Sholihah Wahid Hasyim adalah salah satu tokoh perempuan yang aktif dalam politik di Indonesia pada tahun 1950-an. Nama aslinya adalah Munawwaroh, lahir di Denanyar, Jombang pada 11 Oktober 1922.1 Tetapi menurut pendapat Abdussalam Shohib, anak ketiga Kiai Bisri dan Nyai Chodijah tahun dengan kakanya Moeasshomah.2 Sholihah berperan aktif pada masa Ir.
Soekarno dan juga salah satu tokoh perempuan pertama yang berani membubuhkan tanda tangan untuk pembubaran PKI tahun 1965.
Jika dirinci dari pihak ayah adalah Sholihah binti Syansuri bin Abdul Shomad.3 Ayah Sholihah, Bisri Syansuri menikah dengan Nur Chodijah (adik dari kiai Wahab Hasbullah). Dari silsilah di atas dapat dilihat bahwa Sholihah merupakan campuran darah biru, kalangan priyayi dan darah putih, kalangan kiai.
Dalam hal ini wajar jika Sholihah memiliki bakat, mental, dan perjuangan orang orang besar, selain besar perjuangannya juga besar hatinya.
Letak desa kelahiran Sholihah yaitu desa Denanyar berada pada garis perbatasan antara Jombang dan daerah pedalaman sebelah barat laut.
Masa Kecil
Kelahiran Sholihah diliputi oleh suasana perjuangan yang membingkai alam pikiran rakyat untuk melepaskan diri dari cengkraman penjajah. Sebagai putri seorang kiai, Sholihah kecil lebih sering berinteraksi dengan warga pesantren dan orang tuanya. Ia juga telah belajar makna status sosial dari dimensi
prestige (kewibawaan) yang melekat dan diwarisi sejak dilahirkan.
Sholihah dibesarkan di lingkungan santri pada sebuah keluarga ulama besar di Jombang. Dia merupakan anak kelima dari 10 bersaudara keluarga KH. Bisri Syansuri yang beristrikan Nur Chadijah. Ayahnya Bisri Syansuri adalah seorang ulama besar dan pengasuh pertama Pondok Pesantren Denanyar Jombang,
sedangkan ibunya Nur Chadijah anak dari ulama besar KH. Chasbullah dan juga merupakan pengasuh pondok putri Pesantren Denanyar milik suaminya Bisri Syansuri.
Sebagai anak dari pengasuh pondok pesantren, masa kecil Sholihah mendapatkan pendidikan yang ketat, termasuk keluar pesantren harus ditemani oleh saudara-saudaranya dan tidak boleh sendirian. Dalam hal pendidikan agama, seperti membaca Alquran, pengajaran diberikan langsung oleh ayahnya.
Metodologi pemberian pengajaran kiai Bisri kepada anak-anaknya pun relatif lebih “human”. Sementara sang ibu nyai Chadijah dalam menerapkan pengajaran pengetahuan diterapkan lebih keras seperti mencubit dan membentak.
Dalam banyak hal, rasa keingintahuan dan kemauan yang dimiliki Sholihah sungguh besar dibandingkan dengan saudara-saudara puterinya.7 Hal inilah yang menyebabkan dirinya tidak jarang melanggar aturan orang tuanya untuk tidak meninggalkan rumah, keluar dari lokasi pesantren tanpa meminta izin
dan memberitahukan terlebih dahulu maksudnya.
Namun demikian, bukan berarti Munawwaroh selalu pergi setiap hari untuk keluar dari pesantren, tetapi dia hanya pergi jika memang ada kepentingan atau ada persoalan yang menurutnya penting untuk dikerjakan. Misalnya, dia sudah berjanji untuk membuat suatu kegiatan dengan teman-teman perempuannya
yaitu ingin mengahadiri suatu pengajian di luar pesantren, ataupun mau ke pasar membeli kerudung untuk dibordil, lalu jalan bersama teman-temannya. Untuk melakukan itu semua, jika harus menunggu izin dari orang tuanya, dalam pandangan Sholihah akan memakan waktu cukup lama bahkan bisa jadi akan terlambat atau juga tidak diperbolehkan
Masa Pendidikan
Pendidikan Munawwaroh (Sholihah) kecil betul-betul tidak jauh dari pesantren. Secara formal ia didik di Madrasah Ibtidaiyah di Pesantren Denanyar milik ayahnya. Materi-materi yang diajarkan juga tidak jauh dari khazanah Islam tradisional seperti: Alquran dan Al-Hadits, Tajwid, Nahwu Shorf, Fiqh, ‘Uqud AlLujayn, Adab Al-Mar’ah, Nadhom Al-Sullam Al-Saakinah yang semuanya dipelajari dengan menggunakan metode hafalan.
Diluar pendidikan formal, Sholihah juga belajar pelajaran ekstra dari ayahnya, yaitu mengajarkan kembali kepada santri-santri putri pada pagi hari materi yang diberikan oleh kiai Bisri
ketika siang hari setelah dhuhur dan malam hari setelah Isya‟. Hal ini untuk mempersiapkan agar bisa menjadi guru bagi santri-santri puteri ditingkat bawahnya.
Sejak kecil dalam diri Sholihah sudah tampak tanda-tanda bahwa kelak ia akan menjadi tokoh yang menonjol dikalangannya, misalnya dalam bakat kepemimpinan mengatur saudara-saudaranya untuk melakukan pekerjaan tertentu.
Dalam hal ini tidak jarang banyak gagasan yang dimilikinya, diterapkan dan disosialisasikan kepada teman-teman dan para santri di lingkungan pesantren milik ayahnya.9
Pada masa Sholihah menginjak remaja, situasi kehidupan masyarakat diliputi kecemasan. Sebagai seorang remaja yang ruang interaksi sosialnya semakin meluas menjangkau masyarakat di luar pesantren, Sholihah remaja mengalami transfer of learning (pandangan hidup yang ditransmisikan) oleh
generasi remaja, terutama remaja perempuan kaum santri harus dijauhkan dari gaya hidup kaum kolonial.
Dalam lingkungan Pesantren Denanyar, keseharian Sholihah juga memiliki selera budaya, khususnya kepada kesenian. Hal ini berbeda dengan gaya hidup kaum kolonial maupun yang digemari oleh para penyanyi. Pada saat itu Sholihah menerima transmisi nilai-nilai budaya masyarakatnya yang terbingkai
oleh pola pemilihan dua pandangan dunia yang antagonistik.
Masa Pernikahan
Untuk dasar pertimbangan urusan perjodohan dalam dunia pesantren juga tidak memiliki kebebasan dalam memilih calon suami. Begitu juga dengan Sholihah yang dijodohkan dengan seorang laki-laki pilihan KH. Hasyim Asy‟ari, ulama besar pendiri Nahdlatul „Ulama dari Pondok Pesantren Tebuireng. Seorang
Gus yang terpilih adalah Abdurrohim, putra kiai Cholil dari Singosari. Namun, usia perkawinan mereka tidak lebih dari satu tahun karena Abdurrahim dipanggil Yang Maha Kuasa.10 Pada saat itu usia Sholihah adalah 14 tahun.11
Pada tahun 1936 M, tepatnya hari Jum‟at, 10 Syawal 1356 H, Sholihah menikah dengan Kiai Wahid Hasyim di Denanyar, Jombang.12 Dalam pernikahan mereka, ada peristiwa menarik, baik sebelumnya maupun pada saat pelaksanaannya. Walaupun Sholihah dan Wahid Hasyim tidak pernah bertemu sebelumnya, namun mereka sudah saling mengetahui. Tentu hal ini wajar karena masing-masing merupakan anak dari tokoh terkenal, sehingga setidaknya mereka pernah mendengar nama masing-masing.
Pada suatu acara, Sholihah dan Wahid bertemu secara tak sengaja dan dengan kejadian yang lucu. Ketika itu Wahid Hasyim bersama ibunya datang ke tempat salah satu keluarga KH. Hasyim Asy‟ari yang mendapat musibah kematian. Kebetulan Sholihah juga hadir bersama saudaranya mewakili ibunya yang tidak bisa hadir. Setelah jenazah dimakamkan, Wahid menunggu ibunya di mobil untuk pulang ke rumah. Pada saat bersamaan Sholihah juga hendak pulang menyangka bahwa mobil yang ada di depannya adalah milik kakeknya, Kiai
Chasbullah, padahal mobil tersebut adalah mobil Wahid Hasyim beserta keluarga. Sholihah mengira bahwa orang yang duduk di dalam mobil adalah Jayus, sopir kakeknya. Sholihah memanggil-manggil nama Jayus dan memintanya untuk mengantarnya pulang. Betapa terkejutnya Sholihah ketika menyadari bahwa ia memanggil orang yang salah. Seketika itu juga ia berlari menjauhi mobil itu. Beberapa saat kemudian, Wahid menanyakan kepada Jayus identitas Sholihah yang pergi menjauhinya. Jayus menjelaskan bahwa perempuan itu adalah
Sholihah, anak Kiai Bisri Syansuri
Tetapi dalam bukunya Nugroho Dewanto, awal pertemuan antara Sholihah dengan Wahid Hasyim dimulai pada saat Wahid menyaksikan Sholihah membekap tempayan berisi air dipinggangnya. Sholihah ketika itu sedang membantu para perempuan dewasa mencuci piring di dapur. Dari sana pesona
kebersahajaan Sholihah memikat Wahid Hasyim.14 Wahid Hasyim pertama kali melihat Sholihah dari kejauhan. Sholihah sebetulnya tak cantik tetapi seperti ada dalam diri Sholihah yang membuat Wahid terpesona. Keesokan harinya, Wahid Hasyim menemui Bisri Syansuri dan melamar Sholihah. Waktu itu usia Sholihah belum genap 16 tahun, tetapi pada masa itu, gadis seusia Sholihah sudah pantas naik pelaminan Pernikahan antara Sholihah dan Wahid Hasyim tidak bisa dilangsungkan
segera. Secara kebetulan ketika Wahid melakukan lamaran, waktunya bersamaan datangnya bulan Ramadhan. Pernikahan mereka kemudian diselenggarakan pada 10 Syawal 1356 H.15 Kemudian, pada saat prosesi pernikahan, Kiai Wahid Hasyim (mempelai lelaki) berangkat sendiri ke Denanyar, Kiai Wahid datang hanya berlengan pendek dan bersarung. Tidak ada yang mengiringinya. Hal ini bukan karena tidak ada yang mau mengantar, akan tetapi Kiai Wahid sendiri yang meninggalkan pengiringnya di belakang.16 Ketika pengiring sampai di tempat
acara, para undangan yang hadir telah menyelesaikan makannya. Wahid Hasyim tidak terpengaruh dengan “gonjang-ganjing” yang menimpa orang tua dan saudara-saudaranya di Tebuireng. Sikapnya menunjukkan seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Masa Berumah Tangga
Setelah menikah, Sholihah dan Wahid Hasyim hanya tinggal 10 hari di Denanyar, lalu tahun itu juga (1356 H atau 1938 M) pindah ke Tebuireng, dan menetap di sana sampai tahun 1942 dalam zaman pendudukan Jepang.17 Namun, sesekali ia menyempatkan diri pulang ke Denanyar. Hal itu biasanya ia lakukan pada hari Jumat, baik diantar oleh suaminya ataupun pembantunya. Jika pulang, ia bahkan masih meluangkan waktunya untuk mengajar para santri Denanyar maupun adik-adiknya sendiri. Kepindahan Sholihah ke Tebuireng tampaknya
menjadi awal baginya untuk menapaki kehidupan dunianya yang baru.
Di Tebuireng, waktu yang dimiliki Sholihah banyak dihabiskan oleh keluarga. Ia tidak mengajar sebagaimana yang dilakukannya di Denanyar, karena pesantren Tebuireng hanya menerima santri laki-laki. Selain untuk keluarganya waktu sehari-harinya digunakan untuk membantu mertuanya dan juga
mengembangkan ilmunya dengan mengaji kepada suaminya. Menikah dengan Wahid Hasyim, bagi Sholihah seperti membuka jendela untuk melihat pesona kehidupan. Ia semula hanya mengenal perlengkapan sederhana untuk membersihkan gigi, kemudian bisa menikmati enaknya pasta gigi karena
diajarkan oleh suaminya.18
Sebagai menantu dari pengasuh pesantren dan tokoh yang sangat dikenal, yaitu KH. Hasyim Asy‟ari dan juga karena Sholihah dan Wahid tinggal satu atap bersama dengan mertuanya di Tebuireng maka kewajiban Sholihah adalah
membantu melayani para tamu seperti menghidangkan makan dan minum. Tetapi hal itu dilakukan Sholihah jika tenaga pembantu yang ada masih kurang untuk melayani kebutuhan mereka.
Seperti yang banyak terjadi pada masalah berumah tangga, hidup bersama mertua tampaknya juga menjadi persoalan tersendiri bagi Sholihah. Ia mengalami banyak kesukaran-kesukaran. Kepada teman akrabnya Asmah Sjahruni, ia pernah bercerita bahwa apa yang pernah dialaminya selama hidup bersama mertuanya hampir dipastikan tidak bisa ditanggung oleh anak-anak sekarang.19 Katanya, mereka tidak mungkin, bahkan bisa jadi melarikan diri. Apa saja yang dilakukan oleh Sholihah tidak pernah lepas dari perhatian dan pengawasan mertuanya. Semua urusan berada dalam kendali mertuanya, termasuk dalam hal makanan Apa yang dimasak oleh Sholihah harus dicicipi terlebih dahulu oleh Mbah Tri (Ibu dari Wahid Hasyim) Untuk kenyamanan Sholihah dalam penyesuaiannya di Tebuireng, maka Wahid Hasyim mencarikan teman bagi Sholihah, kemudian dipilihnya Abidah21 yang waktu itu sudah memiliki seorang anak. Setiap hari Abidah selalu datang
untuk menemani Sholihah, baik ketika dipanggil ataupun tidak. Tidak lupa juga Abidah membawa serta anaknya. Dalam perkembangannya kemudian, Abidah tidak hanya menemani Sholihah saja, tetapi dia juga menjadi teman bertukar
pikiran Sholihah dan juga teman mengajinya kepada Wahid Hasyim.
Selain mendalami kitab-kitab yang berisikan materi-materi Islam
tradisional, sejak di Tebuireng ini Sholihah mulai belajar membaca dan menulis hurup latin. Dalam hal pengembangan kemampuan ini, dorongan yang diberikan oleh suaminya sangat besar. Wahid Hasyim tidak hanya mengajarkan bagaimana
membaca dan menulis huruf latin, melainkan selalu membawakan buku-buku dan majalah bertuliskan huruf latin jika pulang dari bepergian. Selain yang berbahasa Indonesia, juga bacaan-bacaan dalam bahasa Inggris dan Belanda. Tak jarang juga majalah dan buku yang berbahasa Jepang ketika kemudian hari Jepang menjajah Indonesia.
Berkat bimbingan suami tercinta, Sholihah memperoleh kemajuan di berbagai bidang. Sebelum menikah, ia buta huruf tulisan latin, tetapi sesudah berumah tangga, ia berubah menjadi seorang yang gemar membaca. Salah satu majalah yang menjadi kegemaran Sholihah adalah Penyebar Semangat, yaitu sebuah majalah yang berbahasa Jawa. Sholihah tergolong otodidak dalam memahami bidang sosial, politik, dan ekonomi dengan belajar sendiri. Untuk menambah wawasannya sebagai seorang aktivis, maka beliau menyempatkan diri mengikuti kursus bahasa Belanda dan Inggris.22
Berbeda ketika di Denanyar, Sholihah tidak punya kesempatan untuk mengembangkan keterampilannya dalam hal membaca dan menulis huruf latin. Hal ini dikarenakan semua materi pelajaran yang diajarkan di Denanyar ditulis dengan bahasa Arab, tidak ada yang memakai huruf latin. Tampaknya ada
kekhawatiran mengapa baca-tulis huruf latin tidak diajarkan di Pesantren Denanyar waktu itu, yakni karena ada perasaan takut bahwa para santri nantinya akan menggunakan pengetahuannya tersebut untuk berhubungan dengan lain
jenis. Bahasa terma sekarang, pengasuh Pondok Pesantren Denanyar takut jika para santrinya pacaran. 23
Sholihah dan Wahid Hasyim dikaruniai enam putra, anak pertamanya yaitu Abdurrahman Wahid Ad-Dakhil atau akrab dipanggil dengan Gus Dur (mantan Ketua PBNU, mantan Presiden RI ke-4), Aisyah (Ketua Umum PP Muslimat NU
1995-2000), Shalahuddin Al-Ayyubi (Insinyur lulusan ITB, Pengasuh PP Tebuireng Jombang sesudah Gus Yusuf Hasyim), Umar Wahid (Dokter lulusan UI), Khadijah (Lyli, sekarang masuk Pengurus Dewan Syuro PKB Pimpinan Muhaimin Iskandar), dan Hasyim Wahid (Gus Im). Anak pertama Sholihah ini lahir pada tahun pertama perkawinannya. Wahid Hasyim sebagai ayah, sangat gembira dengan kehadiran anak pertamanya ini. Hal itu dibuktikan dengan memberi nama anaknya Abdurrahman Ad-Dakhil.24 Sebagaimana kita ketahui bersama, Ad-Dakhil yang diambil dari nama tokoh pahlawan dari dinasti Umayyah, yang secara harfiah berarti „sang penakluk‟. Dalam keterangan sejarah peradaban Islam, Ad-Dakhil adalah tokoh yang membawa Islam ke Spanyol dan mendirikan peradaban yang berlangsung di sana selama berabad-abad.
Beberapa bulan setelah kelahiran putera pertamanya di Denanyar, Sholihah dan Wahid Hasyim pindah dari nDalem Kesepuhan ke nDalem Kulon.25 Kepindahan tersebut membawa pengaruh tersendiri bagi Sholihah. Paling tidak,
kesempatannya untuk melakukan aktivitas diluar rumah tidak mendapatkan “hambatan moral”. Itulah sebabnya, selama di nDalem Kulon, selain mengurus kehidupan keluarga dan mengasuh pendidikan anaknya, Sholihah semakin aktif
dalam pengajian-pengajian Muslimat NU yang waktu itu masih bernama NOM (Nahdlotul Oelama Muslimat).26
Di luar semua kegiatan di atas, Sholihah masih punya waktu untuk membuka warung yang terletak di bagian belakang rumahnya. Warung tersebut berfungsi sebagaimana layaknya kantin yang banyak berdiri pada saat ini. Adapun konsumennya adalah para santri Pondok Pesantren Tebuireng. Keuntungan yang didapatkan dari menjual tersebut digunakan untuk menghidupi keluarganya.
Bahkan ia masih bisa menyisakan hasil labanya untuk membeli sawah dan kebutuhan keluarga lainnya. Selain itu, Sholihah juga masih tetap meluangkan waktunya untuk melayani kebutuhan para tamu, seperti menyiapkan makanan dan minuman untuk mertuanya yang datang, jika ia sowan ke nDalem Kesepuhan.
Terutama jika tenaga pembantu yang ada dipandang kurang untuk melayani kebutuhan mereka.
Sebelum pindah dari nDalem Kesepuhan ke nDalem Kulon, perasaan Sholihah banyak mendapat tekanan dari mertuanya. Namun hal itu segera hilang ketika ia melahirkan seorang anak laki-laki. Dalam tradisi yang berkembang waktu itu, melahirkan anak laki-laki yang pertama merupakan suatu kebanggaan
tersendiri. Hati Sholihah sangat senang, terutama ketika ia mengetahui bahwa mertuanya juga sangat berharap bisa memiliki cucu laki-laki dari anak laki-laki pertamanya.27
Dari sinilah Sholihah merasa puas karena bisa memenuhi harapan dan baru diewongke mertuanya. Saat itu Mbah Tri sangat gembira mendengar kabar bahwa isteri putera pertamanya telah melahirkan anak laki-laki. Sekitar pukul 22.00
malam, ia menangis ingin melihat cucunya di Denanyar. Pada malam itu juga Mbah Tri dibopong oleh Wahid Hasyim untuk naik mobil bersama Aisyah kakak Wahid Hasyim untuk pergi ke Denanyar. Kemudian pada tahun 1939 Nyai Hasyim (Mbah Tri) meninggal dunia. Dari sini maka tugas-tugas Mbah Tri
diambil alih oleh Sholihah. Tetapi ia hanya melakukan tugas itu selama beberapa minggu, karena tidak lama kemudian Mbah Nom datang.
Selanjutnya, secara berturut-turut adiknya Abdurrahman lahir, seorang perempuan Aisyah lahir pada Juni 1941, seorang anak laki-laki, Shalahuddin lahir pada September 1942. Lalu, pada akhir 1944, ketika Gus Dur baru berusia 4 tahun, ia diajak ayahnya, Wahid Hasyim ke Jakarta, adik laki-lakinya, Umar
Wahid lahir pada Januari tahun itu. Sementara, Khodijah (Lyli) dilahirkan pada bulan Maret 1948. Terakhir, Hasyim Wahid atau Gus Im dilahirkan di Jakarta pada Oktober 1953.
Membantu Pejuang
Menyinggung beberapa aktivitas yang dilakukan oleh Sholihah ketika Jepang datang di Indonesia pada tahun 1950 -an untuk mengambil alih kekuasaan Belanda, ia aktif terlibat dalam Fujinkai antara lain belajar menyanyi, belajar bahasa Jepang, membuat perban dari gedebog untuk P3K (Pertolongan Pertama
pada Kecelakaan), membuat obat nyamuk, menanam cabe dan jarak. Selain itu, ia juga aktif membuka ranting-ranting NOM baru di lingkungan Tebuireng, yakni di Kecamatan Diwek.
Aktivitas Sholihah dalam berbagai kegiatan di atas tidak menjadi halangan untuk memperhatikan kehidupan keluarganya. Meskipun pada saat yang sama ia juga sering ditinggal pergi suaminya, namun perhatiannya terhadap perkembangan anak-anaknya tidak terabaikan. Selain menerapkan jiwa pesantren,
ia juga sangat disiplin mendidik putera-puterinya. Misalnya, ia tidak segan-segan untuk memukul anak-anaknya dengan sisir ataupun penggaris, jika mereka tidak mau belajar, terutama sekali belajar membaca alquran. Demikian juga akan
dilakukan jika anak-anaknya meninggalkan kewajiban shalat.29
Sebagai istri seorang tokoh nasional, Sholihah ikut memainkan peran yang sangat penting. Ketika suatu hari suaminya datang membawa setumpuk dokumen rahasia dan dalam keadaan dikejar Belanda, Sholihah segera mengambilnya. Untuk menghindari kecurigaan, ia membawa dokumennya ke tempat pencucian pakaian, lalu mendudukinya sambil mencuci. Ia bahkan harus berpura-pura menjadi babu (pembantu).
Bersuamikan seorang pejuang menjadikan Sholihah (Ibu Wahid) memiliki jiwa pejuang. Semasa perang mempertahankan kemerdekaan (1945-1949), ia ambil bagian kurir yang bertugas mengirimkan bahan makanan atau pesan-pesan ke garis depan di Mojokerto, Krian dan Jombang. Sholihah sangat lincah dalam
hal menyusup ke kancah pertempuran yang berbahaya. Maka dari itu tidak heran jika pada masa tuanya beliau sangat gesit melakukan berbagai aktivitas.30
Dalam bukunya Muhammad Rifa‟i dijelaskan bahwa karena kesibukan dalam dunia politik, tak jarang sholihah menggerutu karena kehidupan keluarga menjadi terbengkalai. Hal ini berkaitan dengan ekonomi penopang hidup keluarga
saat itu. Dari sini kemudian Sholihah berinisiatif berjualan kue-kue kecil dan permen di depan rumahnya di Jombang untuk mendapat uang dan dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Kehidupan rumah tangga Sholihah saat di rumah juga seperti halnya rumah tangga orang lainnya yaitu tak jarang terjadi cekcok antara Sholihah dan Wahid, terutama karena aktivitas politik. Akibatnya, banyak waktu untuk keluarga tersita. Pada saat itu, biasanya Wahid Hasyim sering mengajak anak-anaknya
untuk berekreasi.31
Pindah ke Jakarta
Pada tahun 1944, Ibu Wahid pindah ke Jakarta, mengikuti suaminya yang menjadi anggota legislatif. Akan tetapi ia di sana hanya bertahan enam bulan. Karena panggilan Hasyim Asy‟ari keduanya kembali ke Jombang untuk mengurus pesantren Tebuireng. Namun, tahun 1950 untuk kedua kalinya Sholihah ke Jakarta mengikuti Wahid Hasyim yang diangkat menjadi menteri agama. Meskipun demikian, aktivitas Sholihah di Muslimat tidak berhenti. Bahkan, ia menjadi salah seorang tokoh yang membesarkan Muslimat di Jakarta. Aktivitas Sholihah inilah
yang menjadi faktor dirinya terpilih menjadi anggota DPRD mewakili NU, dan terus berlanjut ketika ia terpilih sebagai anggota DPR Gotong Royong mewakili partai yang sama.
Pada awal 1950-an, meskipun sudah tinggal di Jakarta, Sholihah tidak melupakan kampung halamannya. Dalam waktu tertentu ia menyempatkan diri pulang kampung. Jika berada di Jombang, ia masih meluangkan waktu untuk
memberikan ceramah dalam pengajian. Kehidupan yang harmonis dan bahagia yang dijalani Sholihah bersama
suami dan anak-anaknya ternyata tidak berlangsung lama. Suasana kebersamaan dalam keluarga Wahid Hasyim itu hanya berlangsung tiga tahun, karena pada tahun 1953 suaminya wafat dalam kecelakaan lalu lintas di daerah Cimindi, suatu tempat antara Bandung dan Cimahi, Jawa Barat. Ketika peristiwa itu terjadi, Sholihah berumur 30 tahun, telah memiliki 5 orang anak yang masih kecil-kecil dan tengah mengandung anaknya yang nomor enam. Usia kandungannya saat itu
baru berusia 3 bulan. Kelima anaknya yang masih kecil-kecil antara lain: Abdurrahman yang berusia 14 tahun dan baru tamat SD, Aisyah 12 tahun kelas 5 SD, Salahuddin 10 tahun kelas 3 SD, kemudian Umar Faruq 8 tahun kelas 2 SD, dan Lily Chadijah 5 tahun yang masih duduk di TK.32
Sepeninggal suaminya, Sholihah tetap gigih dan bersemangat dalam mempertahankan keutuhan keluarganya dan mendidik anak-anaknya. Semangat dan kegigihan Sholihah inilah yang sangat menentukan perjalanan kehidupan anak pertamanya, Abdurrahman Wahid, hingga berhasil menjadi seorang presiden. Walaupun ayahnya Bisri Syansuri menginginkan agar Sholihah dan anak-anaknya kembali ke Jombang, tetapi Sholihah bertekad kuat untuk mempertahankan keutuhan keluarganya dan merawat anak-anaknya di Jakarta.
Sampai ia bertekad “Kalau perlu, jualan gado-gado”, tutur Sholihah untuk tetap mempertahankan hidup di Jakarta.33
Karena belum mendapatkan penghasilan, maka Sholihah terpaksa harus menjual barang-barang miliknya peninggalan dari almarhum suaminya. Langkah selanjutnya yang dilakukan Sholihah adalah berbisnis. Sholihah memasok kebutuhan beras para pegawai Departemen Agama. Jual beli mobil juga dilakukannya. Selain itu, ia juga berbisnis batu, pasir, dan bambu di Tanjung Priok. Hal ini dilakukannya karena waktu itu tidak banyak kalangan dari pribumi yang mau jadi pedagang. Saat berbisnis Sholihah juag tidak menggunakan nama
besar suaminya, istilah sekarang adalah melakukan kolusi dan nepotisme.
Sebagai seorang ibu yang juga berbisnis, tetapi Sholihah tidak melupakan tanggung jawabnya kepada anak-anaknya. Ia sangat disiplin menerapkan pendidikan kepada mereka. Jika salah seorang dari anaknya mengabaikan kewajiban mereka seperti Shalat dan ngaji maka Sholihah tidak segan-segan akan memukul mereka dengan penggaris ataupun sisir.
Walaupun Ibu Wahid dalam hal-hal tertentu berlaku keras, namun ia memperlakukan anak-anaknya dengan penuh kasih sayang, kehangatan dan egaliter. Pendidikan yang ditanam kepada anak-anaknya seperti kemandirian, tidak menggantungkan diri pada orang lain, berusaha keras serta berjuang sendiri bertujuan agar mereka menjadi orang-orang besar yang besar hati tetapi tidak sombong. Maka dari itu, mereka harus dibekali ilmu pengetahuan yang cukup.3
Karir
Setelah kepergian Wahid Hasyim, Sholihah tidak mau pulang ke Jombang karena wasiat dari suaminya beliau disuruh untuk melanjutkan perjuangan dengan membesarkan Muslimat NU Jakarta. Ia pernah menjadi anggota Muslimat NU Gambir (1950), Ketua Muslimat NU Matraman (1954), Ketua Muslimat NU DKI Jaya (1956), hingga Ketua I Pimpinan Pusat Muslimat NU tahun 1959 sampai meninggal. Saat NU berfusi dalam PPP, ia menjadi anggota legislatif (1978- 1987). Selain itu, beliau juga aktif dalam beberapa kegiatan sosial kemasyarakatan yaitu Yayasan Dana Bantuan sejak 1958 sampai akhir hayat. Mendirikan Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional (1974), serta Panti Harapan Remaja di Jakarta Timur
(1976).35
Dalam bidang kegiatan keagamaan, Nyai Sholihah mendirikan Yayasan Kesejahteraan Muslimat NU (1963), Lembaga Kemaslahatan Keluarga NU (1978), pengajian Al-Islah (1963), Lembaga Penyantun Lanjut Usia (1976) yang kemudian diubah menjadi Pusat Santunan dalam Keluarga (Pusaka), serta Majelis
Taklim Masjid Jami Matraman.
Sholihah juga aktif bersama Ibu Mahmudah Mawardi dan Asmah
Syahroni, mendirikan Rumah Bersalin Muslimat (RBM), Balai Kesejahteraan Ibu dan Anak (BKIA) Muslimat, Panti Asuhan Muslimat, Klinik Keluarga Berencana (KB) dan memberikan beasiswa kepada putera-puteri NU terlantar, serta
mengunjungi panti sosial. Sholihah juga aktif di perkumpulan Yayasan Bunga Kamboja tahun 1960,36 sebuah organisasi sosial yang menangani jenazah dan penguburan dengan mengajak Ibu Lasmidjah Hardi (dari kalangan nasionalis), Ibu
Anie Walandaoe (Kristen) dan Mr Hamid Algadri (sosialis). Karena kiprahnya, sejak 1957 Ibu Sholihah terpilih menjadi Anggota DPRD DKI Jakarta, DPRGR/MPRS (1960) DPR/MPR (1971-1987).
Ketika DPR hasil Pemilu 1955 dibubarkan dan diganti DPRGR 1960, Ibu Wahid mewakili Muslimat NU, ia ditunjuk menjadi salah seorang anggota DPRGR. Itulah untuk pertama kalinya beliau terlibat dalam kegiatan politik praktis tingkat nasional. Selanjutnya ia terpilih menjadi anggota DPR tahun 1971
mewakili NU, lalu tahun 1877 dan 1982 mewakili PPP. Selama menjadi anggota dewan, Ibu Wahid tidak termasuk anggota yang hanya datang, duduk, dengar, dan duit. Sebagai wakil rakyat, ia bekerja dengan penuh kesungguhan dan aktif
memperjuangkan aspirasi konstituennya. Salahuddin Wahid dalam salah satu tulisannya menuturkan bahwa ibundanya ini sering memintanya mengetik pandangan-pandangan tentang berbagai hal yang akan disampaikan dalam rapat dan sidang DPR.
Sebagai anggota legislatif di tingkat pusat, Ibu Wahid punya banyak waktu untuk berkujung ke darerah-daerah jika DPR sedang reses. Sebelum NU berfusi ke dalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan masih merupakan partai, teman-temannya di partai sangat homogen, semuanya dari NU. Meskipun Ibu Wahid merupakan kader PPP dan duduk di DPR mewakili PPP, namun kehidupannya dalam permainan politik hampir tidak tampak. Ia sering tidak memperlihatkan sosoknya sebagai seorang „politisi‟.37
Keberadaannya di organisasi politik justru lebih banyak memperlihatkan sosoknya sebagai seorang muslimat yang memegang teguh komitmen moral keagamaan. Misalnya, saat ia melakukan walk out (meninggalkan rapat sidang) ketika dalam sidang DPR terjadi perbedaan interpretasi terhadap Pasal 29 ayat 1UUD 1945 mengenai aliran kepercayaan. Menurut Ibu Wahid dan temantemannya di PPP, agama dan aliran kepercayaan adalah hal yang sama sekali berbeda substansinya. Agama merupakan ajaran Tuhan yang diturunkan ke dunisa untuk kesejahteraan manusia, sedangkan aliran kepercayaan adalah produk kebudayaan manusia. Satu dan lainnya tak dapat disandingkan dalam satu kategori.
Wafatnya
Ibu Wahid adalah seorang yang memiliki sifat kemandirian dan juga terbuka, serta berani menyatakan pendapat, pemikiran dan perasaannya. Terkadang karena terlalu bersemangatnya mengekspresikan dirinya, ia terkesan kelihatan emosional. Kesan demikian dipengaruhi oleh sikapnya yang tegas dan
keras dalam mempertahankan prinsip. Meskipun demikian, ia juga menghargai pendapat orang lain, tidak memaksakan kehendak, dan tidak meremehkan siapa pun.Sampai menjelang wafat, Ibu Wahid tetap aktif dalam kegiatan Muslimat NU
dan aktivitas lain di masyarakat. Ia tetap kelihatan segar dan penuh semangat.
Meskipun harus menggunakan tongkat dan dikawal oleh seorang perawat yang melayaninya setiap saat, ia tetap menghadiri rapat-rapat organisasi. Sholihah Wahid Hasyim meninggal dunia pada hari Jum‟at tanggal 29 Juli 1994 sekitar pukul 23.00 WIB di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta,
dalam usia 72 tahun, setelah menjalani rawat tinggal selama 17 hari akibat sakit jantung dan guaa. Dua puluh empat jam menjelang ajal menjemputnya, Ibu Wahid tidak sadarkan diri karena ada pembuluh darah yang pecah. Ia berada dalam
keadaan koma. Jenazahnya dimakamkan esok harinya sekitar pukul 17.00 di kompleks pemakaman Tebuireng Jombang..
Source : http://digilib.uinsby.ac.id/5249/7/Bab%202.pdf