga seorang pelopor dalam membuka forum diskusi antar ulama, baik di lingkungan NU, Muhammadiyah dan organisasi lainnya. Ia belajar di Pesantren Langitan Tuban, Pesantren Mojosari Nganjuk, Pesantren Tawangsari Sepanjang, belajar pada Syaikhona R. Muhammad Kholil Bangkalan, Madura, dan Pesantren Tebuireng Jombang di bawah asuhan Hadratusy Syaikh KH. M. Hasyim Asy‘ari. Disamping itu, Kyai Wahab juga merantau ke Mekkah untuk berguru kepada Syaikh Mahfudz at-Tirmasi dan Syaikh Al-Yamani dengan hasil nilai istimewa.

KH. Abdul Wahab Hasbulloh merupakan bapak Pendiri NU Selain itu juga pernah menjadi Panglima Laskar Mujahidin (Hizbullah) ketika melawan penjajah Jepang. Ia juga tercatat sebagai anggota DPA bersama Ki Hajar Dewantoro. Tahun 1914 mendirikan kursus bernama “Tashwirul Afkar”.

Tahun 1916 mendirikan Organisasi Pemuda Islam bernama Nahdlatul Wathan, kemudian pada 1926 menjadi Ketua Tim Komite Hijaz. KH. Abdul Wahab Hasbulloh juga seorang pencetus dasar-dasar kepemimpinan dalam organisasi NU dengan adanya dua badan, Syuriyah dan Tanfidziyah sebagai usaha pemersatu kalangan Tua dengan Muda.

Ia diangkat sebagai Pahlawan Nasional Indonesia oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 7 November 2014

Sumber ; Buku Tokoh Jombang.

KH Wahid Hasyim Negarawan dan Tokoh Islam

Abdul Wahid Hasyim lahir di Jombang pada tahun 1914. Ia dibesarkan dalam
lingkungan keagamaan, khususnya dari ayahnya KH Hasyim Asy’ari, yang memiliki Pondok Pesantren Tebuireng. Lewat pondok pesantren itu, Wahid Hasyim belajar pengetahuan agama. Untuk mendapatkan pengetahuan agama lebih banyak, Wahid juga belajar di pesantrenpesantren
lain. Sesudah menuntut ilmu di berbagai pesantren, ia membantu
ayahnya mengajar di Tebuireng.

Wahid Hasyim selain mempelajari agama juga rajin membaca dan 
mempelajari ilmu-ilmu pengetahuan lain dengan terlebih dulu
mempelajari membaca dan menulis huruf Latin. Di Pesantren Tebuireng,
Wahid Hasyim menganjurkan para santrinya untuk belajar huruf Latin.
Hal itu menjadi modal untuk mempelajari ilmu pengetahuan lain. Untuk
menunjang usaha itu, Wahid Hasyim mendirikan sekolah sendiri yang
diberi nama Nidhomiah. Sekolah itu dianggap modern pada waktu itu
karena di samping belajar ilmu agama dan ilmu pengetahuan, para santri
juga dilatih berorganisasi dan berpidato. Oleh karena itu, di samping
sekolah juga didirikan Ikatan Pelajar-Pelajar Islam (IPPI). 
Usaha Wahid Hasyim pada awalnya banyak mendapat tantangan
hebat dari para orang tua murid. Mereka mengancam akan menarik
anaknya dari pesantren yang didirikannya itu. Sesudah dijelaskan dan
mengetahui tujuan dan alasan yang hendak dicapai, maka orang tua murid
dapat menerimanya.

Dalam perjalanan panjang menuju Indonesia sebagai negara yang
berdaulat, Wahid Hasyim ikut terlibat dalam sidang Badan Penyelidik
Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Satu isu yang paling kontroversial dan menjadi perdebatan yang tak kunjung usai adalah
hubungan negara dan agama.

Saat itu, dalam sidang BPUPKI, terjadi polarisasi pendapat secara tajam. Para tokoh Islam pada umumnya menginginkan negara Islam.
Sementara kaum nasionalis menghendaki agar agama dipisah dari urusan
negara. Adalah KH Abdul Wahid Hasyim, pemimpin Nahdlatul Ulama (NU)
turut menghiasi perjalanan politik bangsa Indonesia. Ia masuk dalam sub
komite BPUPKI yang dibentuk untuk mencari jalan keluar terbaik bagi
masa depan bangsa. Saat itu memang BPUPKI, badan bentukan Jepang ini
bertugas mempersiapkan bentuk dan dasar negara.

Sub Komite BPUPKI akhirnya berhasil merumuskan dasar negara.
Hasil kesepakatan yang dikenal dengan nama Piagam Jakarta itu lantas
dicantumkan dalam preambul UUD 1945 yang disahkan pada tanggal 22
Juni 1945. Salah satu sila di dalam Pancasila hasil rumusan Wahid Hasyim
dan kawan-kawan antara lain tercantum kata-kata “…kewajiban
menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya.”.

Ternyata rumusan itu diperdebatkan dalam sidang BPUPKI
berikutnya. Wongsonegoro misalnya, menganggap bahwa kalimat itu bisa
menimbulkan fanatisme karena seolah-olah memaksa umat Islam
menjalankan syariatnya. Tetapi menurut Wahid Hasyim, kalimat tersebut
tidak akan berakibat sejauh itu. Ia juga mengingatkan bahwa segala
perselisihan yang timbul bisa diselesaikan secara musyawarah. Namun
akhirnya para “Bapak Bangsa” (Founding Fathers) setuju untuk menghapus 
kata-kata yang kontroversial itu.

Pemikiran Wahid Hasyim juga sempat mewarnai rancangan pertama 
UUD. Ia pernah mengusulkan agar pada Pasal 4 ayat (2) rancangan UUD
disebutkan bahwa yang dapat menjadi presiden dan wakilnya adalah orang
Indonesia asli dan beragama Islam. Selain itu, pada Pasal 29, Kiai Wahid 
Hasyim menginginkan rumusan sebagai barikut: “Agama negara adalah 
Islam dengan menjamin kemerdekaan bagi orang-orang yang beragama
lain untuk beribadat menurut agamanya masing-masing.” 
Alasannya, jika presidennya beragama Islam perintahnya akan
mudah dipatuhi rakyat yang mayoritasnya muslim. Selain itu, Islam
sebagai agama negara mendorong umat Islam berjuang membela
negaranya. Dengan alasan itulah akhirnya, gagasan mantan Ketua

Masyumi itu diterima BPUPKI. Namun usulan itu ditinggalkan dalam
sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). 
Dalam penggalan sejarah berikutnya Wahid Hasyim menjadi
Menteri Agama dalam tiga periode pemerintahan: Kabinet RIS (Desember
1949 – Desember 1950), Kabinet Mohammad Natsir (September 1950 –
April 1951) dan Kabinet Sukiman (April 1951 – April 1952). Di zaman
Wahid Hasyim, Departemen Agama memiliki visi dan misi yang jelas. 
Di bawah kepemimpinan Wahid Hasyim, NU menyatakan keluar
dari Masyumi pada 1952. Selanjutnya NU berkibar sendiri sebagai partai
politik. Dalam Pemilu 1955, NU termasuk empat partai yang memperoleh
suara terbanyak. Wahid Hasyim wafat pada tanggal 19 April 1959.[]

Sumber : Disadur utuh dari Buku : Profil Tokoh Kabupaten Jombang
© Pemerintah Kabupaten Jombang, tahun 2010

KH Bisri Syansuri Ulama, Pendiri PP Mambaul Maarif, Denanyar Jombang

Sebuah desa, sekitar 6 kilometer barat Kota Jombang, sangat indah dan alami. Warganya hidup dalam suasana kerukunan khas daerah agraris dengan pekarangan mengitari rumahrumah serta dilambari persawahan yang luas 
dan senantiasa menghijau sepanjang tahun. Tanaman padi tumbuh subur memagari desa itu, hijau, kuning dan berayun-ayun diterpa angin. Itulah kawasan Desa Denanyar, Jombang.

Lebih seabad yang lalu sebuah pondok pesantren didirikan di Denanyar oleh seorang kiai yang kelak hidupnya bukan saja sangat penting dalam kehidupan di pondoknya tetapi juga mempengaruhi kehidupan bangsanya. Pondok pesantrennya, Mambaul Ma’arif yang didirikan itu mencetak santri dari berbagai daerah dan dari waktu ke waktu terus berkembang hingga ribuan jumlahnya. KH Bisri Syansuri mendirikan pondok di Denanyar pada 1917 ketika beliau berusia
31 tahun.

Sebelum mendirikan pondok, beliau telah melengkapi diri dengan
berbagai ilmu keagamaan yang cukup kuat. Ini tak mengherankan sebab
KH. Bisri Syansuri memang lahir dari keluarga penganut tradisi 
keagamaan yang kuat, yang kelak menurunkan kiai-kiai serta ulama besar 
di negeri ini. Keturunannya juga terjun ke berbagai bidang kehidupan
termasuk politik, bahkan salah satu cucu Kiai Bisri, KH Abdurrahman
Wahid, menjadi presiden RI.

KH. Bisri lahir di Desa Tayu, Pati, Jawa Tengah pada tanggal 18
September 1886 (28 Dzulhijjah 1304). Mulai belajar agama pada usia 7
tahun kepada KH. Sholeh di desa kelahirannya, Tayu. Sebagaimana putra
kiai yang melakukan tradisi menjadi santri keliling, pemuda Bisri juga

berkeliling dari satu kiai ke kiai lain, dari satu pondok ke pondok lain.
Usai belajar pada Kiai Sholeh kemudian melanjutkan belajar di Kajen,
Pati berguru kepada KH. Abdul Salam. Kemudian pindah ke Pesantren
Kasingan, Rembang belajar pada Kiai Cholil Harun. Masih di sekitar Pati
dan Rembang, Jawa Tengah, kemudian mencari ilmu dengan belajar pada
KH Syu’aib di Madura dan belajar kepada Syeikhona Cholil, Demangan,
Bangkalan. Saat itu Kiai Cholil memang salah satu kiai besar di negeri ini
dan menjadi pusat tempat berguru para santri yang diantaranya banyak
menjadi kiai dan ulama besar.

Usai belajar pada Kiai Cholil Bangkalan, Bisri kemudian kembali ke
Jawa namun tidak langsung pulang. Ia belajar agama di Tebuireng,
Jombang di bawah asuhan langsung KH. Hasyim Asy’ary. Di Pondok
Pesantren Tebuireng ini, Bisri belajar selama enam tahun dan menjadi
salah satu santri kesayangan yang sangat dekat dengan gurunya, KH
Hasyim Asy’ary.

Keinginan untuk memperdalam ilmu agama seperti tak pernah habis,
bahkan makin menjadi-jadi. Dari Tebuireng melanjutkan pendidikannya
ke Mekkah selama dua tahun. Sekembalinya dari Mekkah, KH Bisri tidak
langsung pulang ke Tayu namun memilih menetap di Jombang karena
menikah dengan adik KH A. Wahab Hasbullah. Dalam perjalanan
hidupnya, KH Bisri kemudian juga menjadi besan gurunya, KH Hasyim
Asy’ary. Putri Kiai Bisri, Hj Solichah menikah dengan putra KH. Hasyim
Asy’ari, yakni KH. Wahid Hasyim. Dari KH. Wahid Hasyim dan Hj.
Solichah inilah lahir seorang tokoh yang bernama Abdurrahman Wahid
(Gus Dur) yang pernah menjadi Presiden Indonesia. Di Jombang pulalah, KH Bisri memulai kiprahnya sebagai ulama dan kiai besar serta terlibat secara aktif dalam organisasi yang didirikan para ulama, Nahdlatul Ulama.

Ketika Nahdlatul Ulama (NU) didirikan pada 31 Januari 1926 di 
Surabaya, KH Bisri Syansuri adalah salah satu kiai yang hadir pada acara 
tersebut. Bahkan dalam susunan kepengurusan Pengurus Besar NU yang
pertama itu, KH Bisri duduk menjadi salah satu anggota (A’wan) Syuriah.
Sedangkan Raisul Akbar Syuriah PB NU dijabat Hadlratus Syeikh KH
Hasyim Asy’ary yang tidak lain adalah gurunya sendiri ketika nyantri di
Tebuireng. Ketika KH Hasyim Asy’ari meninggal pada tahun 1947
jabatan Raisul Akbar dihapus dan diganti dengan Rais Aam. Jabatan Rais
Aam kemudian diisi KH A. Wabah Hasbullah dengan Wakil Rais Aam

KH Bisri Syansuri. Pada tahun 1971 Kiai Bisri manggantikan posisi Kiai
Wahab Hasbullah sampai akhir hayatnya. Seperti halnya Sang Guru KH Hasyim Asy’ary yang berjuang membela tanah air dan membebaskan bangsa ini dari penjajahan, demikian juga Kiai Bisri. Pada masa perjuangan, Kiai Bisri bergabung dalam barisan Sabilillah dan pernah menjabat sebagai Kepala Staf Markas Besar Oelama Djawa Timoer (MBO-DT) yang bermarkas di belakang pabrik paku Waru, Sidoarjo. Perjuangan para kiai ini sangat penting dalam upaya mempertahankan kemerdekaan dan bahkan menjadi salah satu titik
penting dalam mengorbankan semangat perjuangan arek-arek Surabaya hingga pecah pertempuran 10 November 1945.

Namun perjalanan hidup Kiai Bisri bukan hanya di ranah organisasi
NU atau kemiliteran di barisan Sabilillah namun juga di kancah politik.
Pada masa-masa awal kemerdekaan, Kiai Bisri menjadi anggota Badan
Pekerja KNIP mewakili Masyumi. Pemilu 1955 yang merupakan Pemilu
pertama dalam sejarah ketatanegaraan Republik Indonesia, mengantarkan
Kiai Bisri menjadi anggota konstituante, sampai lembaga perwakilan itu
dibubarkan oleh Presiden Soekarno lewat Dekrit Presiden 5 Juli 1959. 
Namun perjalanan Kiai Bisri di dunia politik tidak pernah surut.
Ketika pemerintah Orde Baru di bawah pimpinan Presiden Soeharto
menetapkan kebijakan penyederhanaan partai politik dan mengharuskan
organisasi-organisasi politik bergabung pada tiga wadah: keagamaan,
kekaryaan dan demokrasi, Kiai Bisri Syansuri bergabung dalam Partai
Persatuan Pembangunan (PPP). Dalam kepengurusan PPP yang dibentuk
pada tahun 1971 itu KH Bisri Syansuri diangkat sebagai Rais Aam Majelis
Syuro PPP. Bahkan Ka’bah yang dijadikan lambang PPP adalah ciptaan
Kiai Bisri Syansuri sebagai hasil shalat istikharah. Lambang Ka’bah ini
pula yang menjadi magnet kuat dan sangat penting sebagai aset partai
yang sangat berharga.

Pada jaman pemerintahan Orde Baru, terutama pada masa-masa 
awal, memang ada upaya atau kebijakan yang biasanya dikenal dengan
kebijakan menjauhkan masyarakat dari politik. Saat itu pemerintahan Orde
Baru memang meletakkan pembangunan ekonomi sebagai panglima dan
mencoba mengamankannya agar sebisa mungkin tak terpengaruh oleh
imbas persoalan politik. Gegap gempita kehidupan politik semasa awal
kemerdekaan dan ketika pemerintahan Presiden Soekarno, menurut
kacamata pemerintahan Orde Baru, memberi pelajaran bahwa

pembangunan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat kurang ditangani
dengan baik karena energi bangsa ini lebih tercurahkan untuk kehidupan
politik yang ternyata tak berkaitan langsung dengan peningkatan
kesejahteraan masyarakat. Karena itu, Orde Baru berusaha menanamkan berbagai stigma bahwa politik itu kurang bagus untuk kemajuan ekonomi bangsa. Salah satu stigma yang juga dibangun adalah bahwa akan selalu muncul ancaman terhadap pembangunan yang sedang giat dilakukan pemerintahan berupa gangguan yang terkenal dengan sebutan ekstrem kanan dan ekstrem kiri. Ekstrem kanan biasanya diasosiasikan dengan kelompokkelompok agama khususnya Islam sedangkan ekstrem
kiri diasosiasikan dengan ideologi komunis lengkap dengan variasi dan derivasinya. Penciptaan berbagai stigma tersebut memang cukup sukses
melapangkan jalan bagi berbagai macam kebijakan pemerintahan Orde
Baru, namun juga punya konsekuensi yang cukup serius. Salah satunya
adalah matinya gagasan-gagasan politik yang dianggap tidak sejalan
dengan pemerintahan Orde Baru.

Ketika Presiden Soeharto menggagas pentingnya Pancasila sebagai
saru-satunya azas bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara, langsung saja menuai protes keras terutama dari kalangan
“Islam”. Namun setting politik yang memang telah dikondisikan dengan
berbagai macam penciptaan stigma negatif tadi membuat kekuatan para
pemrotes itu pupus di tengah jalan.

Para politisi Islam yang tergabung dalam wadah PPP juga harus
mengalami dilema yang cukup berat dan pergulatan batin yang tak kalah
rumit. Antara memperjuangkan kepentingan idealisme dengan kompromi
terhadap keinginan pemerintah yang sering diikuti. Pengalaman semacam
itu juga sering dihadapi KH Bisri Syansuri. Dalam berbagai kesempatan
sikapnya yang keras dan sulit diajak kompromi harus berhadapan dengan 
tekanan yang dilakukan pemerintah. KH Bisri memandang persoalan dari 
kacamata fiqih dan selalu konsisten dengan sikap serta pandangannya itu.
Salah satu peristiwa monumental yang selalu tercatat dalam sejarah 
khususnya parlemen adalah sikapnya yang secara konsisten menolak P4
sebagai ketetapan MPR. Saat berlangsung SU MPR 1978, Fraksi PPP
tidak sepakat dengan fraksi lain mengenai materi Rancangan Ketetapan
MPR tentang P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila).

PPP sudah menggariskan untuk menolak, berbagai argumentasi
sudah diajukan kepada fraksi lain oleh Fraksi PPP namun belum juga
membuahkan hasil. Akhirnya seluruh anggota fraksi PPP memilih walkout
(keluar) dari ruang sidang. Dipimpin KH Bisri Syamsuri berada di urutan paling depan seluruh anggota Fraksi PPP meninggalkan ruangan sebagai tanda
tidak setuju keputusan MPR. Kiai Bisri yang sudah berusia 92
tahun berjalan memimpin anggota PPP.

Mungkin hal itu biasa bagi kehidupan politik kita di saat sekarang,
ketika pemerintah sudah tak “sekuat” dulu, ketika jaman sudah sangat
terbuka. Namun bisa dibayangkan betapa kuatnya tekanan yang harus
dihadapi politisi seperti Kiai Bisri dalam suasana politik yang sangat
otoriter. Tapi itulah KH Bisri Syansuri, kiai besar yang sangat tinggi dan
dalam ilmu agamanya serta sangat luas pengetahuan yang beliau miliki. 
Hingga akhir hayatnya Kiai Bisri masih menjadi anggota DPR yang
sangat disegani, Rais Aam PB NU, Rais Aam Majelis Syuro DPP PPP
namun tetap memimpin dan aktif mengasuh Pondok Pesantren Mambaul
Maarif Denanyar yang beliau rintis dan dirikan. KH Bisri Syansuri
meninggal di Jombang tanggal 25 April 1980 pada usia 94 tahun. Beliau
dimakamkan di kompleks Pesantren Denanyar, Jombang.[]

Sumber : Disadur utuh dari Buku : Profil Tokoh Kabupaten Jombang
© Pemerintah Kabupaten Jombang, tahun 2010

Semaun – Ketua Umum Pertama Partai Komunis Indonesia (PKI)

Semaun (lahir di desa Curahmalang, kecamatan Sumobito, kabupaten Jombang, Jawa Timur sekitar tahun 1899 dan wafat pada tahun 1971) adalah Ketua Umum Pertama Partai Komunis Indonesia (PKI).

Semaun adalah anak Prawiroatmodjo, pegawai rendahan, tepatnya tukang batu, di jawatan kereta api. Meskipun bukan anak orang kaya maupun priayi, Semaoen berhasil masuk ke sekolah Tweede Klas (sekolah bumiputra kelas dua) dan memperoleh pendidikan tambahan bahasa Belanda dengan mengikuti semacam kursus sore hari. Setelah menyelesaikan sekolah dasar, ia tidak dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi. Karena itu, ia kemudian bekerja di Staatsspoor (SS) Surabaya sebagai juru tulis (klerk) kecil.

Politik
Kemunculannya di panggung politik pergerakan dimulai di usia belia, 14 tahun. Saat itu, tahun 1914, ia bergabung dengan Sarekat Islam (SI) afdeeling Surabaya. Setahun kemudian, 1915, bertemu dengan Sneevliet dan diajak masuk ke Indische Sociaal-Democratische Vereeniging, organisasi sosial demokrat Hindia Belanda (ISDV) afdeeling Surabaya yang didirikan Sneevliet dan Vereeniging voor Spoor-en Tramwegpersoneel, serikat buruh kereta api dan trem (VSTP) afdeeling Surabaya. Pekerjaan di Staatsspoor akhirnya ditinggalkannya pada tahun 1916 sejalan dengan kepindahannya ke Semarang karena diangkat menjadi propagandis VSTP yang digaji. Penguasaan bahasa Belanda yang baik, terutama dalam membaca dan mendengarkan, minatnya untuk terus memperluas pengetahuan dengan belajar sendiri, hubungan yang cukup dekat dengan Sneevliet, merupakan faktor-faktor penting mengapa Semaoen dapat menempati posisi penting di kedua organisasi Belanda itu.

Di Semarang, ia juga menjadi redaktur surat kabar VSTP berbahasa Melayu, dan Sinar Djawa-Sinar Hindia, koran Sarekat Islam Semarang. Semaoen adalah figur termuda dalam organisasi. Pada tahun belasan itu, ia dikenal sebagai jurnalis yang andal dan cerdas. Ia juga memiliki kejelian yang sering dipakai sebagai senjata ampuh dalam menyerang kebijakan-kebijakan kolonial.

Pada tahun 1918 dia juga menjadi anggota dewan pimpinan di Sarekat Islam (SI). Sebagai Ketua SI Semarang, Semaoen banyak terlibat dengan pemogokan buruh. Pemogokan terbesar dan sangat berhasil di awal tahun 1918 dilancarkan 300 pekerja industri furnitur. Pada tahun 1920, terjadi lagi pemogokan besar-besaran di kalangan buruh industri cetak yang melibatkan SI Semarang. Pemogokan ini berhasil memaksa majikan untuk menaikkan upah buruh sebesar 20 persen dan uang makan 10 persen.

Bersama-sama dengan Alimin dan Darsono, Semaoen mewujudkan cita-cita Sneevliet untuk memperbesar dan memperkuat gerakan komunis di Hindia Belanda. Sikap dan prinsip komunisme yang dianut Semaoen membuat renggang hubungannya dengan anggota SI lainnya. Pada 23 Mei 1920, Semaoen mengganti ISDV menjadi Partai Komunis Hindia. Tujuh bulan kemudian, namanya diubah menjadi Partai Komunis Indonesia dan Semaoen sebagai ketuanya.

Pada bulan Mei 1921, ketika Partai Komunis Indonesia didirikan setelah pendiri ISDV dideportasi, Semaun menjadi ketua pertama. PKI pada awalnya adalah bagian dari Sarekat Islam, tetapi akibat perbedaan paham akhirnya membuat kedua kekuatan besar di SI ini berpisah pada bulan Oktober 1921. Pada akhir tahun itu juga dia meninggalkan Indonesia untuk pergi ke Moskow, dan Tan Malaka menggantikannya sebagai Ketua Umum. Setelah kembali ke Indonesia pada bulan Mei 1922, dia mendapatkan kembali posisi Ketua Umum dan mencoba untuk meraih pengaruhnya kembali di SI tetapi kurang berhasil.

Pengasingannya

Pada tahun 1923, VSTP merencanakan demonstrasi besar-besaran dan langsung dihentikan oleh pemerintah kolonial Belanda, dan setelah itu Semaun diasingkan ke Belanda. Selama masa pengasingannya dia kembali ke Uni Sovyet, dimana dia tinggal disana lebih dari 30 tahun. Pada masa itu dia tetap menjadi aktivis tetapi hanya dalam aksi-aksi terbatas, berbicara beberapa kali di Perhimpunan Indonesia, organisasi mahasiswa di Belanda pada masa itu. Dia juga sempat belajar di Universitas Tashkent untuk beberapa waktu.

Selama pembuangan ke Eropa, Semaoen aktif di Executive Committee of the Comintern, Komite Eksekutif Komunis Internasional (ECCI). Setelah beberapa tahun tinggal di Belanda, Semaoen lalu menetap di Uni Soviet dan menjadi warga negara di sana. Ia pernah bekerja sebagai pengajar bahasa Indonesia dan penyiar berbahasa Indonesia pada radio Moscow. Puncak “kariernya” adalah ketika diangkat oleh Stalin menjadi pimpinan Badan Perancang Negara (Gozplan) di Tajikistan.

Setelah masa pengasingannya dia kembali ke Indonesia, dan pindah ke Jakarta. Kepulangan Semaoen ke Indonesia pada tahun 1953 merupakan inisiatif Iwa Kusumasumantri. Semaoen, Iwa, dan Sekjen Partai Komunis Iran menikahi tiga putri kakak-adik yang saat itu bekerja dalam Comintern.

Saat kembali ke Indonesia dalam usia setengah abad lebih, Semaoen telah terputus dari PKI, partai yang ia dirikan. Dari tahun 1959 sampai dengan tahun 1961 dia bekerja sebagai pegawai pemerintah. Dia juga mengajar mata kuliah ekonomi di Universitas Padjadjaran, Bandung.

Sumber : Wikipedia
https://id.wikipedia.org/wiki/Semaun

1. Jarvis, Helen (1991). Notes and appendices for Tan Malaka, From Jail to Jail. Athens, Ohio: Ohio University Center for International Studies.
2. Kahin, George McT. (1952) Nationalism and revolution in Indonesia. Ithaca, New York:Cornell University Press.
3. Ricklefs, M.C. (2001) A history of modern Indonesia since c.1200 3rd ed. Stanford, California:Stanford University Press
4. (Indonesia) Semaoen, Aktivis Buruh dan Pemikir, Kompas 21 Mei 2005

Cak Durasim – Seniman Ludruk

Nama lengkapnya adalah Gondo Durasim, tetapi ia lebih dikenal
sebagai Cak Durasim. Sebuah nama yang dikenal di dunia seni, khususnya seni ludruk, meskipun tidak mudah mencari data-data pribadi maupun keluarganya. Begitu terkenalnya nama Cak Durasim hingga anak-anak muda pintar di Institut Teknologi Bandung yang mengelola klub seni ludruk selalu tak lupa menyebut namanya bila berdiskusi tentang kesenian
ini.

Cak Durasim sebenarnya bukan sekedar seniman, apalagi seniman biasa. Reputasinya menjulang tinggi melewati batas-batas dunia seni karena ia juga satu di antara sedikit tokoh yang berani berkata “tidak” kepada penguasa penjajahan Jepang di Indonesia. Kidungannya yang secara jelas mengritik keras penguasa Jepang sangat melegenda:

“Pegupon omahe doro, urip melu
Nippon tambah sengsoro.”

Sampai beberapa waktu, penguasa Jepang belum tahu apa arti
kidungan Cak Durasim tersebut. Namun kemudian, entah melalui siapa, mereka mengetahui artinya hingga menimbulkan kemarahan besar. Akibatnya bisa diduga. Ketika Cak Durasim dan beberapa kawannya mengadakan pagelaran ludruk di Desa Mojorejo, Kabupaten Jombang, ia dan kawan-kawannya ditangkap.

Sampai di sini setidaknya ada dua versi kelanjutannya. Satu sumber menyebut Cak Durasim meninggal di dalam penjara 
akibat penganiayaan tentara Jepang pada tahun 1944, tetapi sumber lain menyebutkan, seniman itu meninggal dunia setelah dibebaskan pada Agustus tahun itu. Hal ini dinyatakan oleh Satari, bekas sri panggung ludruk Organisatie yang menyaksikan langsung peristiwa tersebut di atas.

Betapa besarnya pengorbanan Cak Durasim itu tidak perlu 
diperdebatkan lagi. Kita pun sepakat pada pendapat bahwa pasemon Cak Durasim melawan Jepang tersebut telah menjadi benih dari kesenian ludruk yang hidup sampai hari ini. Ada yang menyebut, ludruk kemudian mengalami penyempitan kapitalistik dan menjadi Srimulat, sementara Cak Durasim menjadi syahid karena perlawanan politiknya terhadap kolonialisme dan imperialisme kekuatan asing.

Bagaimana Cak Durasim bisa tumbuh menjadi seniman ludruk yang luar biasa itu tentu tak lepas dari lingkingan yang membentuknya. Ludruk sendiri lahir dan tumbuh pertama kali di Jombang. Kesenian ini dirintis pertama kali oleh Pak Santik, seorang petani dari Desa Ceweng, kini masuk Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang. Ia adalah petani berpenghasilan kecil, namun sepertinya tidak pernah sedih, melainkan
malah sering melucu. Pada tahun 1907, Pak Santik mulai mencari nafkah dengan mengamen dengan iringan musik lisan alias mulut.

Begitulah, ia kemudian berkenalan dengan Pak Amir dari Desa
Plandi, dan iringan musik pun dilakukan dengan kendang. Lalu Pak Ponobergabung dengan mengenakan pakaian wanita, hingga kemudian disebut wedokan. Mereka bertiga keliling dari kampung ke kampung, menyampaikan pesan-pesannya lewat parikan-parikan yang menarikpenontonnya. Di antaranya:

Keong nyemplung neng blumbang
Tinimbang nyolong aluwung mbarang
(keong masuk kolam, daripada mencuri lebih baik mengamen)

Mereka yang tertarik mengetahui lebih jauh tentang perkembangan ludruk dapat membaca buku-buku tentang kesenian ini, yang jumlahnya kini terus bertambah. Henry Supriyanto, dosen Universitas Negeri Surabaya, misalnya, cukup banyak menulis buku tentang ludruk. Gelar doktornya yang diraih 2006 yang lalu dari Universitas Udayana, Denpasar,
juga membahas seni ludruk.

Kembali ke Cak Durasim, tokoh ini memang mencuat namanya
menjelang masa penjajahan Jepang. Dalam suatu kisah, Cak Durasim mulai membentuk kelompok ludruk bukan di Jombang, tetapi di Surabaya. Ini karena pembentukan ini disponsori oleh Pak Tom alias Dr. Soetomo, tokoh pejuang perintis kemerdekaan yang terkenal di awal ke-20 tersebut.

Penampilan ludruk Cak Durasim ini disebut jauh lebih modern. 
Setiap pertunjukan ludruk yang digelarnya sudah termasuk satu kesatuan dari tari remo yang menampilkan kepahlawanan. “Juga dagelan sebagai sisipan dan baru kemudian masuk ke inti cerita,” demikian Dukut Iman Widodo dalam bukunya, “Soerabaja Tempo Doeloe” Buku 1 yang terbit pada tahun 2002.

Dalam perjalanannya, Cak Durasim mengembangkan kesenian
ludruk dengan menggali dan mempopulerkan cerita-cerita dan legenda rakyat dalam bentuk drama. Kedatangan bala tentara Jepang yang membuat sengsara rakyat negeri ini tidak membuat kecil nyalinya, berbeda tentang banyak tokoh dan pemimpin di negeri ini. Tidak sedikit yang mencari keselamatan diri dengan cara berdiam diri, yang barangkali lebih baik karena banyak juga yang menjual bangsa sendiri.

Kalau sekarang kita banyak menemukan parikan dan pesemon yang bernada kritik terhadap kekuatan atau kelompok tertentu, maka tidak bisa dibantah hal-hal seperti itu banyak “meminjam” atau meniru gaya Cak Durasim.[]

KH. M. Wahib Wahab Menteri Agama RI (1959-1963)

Ini adalah tipikal para pejuang yang benar-benar mengabdikan hidupnya untuk kepentingan bangsa dan negara, tidak memperkaya diri dengan memanfaatkan jabatan dan kekuasaan untuk kepentingan pribadi. “Setelah ini saya akan memperbaiki ekonomi rumah tangga,” itulah jawaban yang disampaikan KH. M. Wahib Wahab kepada Prof. KH. Syaifuddin Zuhri. Jawaban itu disampaikan ketika Prof. Syaifuddin Zuhri menanyakan alasan mengapa KH. M. Wahib Wahab mengundurkan diri dari jabatan Menteri Agama(1959-1963) pada masa Pemerintahan Bung Karno.

Memang ada sejumlah contoh yang ditunjukkan oleh orang-orang yang kemudian dikenal memiliki jiwa besar, yang merasa tak cocok dengan atasannya (presiden) dan memilih mengundurkan diri. Ada juga yang dengan sadar dan penuh keikhlasan menyerahkan kekuasaan kepada yang lain karena berpikir akan lebih seperti itu, baik untuk diri sendiri dan
terutama untuk kepentingan yang lebih besar, masyarakat dan bangsa.

Begitu India merdeka, Mahatma Gandhi dengan tulus ikhlas
menyerahkan kursi jabatan perdana menteri kepada Jawaharlal Nehru. Sebuah keputusan yang kelak tercatat dalam sejarah India dan dunia sebagai hal yang sangat tepat untuk menyelamatkan India dan kemudian tumbuh dengan baik tanpa harus diganggu virus permusuhan akibat perseteruan untuk berebut jabatan. Sejarah Indonesia merdeka juga mencatat langkah luar biasa yang pernah dilakukan Mohammad Hatta, sang proklamator dan juga dwi tunggal Indonesia bersama Bung Karno. Dalam sejarah tercatat, beberapa kali Bung Hatta berselisih pendapat dengan Bung Karno. Beliau
menyelamatkan negeri ini dari dari konflik yang lebih terbuka dengan cara ikhlas mundur dari kancah kekuasaan. Mantan Wapres Sri Sultan Hamengkubuwono IX tak mau lagi dicalonkan menjadi wakil Presiden pada masa awal pemerintahan Presiden Soeharto dan memilih untuk
bersama masyarakat serta mengayomi mereka. Orang hanya bisa menduga-duga karena ketidak-cocokan dengan Presidenkah Sri Sultan HB IX memilih mundur. Itu pun dibantahnya dan hanya mengatakan bahwa kesehatannya tidak memungkinkan untuk tugas seberat wakil presiden.

Tetapi KH. M. Wahib Wahab menegaskan, ingin lebih bebas lagi
karena sudah bosan menjadi menteri agama dan akan memperbaiki ekonomi keluarga. Jawaban itu disampaikan kepada calon penggantinya karena memang Presiden Soekarno menunjuk Prof. Syaifuddin Zuhri yang menggantikan KH. M. Wahib Wahab. Merasa tidak enak dengan penggantian itu Syaifuddin Zuhri menyempatkan diri untuk mohon restu
sambil menanyakan alasan pengunduran diri. Demikian etika politik yang elok dan elegan masih dipegangi para politisi yang hidup di jaman perjuangan kemerdekaan dulu. Semua memang perlu ada etika, demikian juga dalam kekuasaan politik.

Dan tentang alasan pengunduran diri KH. M. Wahib Wahab dengan alasan untuk memperbaiki perekonomian keluarga, bukan saja jawaban yang melegakan penggantinya tetapi juga jawaban yang jujur sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada keluarga. Akhirnya KH. M. Wahib Wahab memang terjun di dunia usaha dengan mendirikan pabrik ubin di Kota Bandung. 
Itulah akhir drama perjuangan hidup seorang Wahib Wahab di dunia politik yang memberikan banyak kisah teladan kepada kita tentang bagaimana menyelamatkan kepentingan yang lebih besar, memperlakukan pejabat yang menggantikannya dan bagaimana bertanggungjawab terhadap diri sendiri dan keluarga. Ia mengabdikan diri untuk kepentingan orang banyak, memberi dan bukan sebaliknya mengambil dari orang banyak, dari negara dan bangsanya untuk kepentingan pribadi atau keluarganya.

Tokoh Penting

Wahib Wahab adalah orang Jombang asli. Ia lahir di Desa Tambak Beras, Jombang pada November 1918. Merupakan putra sulung ulama besar KH Abdul Wahab Hasbullah, salah satu pendiri dan tokoh penting Nahdlatul Ulama (NU).

Semasa kecil ia memulai pendidikan dengan belajar pada orang
tuanya di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambak Beras, Jombang. Dan tradisi nyantri keliling kemudian dijalaninya dari satu pondok pesantren ke pondok pesantren yang lain. Usai berguru pada orang tuanya di Tambak Beras, ia melanjutkan ke Pondok Pesantren Seblak, Jombang, kemudian ke Mojosari Nganjuk, Kasingan Rembang dan Buntet Cirebon.

Wahib Wahab juga menempuh pendidikan di Merchantile Institute of Singapore (1936-1938) dan setahun kemudian berangkat ke tanah suci Mekkah selama setahun. Sekembali ke tanah air Wahib Wahab mulai terjun ke dunia organisasi di lingkungan NU. Pada tahun 1949 menjadi Ketua Departemen Penerangan Ansor di Surabaya, merangkap jabatan sebagai Ketua Umum GPII Jombang (1942). Pada tahun 1959 terpilih
sebagai Ketua I Pengurus Departemen Siasat PP GP Ansor. Wahib Wahab juga tercatat sebagai Ketua Pertanu (Persatuan Tani Nahdlatul Ulama). Dalam karir keorganisasian NU, Wahib Wahab juga tercatat sebagai pembentuk kepengurusan perwakilan/cabang NU dan Ansor di Singapura,
Malaysia, Kamboja dan Saigon (Vietnam).

Bukan hanya di organisasi NU tempat ia mengabdi, Wahib Wahab juga mendarmabaktikan dirinya untuk kepentingan bangsanya di dunia kemiliteran. Sejak 1942 menjadi Komandan PETA (pembela tanah air). Ketika masa perjuangan merebut kemerdekaan, Kiai Wahab menjabat Panglima Hizbullah Divisi Sunan Ampel Jawa Timur. Pada masa-masa ini ia sering berkumpul dengan para teman-teman seperjuangannya. Terkisah misalnya, suatu malam tiga pejuang sedang berkumpul di Jombang yakni KH Wahib Wahab, KH Yusuf Hasyim (salah satu putra Hadaratus Syeikh KH Hasyim Asy’ari) dan Mohammad Ghufron Na’im. Mereka berunding
mengatur siasat untuk menangkap seorang misionaris bernama Van der Plas, yang merupakan misionaris yang membonceng penjajah Belanda. Para pejuang yang sekaligus tokoh Islam ini menilai Van der Plas sebagai orang yang sangat berbahaya bak ular yang lidahnya penuh bisa. “Kita pancing saja agar masuk Tebuireng lalu kita sergap di sana,” usul Kiai Wahib yang langsung disetujui kedua rekannya.

Lalu dibuatkan sebuah acara yang juga mengundang Van der Plas di Tebuireng. Namun Van der Plas juga orang yang cerdik, ia datang dengan membawa pengawal yang menyamar (berpakaian preman). Setelah merasa cukup menghadiri undangan itu, Van der Plas pulang, para pejuang
pimpinan Kiai Wahib siap menyergap. Namun rupanya, ia sudah merasa dirinya akan disergap sehingga bisa menyelinap lebih dulu saat pulang dan memang benar, Van der Plas lolos. Ketiga pejuang itu hanya bisa geleng- geleng kepala, heran kenapa musuh yang sudah dalam perangkap bisa meloloskan diri.

Masa perjuangan memang terus berlanjut, Kiai Wahib juga aktif
berjuang dalam wadah Hizbullah. Namun ketika Hizbullah harus melebur ke dalam TNI, rekan-rekannya masih banyak yang meneruskan karier militernya. Sedangkan Kiai Wahib Wahab memilih berhenti dan berjuang di jalan lain, jalur politik. Sebelum menjadi Menteri Agama beliau pernah tercatat menjadi anggota DPR dan Menteri Penghubung Sipil Militer. Selepas jabatan menteri ia memilih tinggal di Bandung dan wafat pada 12 Juli 1986 di Jakarta. Beliau dimakamkan di Tambakberas, Jombang berdekatan dengan makam ayahnya, KH A Wahab Hasbullah.[]

KH. Mahfudz Anwar – Pakar Astronomi NU

KH. Mahfudz Anwar adalah salah seorang ulama kharismatik yang memiliki kualifikasi keilmuan yang sangat mumpuni. Tiga cabang ilmu dasar dikuasai dengan sangat mendalam yakni fikih, tafsir dan ilmu falak (astronomi). Selain ketiga bidang itu, KH. Mahfudz Anwar juga dikenal sebagai seorang Muhaddits [ahli hadits], Sufi [ahli tasawuf], dan ahlul lughah [ahli bahasa/ etimolog]. Kemampuan yang dimilikinya itu tidak lepas dari latar belakang keluarga yang membimbingnya, lembaga pendidikan yang menempanya, dan perjuangan sosial kemasyarakatan yang dijalaninya dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan. Tetapi diantara sekian banyak ilmu yang dikuasai ia lebih dikenal sebagai seorang pakar ilmu falak, yang ditekuni hingga akhir hayatnya.

Masa Pembentukan

Kiai yang hafal al Quran itu dilahirkan di Paculgowang Jombang 12 April 1912 M dari pasangan Kiai Anwar Alwi dan Nyai Khadijah, ia anak keenam dari 12 orang bersaudara. Ayahnya adalah pengasuh Pesantren Pacul Gowang, generasi kedua. KH. Anwar Ali satu periode dengan KH. Moh. Hasyim Asy’ari, Pendiri Pondok Pesantren Tebuireng Jombang dan organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Mereka sama-sama murid KH. Kholil Bangkalan Madura. Selain KH. Hasyim, KH. Abdul Karim [pendiri pondok pesantren Lirboyo Kediri] dan KH. Ma’ruf [Kedunglo Kediri] juga teman karibnya. Kiai Anwar Alwi juga murid KH. Mahfudz Termas Pacitan yang berdomisili di Makkah ketika studi di sana.

Melihat latar belakang keluarga yang berbasis pesantren itu sangat wajar apabila KH. Mahfudz Anwar tumbuh dalam suasana religius dan keilmuan agama yang tinggi Saat itu Pesantren Tebuireng telah muncul sebagai pesantren terkenal kualitas keilmuannya, kenyataan itu membuat Kiai Anwar Ali memondokkan anaknya ke sana. Jarak antara Tebuireng dengan Paculgowang hanya sekitar 3 km. Maka dikirimlah Mahfudz kecil ke Pondok Pesantren Tebuireng untuk menimba ilmu dari Kiai Hasyim.

Masa pendidikan Mahfudz banyak dihabiskan di Tebuireng, ditempuh mulai dari kelas shifir awal, tsani, tsalis, (kelas 1 sampai kelas VI) Ibtidaiyah. Karena kecerdasannya yang tinggi maka ketika mencapai kelas IV ia sudah ditugasi untuk mengajar adik kelasnya, padahal umumnya tidak jauh beda atau lebih tua darinya. Ini menunjukkan bahwa Mahfudz kecil memang sudah kelihatan kecerdasannya. Baru setelah lulus kelas VI, ia diangkat menjadi guru resmi di Pesantren Tebuireng. banyak murid ustadz Mahfudz yang nantinya menjadi orang besar, pemimpin masyarakat, misalnya KH. Ahmad Shiddiq dan KH. Tholhah Hasan bahkan Kiai As’ad Syamsul Arifin sempat berguru padanya.

Selain kepada Kiai Hasyim, Mahfudz juga belajar kepada Kiai Ma’shum Ali, seorang ulama besar, ahli falaq dan pencetus nazam Ilmu Sharaf yang sangat heboh di Timur Tengah. Kiai Ma’shum Ali adalah Direktur Madrasah Tebuireng. Posisi penting itu ia duduki baik karena keilmuannya juga karena menantu KH. Hasyim Asy’ari dengan putrinya Hj. Khoiriyah Hasyim. Pada saat yang sama ia juga mengasuh pesantren sendiri di Seblak, tidak jauh dari situ. Pada kiai muda itu Mahfudz khusus mempelajari ilmu falaq, dan ia menunjukkan bakat yang luar biasa dalam disiplin itu. Hal itu bisa dipahami mengingat sejak usia belasan tahun, Mahfudz sudah belajar ilmu itu. Karena itu meski usianya belum genap 20 tahun, kata Kiai Sahal Mahfud, ia sudah disegani oleh santri Tebuireng.

Sebagai santri yang menonjol kepandaiannya, akhirnya Mahfudz diambil menantu oleh Kiai Maksum, karena itu ketika Kiai Maksum meninggal pada usia yang sangat muda, 33 tahun tepat pada tahun 1933, maka kepemimpinan pesantren Seblak diserahkan kepada ustadz Mahfudz. Kesibukan mengurusi pesantren di Seblak tidak membuat Kiai Mahfudz melupakan Tebuireng ia tetap mengajar di Tebuireng. Walaupun sudah menjadi pengasuh pondok pesantren dan sudah menguasai sederet ilmu dengan mendalam, namun semangat belajar Kiai Mahfudz tidak pernah padam. Diantara sekian ilmu yang terus giat dipelajari adalah ilmu falaq sayang guru di bidang itu Kiai Ma’shum Ali keburu meninggal dunia, karena itu langsung belajar falaq lagi kepada Mas Dain, seorang santri seniornya yang menjadi kepala pondok Seblak, yang masih terbilang cucu Kiai Rahmat Kudus. Karena minatnya sangat besar maka ia belajar dengan tekun dan teliti, sehingga bisa menyerap ilmu gurunya itu dengan cepat.

Ilmu Falak Sebagai pilihan.

Sebagai seorang ulama yang mumpuni, Kiai Mahfud menguasai berbagai disiplin keilmuan, antara lain fikih, tafsir dan falak. Dari sekian itu semua dikuasi, tetapi paling ditekuni adalah ilmu falak. Setelah betul-betul menguasai falaq, maka diskusi dan perdebatan dengan mitra belajarnya menjadi semakin seru. Mereka terus mengasah ketajaman analisis masing-masing melalui forum musyawarah sebagai ajang berdebat untuk memperkokoh argumen dan menghindupkan suasana kailmuan yang.

Sumber :

http://www.nu.or.id/post/read/8100/pakar-astronomi-nu

Prof Dr Nurcholish Madjid Cendikiawan Muslim

“Kita lebih bersatu daripada berketuhanan, daripada bermusyawarah dan daripada berkeadilan sosial. Agama memang suprarasional tetapi tidak bertentangan dengan rasio. Hanya berada pada tingkat yang lebih tinggi. Agama yang tidak bisa bertahan hidup terhadap ilmu dan teknologi, bukan agama lagi.”

Kata-kata tersebut disampaikan oleh Prof Dr Nurcholish Madjid, yang kesohor sebagai cendikiawan muslim terkemuka. Seorang tokoh yang juga dikenal sebagai pembaharu pemikiran Islam di Indonesia. Isu pembaharuan Islam ke arah yang lebih modern memang sudah bergulir sejak lama. Sejarah
mengenal nama KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari sebagai tokoh-tokoh yang concerned terhadap konsep reformasi dalam Islam.

Penerus gelombang modernisasi Islam saat ini tentu tidak bisa lepas dari sosok Nurcholish Madjid. Beranjak dari keyakinan bahwa tidak ada yang sakral kecuali Allah, lahirlah mottonya yang sangat terkenal: “Islam Yes, Partai Islam No.”

Nurcholish Madjid lahir di Jombang, Jatim, 17 Maret 1939. Cemerlang, itulah predikat untuk Nurcholish kecil. Pelajaran ilmu alam dan matematika yang menjadi mimpi buruk bagi sebagian besar anak, dapat ia menangkan dengan nilai 9. Haji Abdul Madj d, pemilik dan guru Madrasah Al Wathaniah, Jombang menjadi serba salah karena harus menyerahkan hadiah juara kelas berulang kali kepada anaknya sendiri:
Nurcholish Madjid.

Cita-citanya dulu adalah menjadi masinis kereta api. Tetapi tahuntahun berikutnya Cak Nur semakin eksis sebagai pemegang kemudi pembaharuan Islam. Sewaktu belajar di Fakultas Sastra dan Kebudayaan Islam IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Cak Nur tercatat pernah menjadiketua Umum HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) selama dua periode berturut-turut antara 1966 hingga 1971. Selama aktif di HMI ia menyarankan pembaharuan pemikiran Islam yang mengundang polemik luas. Ia berpendapat bahwa fikih, akidah, akhlak dan tasawuf yang adasudah tidak memadai dan relevan lagi bagi umat Islam di zaman modern ini. Pada 1984, Cak Nur berhasil memboyong gelar doktor filsafat Islam dari University of Chicago dengan judul disertasi Ibn Taimmiyya on Kalam and Falsafa.
Terjun di pentas politik yang sesungguhnya,

Cak Nur mulaimenggebrak dengan pemikiran-pemikirannya tentang sekularisasi – tidak mencoblos partai Islam bukan berarti bukan Islam – atau tentang negara Islam, Pancasila sebagai ideologi terbuka juga tentang toleransi beragama. Ayah dua anak dan suami Omi Komariyah itu juga menjadi tokoh di balik layar turunnya Soeharto. Soeharto yang ditekan dari segala penjuru oleh berbagai pihak akhirnya mutung (patah arang) ketika Cak Nur menolak menjadi anggota Komite Reformasi. “Ketika Pak Quraish Shihab (ketika itu menteri agama) mengatakan saya bersedia, Pak Harto pun berkata, “Saya tampaknya tidak dipercaya. Cak Nur yang moderat saja tidak mau menjadi anggota, apalagi yang lain. Kalau sudah begitu, saya mundur saja,” begitulah penuturan Cak Nur.

Nurcholish boleh dibilang Guru Bangsa. Hampir semua pejabat atau tokoh masyarakat selalu bertanya kepada Cak Nur jika menghadapi persoalan yang pelik. Bahkan mantan Presiden Soeharto yang terkenal sebagai orang kuat selama tiga dasawarsa masa kekuasaannya, pada akhirnya hanya bisa menurut ketika Cak Nur mengatakan, “Pak Harto,
sampai sekarang rakyat itu tidak mengerti reformasi kecuali Anda turun.”

Pulangnya Sang Ikon

Nurcholish Madjid memang ikon pembaharuan pemikiran dan 
gerakan Islam di Indonesia. Oleh karena itu, bangsa ini sungguh
kehilangan ketika sang ikon itu menghembuskan nafas terakhirnya pada Senin 29 Agustus 2005 pukul 14.05 WIB di Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI), Jakarta Selatan. Ia meninggal akibat penyakit hati yang dideritanya. Cak Nur menghembuskan nafas terakhir di hadapan istrinya Omi
Komariah, putrinya Nadia Madjid, putranya Ahmad Mikail, menantunya David Bychkon, sahabatnya Utomo Danandjaja, sekretarisnya Rahmat Hidayat, stafnya Nizar, keponakan dan adiknya.

Cak Nur dirawat di RS Pondok Indah mulai 15 Agustus 2005 karena mengalami gangguan pada pencernaan. Pada 23 Juli 2004 dia menjalani operasi transplantasi hati di RS Taiping, Provinsi Guangdong China.

Jenazah Rektor Universitas Paramadina itu disemayamkan di
Auditorium Universitas Paramadina di Jalan Gatot Subroto, Jakarta. Kemudian jenazah penerima Bintang Mahaputra Utama itu diberangkatkan dari Universitas Paramadina setelah upacara penyerahan jenazah dari keluarga kepada negara yang dipimpin Menteri Agama Maftuh Basyuni, untuk dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Selasa, 30 Agustus 2005 pukul 10.00 WIB. Sementara, acara pemakaman secara kenegaraan di TMP Kalibata dipimpin oleh Menteri
Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Alwi Shihab. 
Sejumlah tokoh datang melayat dan melakukan salah jenazah. Di antaranya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Wakil Presiden Jusuf Kalla, Mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid, Syafi’i Ma’arif, Siswono Yudo Husodo, Rosyad Sholeh, Ketua MPR Hidayat Nur Wahid, Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, Azyumardi Azra, mantan Ketua DPR Akbar Tandjung, Ketua Panitia Ad Hoc II DPD Sarwono Kusumatmadja, Wakil Ketua DPD Irman Gusman, Agung
Laksono. Juga melayat Pendeta Nathan Setiabudi, Kwik Kian Gie, dan banyak lagi. Sementara pernyataan dukacita mengalir antara lain dari Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (Matakin), Presidium Pusat Himpunan Mahasiswa Buddhis Indonesia, keluarga besar solidaritas Tanpa Batas (Solidamor), dan lain-lain.

Gagasan Cak Nur tentang pluralisme telah menempatkannya sebagai intelektual muslim terdepan. Dia menganggap penting pluralisme, karena ia menyakini bahwa pluralisme adalah bagian dari ketentuan Tuhan yang tak terelakkan.
Dia mengembangkan pemikiran mengenai pluralisme dalam bingkai civil society, demokrasi, dan peradaban. Menurutnya, jika bangsa Indonesia mau membangun peradaban, pluralisme adalah inti dari nilai peradaban itu, termasuk di dalamnya penegakan hukum yang adil dan pelaksanaan hak asasi manusia. Nama Cak Nur sempat mencuat sebagai salah seorang kandidat calon presiden Pemilu 2004. Namun akhirnya ia mengundurkan diri dari proses pencalonan melalui Konvensi Partai Golkar. Belakangan dia sakit dan sempat beberapa lama dirawat di Singapura.

Meskipun cita-citanya menjadi masinis kereta api tidak kesampaian, Cak Nur toh diakui berhasil menjadi masinis lokomotif politik. Prestasinya itu wajar. Nurcholish muda hidup di tengah keluarga yang lebih kental membicarakan soal politik ketimbang mesin uap. Keluarganya berasal dari lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) dan ayahnya, Kiai Haji Abdul Madjid,
adalah salah seorang pemimpin partai politik Masyumi. Saat terjadi “geger” politik NU keluar dari Masyumi dan membentuk partai sendiri, ayahnya tetap bertahan di Masyumi. Sahabat Cak Nur, Utomo Dananjaya, Direktur Institute for Education Reform Universitas Paramadina mengatakan, “Dengan nuansa politik pada waktu itu, keluarga Cak Nur biasa mengobrol, mendengar, berbicara soal-soal politik.” Utomo kerap dituding sebagai salah seorang “kompor” yang mendorong Nurcholish ke pentas politik. Atas tudingan itu ia berseloroh, “Ah tidak, politik sudah ada dalam pemikiran Cak Nur sejak pemilu tahun
1955. Generasi saya dan dia sudah cukup dewasa untuk memahami, membaca, dan melihat politik.”
Kesadaran politik Nurcholish muda terpicu oleh kegiatan orang
tuanya yang sangat aktif dalam urusan pemilu. Apalagi orang tua santri Kulliyatul Mualimin al-Islamiyah Pesantren Darus Salam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur, itu adalah kiai, tokoh masyarakat, sekaligus pemimpin Masyumi. “Mengobrol dalam keluarga tentu termasuk juga soal politik. Hanya, Cak Nur itu kan yang menonjol pemikirannya, bukan sikap politiknya,” kata Utomo, yang akrab dipanggil Mas Tom. Politik praktis mulai dikenal Nurcholish saat menjadi mahasiswa. Ia
terpilih sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Ciputat, tempat Nurcholish menimba ilmu di Fakultas Sastra dan Kebudayaan Islam Institut Agama Islam Negeri Syarief Hidayatullah, Jakarta. Pengalamannya bertambah saat menjadi salah satu calon Ketua Umum Pengurus Besar HMI. Saat menjadi kandidat ketua umum, kemampuan Nurcholish sudah cukup komplit. Pikirannya, ngajinya, menjadi imam, khotbah, ceramah agama, bagus semua. “Orang-orang
HMI waktu itu terpukau oleh pikiran-pikiran Cak Nur,” kata Utomo menirukan kekaguman Eky Syahrudin, Duta Besar Indonesia untuk Kanada itu. Kendati memimpin organisasi mahasiswa ekstrakurikuler yang disegani pada awal zaman Orde Baru, Nurcholish tidak menonjol di lapangan sebagai demonstran. Bahkan namanya juga tidak berkibar di lapangan politik sebagai pengurus Komite Aksi Mahasiswa Indonesia
(KAMI), kumpulan mahasiswa yang dianggap berperan menumbangkan Presiden Soekarno dan mendudukkan Mayor Jenderal Soeharto sebagai penggantinya. Prestasi Cak Nur lebih terukir di pentas pemikiran. Terutama pandapatnya tentang demokrasi, pluralisme, humanisme, dan keyakinannya untuk memandang modernisasi atau modernisme bukan sebagai Barat, modernisme bukan westernisme. Modernisme dilihat Cak
Nur sebagai gejala global, seperti halnya demokrasi.

Pemikiran Nurcholish tersebar melalui berbagai tulisannya yang
dimuat secara berkala di tabloid Mimbar Demokrasi, yang diterbitkan HMI. Gagasan Presiden Persatuan Mahasiswa Islam Asia Tenggara ini memukau banyak orang, hingga Nurcholish digelari oleh orang-orang Masyumi sebagai “Natsir muda”. “Gelar Natsir muda itu bukan karena dia pintar agama, melainkan karena pemikiran-pemikirannya. Saat itu hampir
semua orang bilang begitu,” ujar Utomo, yang mengaku kenal Nurcholish sejak tahun 1960-an, yaitu saat Tom menjadi Ketua Umum Pelajar Islam Indonesia (PII) dan Nurcholish Ketua Umum HMI. Pemikiran Nurcholish yang paling menggegerkan khalayak, terutama pada aktivis gerakan Islam, adalah saat pemimpin umum majalah Mimbar Jakarta ini melontarkan pertanyaan “Islam Yes, partai Islam no”. Nurcholish ketika itu menganggap partai-partai Islam sudah menjadi “Tuhan” baru bagi orang-orang Islam. Partai atau organisasi Islam dalam
pemilu dituding melakukan dosa besar. Bahkan, bagi kalangan NU, haram memilih Partai Masyumi. Padahal orang Islam tersebar di mana-mana, termasuk di partai milik penguasa Orde Baru, Golkar. Pada waktu itu sedang tumbuh obsesi persatuan Islam. Kalau tidak bersatu, Islam menjadi lemah. Cak Nur menawarkan tradisi baru bahwa dalam semangat demokrasi tidak harus bersatu dalam organisasi karena keyakinan, tetapi
dalam konteks yang lebih luas, yaitu kebangsaan.

Karena gagasannya ini, tuduhan negatif datang ke arah Nurcholish, mulai dari pemikir aktivis gerakan Islam sampai peneliti asing. Di dalam negeri, pemikiran Nurcholish ditentang tokoh Masyumi, Profesor H.M. Rasjidi. Sedangkan dari negeri jiran, Malaysia, ia dicerca oleh Muhammad Kamal Hassan, penulis disertasi yang kemudian diterbitkan dengan judul
Muslim Intellectual Responses to “New Order” Modernization in Indonesia. Hassan menuding Nurcholish sebagai anggata Oprasi Khusus (Opsus) di bawah Ali Moertopo. Tudingan ini dibantah Utomo, yang kenal betul pribadi Nurcholish. “Tuduhan itu tidak berdasar, karena kami saat itu benar-benar
bersama-sama. Itu fitnah, dan Kamal Hassan tak pernah bertemu kami untuk mengkonfirmasi sumbernya itu,” ujar Tom.
Kejutan berikut datang lagi pada Pemilu 1977, dalam pertemuan di kantor Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI), saat para aktivisnya sedang cenderung memilih Golkar sebagai kendaraan politik. Nurcholish sata-satunya tokoh yang meminta agar mahasiswa tidak memilih Golkar. “Sebab, waktu itu, menurut Cak Nur, Golkar sudah memiliki segalanya, 
militer, birokasi, dan uang,” kata Utomo. Maka, dalam kampanye Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Nurcholish mengemukakan teori “memompa ban kempes”, yaitu pemikiran agar mahasiswa memilih partai saja ketimbang Golkar. “Cak Nur percaya pada checks and balances, mengajak mahasiswa agar tidak memiliki Golkar, dan dia tak masuk Golkar. Ada pengaruh atau tidak? Nyatanya, di Jakarta PPP menang.

Dengan tema demokrasinya itu, orang menjadi lebih berani, sehingga Golkar di Jakarta terus-terusan kalah,” ujar Mas Tom.
Pemikiran politik Nurcholish semakin memasuki ranah filsafat
setelah ia kuliah di Universitas Chicago, di Chicago, Illinois, Amerika Serikat, untuk meraih gelar doktor dalam bidang filsafat. Nurcholish terlibat perdebatan segitiga yang seru dengan Amien Rais dan Mohamad
Roem. Pemicunya adalah tulisan Amien Rais di majalah Panji Masyarakat,

“Tidak Ada Negara Islam”, yang menggulirkan kegiatan surat-menyurat antara Nurcholish yang berada di Amerika dan Roem di Indonesia. Cak Nur menyatakan tidak ada ajaran Islam yang secara Qoth’i (jelas) untuk membentuk negara Islam. Surat-surat pribadi itu ternyata tak hanya dibaca Roem, tetapi juga menyebar ke tokoh lain, misalnya Ridwan Saidi dan
Tom sendiri.

Barangkali itu sebabnya, ketika Nurcholish pulang dari Amerika
pada tahun 1984, setelah meraih gelar Ph.D, lebih dari 100 orang menyambutnya di Pelabuhan Udara Internasional Halim Perdana Kusuma, Jakarta. Mereka antara lain Fahmi Idris, Soegeng Sarjadi, A.M. Fatwa, dan para tokoh lainnya. “Cak Nur saya kira istimewa. Ketika pulang dari AS, ternyata banyak sekali orang yang menyambutnya. Saya tidak pernah
melihat seseorang yang selesai sekolah disambut seperti itu,” kata Mas

Tom kagum. Di kalangan alumni HMI, Nurcholish sangat berpengaruh. Misalnya, pada saat Korps Alumni HMI (KAHMI) akhirnya menerima Pancasila sebagai asas tunggal dan harus menemui Presiden Soeharto di Istana, Nurcholish “diculik” kawan-kwan HMI-nya untuk menghadap presiden. “Karena ada orang yang berusaha tidak mengikutinya. Tapi ada yang
menyatakan dia harus ikut. Sebab, kalau Cak Nur datang, Pertemuan menjadi cukup kuat,” kata Mas Tom.[]

Sumber : Disadur utuh dari Buku : Profil Tokoh Kabupaten Jombang © Pemerintah Kabupaten Jombang, tahun 2010

Gombloh – Musikus Legendaris

Perawakan kurus kerempeng, perokok berat pula, yang bila merokok ibarat lokomotif dengan asapnya sambung-menyambung. Tetapi jangan ragukan suaranya, yang dalam lukisan Emha Ainun Nadjib bisa melengking bagai Robert Plant atau qari Abdul Bashit bin Muhammad Abdus Shomad. Itulah Gombloh, yang ditasbihkan sebagai “pahlawan musikus jalanan”.


Digadang-gadang jadi insinyur oleh ayahnya, slamet; Sudjarwanto alias Gombloh manut saja ketika disuruh ayahnya kuliah di Surabaya. Tetapi ia sering tidak masuk kuliah alias mbolos dan malah berkumpul dengan teman-temannya untuk bermain musik, sebelum namanya meroket sebagai country singer top di negeri ini. Dengarkanlah misalnya lagu
Kebyar-kebyar dan perhatikan liriknya:

Indonesia, merah darahku, putih tulangku
Bersatu dalam semangatmu!
Indonesia debar jantungku getar nadiku
Berbaur dalam angan-anganmu
Kebyar-kebyar pelangi jingga…
Indonesia, nada laguku, simfoni berteduh
Selaras dengan simfonimu
Kebyar-kebyar pelangi jingga… 
Biarpun bumi berguncang kau tetap Indonesiaku, 
Andai matahari terbit dari barat,
Kaupun Indonesiaku.
Tak sebilah pedang yang tajam dapat palingkan Aku darimu,
Kusingsingkan lengan, rawe-rawe rantas,
Malang-malang tuntas denganmu…

Lagu Gombloh tersebut begitu dihormati masyarakat sehingga mirip lagu wajib nasional. Tetapi Gombloh tetaplah Gombloh yang selalu menyatu dengan masyarakatnya. Ia disebut sebagai manusia merdeka, pecinta rakyat kecil, orang-orang yang hidup kesrakat.

Bagi kelompok-kelompok musik anak muda, Gombloh adalah tokoh idola. Ini bisa terlihat ketika Kelompok Pemusik Jalanan (KPJ) Surabaya bersama komunitas musisi rock Surabaya serta musisi lainnya akan mengadakan gelar Surabaya Full Music pada 21 Juni 2005. Sehari 
sebelumnya, komunitas KPJ Surabaya mengawali acara tersebut dengan
acara nyekar ke makam Gombloh di Makam Tembok, Surabaya. 
Dari atas makam Gombloh itu, para musisi jalanan tersebut
menobatkan Gombloh sebagai pahlawan musisi jalanan. Sebelum
penobatan almarhum sebagai pahlawan, KPJ mendendangkan dua buah
lagu almarhum Gombloh, Kebyar-kebyar dan Lestari Alamku. Mereka juga 
membawakan lagu lain, Bagimu Negeri dan Syukur. Ketika lagu-lagu
Gombloh itu mengalun dengan iringan gitar dan saksofon, suasana haru 
menyelimuti komunitas pemusik jalanan. Bokir, selaku Ketua KPJ
Surabaya pun, tampak larut dan matanya berkaca-kaca. Ia masih ingat
benar ketika Gombloh meninggal dunia pada 9 Januari 1988. 
Aksi nyekar dan bernyanyi di atas makam Gombloh itu dihadiri pula
oleh Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Timur Prof. Dr. Setya Yunawa,
Ketua Persatuan Artis Musik Melayu Indonesia (PAMMI) Surabaya,
Wahyudin. Dari TBJT juga hadir Ki Sinarto dan Arif Rofiq. 
Yus, roker “Reptile” yang juga koordinator rock se-Surabaya,
mengatakan, kegiatan nyekar ke makam almarhum Gombloh oleh musisimusisi
ini sangat mengesankan.
Bagi
Yus, almarhum
Gombloh adalah

sosok
musisi
yang idealis. “Ide-idenya
pun cukup didengar, dan kami

berpikir
layak untuk menjaga
idealisme
Gombloh dalam
bermusik,”

katanya.

Mohammad Arkan (53), rekan almarhum Gombloh, secara terpisah 
mengaku terharu atas perhatian musisi jalanan Surabaya tersebut. “Saya
sangat terharu sekaligus senang atas perhatian teman-teman itu, dan
bagaimanapun Gombloh adalah seniman arek Suroboyo,” ujarnya.

Gombloh (lahir di Jombang, 14 Juli 1948 – meninggal di Surabaya, 9 Januari 1988 pada umur 39 tahun) adalah seorang penyanyi Indonesia. Ia dilahirkan dengan nama asli Soedjarwoto Soemarsono di Kota Jombang.

Masa muda

Gombloh dilahirkan sebagai anak ke-4 dari enam bersaudara dalam keluarga Slamet dan Tatoekah. Slamet adalah seorang pedagang kecil yang hidup dari menjual ayam potong di pasar tradisional di kota mereka. Sebagai keluarga sederhana, Slamet sangat berharap agar anak-anaknya dapat bersekolah setinggi mungkin hingga memiliki kehidupan yang lebih baik.

Pendidikan

Gombloh menyelesaikan pendidikan sekolah di SMA Negeri 5 Surabaya dan sempat berkuliah di Jurusan Arsitektur Institut Teknologi Sepuluh Nopember, (ITS) Surabaya, namun tidak diselesaikannya dan memilih menuruti nalurinya untuk bermusik. Gombloh pada kenyataannya tidak pernah berniat kuliah di ITS, ia melakukannya karena kasihan dengan orang tuanya. Ia sering membolos dari kampus teknik yang terkenal dengan disiplin terketat di Indonesia itu. Kelakuannya ini akhirnya diketahui ayahnya setelah Slamet mendapat surat dari ITS yang memberikan peringatan.

Gombloh bereaksi dengan menghilang ke Bali dan bertualang sebagai seniman. Jiwanya yang bebas tidak dapat dikekang oleh disiplin yang ketat dan kuliah yang teratur. Walau tidak memiliki gelar akademik dari ITS, Gombloh dipandang sebagai sosok yang memberi jiwa kemanusiaan, kebangsaan, dan kemanusiaan oleh para mahasiswa alumnus ITS Surabaya hingga kini.

Karier musik
Gombloh adalah pencipta lagu balada sejati. Ia bergabung dengan grup beraliran art rock/orchestral rock bernama Lemon Tree’s Anno ’69, yang musiknya mendapat pengaruh ELP dan Genesis. Leo Kristi dan Franky Sahilatua juga pernah menjadi anggota grup ini.

Kehidupan sehari-hari rakyat kecil banyak digambarkan dalam lagu-lagunya, seperti Doa Seorang Pelacur, Kilang-Kilang, Poligami Poligami, Nyanyi Anak Seorang Pencuri, Selamat Pagi Kotaku. Lirik-liriknya puitis dan misterius. Sebagaimana penyanyi balada semasanya, seperti Iwan Fals dan Ebiet G. Ade, Gombloh juga tergerak menulis lagu tentang (kerusakan) alam, salah satunya adalah Berita Cuaca (lebih populer dengan nama Lestari Alamku walaupun ini bukan judul yang sebenarnya). Lagu-lagu cintanya cenderung “nyeleneh”, sama seperti karya Iwan Fals atau Doel Sumbang, misalnya Lepen (“got” dalam bahasa Jawa, tetapi di sini adalah singkatan dari “lelucon pendek”).

Namun, ia memiliki tema khas yaitu nasionalisme di dalam lagu-lagunya, seperti Dewa Ruci, Gugur Bunga, Gaung Mojokerto-Surabaya, Indonesia Kami, Indonesiaku, Indonesiamu, Pesan Buat Negeriku, dan BK, lagu yang bertutur tentang Bung Karno, sang proklamator. Lagunya Kebyar Kebyar banyak dinyanyikan pada masa perjuangan menuntut Reformasi.

Bersama Lemon Tree’s ia pernah pula merilis album yang lagu-lagunya berbahasa Jawa dengan berjudul “Sekar Mayang”. Hong Wilaheng, yang adalah versi reprise dari lagu Sekar Mayang dan masuk dalam album “Berita Cuaca”, menggunakan lirik yang diambil dari Serat Wedhatama.

Gombloh juga menulis lagu untuk penyanyi lain. Ia menulis Tangis Kerinduan bagi Djatu Parmawati dirilis (1988), juga Merah Putih (1986) untuk dinyanyikan bersama-sama.

Semenjak album Gila, Gombloh dinilai para kritisi mengendurkan idealismenya, dengan lebih mengedepankan album bergaya pop ringan dan dengan lirik-lirik sederhana dan jenaka. Namun dengan demikian ia menjadi lebih populer dan mendapat penghasilan yang besar. Ia tidak menjadi kaya dengan itu, karena lebih suka menghabiskan pendapatannya dengan makan-makan bersama kawan-kawannya[1]. Rasa kesetiakawanannya dan jiwa merdeka inilah yang secara tidak langsung membawanya pada penyakit yang kelak merenggut nyawanya.

Kematian dan penghargaan[sunting | sunting sumber]
Gombloh meninggal dunia di Surabaya pada 9 Januari 1988 setelah lama menderita penyakit pada paru-parunya. Kebiasaan merokoknya sulit dihilangkan dan ia dikabarkan sering begadang. Menurut salah seorang temannya, beberapa waktu sebelum meninggal, sering kali Gombloh mengeluarkan darah bila sedang bicara atau bersin.

Pada 1996 sejumlah seniman Surabaya membentuk Solidaritas Seniman Surabaya dengan tujuan menciptakan suatu kenangan untuk Gombloh yang dianggap sebagai pahlawan seniman kota itu. Mereka sepakat membuat patung Gombloh seberat 200 kg dari perunggu. Patung ini ditempatkan di halaman Taman Hiburan Rakyat Surabaya, salah satu pusat kesenian di kota itu. Pada tanggal 30 Maret 2005 dalam acara puncak Hari Musik Indonesia III di Jakarta, Gombloh mendapat penghargaan Nugraha Bhakti Musik Indonesia secara anumerta dari PAPPRI, bersama sembilan tokoh musik lainnya, yaitu:

Gombloh
Nike Ardilla
Titiek Puspa
Anggun
Iwan Fals
Ebiet G Ade
Titiek Sandhora
Deddy Dores
Broery Marantika

Lagu-lagu karya Gombloh sempat diangkat dalam penelitian Martin Hatch seorang peneliti dari Universitas Cornell dan ditulis sebagai karya ilmiah yang berjudul “Social Criticsm in the Songs of 1980’s Indonesian Pop Country Singers”, yang dibawakan dalam seminar musik The Society of Ethnomusicology di Toronto, Kanada pada 2000.

Diskografi
Gombloh & The Lemon Tree’s Anno ’69

Nadia & Atmospheer (1978)
Mawar Desa (1978)
Kadar Bangsaku (1979)
Kebyar Kebyar (1979)
Pesan Buat Negeriku (1980)
Sekar Mayang (1981, berbahasa Jawa)
Terimakasih Indonesiaku (1981)
Pesan Buat Kaum Belia (1982)
Berita Cuaca (1982)
Kami Anak Negeri Ini (1983)

Solo karier
Gila (album konser live, 1983)
1/2 Gila (1984)
Semakin Gila (1986)
Apel (1987)
Apa Itu Tidak Edan (1987)
Di Angan Angan Cinta Dan Roket

https://id.wikipedia.org/wiki/Gombloh