FX Soetopo – Pemusik & Komponis

FX Soetopo (lahir di Jombang, Jawa Timur, 26 April 1937 – meninggal di Tangerang, Banten, 17 Februari 2006 pada umur 68 tahun) adalah seorang pemusik dan komponis asal Indonesia. Dikenal sebagai pemusik, komponis, pemimpin paduan suara, pemimpin orkes musik, dan kerap memimpin paduan suara untuk acara-acara kenegaraan.

Karier
Selain memperoleh pendidikan formal dalam bidang musik di Sekolah Menengah Musik Indonesia Yogyakarta pada tahun 1957, ia juga berguru kepada beberapa musisi luar negeri. Pertama kali menciptakan lagu sekitar tahun 1951 atau 1952 saat aktif dalam gerakan kepanduan. Di samping berprofesi sebagai pemusik, ia juga berdinas di TNI Angkatan Darat dengan pangkat terakhir kolonel dan mengajar di Institut Seni Indonesia di Yogyakarta sejak tahun 2001. Sutopo pernah pula bertugas di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan sebagai Direktur Kesenian. Ia juga sering memimpin paduan suara untuk acara-acara kenegaraan.

Ia adalah orang yang pertama kali memiliki gagasan menggabungkan semua korps musik yang ada di semua Angkatan (Tentara Nasional Indonesia), sekaligus mengenalkan korsik (korps musik) pada aubade di Istana Negara. Melahirkan lagu pertama berjudul Lembah Ngarai ketika ia aktif di gerakan kepanduan tahun 1951-1952. Karyanya yang lain adalah sebuah komposisi lagu seriosa Puisi Rumah Bambu untuk kelompok seniman Sanggar Bambu di Yogyakarta. Almarhum juga menciptakan sejumlah komposisi vokal,

Daftar Ciptaan

Di antara komposisi ciptaannya adalah:
Mars Wajib Belajar 9 Tahun (1992)
SKJ Usia SD ’96 (1996)
Himne ASEAN (1998)
Himne Kodam Trikora
Mars Kodam Trikora (1991)
Mars Paswalpres (1993)

https://id.wikipedia.org/wiki/FX_Sutopo

Rilo Pambudi – Marsekal TNI (Purn) Rilo Pambudi – Mantan KSAU dan Dubes RI di Spanyol

Marsekal TNI (Purn.) Rilo Pambudi (lahir di Jombang, Jawa Timur, 25 Januari 1944; umur 73 tahun) adalah mantan Kepala Staf TNI Angkatan Udara yang menjabat dari tahun 1993 – 1996. Ia sebelumnya menjabat sebagai Deputi Operasi KASAU.

Rilo, memulai kariernya setelah lulus dari Akademi Angkatan Udara tahun 1965. Ia pernah menjadi Komandan Skadron Udara 3/Tempur Taktis pesawat OV-10 Bronco dan Komandan Lanud Adisucipto, Yogyakarta.

Karier

Dia lulus dari SMA Bagian B pada tahun 1961. Sebelum mengikuti pendidikan di Akademi Angkatan Udara, Rilo terlebih dahulu mengikuti Pendidikan Latihan Dasar Kemiliteran pada tahun 1962. Setelah lulus dari Sekolah Penerbang, dengan menyandang pangkat Letnan Udara Dua, Perwira Remaja Rilo ditempatkan di Wing 300 Kohanudnas sebagai Perwira Penerbang di Skadron Udara 12. Setelah menyelesaikan Sekolah Ilmu Siasat pada tahun 1970, Rilo kemudian mengikuti Sekolah Instruktur Penerbang di Pangkalan Udara Adisucipto, kemudian menggeluti tugasnya sebagai Instruktur Penerbang di Wingdik 1 Adisucipto. Dia sempat menduduki jabatan sebagai Kepala Dinas Operasi di Skadron Pendidikan 017, bahkan setahun kemudian Rilo dipercaya untuk menjabat Komandan Skadron Pendidikan tersebut. Dua tahun lamanya dia bertugas sebagai Komandan Skadron Pendidikan 017, kemudian secara berturut-turut dia ditugaskan sebagai Komandan Skadron Udara 03 yang diembannya hanya dalam waktu satu tahun, kemudian pindah lagi sebagai Perwira Penerbang Wing Operasi 002, lalu dipercaya dan ditunjuk sebagai Kepala Dinas Operasi Wing Operasi 002 Pangkalan Udara Abd. Saleh, sampai akhirnya dia mengikuti Kursus Intelijen Strategis dalam rangka persiapan untuk penugasannya sebagai Atase Pertahanan Republik Indonesia Urusan Udara pada KBRI di Kuala Lumpur, Malaysia.

Penugasannya di Kuala Lumpur dijalaninya selama tiga tahun. Sekembalinya ke Indonesia Rilo ditunjuk menjadi Wakil Komandan Pangkalan Udara Abd. Saleh, kemudian menjadi Wakil Komandan Pangkalan Udara Adisucipto sampai akhirnya dilantik sebagai Komandan Pangkalan Udara Adisucipto pada tahun 1987. Hampir setahun lamanya tinggal di kota gudeg, Yogyakarta, Rilo ditarik ke MBAU (Markas Besar Angkatan Udara) untuk jabatan Direktur Operasi dan Latihan. Setahun kemudian ditunjuk sebagai Komandan Sekolah Staf dan Komando Angkatan Udara di Lembang, Bandung selama hanya satu tahun.

“Tentara Nasional Indonesia atau angkatan perang sebaiknya dipimpin oleh kepala staf gabungan dan harus dipastikan digilir per angkatan,” kata Marsekal TNI (Purn) Rilo Pambudi. Kata-kata tersebut disampaikan Rilo Pambudi dalam rapat dengar 
pendapat umum (RDPU) Komisi I DPR tentang RUU TNI pada 4 Agustus 2004. Rapat tersebut adalah masamasa awal pembahasan RUU yang mendapat banyak perhatian itu.

Apa alasan Rilo Pambudi dalam menyampaikan pandangannya itu? Ia menjelaskan, masing-masing angkatan memiliki mitra dan cara berpikir yang lain sehingga satu kelompok punya cara sendiri-sendiri untuk menyelesaikan persoalan pertahanan,” katanya. Rilo Pambudi adalah satu di antara sedikit tokoh dan pakar yang diundang DPR untuk memberikan masukan dalam pembahasan RUU TNI tersebut. Lainnya adalah mantan Kapolri Jenderal (Pol) Awaloedin Djamin, dan pengamat militer Dr. Salim Said.

Dalam rapat tersebut memang mengemuka bahwa sudah saatnya jabatan Panglima TNI diganti dengan jabatan kepala staf (kastaf) gabungan (chairman of the joint chiefs of staff) yang secara bergilir dijabat oleh TNI Angkatan Darat, TNI Angkatan Udara, dan TNI Angkatan Laut. Sejalan dengan hal itu, sudah saatnya pula TNI berada di bawah Departemen Pertahanan (Dephan). Rapat dipimpin oleh Wakil Ketua Komisi I DPR dari Fraksi TNI/Polri Laksamana Muda Franklin Kaihatu di gedung MPR/DPR.

Topik bahasan tersebut mungkin agak sensitif, tetapi iklim
keterbukaan di Era Reformasi membuat segalanya lancar saja. Pada kesempatan tersebut peserta rapat diingatkan bahwa selama 30 tahun jabatan Panglima ABRI selalu dijabat oleh perwira tinggi Angkatan Darat. Setelah itu pernah dijabat oleh Laksamana Widodo AS dari TNI Angkatan Laut, tetapi kemudian diganti lagi oleh TNI Angkatan Darat.

“Jadi kalau ada kesan dominasi Angkatan Darat di negara ini, dalam masa lampau itu hal yang nyata. Maka jabatan Panglima TNI itu perlu diubah menjadi chairman of the joint chiefs of staff seperti di Amerika Serikat, dan bergilir,” kata Awaloedin Djamin, yang diamini oleh Rilo Pambudi.

Orang-orang mungkin bertanya, banyak mantan perwira tinggi TNI Angkatan Udara yang masih hidup, mengapa Rilo Pambudi yang diundang oleh Komisi I DPR? Jawaban yang paling jelas tentu akan melenceng jauh dari kenyataan bahwa Rilo Pambudi adalah perwira tinggi kelompok pemikir. Setelah menjabat Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) periode 1993-1996, Marsekal Rilo mendapat tugas Duta Besar yang dipegangnya
hingga tahun 2000.

Sebagai perwira tinggi pemikir, Rilo yang lahir di Jombang 24 
Desember 1942 tersebut termasuk pimpinan TNI yang ikut
membudayakan kebiasaan menulis di kalangan perwira TNI, terutama di Angkatan Udara. Makin kuatnya kebiasaan menulis di kalangan perwira TNI AU tak lepas dari peran Rilo. Marsekal Chappy Hakim, yunior Rilo Pambudi yang juga mantan KSAU, melanjutkan tradisi menulis itu dengan menerbitkan sejumlah buku, termasuk tulisan-tulisannya di media massa.

Dalam masa kepemimpinan KSAU Marsekal Rilo Pambudi, misalnya, pernah terbit buku Perjuangan AURI dalam Trikora. Buku-buku karya perwira TNI AU lainya cukup banyak, termasuk biografi atau otobiografi pimpinan TNI AU, mulai dari Omar Dhani, Sri Mulyono Herlambang, Roesmin Nuryadin, dan perintis penerbangan Wiweko Supono.

Pesawat Bukan Mobil

Pada masa kepemimpinan Rilo Pambudi, TNI AU saat itu sedang sibuk mengganti pesawat-pesawat tua. Seperti pembelian 23 pesawat tempur jenis Hawk 100 dan 200 yang dipesan pemerintah dari Inggris. Pesawat itu tiba di tanah air pertengahan 1996. Dalam suatu acara pelantikan pejabat baru di jajaran TNI AU di Bandung pada November 1995, KSAU Marsekal Rilo Pambudi mengatakan, pesawat-pesawat tersebut tidak untuk menambah sistem persenjataan. “Tetapi kita mengganti skuadron yang sudah tua,” kata Rilo Pambudi.

Dalam kesempatan itu, Rilo menyatakan rasa syukurnya bahwa
meskipun anggaran pemerintah terbatas TNI AU, masih beruntung bisa mengganti pesawat-pesawat yang sudah tua. Ia menyebutkan, untuk memiliki satu skuadron harus ada 20 buah pesawat.

Pesawat-pesawat tersebut, kata Rilo Pambudi, sudah tua dan harus diganti.

Rilo Pambudi juga memberikan wawasan betapa tidak mudahnya membeli pesawat tempur. Membeli pesawat tidak seperti membeli mobil, yang diperoleh kapan saja. Sebagai contoh ia menyebutkan rencana saat itu bagi penambahan pesawat jenis F-16 dari Amerika. Ia mengatakan, sebuah tim dari Mabes TNI-AU telah dibentuk untuk mengkaji lebih
mendalam rencana pembelian pesawat tersebut. “Hasil kajian itu baru akan dilaporkan ke Pangab setahun lagi,” tandasnya.

Ada tiga alasan mengapa rencana tersebut harus dikaji secara
mendalam. Pertama, sejauh mana kemampuan Pemerintah Indonesia dalam membeli pesawat F-16 itu. Kedua, bagaimana kesiapan personel dan fasilitas lainnya. Sedangkan yang ketiga, harus dipikirkan apakah barang tersebut bisa dipergunakan untuk jangka waktu 20 tahun. “Membeli pesawat F-16 yang canggih ini tidak seperti membeli mobil. Harus ada pengkajian yang matang,” kata Rilo Pambudi.

Pada saat itu, Indonesia memiliki satu skuadron F-16. Pesawat canggih ini dibeli tahun 1986 sebanyak 12 buah yang dipusatkan di pangkalan TNI AU Iswahyudi, Maospati, Magetan, Jawa Timur.[]

Sumber Wikipedia & Buku Profil Tokoh Kabupaten Jombang
© Pemerintah Kabupaten Jombang, 2010

Beberapa tanda kehormatan yang dimilikinya antara lain :

Satya Lencana Kesetiaan VIII, XVI & XXIV Tahun
Satya Lencana GOM IX Raksaka Dharma
Satya Lencana Seroja
Satya Lencana Dwidja Sistha
Satya Lencana Dwidja Sistha Ulangan I & II
Sataya Lencana Penegak
Brevet Kehormatan Kapal Permukaan TNI Angkatan Laut
Bintang Mahaputra Adiprana
Bintang Dharma
Bintang Yudha Dharma Pratama
Bintang Swa Bhuwana Paksa Pratama
Bintang Swa Bhuwana Paksa Nararya
Bintang Bhayangkara Utama
Bintang Menggala Karya Utama

Singgih SH – Jaksa Agung RI 1990-1998

Singgih, SH (lahir di Jombang, Jawa Timur, 23 Juni 1934 – meninggal 30 Juli 2005 pada umur 71 tahun) adalah Jaksa Agung Indonesia pada tahun 1990-1998.

Munculnya Singgih sebagai Jaksa Agung menjadi fenomena baru di kalangan kejaksaan. Sebab sejak Orde Baru baru sekalinya jaksa agung diangkat dari kalangan jaksa sendiri alias jaksa karier. Singgih dilantik Presiden Soeharto menggantikan Sukarton Marmosudjono yang meninggal dunia pada 29 Juni 1990.

Singgih lahir sebagai anak bungsu dari tiga bersaudara dan sejak remaja sudah bercita-cita menjadi penegak hukum. Sebagai penerima beasiswa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1960, Singgih menyelesaikan kuliahnya di Fakultas Hukum, Universitas Airlangga, Surabaya. Kariernya dimulai sebagai jaksa di Direktorat Reserse Kejaksaan Agung. Prestasi lelaki berkaca mata yang jarang merokok itu terus menanjak. Ia pernah menjadi Kepala Kejaksaan Negeri Denpasar dan Jakarta Pusat, Kajati NTB, Kajati Sulawesi Utara dan Kajati Jakarta. Ia sempat ditarik Menteri Kehakiman Ismail Saleh menjadi Irjen Departemen Kehakiman, sebelum diangkat menjadi Jaksa Agung Muda Bidang Pidana Khusus.

Ayah empat anak itu pernah mengendalikan persidangan berbagi kasus G 30 S-PKI, Malari dan kasus Tanjung Priok.

Beberapa peristiwa penting yang terjadi pada masa Jaksa Agung Singgih, di antaranya:

– Terbongkarnya kasus kredit Bapindo kepada Golden Key Grup pimpinan Eddy Tansil. – Peristiwa 27 Juli 1996 di kantor DPP Partai Demokrasi Indonesia – Terbongkarnya kasus korupsi pada Bank Duta dengan terdakwa Dicky Iskandardinata.

Pada tahun 1993, Singgih mendapatkan penghargaan Bintang Pratamabhorn Knight Grand Cross of The Most Exalted Order of The White Elephant dari Raja Thailand dan juga telah menerima Bintang Mahaputra Adiprana.

Sejak tahun 1970-an, Singgih juga dikenal sebagai numismator (kolektor mata uang) dan bahkan terpilih menjadi Ketua Asosiasi Numismatika Indonesia.

Penikahannya dengan Renny Singgih menghasilkan empat anak serta enam cucu. Ia dimakamkan di TMP Kalibata.

Namanya sederhana, Singgih. Sesuai namanya, Singgih memang sosok yang sederhana. Tetapi di balik kesederhanaan itu ia dikenal sebagai pejabat tinggi negara yang berwibawa dan tegas dalam bertindak. Saat menjadi Jaksa Agung, Singgih
tidak segan-segan memecat jaksa yang nakal atau menyalahgunakan jabatannya. “Beliau orang yang tegas dalam
menyelesaikan kasus apa pun, termasuk kasus 
mantan Presiden Soeharto. Beliau memerintahkan anak buahnya untuk tetap menyelidiki. Dalam pembinaan SDM pun beliau betul-betul menguasai. Di sisi lain, beliau bukan hanya seorang pemimpin, ayah, dan pendidik, tetapi juga seorang teman,” kata Barman Sahir, Kepala Kejaksaan Tinggi Bali. 
Dilahirkan di Jombang pada 23 Juni 1934, Singgih menghabiskan sebagian besar hidupnya dengan mengabdikan diri sebagai jaksa. Pada tahun 1993, Singgih mendapatkan penghargaan Bintang Pratamabborn Knight Grand Cross of The Most Exalted Order of The White Elephant dari Raja
Thailand dan juga telah menerima Bintang Mahaputra Adipradana.

Soal Korupsi dan Kolusi
Dalam masa tugasnya yang cukup panjang sebagai Jaksa Agung, Singgih sering menunjukkan ketegasannya. Dalam wawancara dengan Harian Kompas pada 19 Juli 1996 berkaitan dengan Hari Bhakti Adhyaksa ke-35, misalnya, Singgih menegaskan, aparat Kejaksaan hendaknya
menghindari praktik kolusi dan korupsi. Praktik seperti itu sudah saatnya dihentikan. “Sudah waktunya, penegak hukum berhenti (melakukan praktik kolusi-korupsi), kalau mau terus (melakukannya) pulang saja,” kata Singgih. 
Isu korupsi dan kolusi saat itu memang sudah ramai menjadi sorotan masyarakat. Sebagian besar masyarakat tampak muak dengan praktik- praktik kolusi dan korupsi. Lebih-lebih jika praktik kolusi-korupsi terjadi di lingkingan penegak hukum. 
Kondisi demikian, tampaknya menjadi salah satu pemicu Jaksa
Agung, Singgih untuk mengeluarkan perintah harian yang salah satu isinya berupa perintah untuk menghindarkan praktik-praktik kolusi dan korupsi. “Dalam rangka peringatan Hari Bhakti Adhyaksa Ke-35, saya dengan tegas menyatakan perintah itu,” tegas Singgih. Menurut Singgih, sesungguhnya penekanan untuk menghindarkan praktik kolusi dan korupsi selama ini selalu dilakukan. Namun, tahun 1996 hal tersebut mendapat perhatian lebih. “Ya, sudah waktunya lah para penegak hukum harus berhenti. Artinya, kalau mau terus ya ‘pulang’ saja,” tambahnya, seraya menambahkan bahwa penekanan itu tidak
semata-mata disebabkan karena masyarakat akhir-akhir ini begitu menyorot hal tersebut, tetapi lebih pada penyadaran agar para penegak hukum mampu membersihkan diri dari perbuatan yang “mempersulit” praktik penegakan hukum. 
“Pokoknya, kita meningkatkan pengawasan terus. Dalam kaitan ini saya bertindak tegas terhadap kegiatan-kegiatan yang menjelekkan citra kejaksaan. Saya tekankan bahwa kalian tidak hanya bertanggung jawab kepada pimpinan tetapi juga kepada Tuhan,” kata singgih.

Konsepsional

Singgih juga mengutarakan, masalah korupsi dan kolusi pada 
dasarnya tidak bisa dimulai satu lingkungan penegak hukum belaka. Kalau seluruh masyarakat menginginkan hal itu terwujud, berarti penuntasannya harus berlangsung secara konsepsional. “Harus ada partisipasi masyarakat untuk tidak memberi peluang terjadinya kolusi dan korupsi itu, terutama
masyarakat yang berkaitan langsung dengan penegakan hukum,” tuturnya.

Tanpa bantuan masyarakat, tentunya tidak akan mungkin tercipta peradilan yang bersih dan berwibawa. “Jadi, partisipasi masyarakat sangat menentukan. Ini masalah sosial,” lanjut Singgih, seraya menekankan bahwa masalah ini merupakan integrated criminal justice system.

Sebagai pembuktian terhadap pelaksanaan niat membersihkan
kejaksaan dari perbuatan tercela tadi, ia mengemukakan, pihaknya selalu menindak tegas para oknum jaksa yang dilaporkan telah menyalahgunakan wewenangnya. “Siapa saja yang dinilai telah melanggar ketentuan yang berlaku, dikenakan saksi tegas, mulai dari yang ringan sampai saksi yang berat. Misalnya kasus di Jawa Timur, dan Jawa Tengah,” ucapnya
mencontohkan. Menunjukkan keseriusan membersihkan lembaga Kejaksaan dari hal-hal negatif, Singgih pun menunjukkan data-data. “Kalau dilihat dari jumlah jaksa yang di seluruh Indonesia ada 5.205 orang, sesungguhnya yang melakukan pelanggaran tidak sampai satu persen, yakni sebanyak 52 orang atau 0,99 persen. Tapi, karena kita penegak hukum, ya saya bisa memahami bila oknum jaksa dijadikan topik pemberitaan,” paparnya sportif. 
Sebab itu, Pusat Pendidikan dan Latihan (Pusdiklat) Kejaksaan
menurut Singgih terus ditanamkan untuk mampu membentuk jaksa yang memiliki profesionalisme, integritas, dan disiplin yang tinggi. “Untuk menjadi Kepala Kejaksaan Tinggi misalnya, setidaknya diperlukan ‘penggodokan’ di Pusdiklat itu sekitar tiga kali. Bahkan yang sudah mengikuti pendidikan di Lemhanaspun ada kalanya diwajibkan untuk memantapkan kemampuannya di Pusdiklat itu lagi,” tambahnya. Pihak kejaksaan, menurut Singgih, tidak jarang pula mengirimkan sumber daya manusia yang dimilikinya untuk mengikuti pendidikan di luar negeri. Misalnya ke AS untuk mempelajari manajemen perkara, ke
Inggris dan Australia untuk manajemen masalah narkotika dan delik ekonomi, serta ke Kanada untuk mempelajari manajemen masalah lingkungan. Itu penting mengingat tantangan dan tuntutan yang semakin kompleks. “Jadi sekarang ini pun saya tekankan tidak boleh ada jaksa yang menyatakan tidak bisa berbahasa Inggris. Itu merupakan kewajiban.

Apalagi mereka semua itu kan sarjana,” tambahnya. 
UU Antisubversif Dalam kesempatan yang lain, Singgih membela penggunaan UU Antisubversif, yang pada 1996 saat itu sering dikritik sebagai “Pasal Karet” untuk membungkam para pengkritik pemerintah. “Pelaksanaan UU 
Antisubversif itu bukan ‘pasal karet’, karena kami punya batasan-batasan untuk melaksanakan UU itu,” jelas Singgih pada 16 September 1996 di Bandung, seusai melantik kepala Kejati Jabar yang baru, H.M. Adenan, SH. “Sebutan ‘pasal karet’ ini hanya cocok untuk Undang-undang PNPS No. 3 tahun 1962. Berdasarkan ini, saya punya wewenang mengasingkan 
orang-orang yang tidak senang pada pemerintahan,” tegasnya. Namun saat itu Undang-undang pengasingan sudah tidak digunakan.

Hal itu, kata Singgih, sangat berbeda dengan UU Antisubversif, di mana pihak kejaksaan dinilai sangat proporsional dan selektif dalam menerapkan UU Antisubversif. Undang-undang Antisubversif ini diberlakukan oleh pihak kejaksaan untuk menjaring kalangan yang hendak menggulingkan pemerintahan
yang sah. Singgih mencontohkan, kalangan tersebut adalah penganut paham Marxisme, Leninisme, Komunisme, yang pokok ajarannya bertentangan dengan ideologi Pancasila. Mereka tidak dilarang menyebarkan paham-paham tersebut asal tidak di Indonesia,” katanya.

Singgih juga mencontohkan bahwa kaum fundamentalis juga
dilarang tumbuh di Indonesia. “Kita langsung bertindak tegas kalau sampai ada yang bicara tentang pembentukan Negara Islam di Indonesia. Undang-undangnya sudah jelas-jelas melarang itu,” tegasnya. Menurut Singgih, diperlukan banyak tahapan untuk menjaring seseorang dengan Undang-undang Antisubversif. Sebelum, memberlakukan undang-undang tersebut, pihak kejaksaan mencari masukan terlebih dahulu. Fase penyidikan dan penuntutan, ungkap Singgih, harus dilampaui terlebih dahulu untuk menjalankan pasal
subversif itu. “Belum tentu penyidikan subversif juga dituntut dengan pasal subversif. Untuk mengajukan tuntutan, sebelumnya kami memeriksa hasil temuan faktanya terlebih dahulu,” tambahnya.

Jaksa Agung menilai minornya pandangan masyarakat terhadap UU Antisubversif itu akibat ulah pers asing. “Mereka menggunakan UndangUndang Antisubversif untuk membentuk
public opinion yang jelek tentang
Indonesia.

Lihat saja Newsweek, Times, yang selalu menjelekkan Indonesia lantaran menetapkan alasan subversif,” ujar Singgih. Padahal, tutur Singgih, ulasan di pers asing itu tidak berdasarkan data lengkap. Singgih menyebutkan punya bukti soal hal tersebut. Beberapa waktu sebelumnya, ia ditanya oleh Menlu AS Warren Cristopher tentang kebebasan menggunakan pendapat. “Menlu AS menganggap bahwa kebebasan berpendapat itu termasuk subversif,” kata Singgih. Pandangan
ini, menurutnya, disebabkan oleh propaganda pers luar negeri yang sering memojokkan Indonesia.

Sebenarnya, papar Singgih, di Amerika juga memiliki Undangundang Antisubversif, bahkan mereka punya Undang-undang Agresi. “Hanya saja batasan UU Antisubversif di AS dan Indonesia berbeda,” tutur Singgih sambil tertawa. “Ya seperti soal HAM, kita punya pengertian yang berbeda dengan Amerika
Serikat.”

Setelah pensiun, Singgih tetap mempunyai banyak kegiatan. Ia
antara lain menekuni hobinya sebagai numismator (kolektor mata uang) yang sudah dilakukan sejak 1970-an. Ia bahkan pernah menjadi Ketua Asosiasi Numismatika Indonesia. 
Singgih meninggal dunia pada 30 Juli 2005 setelah dirawat di
Rumah Sakit Siloam Gleneagles, Karawaci, Tangerang, karena menderita stroke. Sebelum dirawat di rumah sakit, Singgih sempat merayakan hari ulang tahunnya ke-72 bersama keluarga dan kerabat pada 3 Juli 2005.

Namun, dalam acara tersebut, Singgih tiba-tiba sakit lalu dilarikan ke RS Ongkomulyo, Jakarta Pusat, dan masuk ruang ICU. “Waktu itu Bapak jatuh, muntah-muntah, dan langsung dibawa ke rumah sakit,” ujar Rusdi, pegawai kejaksaan yang lama menjadi staf Singgih. Hari berikutnya, Singih dipindahkan ke RS Siloam Gleneagles dan dirawat di rumah sakit itu hingga meninggal dunia. Singgih meninggalkan seorang istri, Ny Renny Singgih; empat orang anak, yakni D Harnadi, Tri Harnoko, Diana Chandra Rina Riyanto, dan Redianto HN serta enam cucu. Jenazah dimakamkan hari Minggu berikutnya di TPM Kalibata, setelah disemayamkan di Kejaksaan
Agung.[]

KH M. Yusuf Hasyim – Ulama & Politisi

Tak pernah berhenti dari kegiatan politik. Itulah kira-kira gambaran dari sosok KH M. Yusuf Hasyim, putra bungsu Hadlratus Syeikh KH Hasyim Asy’ari ini. Saat usianya sudah uzur, KH M. Yusuf Hasyim masih bersemangat dengan
mendirikan Partai Kebangkitan Ummat (PKU) di era reformasi dan menjadi ketua umumnya. PKU adalah salah satu peserta pemilihan umum (Pemilu) 1999.

Meskipun perolehan suara PKU dalam Pemilu tersebut kecil, siapa yang tidak kenal KH M. Yusuf Hasyim, tokoh Nahdlatul Ulama (NU) dan Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng ini? Di masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan bangsa ini, Yusuf muda sudah dikenal karena keberaniannya.

Ia adalah salah satu pemimpin Laskar Hizbullah, tentara pejuang bentukan para kiai NU di awal kemerdekaan. Sebelumnya ia sudah aktif berorganisasi waktu masih sekolah, bergabung dengan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU). Setelah Hizbullah bubar, ia masuk Tentara Nasional Indonesia (TNI), namun tidak lama, karena ia kemudian keluar
dengan pangkat terakhir Letnan Satu.

Di awal masa Orde Baru, Pak Ud, sapaan akrab KH Yusuf Hasyim, dikenal sebagai tokoh antikomunis, yang gigih melawan Partai Komunis Indonesia (PKI). Sebagai Komandan Banser (Barisan Serbaguna) NU, ia adalah salah satu motor perlawanan terhadap PKI.

Masyarakat kemudian mengetahui KH Yusuf menjadi anggota DPR RI dari Fraksi Utusan Daerah. Pendiriannya tegas, suara lantang pula dan ia pun disejajarkan dengan para politisi elite saat itu seperti KH Idham Cholid, Amir Murtono, Ali Murtopo, dan Amir Machmud.

Karena itulah ketika tersiar kabar bahwa KH Yusuf Hasyim wafat
pada Minggu, 14 Januari 2007 akibat gangguan pernafasan dan pecernaan, banyak orang kaget dan berduka. Ribuan orang, termasuk para pejabat dan tokoh Jawa Timur serta nasional berdatangan ke Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, untuk ikut melepaskan sang kiai terkemuka itu ke pemakaman. Tokoh tersebut wafat pada usia 77 tahun setelah dirawat di ICU Graha Amerta RSUD Dr Soetomo sejak 2 Januari 2007.

“Warga NU dan Indonesia sangat kehilangan Pak Ud. Warga NU
sangat kehilangan karena tinggal beliau satu-satunya putra Hadlratus Syeikh KH Hasyim Asy’ari yang terakhir hidup. Indonesia juga kehilangan karena beliau sangat peduli masalah-masalah ke-Indonesiaan,” kata Ketua Umum PBNU
KH. Hasyim Muzadi.

Kiai Hasyim menuturkan dirinya bisa merasakan benar semangat perjuangan KH Yusuf Hasyim, yang pada 1960-an sudah menjadi pimpinan Gerakan Pemuda Ansor, organisasi pemuda bentukan para kiai NU. Pada saat itu, Hasyim Muzadi adalah seorang pemuda yang baru tahap awal menjadi anggota Ansor. “Saya merasakan betul semangat jihadnya yang sangat besar,” kata Hasyim Muzadi.

Sholihin Hidayat, mantan Pemimpin Redaksi Jawa Pos, menyebut Kiai Yusuf Hasyim sejak kecil dikenal sebagai orang yang suka bergaul dengan siapa saja dan komunitas mana saja. Saking senangnya kumpulkumpul dengan banyak orang, hari-hari di masa kecil hingga remaja banyak dihabiskan di luar rumah, bergabung dengan berbagai kegiatan, mulai sepak bola, main musik dan kepanduan. Oleh teman-teman sebayanya, Pak Ud dikenal sebagai sosok yang terampil memimpin. Keberaniannya tidak hanya secara fisik, tetapi juga konseptual.

Di kalangan keluarga, menurut Sholihin, sosok Pak Ud punya
kebiasaan yang berbeda dengan saudara-saudaranya. Sejak kecil ia tertarik mempelajari perkembangan masyarakat. Karena itu, di kamar pribadinya lebih banyak terlihat tumpukan buku, surat kabar dan kliping-kliping tulisan dan berita daripada kitab kuning yang umumnya menjadi bacaan favorit keluarga kiai.

Dengan latar belakang kehidupan seperti itu, masuk akal bila Kiai Yusuf Hasyim seperti tak pernah berhenti berkiprah dalam perjuangan bangsanya. Ia dengan senang hati membantu berbagai organisasi, seperti Ikatan Cendikiawan Muslim Se-Indonesia, di mana ia adalah anggota dewan pakar. Bagi Pak Ud, berjuang untuk menegakkan kebenaran dan keadilan memang tidak pernah surut, apalagi berhenti.

Ketika kegiatan politiknya surut, ia menggesernya ke arah
sumbangan pemikiran di tanah politik nasional. Pada masa Orba, misalnya, ia pernah menentang gagasan dimasukkannya pesantren ke dalam GBHN. Alasannya, jika pondok pesantren dimasukkan GBHN maka kemandirian pesantren yang selama ini sudah berjalan baik akan hilang. “Itulah yang membuat saya tidak setuju pesantren masuk GBHN,” katanya.

Dalam pandangan Kiai Yusuf Hasyim, sekarang ini sudah sangat banyak pondok pesantren yang maju dan berkembang pesat dan dikelola dengan manajemen modern dan mampu memberikan sumbangan besar bagi kemajuan bangsa ini. “Kunci kemajuan pondok pesantren adalah pengelolaannya,” katanya.

Pondok Pesantren Tebuireng yang lama dipimpinnya, sebelum
diserahkan kepada keponakannya Ir. KH Shalahuddin Wahid, juga berjalan seiring kemajuan zaman. Pondok ini memiliki ribuan santri dari daerah-daerah seluruh Indonesia. Dan tentu saja dikelola secara modern.

Tebuireng juga memiliki sekolah umum mulai setingkat SMP
hingga perguruan tinggi (Universitas Hasyi Asy’ari). Itu berarti
keberadaan pondok pesantren tidak kalah dengan institusi pendidikan umum lainnya. Tetapi lebih dari itu, pondok pesantren juga memiliki kekuatan sosial dan telah terbukti mampu mandiri sepanjang masa.

KH Yusuf Hasyim ternyata juga punya jiwa seni. Ini terbukti ketika ia menanggapi positif tawaran para insan perfilman untuk ikut bermain dalam film “Walisongo”, sebuah film bernuansa dakwah dan melibatkan banyak pemain figuran (kolosal).

Dalam beberapa tahun terakhir sebelum wafatnya, Kiai Yusuf
memang lebih banyak berdiam diri. Namun pikiran dan perhatiannya tetap tinggi pada kehidupan berbangsa. Bukan sekedar berwacana tetapi juga sesekali turun memberi sumbangan pemikiran ketika melihat persoalan penting sedang dihadapi bangsa ini. Ia juga masih keras suaranya ketika 
melihat hal-hal yang tak disetujuinya.

Ketika bisnis koin emas Goldquest berencara mengeluarkan edisi koin bergambar KH Hasyim Asy’ari pada 2004, Kiai Yusuf Hasyim melancarkan protes keras karena menganggap perusahaan itu melecehkan ayahnya. Apalagi Goldquest tidak minta izin kepada dirinya sebagai anaknya. Kiai Yusuf tetap pada pendiriannya itu meskipun KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang juga keponakannya, justru mendukung langkah Goldquest. Perusahaan tersebut akhirnya membatalkan rencana penerbitan koin emas bergambar Kiai Hasyim Asy’ari.

Terakhir kita melihat upaya Yusuf Hasyim mendatangi Mahkamah Konstitusi untuk menyampaikan gagasan agar membatalkan lembaga KKR (Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi). Menurut Yusuf Hasyim, KKR hanya akan menjadi pembenar bagi mantan anggota PKI untuk kembali aktif dan kegiatan politik praktis. “Padahal PKI telah nyata-nyata akan membawa bangsa ini ke arah komunisme yang ia yakini akan menghancurkan bangsa,” katanya.

Dari istrinya Siti Bariyah, KH Yusuf Hasyim dikaruniai lima anak,
masing-masing adalah Muthia F, Muhammad Reza, NurulHayati,
Muhammad Irfan, dan Nurul Amin.[]

KH Mustain Romly Ulama, Pendiri Universitas Darul Ulum

KH Mustain Romly tidak disangsikan lagi adalah salah satu tokoh besar asal Jombang yang punya pengaruh luas secara nasional. Selain dikenal sebagai tokoh pendiri Universitas Darul Ulum Jombang. Kiai Mustain juga kesohor sebagai Mursyid Thariqat Qadiriyyah wan Naqshabandiyyah di Indonesia. Beliau pernah menjadi anggota DPR/MPR RI, juga Ketua Umum Thariqat Mu’tabarah seluruh Indonesia, ketua Umum Perkumpulan Perguruan tinggi Swasta Seluruh Indonesia, Rektor Universitas Darul Ulum Jombang dan sekitarnya.

Banyak orang menilai Kiai Mustain adalah seorang kiai yang
memiliki pandangan jauh ke depan dibanding kiai pada umumnya. “Ya, memang demikian. Beliau diakui sebagai sosok yang pemikiran pemikirannya melesat mendahului banyak
tokoh termasuk kiai lainnya,” kata Noor Fatah Syafi’i, alumnus
Fakultas Hukum Universitas Darul Ulum Jombang.

Fatah, yang dikenal aktivis mahasiswa waktu kuliah di Undar pada 1970-an, mengaku Kiai Mustain adalah gurunya. Ia melihat sang guru tersebut memang sering membuktikan kehebatan pandangannya. Ketika Kiai Mustain sebagai tokoh NU masuk Golkar, misalnya, kalangan Nahdlatul Ulama (NU) geger. PPP sebagai partai dengan basis NU mencak-mencak. Apa pula alasan masuk partai pemerintah tersebut?

Menurut Fatah, yang kini berprofesi sebagai pengacara, Kiai
Mustain sering mengatakan kalau orang-orang dari kelompok lain akan memasukinya, nyatanya, setelah Kiai Mustain masuk Golkar, banyak pihak juga mengikutinya bergabung dengan kekuatan politik tersebut. Berkat langkah Kiai Mustain, kaum Nahdliyin kini ada di mana-mana.

Para pengamat politik seringkali merujuk tindakan Kiai Mustain bila berbicara tentang pertarungan partai-partai politk sekarang ini dalam memperebutkan suara NU. Moh Sholeh, staf Pengajar Fakultas Hukum Universitas Airlangga Surabaya, misalnya, pada 20 September 2002 menyampaikan pandangannya saat menyambut Konferensi Wilayah Nahdlatul Ulama Wonorejo Pasuruan, 11-13 Oktober 2002.

Dalam tulisan berjudul “Perhelatan Tanpa Pertarungan Wacana”, Sholeh mengatakan paling tidak ada tiga hal yang diperkirakan mendominasi pembicaraan seputar konferensi itu. Pertama, perbincangan klasik menyangkut posisi PWNU Jawa Timur sebagai basis terbesar organisasi barlambang jagat ini. Kedua, dengan posisi tersebut, kepemimpinan dan jamaah NU selalu diperebutkan, dijadikan battle ground (medan peperangan) 
antarkekuatan dan aliran politik. Ketika, besarnya tarikan arus politik ini mengakibatkan hampir tiap perhelatan yang diselenggarakan NU selalu ramai bergelora dengan tempik sorak pertarungan wacana.

Menurut Sholeh, selain partai-partai beraliran nahdliyin seperti PKB dan PPP, minimal ada dua sayap politik lagi yang secara tradisi, baik laten maupun manifest, turut bertarung, melihat NU sebagai battle ground untuk mendulang dukungan sekaligus melakukan “pembajakan” kader, yaitu pertama, sayap nasional sekuler.

”Kelompok ini mempunyai pengaruh lumayan di lingkungan NU,
berawal dari rintisan KH Mustain Romly, pendiri Universitas Darul Ulum Jombang. Selaku Mursyid Thariqah Qadariyah wan Naqsabandiyah, generasi kedua pemangku pondok pesantren Darul Ulum ini, menggiring jamaahnya untuk berteduh di bawah pohon beringin,” kata Sholeh. “Kala itu fatwa Mursyid Thariqah berarti Fox Kiai Fox Dai, suara kiai suara tuhan. Pengaruhnya sangat dahsyat, para Mursyid terbelah menjadi dua: tetap mengelilingi Ka’bah (PPP) dan yang lain ramai-ramai hijrah ke
pohon beringin (Golkar).

Rintisan dalam Pemilu 1977 dan 1982 tersebut, menurut Sholeh,
menjadi salah satu sebab jungkir baliknya kiprahnya PPP di kantung- kantung tradisionalnya sendiri. Padahal ketika itu disepakati bahwa partai yang selalu berada di urutan kedua sepanjang sejarah Orde Baru itu sebagai satu-satunya saluran resmi aspirasi politik warga NU. “Hampir mirip dengan kebijakan yang diambil PBNU pada awal-awal berdirinya PKB,” kata Sholeh pula.

Sholeh juga menyebutkan, keberhasilan KH Mustain Romly
menggembala warga NU di bawah naungan pohon beringin, bisa jadi merupakan inspirasi yang menggerakkan Gus Dur menggandeng Megawati, ketika itu Ketua Umum PDI-P, blusukan ke pesantren-pesantren dan ke tokoh-tokoh NU. Tidak berhenti hanya di situ, “safari pesantren” itu juga dibarengi dengan statement sloganistik: Mencoblos PDI-P sama dengan mencoblos PKB. Lagi-lagi PDI-P mendapatkan durian runtuh
sebagaimana Golkar, buah dari policy elite NU yang “fleksibel”

Tetapi terlepas bagaimana pandangan orang terhadap dirinya, Kiai Mustain umumnya dipandang sebagai sosok yang selalu berjuang untuk kepentingan bangsanya, bukan sekedar kelompok apalagi diri pribadinya. “Langkah Kiai Mustain selalu mengedepankan kepentingan bangsa. Itu yang saya tahu dan yakini betul,” kata Noor Fatah.

Dilahirkan di Jombang pada tahun 1933, Kiai Mustain Romly adalah salah satu putra KH Romly Tamim, pengasuh Pondok pesantren Darul Ulum. Sejak muda beliau memang sudah dikenal sebagai anak muda yang berani dan memiliki wawasan jauh ke depan. Pada masa perjuangan kemerdekaan, pemuda Mustain Romly bergabung mengangkat senjata melawan Belanda. Kemudian, ketika melihat ketertinggalan umat Islam,
termasuk di Jombang, Kiai Mustain bersama mertuanya, KH Wahab Hasbullah, dan beberapa tokoh lain seperti Kiai As’ad Umar mendirikan Universitas Darul Ulum pada 1965.

Sekarang Universitas Darul Ulum Jombang sudah jauh berkembang dibandingkan ketika pertama kali didirikan. Berkat lobi-lobi yang dilakukan Kiai Mustain Romly, universitas tersebut dapat memperoleh bantuan dari berbagai pihak dalam upaya pengembangannya. Menurut Noor Fatah, banyak rencana yang telah digagas oleh Kiai Mustain dalam berbagai bidang termasuk pendidikan umat Islam. Tetapi Tuhan rupanya berkehendak lain. Beliau wafat dalam usia 52 tahun pada 20 Januari 1985, menginggalkan istri dan lima anaknya. “Saya ingat betul tanggal tersebut karena saat itu saya mau pindah rumah. Rencana pindah itu akhirnya saya tunda,” kata Fatah.[

KH As’ad Umar – Ulama dan Politisi

“Seperti kebiasaan orang-orang kita lainnya, saya tidur enam jam sehari,” kata KH As’ad Umar Mengenai resep menjaga kondisi tubuhnya sehingga tetap gesit pada usia di atas 70 tahun. Pertanyaan ia sampaikan akhir dasawarsa 1990-an ketika melihat kesiapan pondoknya menerima kunjungan Presiden B.J. Habibie.

Saat itu Kiai As’ad masih menyetir mobil sendiri dan gesit berjalan kaki di antara bangunan- bangunan sekolah di kompleks PP Darul Ulum, Rejoso, Peterongan, Jombang. “Usai shalat subuh saya sudah menjalankan aktivitas rutin, menginspeksi pondok dan menyiapkan pekerjaan,” katanya. Namun kini, kondisi kesehatan Kiai As’ad sudah agak menurun karena usianya yang telah lanjut.

Siapapun yang melihat sosok ini, pastilah akan menangkap kesan gesit dan optimis pada pribadi ini. Ia tidak bisa berdiam diri dan selalu memiliki gagasan baru untuk mengembangkan pondoknya. Karena itu pondok yang memiliki sejarah panjang itupun berkembang sangat pesat bahkan telah merambah pada dunia pendidikan umum.

Dalam naungan PP Darul Ulum, telah tumbuh dan berkembang
sekolah-sekolah antara lain SMA Unggulan, Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN), Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN), Madrasah Program Khusus Darul Ulum dan SMP Darul Ulum I, II, III dan IV. Sedangkan tingkat menengah atas meliputi SMA Darul Ulum I hingga IX, Madrasah Aliyah Negeri (MAN) dan MAN Program Khusus.

Untuk lebih meningkatkan kualitas para santri, Ponpes Darul Ulum juga telah mendirikan lembaga pendidikan tinggi yakni Akademi Keperawatan (AKPER), Akademi Bahasa Asing (ABA), Universitas Darul Ulum dan Sekolah Tinggi Ilmu Agama Islam Darul Ulum. Lembaga terakhir ini bernama Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu).

Dalam kompleks Pondok Pesantren yang luasnya mencapai 52 hektar itu juga berdiri rumah sakit barlantai dua yang cukup megah dan modern.

Menurut As’ad, pendirian RS itu selain untuk praktik siswa Akper
dan Akbid juga didasari keprihatinannya tentang pelayanan kesehatan bagi kaum muslim yang selama ini memprihatinkan. “Saya punya obsesi memiliki RS dengan standar modern namun tetap Islami,” tambahnya.

Melihat begitu banyaknya lembaga pendidikan yang telah didirikan, tentu kita yakin betapa tingginya komitmen KH As’ad Umar di dunia Pendidikan. Telah ribuan sarjana yang ia hasilkan lewat lembaga pendidikan yang ia dirikan. Namun sebenarnya Kiai As’ad sendiri kurang beruntung di bidang pendidikan karena ia tidak sempat meraih kesarjanaan. Hal ini layak kita teladani sebab untuk menghasilkan karya, orang tidak perlu harus bergantung pada gelar kesarjanaan.

Memang, Kiai As’ad pernah menimba ilmu di Perguruan Tinggi
Islam Negeri (PTAIN) Jogjakarta sekitar tahun 1958. Namun sebelum lulus ia dipanggil Ayahandanya KH Umar Tain untuk mengelola pondok ayahnya. Kekurangan ini ditutup oleh kegemarannya berorientasi sehingga pengalaman ini kelak sangat mendukung kematangan As’ad dalam berpolitik. Pada tahun 1959, ia dipercaya menjadi Ketua Pertanu Jombang
yakni organisasi pertanian di bawah naungan Nahdlatul Ulama. Setahun berikutnya menjabat Ketua DPR GR (Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong) dari Jombang.

Karir politiknya kian meroket. Pada 1969-1971, As’ad duduk
sebagai anggota DPRD Jatim lewat NU. Lalu sejak 1975-1997 ia kembali ke DPRD Jatim sebagai anggota dari Golkar. Pada akhir masa rezim Soeharto, Kiai As’ad sempat menjadi anggota DPR-RI beberapa saat.

Meski menjadi politisi, Kiai As’ad masih terus memimpin Ponpes
Darul Ulum. Bahkan tak jarang di sela-sela kunjungan kerja sebagai anggota DPRD Jatim, baik di Jatim maupun daerah-daerah lain di luar Jatim, ia selalu kontak dengan alumni Darul Ulum di daerah setempat. “Banyak santri yang berdomisili di daerah sini sehingga saya bisa menemui mereka. Atau kalau ada yang tahu saya berada di daerahnya, mereka mengontak alumni lain dan menemui saya,” katanya suatu malam
saat kunjungan kerja di Banyuwangi tahun 1991.

Pengalaman yang panjang di dunia politik dan pesantren membuat pria yang selalu blak-blakan ini juga dikenal sebagai jago lobi. Berkat kepiawaian lobinya, PP Darul Ulum selalu menjadi jujukan kunjungan

pejabat baik menteri bahkan Presiden. Tentu tak terhitung kunjungan pejabat provinsi dan pejabat pusat di bawah menteri. Kini di bawah kendali putra-putranya yang telah mengenyam pendidikan tinggi dengan baik, tak seperti dirinya, lembaga pendidikan Darul Ulum telah berkembang. Darul Ulum telah berkembang menjadi institusi bukan saja pendidikan tetapi juga sosial budaya, politik dan tentu saja ekonomi karena mampu memberi lapangan kerja bagi masyarakat sekitar dan para
lulusannya. Dan Kiai As’ad tegak berdiri di sana, mendirikan lembagalembaga itu sekaligus menjaga kelangsungan pertumbuhannya

Keluarga dan Masyarakat

Di balik kiprahnya sebagai salah satu praktisi politik baik di tingkat Jawa Timur maupun nasional, KH As’ad ternyata adalah sosok yang memiliki kehangatan keluarga. Beliau sangat memperhatikan keluarga dan selalu ingin dekat dengan seluruh anggota keluarganya. Kiai As’ad berputra 9 orang, seorang diantaranya sudah meninggal dunia. Dari delapan putranya, 6 laki-laki 2 perempuan kini semuanya tinggal di lingkungan PP Darul Ulum. “Bahkan ketika kakak saya, Yiyi, berangkat
ke Australia untuk studi dan bermaksud mengajak putranya, Kiai As’ad melarang. Beliau ingin tetap dekat dengan cucunya,’’ kata Zahrul Ashar, putra bungsunya.

Dalam kaitan ini ada yang perlu dicatat, Kiai As’ad tidak pernah
mengharuskan putra-putrinya untuk memilih pendamping hidup dari kalangan tertentu.Tak harus dari putra/putri Kiai, misalnya. Bagi Kiai As’ad ukuran terpenting adalah manfaatnya bagi pondok.

Ini bisa dimengerti kalau kita melihat dan menelusuri betapa besarnya komitmen beliau terhadap “ilmu”. Bagi Kiai As’ad dengan memiliki ilmu seseorang akan ditinggikan derajatnya oleh Allah. Maka sungguh tepat pemilihan nama Ulum, yang berarti rumah ilmu, bagi payung besar lembaga pendidikan yang dinaunginya. Dan Kiai As’ad memang memegang teguh serta telah mampu mengembangkan Darul Ulum dengan fantastis.

Para putra-putrinya kini bahu-membahu membesarkan dan terus
mengembangkan seluruh lembaga pendidikan yang dinaungi PP Darul Ulum. Tentu saja masing-masing sambil terus menuntut ilmu di lembagalembaga pendidikan terkemuka baik di dalam
maupun di luar negeri.

Kiai As’ad pun seperti telah menjadi karakternya, dalam usia 74
tahun ini, masih tak mau berdiam diri. Meski beliau terkena stroke saat menghadiri pengajian di Janti tahun 2004 silam dan hingga kini kemanamana harus memakai kursi roda, namun
masih terus mengikuti dinamika di lingkungan pondoknya. Semua keputusan yang dibuat masih harus memperoleh
persetujuan beliau. Jika beliau mengatakan tidak, maka itu yang
harus diikuti.

Selain kedekatan dengan anggota keluarga besarnya, Kiai As’ad
juga sangat dekat dengan masyarakat sekitar pondok. Terjadi hubungan saling menguatkan dan mengembangkan antara keluarga Kiai As’ad dan pondoknya dengan masyarakat sekitar. Dalam hal ini beliau berpesan kepada para putra-putrinya, meski bisa menguntungkan secara materi namun pondok dilarang mengurus semua kebutuhan para santri.

Bagi Kiai As’ad, hubungan baik antara pondok dan masyarakat
sekitar haruslah terus dijaga karena keduanya saling memiliki
ketergantungan, saling membutuhkan. Maka tak heran jika di lingkungan Darul Ulum selalu terbina kekompakan dan tak pernah ada konflik apalagi yang sifatnya terbuka. Ini penting untuk dicatat sebab saat ini ada sejumlah pondok yang berhubungan dengan masyarakat sekitar sangat buruk. Ada pesantren yang gotnya ditutup warga karena sang kiai tak
mampu memelihara hubungan baik dengan warga sekitar.

Untuk makin mengukuhkan hubungan baik di Darul Ulum, kini juga sudah berdiri koperasi SIGAP (Koperasi Keluarga Pondok) yang dimiliki masyarakat sekitar, khususnya para pedagang. Dengan koperasi ini ketertiban para pedagang juga dibangun. Mereka juga ikut mendukung program pondok. Misalnya, mereka tak menjual rokok, minuman keras dan semacamnya. Mereka juga tertib dengan menaati jam jualan. Para
pedagang harus tutup saat maghrib tiba.

“Kami justru sangat terbantu dengan kehadiran mereka, apalagi mereka juga nurut dengan aturan-aturan yang dibuat pondok,” kata Gus 
Zahrul.[]

Asmuni – Pelawak & Seniman

Atlet dan seniman itu sering dikenal sebagai orang yang tidak
pernah memikirkan hari tuanya, bahkan hingga saat ini. Karena itu, senyampang masih bisa berkarya, seorang harus mampu mengelola dan menyiapkan hari tuanya sendiri. Asmuni adalah salah satu dari seniman yang mampu menyiapkan hari tuanya itu dengan cukup baik.

Maka ia bisa menjalani hari tuanya dengan tenang dan relatif
berkecukupan, meski ia tak mau dikatakan berlebihan secara materi. “Mau apalagi, tidak banyak yang saya bisa lakukan di hari tua ini. Akhirnya ya sudahlah, buka warung dan jualan nama. Alhamdulillah warung saya cukup laku,” kata Asmuni di warung yang dia dirikan di Jatipasar, Trowulan, Mojokerto.

Sebenarnya bukan sekedar warung biasa, sebab rumah makan yang lebih dikenal dengan Rumah Maka Rujak Cingure Asmuni ini, cukup megah dan berdiri di atas tanah yang cukup luas dan berlokasi strategis, di tepi jalan raya Mojokerto-Jombang. 
Bukan hanya di Trowulan, ia juga memiliki warung masakan Jawa Timur di Slipi, Jakarta. Asmuni bersyukur karena ia memiliki isteri yang pintar masak dan akhirnya bisa mengembangkan menjadi bisnis rumah makan yang cukup besar. Warung-warung itu menjadi penopang kehidupan masa tua pelawak Srimulat ini.

Pria kelahiran Desa Diwek Kecamatan Diwek, Jombang 17 Juni 1932 itu kini telah berusia 75 tahun, namun cukup sehat menjalani kehidupan dan masih banyak melakukan kegiatan. Ia pun masih sering bepergian untuk berbagai urusan. “Tetapi saya kena asam urat, jadi ya harus hati-hati dan pandai-pandai mengatur makan,” katanya.

Asmuni menjalani masa kecilnya di Diwek, bersekolah di SR 
Ceweng kemudian melanjutkan ke SMP I Jombang hingga kelas tiga untuk selanjutnya pindah ke Surabaya mengikuti ayahnya. Ayah Asmuni sendiri, Asfandi adalah pegawai bagian kesenian DJAKAD (Djawatan Kesedjahteraan Angkatan Darat) yang bertugas menghibur para tentara. Struktur lembaga ini meniru militer Jepang. Pada lembaga inilah Asmuni sering ikut ayahnya dan kemudian banyak orang melihat bakat Asmuni sebagai penghibur. Itu memang terjadi semasa pendudukan Jepang tahun 1943-an. Karena berada di lingkungan tentara, Asmuni pun akhirnya masuk tentara setelah Indonesia merdeka. Namun karena usianya masih pelajar ia pun masuk TRIP (tentara pelajar).

Pada masa tersebut, ia berjuang mempertahankan Surabaya dari serangan Belanda di sekitar Sepanjang-Krian. Namun karena terus terdesak akhirnya tentara dan laskar-laskar Indonesia mundur dan tumpleg bleg di Mojoagung. Mereka berjuang mempertahankan Jombang. Mereka mengira, Belanda tidak mungkin bisa masuk Jombang karena Mojoagung 
dibentengi tentara dan laskar yang jumlahnya sangat banyak. Hampir semua tentara dan laskar-laskar berkumpul di Mojoagung,” kata Asmuni.

Namun mereka salah perhitungan. Belanda tidak masuk lewat
Mojoagung tetapi lewat Mantub, Lamongan dan dengan mudah masuk Jombang. Jam 03.00 dinihari Pasar Jombang sudah dipenuhi tentara Belanda. Ketika melakukan tugas patroli antara Jombang-Mojoagung, Asmuni masuk pasar dan menangkap seorang tentara Belanda. Ia heran kok ada Belanda di Pasar Jombang padahal sudah dijaga ketat di Mojoagung. Belum sempat rasa heran itu hilang sudah muncul tembakan bertubi-tubi dari arah pasar dan dengan perasaan setengah sadar, tentaratentara Indonesia akhirnya tahu bahwa Belanda sudah masuk Jombang.

“Kita ini kalah segala-galanya, baik senjata maupun
strategi perang. Jadi kalau berhadapan ya pasti kalah. Satu-satunya kelebihan kita adalah mengenal medan. Itu saja,” kata Asmuni.

Selanjutnya Asmuni bergabung dengan Resimen 19 yang bermarkas di Jember. Pada saat bertugas di sinilah, Angkatan Laut hendak membentuk organisasi Olah Raga, Pendidikan dan Hiburan (O, P dan H) semacam bagian kesenian hiburan milik Angkatan Darat (Djakat), tempat ayahnya berdinas. Saat itu ada nama-nama yang cukup kesohor di antaranya Bing Slamet dan pimpinan Kapten Iskak yang punya anak seorang artis terkenal saat itu, Indriyanti Iskak. Kelompok hiburan ini bermarkas di Pasiran, Surabaya. Bermainlah Asmuni menghibur para tentara Angkatan Laut. Namun lama kelamaan ia merasa jemu dan keluar dengan pangkat terakhir Sersan Satu.

Ia kemudian masuk kelompok hiburan Lokarya yang bermarkas di THR Surabaya di bawah pimpinan Amang Gunawan. Sejak itulah Asmuni menapaki jalan hidupnya sebagai penghibur. Dari Lokarya ia kemudian bergabung dengan Srimulat. Bersama Srimulatlah kemudian Asmuni mengalami pasang surut kehidupan sebagai penghibur. Ia mengalami suka duka sebagai pelawak di sana. Suatu ketika, misalnya, Srimulat memutuskan untuk manggung permanen di Jakarta dan sudah memperoleh
tempat di Proyek Senin lantai 4. Optimisme memancar dari seluruh personel Srimulat karena esok harinya akan mulai tampil perdana. Mereka juga sudah mengontrak rumah di sekitar Senin. Setelah semua persiapan beres menjelang main esok harinya, Srimulat didatangi Dinas Tata Kota DKI yang keberatan mereka main di sana karena keamanan penonton tidak terjamin jika misalnya terjadi kebakaran. Seluruh anggota jatuh mental padahal mereka sudah kontrak rumah di Jakarta. Demikian juga
Teguh, masih terdiam. “As, saya tidak mikir dekor atau panggung ini. Dekor itu terbakar juga tidak apa-apa. Yang saya pikirkan nasib anakanak. Bagaimana hidup mereka,” kata Teguh.

Asmuni sumendhal mendengar perkataan Teguh. Akhirnya Asmuni berinisiatif membawa teman-temannya kembali ke Jawa Timur dan tur keliling, sedangkan Teguh tetap bertugas mencari tempat manggung permanen yang setahun kemudian didapatkannya di Taman Ria Remaja, Senayan.

Asmuni berkeliling membawa teman-temannya manggung di Surabaya, Jombang, Kertosono, Nganjuk dan sekitarnya. Pertama keliling, mereka tampil di Malang kemudian Kediri tetapi tidak mendapat tempat. Akhirnya mereka tampil di Pare bekerjasama dengan pihak kepolisian setempat. Begitulah, selama menunggu kepastian manggung di Jakarta mereka tur keliling Jatim dan mendapat sambutan penonton luar biasa bagus.

Ketika akhirnya Teguh mendapat tempat permanen di Taman Ria Remaja, iapun boyongan ke Jakarta. Mulailah mereka menjalani kehidupan menghibur di Jakarta. Penonton pun ramai. Bahkan, kata Asmuni, kalau semua lima wilayah DKI itu didirikan tempat manggung permanen, ia yakin penontonnya tetap melimpah. Namun, gagasan itu tidak pernah terlaksana dan Srimulat hanya manggung di Taman Ria saja.

Merasa namanya sudah cukup dikenal dan layak untuk meluaskan pasar, Asmuni mengirim surat kepada TVRI yang merupakan stasiun TV satu-satunya di Indonesia itu. Jaraknya juga dekat dengan tempat Srimulat manggung. Namun surat itu tidak pernah dibalas. Barulah ketika ada orang TVRI menonton pertunjukan, yang bersangkutan menawarkan gagasan untuk syuting. Asmuni heran, wong suratnya saja tidak dibalas, sekarang malah menawarkan siaran. Tetapi akhirnya Teguh menyetujui gagasan itu, membikin kontrak dan jadilah pertunjukan Srimulat disiarkan TVRI, “Saat itu kami tidak bicara honor yang didapat dari TVRI. Pokoknya kami makin dikenal di Jakarta dan daerah-daerah lain. Tapi sekarang lain, kalau
ada tawaran syuting pasti akan kami perhitungkan berapa honornya,” kata Asmuni sambil tertawa.

Srimulat memang semakin berkibar. Para pemainnya juga mendapat tambahan pekerjaan dari berbagai daerah bahkan hingga Kalimantan. Lepas dari TVRI, Srimulat mendapat tawaran kontrak Indosiar.

Di puncak kejayaan itulah Asmuni sering merenung tentang hari
tuanya nanti. Ia tidak mungkin selamanya ada di atas dan pada saatnya nanti tak ada seorangpun yang memikirkan hidupnya. Maka ketika masuk Jakarta tahun 1980, dua tahun kemudian ia membuka warung bersama isterinya. “Saya mikir, tak ada yang bisa menjamin hari tua saya. Maka warung inilah yang akan menjadi gandholan hidup nanti,” kata Asmuni.

Memang ada yang memikirkan nasib para pelawak yakni Eddy Sud yang kemudian membentuk wadah Paguyuban Lawak. Namun setting politik saat itu membuat paguyuban ini juga harus berafiliasi ke Golkar, kekuatan politik yang berkuasa saat itu. Pada masa kampanye, para pelawak yang memang sudah dikenal masyarakat menjadi gula manis perangsang selera yang membuat Golkar makin besar. “Jadi kami ini memberi andil besar bagi kebesaran Golkar,” kata Asmuni.

Kehidupan pelawak umumnya memang tetap miskin. Pernah suatu ketika hal ini disampaikan kepada Presiden Soeharto dalam suatu acara bahwa nasib pelawak di hari tua banyak yang merana, saat itu Kepala Negara juga tampak sedih mendengarnya, tetapi kata Asmuni, kehidupan pelawak toh tetap berjalan begitu saja. Banyak yang menjalani hari tua
dalam keadaan sakit-sakitan tanpa mendapatkan bantuan, banyak pula yang meninggal dalam kemeranaan seperti Kardjono AC/DC, Hery Koko atau Gepeng. “Saya menangis ketika menjelang wafatnya dulu, Kardjo datang kemari dan menjual 2 anaknya kepada saya,” kata Asmuni. “Hanya 
ini yang aku punya Mas,” kata Kardjo meyakinkan Asmuni.

Mengenang perjalanan hidupnya yang cukup panjang dan memilih jalan hidup sebagai pelawak, Asmuni sampai pada kesimpulan: Hidup memang harus hati-hati, memikirkan kehidupan masa depan bukan hanya terpaku pada kesenangan saat mengalami kejayaan. Asmuni memang sudah mencapai itu, hidup sesuai yang ia harapkan. Dan ia pun mensyukurinya

Markeso – Seniman, Potret Masyarakat Bawah

Berjuang sepanjang hidup, tiada henti, sendirian. Itulah barangkali kalimat yang bisa melukiskan perjalanan hidup Markeso. Di KTP miliknya tertulis Nama: Nachrowi, lahir di Jombang 30 Juni 1933. Sebagaimana tokoh-tokoh terkenal lain asal Jombang, Markeso juga bernasib sama: kurang dikenal di daerah asalnya tapi sangat dikenal di tempat lain.

Memang begitulah Markeso, panggilan khas Nachrowi, yang di
kalangan seniman Surabaya malah dijadikan ikon Kota Surabaya. Hanya Markeso yang mampu melakoni hidup sebagai seniman ludruk garingan. Keliling dari kampung ke kampung di tengah gegap gempita dan terik matahari Kota Surabaya. Ia membawakan kidungan tanpa diiringi gamelan atau musik apapun. Semua instrumen pengiring keluar dari vokal yang
juga bersumber dari mulut Markeso. Dan ia mampu beraksi tiga jam sendirian menghibur penontonnya.

Menurut penilaian sejumlah seniman ludruk, itu bukan tanpa alasan sebab kalau diiringi musik gamelan atau alat musik lain, suara Markeso tak pernah pas, selalu menclek. Tapi jika musiknya dari mulut sendiri terasa enak, karena bisa melengking tinggi atau kadang-kadang mengalir renyah seperti air yang mampu menghanyutkan.

Dan Markeso memiliki kemampuan interaksi dengan lingkungan
sangat baik, saat memainkan kidungannya. Para penonton sangat menyukai hal ini karena bisa ikut-ikutan nyeletuk sambil menggoda Markeso. Tidak marah, Markeso justru menggunakan celetukan penonton untuk bahan kidungannya. Menurut pimpinan Ludruk Karya Budaya, Drs. Eko Edy Susanto, M.Si, interaksinya dengan penonton menjadi kekuatan yang tidak bisa ditandingi seniman lain.

Seorang ibu yang tinggal di kawasan Karang Menjangan, Surabaya mengenang, ketika kecil dulu ia bersama kawan-kawan selalu rindu menunggu kedatangan Markeso. Ia membututi Markeso dari kampung ke kampung. Usai bermain di rumah seorang warga, Markeso minta minum. Kepada tuan rumah ia bilang “Tolong konco-koncoku iki sampeyan kasih 
minum juga,” kata Markeso memintakan minum anak-anak.

Ia tangkas memanfaatkan setiap apa yang dilihatnya. Misalnya: tibatiba ia melontarkan kata-kata “E…e e ono wong dipangan arek” sambil memandang seorang ibu yang tengah menyusui anaknya. Tidak hanya berhenti sampai di situ. Ia pun berkata “Nak, ojo ngono sakno ibumu ngko awake growak.”

Begitulah Markeso, ngamen dari rumah ke rumah dari satu hajatan ke hajatan yang lain, dijalaninya profesi ngamen dengan hati riang. Dengan pakaian khas seperti kopiah yang dimiringkan atau topi menjulang tinggi ala Turki, ia malah bisa menjadikan apa saja yang ia pakai atau yang ia lihat sebagai bahan lawakannya, menghibur penonton.

Tetapi Markeso bukan orang yang punya ambisi duniawi yang
sangat tinggi. Ia pandai mengukur diri dan menjalani hidup dengan sederhana bahkan kelewat sederhana untuk ukuran seniman yang sudah punya nama tenar di Kota Surabaya.

Di saat akhir kehidupannya, ketika namanya sudah melambung, ia sebenarnya sudah bisa ngamen dari instansi ke instansi, ulang tahun perusahaan-perusahaan swasta bukan lagi hanya dari pintu rumah ke pintu rumah lain di kampung-kampung. Namun Markeso tidak kemaruk. Ia tetap Markeso yang ngidung menghibur masyarakat bawah, tempat ia hidup. Tetangganya di kawasan Banyuurip selalu menyapanya ketika ia
tiba dari ngamen “Cak, wis mulih?” Dan Markeso tangkas menjawab dengan jawaban yang sama “Yo, wis oleh sak ghodokan. Tabik,” kata Markeso sambil
memberi hormat ala militer pada mereka yang menyapa.

Tetapi menurut penuturan teman-temannya, pilihan Markeso untuk menjadi seniman kidungan garingan bukan tanpa alasan. Ia memang tidak pernah bergabung dengan grup ludruk manapun. Ia sendirian melakoni hidup berkesenian lantaran pemberontakan terhadap perlakuan tidak adil yang diterima ludruk. Ia tidak mengerti dan kemudian memberontak karena ludruk ditarik pajak. Baginya sangat tidak masuk akal jika kesenian yang menghibur kalangan masyarakat bawah kota atau masyarakat miskin di desa-desa dan para pemainnya hidup dalam kemiskinan harus membayar pajak. Dalam pikirannya ludruk justru semestinya harus mendapat insentif bukan malah dipajaki. Tetapi Markeso bukan demonstran yang senang berteriak-teriak menyumpah-nyumpahi perlakuan tidak adil itu. Ia memilih berjuang dengan caranya sendiri, menghibur sendiri.

Maka Markeso memilih untuk tidak bergabung dengan grup ludruk manapun. Ia sendirian. “Lebih baik saya jalani kesenian ini sendirian begitu saja,” kata pelawak Asmuni menirukan keluhan Markeso. Markeso memang telah memilih jalan hidupnya itu. Ia telah menyapa dan menghibur orang-orang di kampung-kampung Surabaya dan memintakan minum anak-anak yang suka akan kidungannya dan terus membuntutinya. Tetapi itu kini hanya tinggal kenangan. Markeso wafat pada 1 Mei 1996 dan dimakamkan di Tunggorono, Jombang.[]

Bolet – Seniman Ngremo

Lunga Jombang kampung Sengon
Lemah geneng akeh wedhine 
Dada dak sambang kirima ingon
Nek gak seneng apa mestine

Kidungan itu sudah sangat popular di masyarakat namun tak banyak yang tahu siapa yang menciptakannya. Penciptanya adalah Amenan, pelawak ludruk kenamaan asal Jombang, yang lebih dikenal dengan nama Bolet.

Kidungan yang sangat sederhana namun sangat mengena seakan itu merupakan cara Bolet memotret kehidupan keseharian masyarakat sekitarnya. Demikian juga kampung Sengon, sebuah kampung yang berada di kota Jombang, tempat pria ini dilahirkan kemudian dimakamkan.

Bukan hanya masyarakat Jombang yang mengenal pemain ludruk ini tetapi juga masyarakat Jawa Timur, berbagai daerah yang tinggal di desa-desa. Bolet telah keliling di berbagai daerah, njajah desa milang kori, hingga ke pelosok-pelosok dusun sehingga ia hidup di hati orang-orang sejak tahun 1970-an hingga 1980-an.

Tentu saja suka duka sebagai orang tobong telah kenyang ia alami. Namun Bolet adalah seniman ludruk tradisional serba bisa yang bukan saja menjadi sekedar pemain tetapi juga pencipta. Salah satu ciptaan yang cukup monumental adalah tari remo gaya Jombangan.

Dalam dunia ludruk dikenal setidaknya dua gaya tari remo:
Suroboyoan dan Jombangan. Remo Suroboyoan diciptakan Munali Fatah sedangkan gaya Jombangan diciptakan Bolet.

Memang ada upaya untuk menciptakan gaya tari lain, misalnya
Mojokertoan seperti yang dilakukan Ali Markasa. Namun di kalangan seniman ludruk dan pemerhati ludruk, gaya yang terakhir ini dinilai belum layak disejajarkan dengan gaya tari remo terdahulu. “Gaya Mojokertoan, kreasi Cak Ali Markasa masih banyak diwarnai gaya Jombangan Cak Bolet,” kata Drs. Eko Edy Susanto, M.Si, pemerhati yang menulis tesis tentang ludruk.

Gaya Jombangan ciptaan Bolet sangat khas dan memiliki karakter yang cukup kuat. Misalnya gerakannya santai, sederhana dan membuat pemirsanya mesem karena disertai gerakan yang mengejutkan namun lucu. Hal ini yang juga menjadi ciri tari remo gaya Jombangan atau gaya Bolet adalah penggunaan selendang warna hijau dan merah (ijo dan
abang) yang oleh masyarakat sudah lazim menjadi singkatan dari Jom dan Bang.

Di Jombang sendiri, selain nama Bolet dan Ali Markasa, seperti
diutarakan di atas, masih ada nama lain yang mendedikasikan hidupnya untuk kesenian ludruk yakni Santik (yang terkenal dengan ngamen leroknya) serta Markeso yang terkenal dengan ludruk garingannya.

Sangat Ekspresif

Menurut Nasrul Ilah, seorang pengamat seni dan tokoh seniman 
Jatim kelahiran Jombang, Boletan alias Jombangan merupakan karya tari yang sangat ekspresif. Wiraga, wirasa, dan wirama yang disuguhkan dalam Ngremonya Pak Bolet sepenuhnya merupakan pancaran jiwanya. Seperti karya “Potret Dini” karya pelukis maestro Affandi, tidak pernah merefleksikan pesan yang sama pada waktu yang berlainan, bergantung suasana jiwanya; maka tari remo Pak Bolet bisa dikatakan lebih dari itu. Karya “Potret Dini” Affandi merupakan karya individual, sedang remo Pak Bolet merupakan karya kolektif, yang dalam melahirkannya membutuhkan kerjasama dan interaksi dengan unsur lain,” kata Nasrul.

“Dasar pelawak, ketika ngremo pun tetap nglawak. Bolet masuk
dengan gaya ngglembosi, kontan penonton sudah tertawa melihat daya tampilan Bolet,” ujar Asmuni, tokoh Srimulat. “Bolet melanjutkan dengan gerak-gerak yang terkesan muncul dari keadaan antara lupa dan ingat, namun disuguhkan dengan meyakinkan. Sejak saat itu Ngremo Gaya Boletan lahir dan muncul Karya Seni Jombangan yang monumental.”

Pak Bolet yang meninggal pada 15 Agustus 1976 tahun dalam usia 34 tahun ini turut mengharumkan nama Jombang bahkan Jawa Timur dengan karya tarinya. Sebelum tahun 1965, seniman ini ikut menjadi anggota Ludruk “Gaya Baru.” Setelah tahun 1968 ia menjadi pelawak dan penari Ngremo yang bebas alias tidak terikat. Prestasi yang dicapainya antara lain pada tahun 1971 menjadi Juara I Lomba Tari Ngremo se-Jawa
Timur setelah setahun sebelumnya menjadi Juara III di Tingkat Kabupaten Jombang.

Nyai. Sholihah Wahid Hasyim – Ketua Muslimat NU

Sholihah Wahid Hasyim adalah salah satu tokoh perempuan yang aktif dalam politik di Indonesia pada tahun 1950-an. Nama aslinya adalah Munawwaroh, lahir di Denanyar, Jombang pada 11 Oktober 1922.1 Tetapi menurut pendapat Abdussalam Shohib, anak ketiga Kiai Bisri dan Nyai Chodijah tahun dengan kakanya Moeasshomah.2 Sholihah berperan aktif pada masa Ir.
Soekarno dan juga salah satu tokoh perempuan pertama yang berani membubuhkan tanda tangan untuk pembubaran PKI tahun 1965.

Jika dirinci dari pihak ayah adalah Sholihah binti Syansuri bin Abdul Shomad.3 Ayah Sholihah, Bisri Syansuri menikah dengan Nur Chodijah (adik dari kiai Wahab Hasbullah). Dari silsilah di atas dapat dilihat bahwa Sholihah merupakan campuran darah biru, kalangan priyayi dan darah putih, kalangan kiai.

Dalam hal ini wajar jika Sholihah memiliki bakat, mental, dan perjuangan orang orang besar, selain besar perjuangannya juga besar hatinya.

Letak desa kelahiran Sholihah yaitu desa Denanyar berada pada garis perbatasan antara Jombang dan daerah pedalaman sebelah barat laut.

Masa Kecil

Kelahiran Sholihah diliputi oleh suasana perjuangan yang membingkai alam pikiran rakyat untuk melepaskan diri dari cengkraman penjajah. Sebagai putri seorang kiai, Sholihah kecil lebih sering berinteraksi dengan warga pesantren dan orang tuanya. Ia juga telah belajar makna status sosial dari dimensi
prestige (kewibawaan) yang melekat dan diwarisi sejak dilahirkan.

Sholihah dibesarkan di lingkungan santri pada sebuah keluarga ulama besar di Jombang. Dia merupakan anak kelima dari 10 bersaudara keluarga KH. Bisri Syansuri yang beristrikan Nur Chadijah. Ayahnya Bisri Syansuri adalah seorang ulama besar dan pengasuh pertama Pondok Pesantren Denanyar Jombang,
sedangkan ibunya Nur Chadijah anak dari ulama besar KH. Chasbullah dan juga merupakan pengasuh pondok putri Pesantren Denanyar milik suaminya Bisri Syansuri.

Sebagai anak dari pengasuh pondok pesantren, masa kecil Sholihah mendapatkan pendidikan yang ketat, termasuk keluar pesantren harus ditemani oleh saudara-saudaranya dan tidak boleh sendirian. Dalam hal pendidikan agama, seperti membaca Alquran, pengajaran diberikan langsung oleh ayahnya.
Metodologi pemberian pengajaran kiai Bisri kepada anak-anaknya pun relatif lebih “human”. Sementara sang ibu nyai Chadijah dalam menerapkan pengajaran pengetahuan diterapkan lebih keras seperti mencubit dan membentak.

Dalam banyak hal, rasa keingintahuan dan kemauan yang dimiliki Sholihah sungguh besar dibandingkan dengan saudara-saudara puterinya.7 Hal inilah yang menyebabkan dirinya tidak jarang melanggar aturan orang tuanya untuk tidak meninggalkan rumah, keluar dari lokasi pesantren tanpa meminta izin
dan memberitahukan terlebih dahulu maksudnya.

Namun demikian, bukan berarti Munawwaroh selalu pergi setiap hari untuk keluar dari pesantren, tetapi dia hanya pergi jika memang ada kepentingan atau ada persoalan yang menurutnya penting untuk dikerjakan. Misalnya, dia sudah berjanji untuk membuat suatu kegiatan dengan teman-teman perempuannya
yaitu ingin mengahadiri suatu pengajian di luar pesantren, ataupun mau ke pasar membeli kerudung untuk dibordil, lalu jalan bersama teman-temannya. Untuk melakukan itu semua, jika harus menunggu izin dari orang tuanya, dalam pandangan Sholihah akan memakan waktu cukup lama bahkan bisa jadi akan terlambat atau juga tidak diperbolehkan

Masa Pendidikan

Pendidikan Munawwaroh (Sholihah) kecil betul-betul tidak jauh dari pesantren. Secara formal ia didik di Madrasah Ibtidaiyah di Pesantren Denanyar milik ayahnya. Materi-materi yang diajarkan juga tidak jauh dari khazanah Islam tradisional seperti: Alquran dan Al-Hadits, Tajwid, Nahwu Shorf, Fiqh, ‘Uqud AlLujayn, Adab Al-Mar’ah, Nadhom Al-Sullam Al-Saakinah yang semuanya dipelajari dengan menggunakan metode hafalan. 
Diluar pendidikan formal, Sholihah juga belajar pelajaran ekstra dari ayahnya, yaitu mengajarkan kembali kepada santri-santri putri pada pagi hari materi yang diberikan oleh kiai Bisri
ketika siang hari setelah dhuhur dan malam hari setelah Isya‟. Hal ini untuk mempersiapkan agar bisa menjadi guru bagi santri-santri puteri ditingkat bawahnya.

Sejak kecil dalam diri Sholihah sudah tampak tanda-tanda bahwa kelak ia akan menjadi tokoh yang menonjol dikalangannya, misalnya dalam bakat kepemimpinan mengatur saudara-saudaranya untuk melakukan pekerjaan tertentu.
Dalam hal ini tidak jarang banyak gagasan yang dimilikinya, diterapkan dan disosialisasikan kepada teman-teman dan para santri di lingkungan pesantren milik ayahnya.9

Pada masa Sholihah menginjak remaja, situasi kehidupan masyarakat diliputi kecemasan. Sebagai seorang remaja yang ruang interaksi sosialnya semakin meluas menjangkau masyarakat di luar pesantren, Sholihah remaja mengalami transfer of learning (pandangan hidup yang ditransmisikan) oleh
generasi remaja, terutama remaja perempuan kaum santri harus dijauhkan dari gaya hidup kaum kolonial.

Dalam lingkungan Pesantren Denanyar, keseharian Sholihah juga memiliki selera budaya, khususnya kepada kesenian. Hal ini berbeda dengan gaya hidup kaum kolonial maupun yang digemari oleh para penyanyi. Pada saat itu Sholihah menerima transmisi nilai-nilai budaya masyarakatnya yang terbingkai
oleh pola pemilihan dua pandangan dunia yang antagonistik.

Masa Pernikahan

Untuk dasar pertimbangan urusan perjodohan dalam dunia pesantren juga tidak memiliki kebebasan dalam memilih calon suami. Begitu juga dengan Sholihah yang dijodohkan dengan seorang laki-laki pilihan KH. Hasyim Asy‟ari, ulama besar pendiri Nahdlatul „Ulama dari Pondok Pesantren Tebuireng. Seorang
Gus yang terpilih adalah Abdurrohim, putra kiai Cholil dari Singosari. Namun, usia perkawinan mereka tidak lebih dari satu tahun karena Abdurrahim dipanggil Yang Maha Kuasa.10 Pada saat itu usia Sholihah adalah 14 tahun.11

Pada tahun 1936 M, tepatnya hari Jum‟at, 10 Syawal 1356 H, Sholihah menikah dengan Kiai Wahid Hasyim di Denanyar, Jombang.12 Dalam pernikahan mereka, ada peristiwa menarik, baik sebelumnya maupun pada saat pelaksanaannya. Walaupun Sholihah dan Wahid Hasyim tidak pernah bertemu sebelumnya, namun mereka sudah saling mengetahui. Tentu hal ini wajar karena masing-masing merupakan anak dari tokoh terkenal, sehingga setidaknya mereka pernah mendengar nama masing-masing.

Pada suatu acara, Sholihah dan Wahid bertemu secara tak sengaja dan dengan kejadian yang lucu. Ketika itu Wahid Hasyim bersama ibunya datang ke tempat salah satu keluarga KH. Hasyim Asy‟ari yang mendapat musibah kematian. Kebetulan Sholihah juga hadir bersama saudaranya mewakili ibunya yang tidak bisa hadir. Setelah jenazah dimakamkan, Wahid menunggu ibunya di mobil untuk pulang ke rumah. Pada saat bersamaan Sholihah juga hendak pulang menyangka bahwa mobil yang ada di depannya adalah milik kakeknya, Kiai
Chasbullah, padahal mobil tersebut adalah mobil Wahid Hasyim beserta keluarga. Sholihah mengira bahwa orang yang duduk di dalam mobil adalah Jayus, sopir kakeknya. Sholihah memanggil-manggil nama Jayus dan memintanya untuk mengantarnya pulang. Betapa terkejutnya Sholihah ketika menyadari bahwa ia memanggil orang yang salah. Seketika itu juga ia berlari menjauhi mobil itu. Beberapa saat kemudian, Wahid menanyakan kepada Jayus identitas Sholihah yang pergi menjauhinya. Jayus menjelaskan bahwa perempuan itu adalah
Sholihah, anak Kiai Bisri Syansuri

Tetapi dalam bukunya Nugroho Dewanto, awal pertemuan antara Sholihah dengan Wahid Hasyim dimulai pada saat Wahid menyaksikan Sholihah membekap tempayan berisi air dipinggangnya. Sholihah ketika itu sedang membantu para perempuan dewasa mencuci piring di dapur. Dari sana pesona
kebersahajaan Sholihah memikat Wahid Hasyim.14 Wahid Hasyim pertama kali melihat Sholihah dari kejauhan. Sholihah sebetulnya tak cantik tetapi seperti ada dalam diri Sholihah yang membuat Wahid terpesona. Keesokan harinya, Wahid Hasyim menemui Bisri Syansuri dan melamar Sholihah. Waktu itu usia Sholihah belum genap 16 tahun, tetapi pada masa itu, gadis seusia Sholihah sudah pantas naik pelaminan Pernikahan antara Sholihah dan Wahid Hasyim tidak bisa dilangsungkan
segera. Secara kebetulan ketika Wahid melakukan lamaran, waktunya bersamaan datangnya bulan Ramadhan. Pernikahan mereka kemudian diselenggarakan pada 10 Syawal 1356 H.15 Kemudian, pada saat prosesi pernikahan, Kiai Wahid Hasyim (mempelai lelaki) berangkat sendiri ke Denanyar, Kiai Wahid datang hanya berlengan pendek dan bersarung. Tidak ada yang mengiringinya. Hal ini bukan karena tidak ada yang mau mengantar, akan tetapi Kiai Wahid sendiri yang meninggalkan pengiringnya di belakang.16 Ketika pengiring sampai di tempat
acara, para undangan yang hadir telah menyelesaikan makannya. Wahid Hasyim tidak terpengaruh dengan “gonjang-ganjing” yang menimpa orang tua dan saudara-saudaranya di Tebuireng. Sikapnya menunjukkan seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Masa Berumah Tangga

Setelah menikah, Sholihah dan Wahid Hasyim hanya tinggal 10 hari di Denanyar, lalu tahun itu juga (1356 H atau 1938 M) pindah ke Tebuireng, dan menetap di sana sampai tahun 1942 dalam zaman pendudukan Jepang.17 Namun, sesekali ia menyempatkan diri pulang ke Denanyar. Hal itu biasanya ia lakukan pada hari Jumat, baik diantar oleh suaminya ataupun pembantunya. Jika pulang, ia bahkan masih meluangkan waktunya untuk mengajar para santri Denanyar maupun adik-adiknya sendiri. Kepindahan Sholihah ke Tebuireng tampaknya
menjadi awal baginya untuk menapaki kehidupan dunianya yang baru.
Di Tebuireng, waktu yang dimiliki Sholihah banyak dihabiskan oleh keluarga. Ia tidak mengajar sebagaimana yang dilakukannya di Denanyar, karena pesantren Tebuireng hanya menerima santri laki-laki. Selain untuk keluarganya waktu sehari-harinya digunakan untuk membantu mertuanya dan juga
mengembangkan ilmunya dengan mengaji kepada suaminya. Menikah dengan Wahid Hasyim, bagi Sholihah seperti membuka jendela untuk melihat pesona kehidupan. Ia semula hanya mengenal perlengkapan sederhana untuk membersihkan gigi, kemudian bisa menikmati enaknya pasta gigi karena
diajarkan oleh suaminya.18

Sebagai menantu dari pengasuh pesantren dan tokoh yang sangat dikenal, yaitu KH. Hasyim Asy‟ari dan juga karena Sholihah dan Wahid tinggal satu atap bersama dengan mertuanya di Tebuireng maka kewajiban Sholihah adalah
membantu melayani para tamu seperti menghidangkan makan dan minum. Tetapi hal itu dilakukan Sholihah jika tenaga pembantu yang ada masih kurang untuk melayani kebutuhan mereka.

Seperti yang banyak terjadi pada masalah berumah tangga, hidup bersama mertua tampaknya juga menjadi persoalan tersendiri bagi Sholihah. Ia mengalami banyak kesukaran-kesukaran. Kepada teman akrabnya Asmah Sjahruni, ia pernah bercerita bahwa apa yang pernah dialaminya selama hidup bersama mertuanya hampir dipastikan tidak bisa ditanggung oleh anak-anak sekarang.19 Katanya, mereka tidak mungkin, bahkan bisa jadi melarikan diri. Apa saja yang dilakukan oleh Sholihah tidak pernah lepas dari perhatian dan pengawasan mertuanya. Semua urusan berada dalam kendali mertuanya, termasuk dalam hal makanan Apa yang dimasak oleh Sholihah harus dicicipi terlebih dahulu oleh Mbah Tri (Ibu dari Wahid Hasyim) Untuk kenyamanan Sholihah dalam penyesuaiannya di Tebuireng, maka Wahid Hasyim mencarikan teman bagi Sholihah, kemudian dipilihnya Abidah21 yang waktu itu sudah memiliki seorang anak. Setiap hari Abidah selalu datang
untuk menemani Sholihah, baik ketika dipanggil ataupun tidak. Tidak lupa juga Abidah membawa serta anaknya. Dalam perkembangannya kemudian, Abidah tidak hanya menemani Sholihah saja, tetapi dia juga menjadi teman bertukar
pikiran Sholihah dan juga teman mengajinya kepada Wahid Hasyim.

Selain mendalami kitab-kitab yang berisikan materi-materi Islam
tradisional, sejak di Tebuireng ini Sholihah mulai belajar membaca dan menulis hurup latin. Dalam hal pengembangan kemampuan ini, dorongan yang diberikan oleh suaminya sangat besar. Wahid Hasyim tidak hanya mengajarkan bagaimana
membaca dan menulis huruf latin, melainkan selalu membawakan buku-buku dan majalah bertuliskan huruf latin jika pulang dari bepergian. Selain yang berbahasa Indonesia, juga bacaan-bacaan dalam bahasa Inggris dan Belanda. Tak jarang juga majalah dan buku yang berbahasa Jepang ketika kemudian hari Jepang menjajah Indonesia.

Berkat bimbingan suami tercinta, Sholihah memperoleh kemajuan di berbagai bidang. Sebelum menikah, ia buta huruf tulisan latin, tetapi sesudah berumah tangga, ia berubah menjadi seorang yang gemar membaca. Salah satu majalah yang menjadi kegemaran Sholihah adalah Penyebar Semangat, yaitu sebuah majalah yang berbahasa Jawa. Sholihah tergolong otodidak dalam memahami bidang sosial, politik, dan ekonomi dengan belajar sendiri. Untuk menambah wawasannya sebagai seorang aktivis, maka beliau menyempatkan diri mengikuti kursus bahasa Belanda dan Inggris.22

Berbeda ketika di Denanyar, Sholihah tidak punya kesempatan untuk mengembangkan keterampilannya dalam hal membaca dan menulis huruf latin. Hal ini dikarenakan semua materi pelajaran yang diajarkan di Denanyar ditulis dengan bahasa Arab, tidak ada yang memakai huruf latin. Tampaknya ada
kekhawatiran mengapa baca-tulis huruf latin tidak diajarkan di Pesantren Denanyar waktu itu, yakni karena ada perasaan takut bahwa para santri nantinya akan menggunakan pengetahuannya tersebut untuk berhubungan dengan lain
jenis. Bahasa terma sekarang, pengasuh Pondok Pesantren Denanyar takut jika para santrinya pacaran. 23

Sholihah dan Wahid Hasyim dikaruniai enam putra, anak pertamanya yaitu Abdurrahman Wahid Ad-Dakhil atau akrab dipanggil dengan Gus Dur (mantan Ketua PBNU, mantan Presiden RI ke-4), Aisyah (Ketua Umum PP Muslimat NU
1995-2000), Shalahuddin Al-Ayyubi (Insinyur lulusan ITB, Pengasuh PP Tebuireng Jombang sesudah Gus Yusuf Hasyim), Umar Wahid (Dokter lulusan UI), Khadijah (Lyli, sekarang masuk Pengurus Dewan Syuro PKB Pimpinan Muhaimin Iskandar), dan Hasyim Wahid (Gus Im). Anak pertama Sholihah ini lahir pada tahun pertama perkawinannya. Wahid Hasyim sebagai ayah, sangat gembira dengan kehadiran anak pertamanya ini. Hal itu dibuktikan dengan memberi nama anaknya Abdurrahman Ad-Dakhil.24 Sebagaimana kita ketahui bersama, Ad-Dakhil yang diambil dari nama tokoh pahlawan dari dinasti Umayyah, yang secara harfiah berarti „sang penakluk‟. Dalam keterangan sejarah peradaban Islam, Ad-Dakhil adalah tokoh yang membawa Islam ke Spanyol dan mendirikan peradaban yang berlangsung di sana selama berabad-abad.

Beberapa bulan setelah kelahiran putera pertamanya di Denanyar, Sholihah dan Wahid Hasyim pindah dari nDalem Kesepuhan ke nDalem Kulon.25 Kepindahan tersebut membawa pengaruh tersendiri bagi Sholihah. Paling tidak,
kesempatannya untuk melakukan aktivitas diluar rumah tidak mendapatkan “hambatan moral”. Itulah sebabnya, selama di nDalem Kulon, selain mengurus kehidupan keluarga dan mengasuh pendidikan anaknya, Sholihah semakin aktif
dalam pengajian-pengajian Muslimat NU yang waktu itu masih bernama NOM (Nahdlotul Oelama Muslimat).26

Di luar semua kegiatan di atas, Sholihah masih punya waktu untuk membuka warung yang terletak di bagian belakang rumahnya. Warung tersebut berfungsi sebagaimana layaknya kantin yang banyak berdiri pada saat ini. Adapun konsumennya adalah para santri Pondok Pesantren Tebuireng. Keuntungan yang didapatkan dari menjual tersebut digunakan untuk menghidupi keluarganya.

Bahkan ia masih bisa menyisakan hasil labanya untuk membeli sawah dan kebutuhan keluarga lainnya. Selain itu, Sholihah juga masih tetap meluangkan waktunya untuk melayani kebutuhan para tamu, seperti menyiapkan makanan dan minuman untuk mertuanya yang datang, jika ia sowan ke nDalem Kesepuhan.
Terutama jika tenaga pembantu yang ada dipandang kurang untuk melayani kebutuhan mereka.

Sebelum pindah dari nDalem Kesepuhan ke nDalem Kulon, perasaan Sholihah banyak mendapat tekanan dari mertuanya. Namun hal itu segera hilang ketika ia melahirkan seorang anak laki-laki. Dalam tradisi yang berkembang waktu itu, melahirkan anak laki-laki yang pertama merupakan suatu kebanggaan
tersendiri. Hati Sholihah sangat senang, terutama ketika ia mengetahui bahwa mertuanya juga sangat berharap bisa memiliki cucu laki-laki dari anak laki-laki pertamanya.27

Dari sinilah Sholihah merasa puas karena bisa memenuhi harapan dan baru diewongke mertuanya. Saat itu Mbah Tri sangat gembira mendengar kabar bahwa isteri putera pertamanya telah melahirkan anak laki-laki. Sekitar pukul 22.00
malam, ia menangis ingin melihat cucunya di Denanyar. Pada malam itu juga Mbah Tri dibopong oleh Wahid Hasyim untuk naik mobil bersama Aisyah kakak Wahid Hasyim untuk pergi ke Denanyar. Kemudian pada tahun 1939 Nyai Hasyim (Mbah Tri) meninggal dunia. Dari sini maka tugas-tugas Mbah Tri
diambil alih oleh Sholihah. Tetapi ia hanya melakukan tugas itu selama beberapa minggu, karena tidak lama kemudian Mbah Nom datang.

Selanjutnya, secara berturut-turut adiknya Abdurrahman lahir, seorang perempuan Aisyah lahir pada Juni 1941, seorang anak laki-laki, Shalahuddin lahir pada September 1942. Lalu, pada akhir 1944, ketika Gus Dur baru berusia 4 tahun, ia diajak ayahnya, Wahid Hasyim ke Jakarta, adik laki-lakinya, Umar
Wahid lahir pada Januari tahun itu. Sementara, Khodijah (Lyli) dilahirkan pada bulan Maret 1948. Terakhir, Hasyim Wahid atau Gus Im dilahirkan di Jakarta pada Oktober 1953.

Membantu Pejuang

Menyinggung beberapa aktivitas yang dilakukan oleh Sholihah ketika Jepang datang di Indonesia pada tahun 1950 -an untuk mengambil alih kekuasaan Belanda, ia aktif terlibat dalam Fujinkai antara lain belajar menyanyi, belajar bahasa Jepang, membuat perban dari gedebog untuk P3K (Pertolongan Pertama
pada Kecelakaan), membuat obat nyamuk, menanam cabe dan jarak. Selain itu, ia juga aktif membuka ranting-ranting NOM baru di lingkungan Tebuireng, yakni di Kecamatan Diwek.

Aktivitas Sholihah dalam berbagai kegiatan di atas tidak menjadi halangan untuk memperhatikan kehidupan keluarganya. Meskipun pada saat yang sama ia juga sering ditinggal pergi suaminya, namun perhatiannya terhadap perkembangan anak-anaknya tidak terabaikan. Selain menerapkan jiwa pesantren,
ia juga sangat disiplin mendidik putera-puterinya. Misalnya, ia tidak segan-segan untuk memukul anak-anaknya dengan sisir ataupun penggaris, jika mereka tidak mau belajar, terutama sekali belajar membaca alquran. Demikian juga akan
dilakukan jika anak-anaknya meninggalkan kewajiban shalat.29

Sebagai istri seorang tokoh nasional, Sholihah ikut memainkan peran yang sangat penting. Ketika suatu hari suaminya datang membawa setumpuk dokumen rahasia dan dalam keadaan dikejar Belanda, Sholihah segera mengambilnya. Untuk menghindari kecurigaan, ia membawa dokumennya ke tempat pencucian pakaian, lalu mendudukinya sambil mencuci. Ia bahkan harus berpura-pura menjadi babu (pembantu).

Bersuamikan seorang pejuang menjadikan Sholihah (Ibu Wahid) memiliki jiwa pejuang. Semasa perang mempertahankan kemerdekaan (1945-1949), ia ambil bagian kurir yang bertugas mengirimkan bahan makanan atau pesan-pesan ke garis depan di Mojokerto, Krian dan Jombang. Sholihah sangat lincah dalam
hal menyusup ke kancah pertempuran yang berbahaya. Maka dari itu tidak heran jika pada masa tuanya beliau sangat gesit melakukan berbagai aktivitas.30

Dalam bukunya Muhammad Rifa‟i dijelaskan bahwa karena kesibukan dalam dunia politik, tak jarang sholihah menggerutu karena kehidupan keluarga menjadi terbengkalai. Hal ini berkaitan dengan ekonomi penopang hidup keluarga
saat itu. Dari sini kemudian Sholihah berinisiatif berjualan kue-kue kecil dan permen di depan rumahnya di Jombang untuk mendapat uang dan dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Kehidupan rumah tangga Sholihah saat di rumah juga seperti halnya rumah tangga orang lainnya yaitu tak jarang terjadi cekcok antara Sholihah dan Wahid, terutama karena aktivitas politik. Akibatnya, banyak waktu untuk keluarga tersita. Pada saat itu, biasanya Wahid Hasyim sering mengajak anak-anaknya
untuk berekreasi.31

Pindah ke Jakarta

Pada tahun 1944, Ibu Wahid pindah ke Jakarta, mengikuti suaminya yang menjadi anggota legislatif. Akan tetapi ia di sana hanya bertahan enam bulan. Karena panggilan Hasyim Asy‟ari keduanya kembali ke Jombang untuk mengurus pesantren Tebuireng. Namun, tahun 1950 untuk kedua kalinya Sholihah ke Jakarta mengikuti Wahid Hasyim yang diangkat menjadi menteri agama. Meskipun demikian, aktivitas Sholihah di Muslimat tidak berhenti. Bahkan, ia menjadi salah seorang tokoh yang membesarkan Muslimat di Jakarta. Aktivitas Sholihah inilah
yang menjadi faktor dirinya terpilih menjadi anggota DPRD mewakili NU, dan terus berlanjut ketika ia terpilih sebagai anggota DPR Gotong Royong mewakili partai yang sama.
Pada awal 1950-an, meskipun sudah tinggal di Jakarta, Sholihah tidak melupakan kampung halamannya. Dalam waktu tertentu ia menyempatkan diri pulang kampung. Jika berada di Jombang, ia masih meluangkan waktu untuk
memberikan ceramah dalam pengajian. Kehidupan yang harmonis dan bahagia yang dijalani Sholihah bersama
suami dan anak-anaknya ternyata tidak berlangsung lama. Suasana kebersamaan dalam keluarga Wahid Hasyim itu hanya berlangsung tiga tahun, karena pada tahun 1953 suaminya wafat dalam kecelakaan lalu lintas di daerah Cimindi, suatu tempat antara Bandung dan Cimahi, Jawa Barat. Ketika peristiwa itu terjadi, Sholihah berumur 30 tahun, telah memiliki 5 orang anak yang masih kecil-kecil dan tengah mengandung anaknya yang nomor enam. Usia kandungannya saat itu
baru berusia 3 bulan. Kelima anaknya yang masih kecil-kecil antara lain: Abdurrahman yang berusia 14 tahun dan baru tamat SD, Aisyah 12 tahun kelas 5 SD, Salahuddin 10 tahun kelas 3 SD, kemudian Umar Faruq 8 tahun kelas 2 SD, dan Lily Chadijah 5 tahun yang masih duduk di TK.32

Sepeninggal suaminya, Sholihah tetap gigih dan bersemangat dalam mempertahankan keutuhan keluarganya dan mendidik anak-anaknya. Semangat dan kegigihan Sholihah inilah yang sangat menentukan perjalanan kehidupan anak pertamanya, Abdurrahman Wahid, hingga berhasil menjadi seorang presiden. Walaupun ayahnya Bisri Syansuri menginginkan agar Sholihah dan anak-anaknya kembali ke Jombang, tetapi Sholihah bertekad kuat untuk mempertahankan keutuhan keluarganya dan merawat anak-anaknya di Jakarta.

Sampai ia bertekad “Kalau perlu, jualan gado-gado”, tutur Sholihah untuk tetap mempertahankan hidup di Jakarta.33
Karena belum mendapatkan penghasilan, maka Sholihah terpaksa harus menjual barang-barang miliknya peninggalan dari almarhum suaminya. Langkah selanjutnya yang dilakukan Sholihah adalah berbisnis. Sholihah memasok kebutuhan beras para pegawai Departemen Agama. Jual beli mobil juga dilakukannya. Selain itu, ia juga berbisnis batu, pasir, dan bambu di Tanjung Priok. Hal ini dilakukannya karena waktu itu tidak banyak kalangan dari pribumi yang mau jadi pedagang. Saat berbisnis Sholihah juag tidak menggunakan nama
besar suaminya, istilah sekarang adalah melakukan kolusi dan nepotisme.

Sebagai seorang ibu yang juga berbisnis, tetapi Sholihah tidak melupakan tanggung jawabnya kepada anak-anaknya. Ia sangat disiplin menerapkan pendidikan kepada mereka. Jika salah seorang dari anaknya mengabaikan kewajiban mereka seperti Shalat dan ngaji maka Sholihah tidak segan-segan akan memukul mereka dengan penggaris ataupun sisir.
Walaupun Ibu Wahid dalam hal-hal tertentu berlaku keras, namun ia memperlakukan anak-anaknya dengan penuh kasih sayang, kehangatan dan egaliter. Pendidikan yang ditanam kepada anak-anaknya seperti kemandirian, tidak menggantungkan diri pada orang lain, berusaha keras serta berjuang sendiri bertujuan agar mereka menjadi orang-orang besar yang besar hati tetapi tidak sombong. Maka dari itu, mereka harus dibekali ilmu pengetahuan yang cukup.3

Karir

Setelah kepergian Wahid Hasyim, Sholihah tidak mau pulang ke Jombang karena wasiat dari suaminya beliau disuruh untuk melanjutkan perjuangan dengan membesarkan Muslimat NU Jakarta. Ia pernah menjadi anggota Muslimat NU Gambir (1950), Ketua Muslimat NU Matraman (1954), Ketua Muslimat NU DKI Jaya (1956), hingga Ketua I Pimpinan Pusat Muslimat NU tahun 1959 sampai meninggal. Saat NU berfusi dalam PPP, ia menjadi anggota legislatif (1978- 1987). Selain itu, beliau juga aktif dalam beberapa kegiatan sosial kemasyarakatan yaitu Yayasan Dana Bantuan sejak 1958 sampai akhir hayat. Mendirikan Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional (1974), serta Panti Harapan Remaja di Jakarta Timur
(1976).35

Dalam bidang kegiatan keagamaan, Nyai Sholihah mendirikan Yayasan Kesejahteraan Muslimat NU (1963), Lembaga Kemaslahatan Keluarga NU (1978), pengajian Al-Islah (1963), Lembaga Penyantun Lanjut Usia (1976) yang kemudian diubah menjadi Pusat Santunan dalam Keluarga (Pusaka), serta Majelis
Taklim Masjid Jami Matraman.

Sholihah juga aktif bersama Ibu Mahmudah Mawardi dan Asmah
Syahroni, mendirikan Rumah Bersalin Muslimat (RBM), Balai Kesejahteraan Ibu dan Anak (BKIA) Muslimat, Panti Asuhan Muslimat, Klinik Keluarga Berencana (KB) dan memberikan beasiswa kepada putera-puteri NU terlantar, serta
mengunjungi panti sosial. Sholihah juga aktif di perkumpulan Yayasan Bunga Kamboja tahun 1960,36 sebuah organisasi sosial yang menangani jenazah dan penguburan dengan mengajak Ibu Lasmidjah Hardi (dari kalangan nasionalis), Ibu
Anie Walandaoe (Kristen) dan Mr Hamid Algadri (sosialis). Karena kiprahnya, sejak 1957 Ibu Sholihah terpilih menjadi Anggota DPRD DKI Jakarta, DPRGR/MPRS (1960) DPR/MPR (1971-1987).

Ketika DPR hasil Pemilu 1955 dibubarkan dan diganti DPRGR 1960, Ibu Wahid mewakili Muslimat NU, ia ditunjuk menjadi salah seorang anggota DPRGR. Itulah untuk pertama kalinya beliau terlibat dalam kegiatan politik praktis tingkat nasional. Selanjutnya ia terpilih menjadi anggota DPR tahun 1971
mewakili NU, lalu tahun 1877 dan 1982 mewakili PPP. Selama menjadi anggota dewan, Ibu Wahid tidak termasuk anggota yang hanya datang, duduk, dengar, dan duit. Sebagai wakil rakyat, ia bekerja dengan penuh kesungguhan dan aktif
memperjuangkan aspirasi konstituennya. Salahuddin Wahid dalam salah satu tulisannya menuturkan bahwa ibundanya ini sering memintanya mengetik pandangan-pandangan tentang berbagai hal yang akan disampaikan dalam rapat dan sidang DPR.

Sebagai anggota legislatif di tingkat pusat, Ibu Wahid punya banyak waktu untuk berkujung ke darerah-daerah jika DPR sedang reses. Sebelum NU berfusi ke dalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan masih merupakan partai, teman-temannya di partai sangat homogen, semuanya dari NU. Meskipun Ibu Wahid merupakan kader PPP dan duduk di DPR mewakili PPP, namun kehidupannya dalam permainan politik hampir tidak tampak. Ia sering tidak memperlihatkan sosoknya sebagai seorang „politisi‟.37

Keberadaannya di organisasi politik justru lebih banyak memperlihatkan sosoknya sebagai seorang muslimat yang memegang teguh komitmen moral keagamaan. Misalnya, saat ia melakukan walk out (meninggalkan rapat sidang) ketika dalam sidang DPR terjadi perbedaan interpretasi terhadap Pasal 29 ayat 1UUD 1945 mengenai aliran kepercayaan. Menurut Ibu Wahid dan temantemannya di PPP, agama dan aliran kepercayaan adalah hal yang sama sekali berbeda substansinya. Agama merupakan ajaran Tuhan yang diturunkan ke dunisa untuk kesejahteraan manusia, sedangkan aliran kepercayaan adalah produk kebudayaan manusia. Satu dan lainnya tak dapat disandingkan dalam satu kategori.

Wafatnya

Ibu Wahid adalah seorang yang memiliki sifat kemandirian dan juga terbuka, serta berani menyatakan pendapat, pemikiran dan perasaannya. Terkadang karena terlalu bersemangatnya mengekspresikan dirinya, ia terkesan kelihatan emosional. Kesan demikian dipengaruhi oleh sikapnya yang tegas dan
keras dalam mempertahankan prinsip. Meskipun demikian, ia juga menghargai pendapat orang lain, tidak memaksakan kehendak, dan tidak meremehkan siapa pun.Sampai menjelang wafat, Ibu Wahid tetap aktif dalam kegiatan Muslimat NU
dan aktivitas lain di masyarakat. Ia tetap kelihatan segar dan penuh semangat.

Meskipun harus menggunakan tongkat dan dikawal oleh seorang perawat yang melayaninya setiap saat, ia tetap menghadiri rapat-rapat organisasi. Sholihah Wahid Hasyim meninggal dunia pada hari Jum‟at tanggal 29 Juli 1994 sekitar pukul 23.00 WIB di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta,
dalam usia 72 tahun, setelah menjalani rawat tinggal selama 17 hari akibat sakit jantung dan guaa. Dua puluh empat jam menjelang ajal menjemputnya, Ibu Wahid tidak sadarkan diri karena ada pembuluh darah yang pecah. Ia berada dalam
keadaan koma. Jenazahnya dimakamkan esok harinya sekitar pukul 17.00 di kompleks pemakaman Tebuireng Jombang..

Source : http://digilib.uinsby.ac.id/5249/7/Bab%202.pdf