Jejak Masa Kecil – Sang Proklamator RI – Soekarno di Jombang

Tahukah Anda, Sang Proklamator RI, nama kecilnya adalah Koesno, dan berganti nama menjadi Soekarno, terjadi di Ploso Jombang..? Simak kisahnya ya..

#1 Spiritualitas Bung Karno (BK) kembali diperbincangkan. Kali ini, penulis Jombang Wiji Mulyo Maradianto, 41, mengungkap temuan anyar tentang spiritualitas BK dan kaitannya dengan sejarah Jombang.

PENELITI sejarah Wiji Mulyo Maradianto alias Dian Soekarno mencoba mengungkap spiritualitas BK melalui pendekatan dengan sudut pandang sejarah lisan. Temuan hasil penelusuran Dian Soekarno ini dituangkan dalam buku: Candradimuka. Buku yang dirilis 6 Juni lalu ini merupakan karya pertama dari Trilogi Spiritualitas Bung Karno. “Kusno, nama kecil Bung Karno, pernah tinggal di wilayah Kecamatan Ploso, Jombang bersama ayahandanya, Raden Soekeni Sosrodihardjo pada sekitar Desember 1901′ tutur Dian Soekarno.

Pengelola Sanggar Tan Lung Ayu ini, mengungkapkan, bukunya ini sedikit berbeda. Beberapa nama orang, tempat dan peristiwa tidak tercatat dan atau belum terdokumentasikan dalam lembar-lembar halaman diktat pelajaran sejarah di bangku sekolah dan kuliah. Meskipun demikian, Dian tidak serta-merta mengklaim bahwa fakta tersebut benar terjadi, tanpa dibarengi bukti-bukti dan data yang menguatkan. Sehingga, penulis berusaha berpedoman pada kitab induk sebelumnya.seperti buku-buku tentang bungkarno dari penulis yang dapat dipertanggung jawabkan dan lain sebagainya. “selain itu, saya mewancarai pelaku langsung atau orang dekat disekitar kehidupan Bung Karno, “lontar reporter radio Elshinta ini .

Harapannya semoga langkah kecil ini dapat menjadi sumbangsih penyelamatan sejarah dari pernak pernik realita masa silam anak bangsa.

Salah satu temuan Dian Sukarno yang diungkapkan dalam buku ini adalah Kusno, nama kecil Soekarno, munculnya di jombang. Setelah Raden Soekeni pindah dari Surabya ke Jombang Kusno kecil sering sakit-sakitan. Komplikais antara tipes dan disentri. Soekarno kecil lantas dibawa ayahnya ke Dhenmas Mendhung, seorang tabib yang tinggal di sekitar Kedungpring, Kecamatan Kabuh. Atas pertolongan Denmas Mendhung, Soekarno kecil sembuh. Setelah sembuh, Denmas Mendhung meminta R Soekeni untuk mengganti nama Kusno menjadi Soekarno.

Sumber : Dari Radar Mojokerto Jawa Pos Grub Kamis 20 Juni Tahun 2013

#2 Rumah Masa Kecil Bung Karno di Jombang Ambruk

Sebuah rumah yang pernah menjadi tempat singgah mantan Presiden RI Soekarno semasa kecil di Desa Rejoagung, Kecamatan Ploso, Jombang, Jawa Timur ambruk.

Ambruknya rumah berukuran 15 x 6 meter itu karena tidak terawat, kayu yang menjadi rangka atap dibiarkan lapuk begitu saja. Hanya kamar mandi dan sebuah sumur tua yang masih berdiri kokoh meski terlihat kusam.

“Rumah ini sudah ambruk sejak satu tahun lalu, atau setelah wafatnya Pak Slamet Waluyo (penjaga rumah) di usia 65 tahun,” kata Kushartono, kerabat Soekarno asal Pojokkrapak, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, saat berada di Jombang, Sabtu (20/8/2016).

Selama 20 tahun rumah tersebut dijaga oleh Slamet Waluyo. Kushartono menjelaskan, Soekarno memang pernah tinggal selama beberapa tahun di Jombang.

Persisinya saat Raden Soekeni Sosrodihardjo (ayah Soekarno) menerima perintah dari Kementerian Pendidikan Kolonial Belanda untuk mengajar di onder districtPloso, Jombang.

“Perintah itu diterima 28 Desember 1901 atau enam bulan setelah Bung Karno lahir. Sejak itu ayahnya membawa seluruh anggota keluarga ke Ploso, dan di rumah yang ambruk ini beliau tinggal,” lanjut Kushartono.

Dari rumah kontrakan itu, kisah demi kisah kehidupan Bung Karno ikut ayahnya bertugas di Jombang terukir.

“Rumah dan tanah memang milik orang lain, tapi banyak cerita sejarah. Terutama saat Bung Karno sakit keras, dan harus berganti nama dari Koesno menjadi Soekarno,” imbuhnya.

Sejak ambruk, lahan dipasrahkan oleh pemilik kepada pengurus Karang Taruna Desa Rejoagung untuk ditanami pohon pisang dan pepaya. (*)

https://www.timesindonesia.co.id/…/rumah-masa-kecil-bung-k…/

Jejak Masa Kecil Wakil Presiden RI ke 5 – Soedharmono di Jombang.

Siapa yang tidak kenal salah satu Wakil Presiden pendamping Pak Harto, di Jaman Orde baru.. Iya..Bpk. Letnan Jendral Soedharmono.. ini pernah mempunyai masa kecil di kota tercinta Jombang.. Semasa beliau hidup seringkali berkunjung dan menengok sanak familynya di Kabuh Jombang.. Mau tahu..Simak ya..

Soedharmono, Lahir di Cerme, Gresik, Jawa Timur pada tanggal 12 Maret 1927 ia sudah menjadi yatim piatu dari kecil. Ibunya Soekarsi meninggal ketika melahirkan adik bungsu Soedharmono (1930). Ayahnya R. Wiroredjo meninggal 6 bulan kemudian karena sakit ibunya bernama Raden Nganten Sukarsi.

Sudharmono mempunyai 2 (dua) orang saudara yaitu kakak laki-lakinya bernama Sunar dan kakak perempuannya bernama Siti Sukarni. Orang tua Sudharmono meninggal saat Beliau berusia 3 tahun. Sudharmono kemudian pergi untuk tinggal bersama pamannya, seorang juru tulis yang bekerja untuk Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Walaupun demikian, selama dibesarkan ia banyak berpindah-pindah untuk tinggal bersama sejumlah sanak keluarganya, baik dari pihak ibu maupun ayahnya.

Masa kecil Sudharmono dan Mbak Siti diasuh oleh beberapa keluarganya. Diantaranya: ikut tinggal bersama keluarga Juwarin (dari pihak keluarga bapaknya) di Kabuh Kabupaten Jombang selama 4 tahun, lalu di keluarga Mbah Siten (dari pihak keluarga ibunya) di Rembang, Jawa Tengah sampai dewasa. Sudharmono sekolah di HIS (Hollands Inlandsche School) kelas satu sedangkan Mbak Siti kelas tiga. Sewaktu itu, Sudharmono sangat pandai menghitung pembagian dan perkalian sampai empat digit dengan cepat.

Soedharmono baru saja menyelesaikan sekolah menengah pertama ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya dari Belanda pada tahun 1945. Setelah memutuskan untuk berhenti dari pendidikan lanjutan, Soedharmono turut membantu mengumpulkan senjata dari tentara Jepang dalam persiapan pembentukan Tentara Nasional Indonesia. Hasilnya, ia menjadi Panglima Divisi Ronggolawe, posisi yang terus dipegangnya selama Perang Kemerdekaan Indonesia melawan pasukan Belanda yang kembali menyerang Indonesia.

Selanjutnya Sudharmono sekolah di SMP 2 Semarang pada tahun 1943. Untuk kalangan pelajar saat itu, diwajibkan untuk ikut serta latihan dasar militer yang diawasi pihak Jepang. Karena Sudharmono memiliki sifat yang tanggap, ulet, terampil, dan Beliau berbadan yang tegap. Shudarmono terpilih menjadi pasukan Seinendan. Pada waktu naik ke kelas tiga, Beliau terpilih sebagai ketua pelajar SMP 2. Ketika Indonesia merdeka tanggal 17 Agustus 1945, Sudharmono sedang berlibur di Blitar. Saat Beliau kembali dari Blitar, bertepatan dengan Bapak Wongsonegoro, Wakil Residen Semarang mengeluarkan pengumuman lewat radio resmi yang berisi tentang pemindahan kekuasaan pemerintahan daerah Semarang dari pihak Jepang kepada pihak Indonesia.

Selanjutnya tanggal 5 Oktober 1945, dibentuklah TKR. Dengan dibentuknya TKR ini, Sudharmono aktif didalamnya untuk membela bangsa dan Negara Indonesia. Peristiwa bersejarah yang menyedihkan terjadi di Semarang yaitu Pertempuran Lima Hari. Pertempuran itu mulai pecah dini hari tanggal 15 Oktober dan memakan banyak korban. Sejak saat itu Sudharmono memanfaatkan kesempatan yang diberikan oleh Tuhan SWT, untuk membela bangsa dan negara dengan menjadi TNI AD. Selanjutnya Sudharmono mengikuti pendidikan umum dan kemiliteran. Beliau mengabdi pada pemerintahan sampai mencapai posisi yang terhormat, yaitu WAKIL PRESIDEN Indonesia yang ke-5 (lima) pada Periode tahun 1987 sampai dengan 1993.

Riwayat Karir

Karir :
– Komandan Pasukan Divisi Ronggolawe (1945-1949)
– Perwira Staf Pusdik Perwira AD (1950-1952)
– Jaksa Tentara, merangkap Perwira Staf Penguasa Perang Pusat, Medan (1957-1961)
– Jaksa Tentara Tinggi, merangkap Perwira Staf Penguasa Perang Tertinggi (Peperti)
– Asisten Bidang Sosial Sekretariat Pembantu Pimpinan Revolusi
– Wakil Ketua II Gabungan 5 Koti
– Ketua Tim Penertiban Personil Pusat (1962-1966)
– Sekretaris Kabinet, merangkap Sekretaris Dewan Stabilisasi Ekonomi (1966-1972)
– Menteri Sekretaris Negara (1973-1988)
– Wakil Presiden RI (1988-1993)

Organisasi :
– Ketua Umum DPP Golongan Karya (1983-1988)
– Koordinator Yayasan-yayasan yang didirikan Pak Harto (1998 s/d sekarang)

Sumner :https://id.wikipedia.org/wiki/Soedharmono
Sumber:ttps://alfianbagusyudhianto.wordpress.com/2010/09/30/biografi-sudharmono/

Jejak Masa Kecil – Prof Widjojo Nitisastro – Arsitek Perekonomian Orde Baru – di Jombang

Tahukah Anda, Prof. Widjojo Nitisastro, arsitek ekonomi di era orde baru, jaman Presiden Soeharto berkuasa, adalah, Anak Penilik SD di Jombang Jawa Timur.. Yuk Simak ceritanya..

Berasal dari keluarga seorang duru di zaman kolonial, Ayahnya,
Nitisastro, akhirnya pensiun sebagai penilik Sekolah Rakyat (sekarang SD) di Jombang. Sang ayah juga dikenal sebagai seorang aktivis Partai Indonesia Raya (Parindra) yang menggerakkan Rukun Tani. Beberapa saudaranya menolak bekerja untuk pemerintah kolonial Belanda dan menjadi guru Taman Siswa. Salah seorang kakaknya, dr Angka Nitisastro,
dikenal sebagai tokoh pendiri Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya (ITS). Rumah keluarga Nitisastro di Jombang hingga kini masih dihuni keturunan guru tersebut.

Widjojo tidak begitu suka membicarakan keluarganya, sehingga
tidak banyak informasi mengenai masa kecilnya. Tetapi kawan-kawannya mengatakan bahwa ketika pecah Revolusi Kemerdekaan di Surabaya, Widjojo baru duduk di kelas I SMT (tingkat SMA). Pada tahun 1945 ia bergabung dengan pasukan pelajar yang kemudian dikenal sebagai TRIP.

Seorang teman dekatnya, Pansa Tampubolon – pendeta Advent yang kini bekerja di sebuah group penerbitan – bercerita tentang kegigihan Widjojo. “Widjojo anak pemberani. Bertempur dengan granat di tangan, ia nyaris gugur di daerah Ngaglik dan Gunung Sari Surabaya,” katanya.

Usai perang, Widjojo sempat mengajar di SMP selama tiga tahun. Kemudian ia kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dan mengkhususkan diri pada bidang demografi. 
Berkat kecerdasan dan kegigihannya, ia lulus dari FE UI dengan predikat cum laude. Kemudian saat mengambil gelar doktor ekonomi di Universitas Berkeley, California, AS, 1961, Widjojo muncul sebagai sarjana paling menonjol. Dan sejak itu
kariernya melesat cepat.

Pada awal tahun 1980-an, namanya sempat pula mencuat sebagai bakal calon Wakil Presiden periode 1983-1988. Ia dicalonkan Forum Studi dan Komunikasi (Fosko), suatu organisasi beranggotakan bekas aktivis angkatan 66. Tapi hal itu serta merta dibantah Widjojo.

“Saya merasa tidak memiliki kemampuan untuk jabatan wakil presiden,” kata peraih Penghargaan Kependudukan 1992 ini, suatu kali (TEMPO, 5 Februari 1983). Tahun 1984, Widjojo menerima penghargaan dari Universitas Berkeley, California, AS, yakni Elise Walter Haas Award. Penghargaan tradisi tahunan universitas tersebut diberikan kepada bekas mahasiswa
asing yang jasa-jasanya dianggap menonjol. Dan Widjojo merupakan orang Indonesia pertama yang menerima penghargaan ini. Widjojo memang seorang pekerja keras. “Biasa membawa pekerja ke rumah, dan tidak jarang menyelesaikannya sampai malam,” kata Sulendra, yang pernah lama menjadi sekretaris pribadinya.

Kiprah Prof Widjojo.

Tua-tua kelapa makin tua makin berminyak, begitu bunyi sebuah ungkapan. Ungkapan tesebut kiranya tepat untuk melukiskan Prof Dr Widjojo Nitisastro, yang pada 23 September 2007 tepat berusia 80 tahun.

Meskipun telah mencapai usia senja, dengan fisik yang makin lama makin lemah, Prof Widjojo tetap saja berkiprah dalam 
memikirkan bangsa dan negaranya. Dalam beberapa tahun terakhir, para pejabat pemerintahan masih datang meminta bantuannya. Para muridnya juga masih terus berdatangan untuk memperoleh percikan pengetahuan dan wawasannya. Tak mengherankan, karena Prof Widjojo adalah satu sosok
yang luar biasa jasanya bagi negeri ini. “Tak diragukan lagi, ia
mempunyai dampak individual terbesar dalam perekonomian Indonesia,” tulis Newsweek dalam sebuah laporannya.

Presiden boleh berganti, tetapi Widjojo Nitisastro ibarat magnet
yang mempengaruhi para penguasa. Pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), misalnya, Prof Widjojo didapuk untuk memimpin Tim Ekonomi Indonesia pada pertemuan Paris Club pada April 2000. Misi ekonomi tersebut sukses. Kelompok donor yang beranggotakan 19 negara itu menyetujui penjadwalan kembali pembayaran utang RI
untuk periode April 2000 hingga Maret 2002 senilai 5,9 miliar AS. Gus Dur pun sangat gembira dengan hasil itu. Pasalnya, tak bisa dibayangkan seandainya misi itu gagal. Indonesia jelas akan kelimpungan mencari dana membayar utang-utang pemerintah yang jatuh tempo itu.

Dalam pandangan ekonomi Mohammad Sadli, Prof Widjojo
Nitisastro adalah orang yang punya peran besar dalam keberhasilan tim itu. “Jasa terbesar datang dari Prof. Widjojo. Hanya dialah, berkat pengalaman mewakili Indonesia berunding dengan Paris Club, tahu seluk beluk dan liku-liku Paris Club,” kata Sadli di sebuah kolomnya di TEMPO interaktif.

Menurut Sadli, menteri-menteri ekonomi kita yang baru tidak punya pengalaman menghadapi hal itu. Karena itu, tambah Sadli, 95 persen kerja delegasi Indonesia adalah arahan Widjojo. 
Keberhasilan itu mendorong Gus Dur menunjuk Prof Widjojo
menjadi ketua Tim Asistensi Ekonomi Pemerintahan. Ini dipandang agak mengejutkan, karena sebelumnya, Prof Widjojo dan Prof Ali Wardhana pernah menolak menjadi anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN). “Kami menyampaikan terima kasih atas kepercayaan tersebut. Tetapi, kami berdua ini sudah tua, Pak Ali Wardhana sudah 71 tahun, saya sudah
72 tahun. Kami akan membantu, tetapi tidak sebagai anggota,” kata Widjojo waktu itu.

Ketika krisis moneter mulai menggerogoti Indonesia pada 1997,
Presiden Soeharto pernah pula menugaskan Widojo untuk mengambil langkah penyelamatan. “Sejumlah keputusan yang berkaitan dengan perkembangan moneter akhir-akhir ini akan dikoordinasikan Prof. Widjojo Nitisastro,” kata Menteri Keuangan Mar’ie Muhammad ketika menjelaskan hasil sidang kabinet bersama Menpen Harmoko dan Gubernur BI Soedradjat Djiwandono di Binagraha, 9 Oktober 1997. Widjojo memang sangat handal dalam bidang ekonomi. Sejak awal Orde Baru ia telah dipercayai sebagai orang yang turut memikirkan dan
bertanggungjawab terhadap perekonomian Indonesia. Tak heran kalau ada yang menyebut dirinya sebagai “arsitek utama” perekonomian Orde Baru.

Pada usia yang relatif masih sangat muda, 39 tahun, ia telah
dipercaya sebagai Ketua Tim Penasehat Ekonomi Presiden (1966). Beberapa kali setelah itu ia duduk sebagai Menteri Kabinet pada posisi yang sesuai dengan bidang tugasnya, yakni ekonomi. Dari tahun 1971 sampai 1973 ia menjadi Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional. Kemudian secara berturut-turut, dari tahun 1973 sampai 1983, ia
dipercaya sebagai Menko Ekuin merangkap Ketua Bappenas. 
Menurut beberapa kalangan, mantan Presiden Soeharto sangat 
percaya pada Widjojo. Loyalitas Widjojo agaknya adalah jawaban mengapa Presiden selalu memanggilnya pada saat kritis. Dan loyalitas itu pula yang tampaknya yang membuat Widjojo dicintai anak buahnya.

Mereka masih tetap memberi laporan kepadanya, meskipun ia tidak lagi menjadi menteri. Tetapi Widjojo tidak imun kritik. Ia bahkan pernah menghadapi berbagai kecaman. Tahun 1970, sebuah majalah kaum “Kiri Baru”

Amerika menyebutnya sebagai tokoh gerombolan “Mafia Berkeley”. Maksudnya, ia disebutkan sebagai antek Amerika karena dididik di kampus Berkeley AS. Setahun kemudian, kecaman itupun sempat “dicuatkan” kembali (beberapa) koran di Indonesia. Di situ digambarkan bahwa Widjojo telah menyusun suatu strategi pembangunan yang kurang lebih menyerahkan kedaulatan ekonomi Indonesia ke tangan Barat. Tetapi
Widjojo tidak terlalu ambil pusing terhadap cemoohan itu. 
Ekonom terkemuka Prof. Dr. Sumitro Djojohadikusumo yang juga seniornya, mempunyai kesan mendalam tentang Widjojo. Hal itu diungkapkan setelah Soemitro dan Widjojo menerima penghargaan Piagam Hatta dari Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) tahun 1985 silam. “Sebagai kakak, saya merasa bangga mempunyai adik yang tampil
sebagai arsitek Orde Baru, di mana saya ikut sebagai satria pendamping dan peserta team,” kata Sumitro, yang sepuluh tahun lebih tua dari Widjojo, seperti dikutip TEMPO Edisi 2 Februari 1985. Pemberian penghargaan kepada perencana yang tangguh, sekaligus pelaksana rencana yang konsisten. 
Jauh sebelumnya ketika masih menjadi mahasiswa di Fakultas
Ekonomi Universitas Indonesia (UI), bersama seorang ahli dari Kanada Prof. Dr. Nathan Keyfiz, Widjojo dengan gemilang menulis sebuah buku, yang menjadi salah satu buku yang amat popular di kalangan mahasiswa ekonomi pada tahun 1950-an. Buku itu berjudul “Soal Penduduk dan Pembangunan Indonesia”. Tak tanggung-tanggung, Mohammad Hatta
(alm.) dengan bangga memberi kata pengantarnya. Di situ Hatta menulis: “Seorang putra Indonesia dengan pengetahuannya mengenai masalah tanah airnya, telah dapat bekerja sama dengan ahli statistik bangsa Kanada. Mengolah buah pemikirannya yang cukup padat dan menuangkan
dalam buku yang berbobot.

Laksda Sukarton Marmosudjono, SH Jaksa Agung RI (1988-1990) – Pendekar Pemberantas Korupsi, yang berani menayangkan wajah Koruptor di Televisi.

Beberapa versi Sukarton lahir di Jombang pada tahun 1938, (sumber : Buku Profil Tokoh Jombang yang diterbitkan Pemda Jombang 2010) namun ada versi lain beliau lahir di Desa Batuagung, Tegal pada 3 Oktober 1937 (Wikipedia).

Sukarton memasuki dinas bidang hukum TNI AL setelah lulus dari Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, Jogjakarta. Tidak banyak sumber yang menunjukkan secara rinci kariernya di dinas militer tersebut hingga meraih pangkat bintang dua
(Laksamana Muda). Tetapi kawan-kawannya mengatakan, Sukartondikenal sebagai orang yang serius dalam bekerja tetapi rendah hati. Ia juga cerdik dalam politik, sesuatu yang menarik para petinggi Golkar di Jakarta.

“Oh iya. Pak Sukarton memang orang yang hebat. Ia seorang ahli strategi di Golkar, hal yang mengantarkannya sebagai Jaksa Agung pada Kabinet Pembangunan V,” kata Laksma (Purn) TNI Trimarjono, yang juga alumnus hukum UGM. 
Seperti Sukarton, Trimarjono juga merintis kariernya melalui dinas hukum TNI AL. Bedanya, Trimarjono kemudian lebih banyak bergelut di birokrasi Pemprov Jawa Timur, mulai jadi Sekretaris Daerah, kemudian Wakil Gubernur, dan akhirnya Ketua DPRD Jatim. Sedangkan Sukarton banyak berkecimpung di dunia politik di Jakarta.

Seorang mantan anak buahnya di Kejaksaan Agung, Djokomoeljo, SH, mengatakan bahwa Sukarton adalah seorang Jaksa Agung yang tegas, disiplin, tetapi tetap ramah dengan siapa pun. “Meskipun tegas dan bahkan terkesan keras sikapnya, beliau akrab dengan banyak orang, termasuk
dengan seorang pegawai rendahan sekalipun di Kejaksaan Agung.” Kata Djokomoeljo, yang pensiun sebagai pejabat tinggi Kejaksaan Agung beberapa tahun lalu.

Apa yang paling mengesankan bagi Djokomoeljo adalah
kepercayaan dan kepedulian Sukarton kepada bawahan untuk mendorong aparat kejaksaan untuk memajukan diri mereka melalui pendidikan dan pelatihan-pelatihan, termasuk di luar negeri,” tutur Djokomoeljo. Ismail Saleh, SH, Menteri Kehakiman Kabinet Pembangunan V, menilai Sukarton adalah pejabat yang pintar membawa diri. Sebagai pejabat, ia sering berkonsultasi dengan pejabat lain yang terkait sebelum
melakukan tindakan tertentu. Seperti dalam masalah penayangan wajah koruptor di televisi, Sukarton secara intensif berhubungan dengan beberapa pejabat. “Ia seorang yang serius dan cermat dalam bekerja,” kata Ismail Saleh.

Perhatiannya yang mendalam dalam masalah-masalah hukum antara lain disalurkan lewat dukungannya pada pendirian Majalah Forum Keadilan, yang didirikan bersama tokoh-tokoh seperti Slamet Effendy Yusuf, Panda Nababan, Sutradara Ginting, dan Lukman Umar.

Kebiasaan bekerja keras mungkin telah membuat Sukarton kurang memperhatikan kesehatan dirinya. Pada Jumat tanggal 29 Juni 1990, ia tiba-tiba jatuh pingsan setelah sempat jalan pagi, diperkirakan akibat serangan jantung. Ia kemudian dilarikan ke RS Pertamina Jakarta, namun jiwanya tidak berhasil diselamatkan. Ia wafat dalam usia 52 tahun pada pukul 07.20 WIB. Jabatan Jaksa Agung yang ditinggalkannya kemudian
dipegang Singgih, SH.

Atas jasa-jasanya kepada negara, Pemerintah menganugerahkan Bintang Mahaputra Adipradana kepada Sukarton. Tanda penghargaan tersebut ditandatangani oleh Presiden Soeharto bertepatan dengan hari wafanya 29 Juni 1990.

Sukarton meninggalkan seorang isteri, Lastri Fardani Sukarton, 
seorang penyair yang cukup terkenal, dan empat anak. Salah seorang anaknya, Tjahjo Wisanggeni, dikenal sebagai seorang gitaris yang handal. Seorang lainnya, Endah Dewi Nawangsasih, bekerja sebagai staf ahli di Badan Kehormatan DPR.

Bagi para penegak hukum, nama Sukarton Marmosudjono kiranya akan dikenang sebagai salah satu pendekar yang gigih memberantas korupsi. Ketika hari-hari ini orang membicarakan 
penayangan wajah koruptor di televisi, Sukarton telah melaksanakannya hampir 20 tahun yang lalu.

Sebagai Jaksa Agung dalam Kabinet Pembangunan V, Laksamana Muda Sukarton Marmosudjono, SH memang menjadi pionir dalam penayangan wajah para koruptor di televisi. Geram melihat ulah para koruptor yang dipandang meremehkan dan melecehkan penegak hukum, Sukarton mengambil langkah yang tidak biasa tersebut. Sebagai awalnya,
para koruptor dan penyelundup menjadi sasaran pertama gebrakan Kejaksaan Agung.

Penayangan pertama muncul pada 11 Desember 1989 di TVRI, yang saat itu merupakan satu-satunya televisi yang ada di Tanah Air. Hanya dalam beberapa pekan setelah 23 wajah ditayangkan, 11 orang ditangkap aparat penegak hukum. Rinciannya, 6 orang menyerahkan diri karena desakan keluarga atau kemauan sendiri, sedang 5 orang lainnya ditangkap. 
Sukarton juga menggariskan langkah yang tidak kurang kerasnya terhadap para kriminal pembajak buku dan kaset, serta para bandar judi. “Mereka harus diberangus dengan keras. Negara dirugikan besar-besaran oleh mereka,” kata Sukarton dalam wawancara dengan Jawa Pos pada 27
Juni 1989.

Dalam sebuah langkah keras lainnya, Sukarton juga mengeluarkan keputusan penyitaan harta para pelaku korupsi. Selain itu, pejabat yang terlibat akan secepatnya diproses kasusnya untuk dipecat dari jabatannya. Salah satu kasus yang menonjol saat itu adalah korupsi di Rumah Sakit
Cimahi, Jawa Barat, menyangkut dana sebesar Rp.6,8 miliar.

Disadur dari Buku : PROFIL TOKOH KABUPATEN JOMBANG 
Pemerintah Kabupaten Jombang Cetakan Ketiga, Desember 2010

KH Abdurrahman Wahid Mantan Presiden RI, Tokoh Agama dan Kemasyarakatan

“Ada empat misteri Tuhan di dunia ini yaitu:
Jodoh, rezeki, umur dan … Gus Dur”

Itulah sebuah ungkapan yang melukiskan sikap KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang sulit ditebak. Gus Dur adalah politisi dan tokoh masyarakat yang memberikan nuansa baru, bukan saja dari sudut pandang Islam tetapi juga demokrasi.

“Titip aspirasi lewat orang lain saja bisa kenapa kita harus membuat wadah sendiri untuk menyalurkan,” katanya setelah Nahdlatul Ulama dalam muktamarnya yang ke-27, tahun 1984 memutuskan untuk kembali ke Khittah 1926. Artinya, NU meninggalkan politik praktis.

Namun pada hari Rabu, 20 Oktober 1999, cucu KH Hasyim Asy’ari ini terpilih menjadi presiden. Artinya, ia kembali ke kancah politik praktis. Padahal matanya sudah mengalami kebutaan setelah ia terserang stroke pada 1998.

Ada cerita menarik setelah Gus Dur terpilih sebagai Kepala Negara. Ketua PKB Jawa Timur saat itu, Drs. Choirul Anam, menuturkan bahwa sejak Juli 1999 Gus Dur sudah tahu kalau dirinya akan menjadi presiden. Pada suatu hari bulan tersebut, kata Anam, Gus Dur mengatakan kepada dirinya: “Nanti yang jadi presiden itu saya, perintahnya datang Subuh tadi.”

Anam lalu bertanya, siapa yang datang memberi perintah? Menurut Anam, Gus Dur menyebut raja-raja Jawa yang telah lama meninggal, kemudian juga menyebut Bung Karno dan KH Hasyim Asy’ari. “Apaapaan ini? Saya pusing mendengar
penuturan Gus Dur,” kata Anam. “Tetapi ternyata Gus Dur memang terpilih presiden.”

Namun yang lebih aneh lagi adalah tulisan Nico Schulte Nordholt, associate professor antropologi politik di Universitas Twente, Negeri Belanda. Dalam tulisannya di Majalah Times Edisi 1 November 1999, Prof Nordholt mengatakan bahwa Gus Dur pada tahun 1982 sudah pernah mengatakan kepadanya bahwa dirinya akan jadi presiden. “His Dream Came True: Now the spiritual leader needs diving guidance to help his rule,” begitu judul tulisan sang profesor itu di majalah mingguan Amerika tersebut.

Aneh bin ajaib. Tetapi itulah salah satu sisi kehidupan Gus Dur.
Lahir di Denanyar, Jombang, Jatim pada 4 Agustus 1940. Pernah belajar di Universitas Al Azhar, Mesir, dan Universitas Baghdad. Nama Gus Dur mulai mencuat setelah terpilih sebagai Ketua Umum PB NU pada awal 1980-an.

Putra sulung dari enam bersaudara KH Abdul Wahid Hasyim ini 
sebelumnya banyak memegang jabatan sebagai penasihat tim di berbagai departemen, antara lain Departemen Koperasi, Departemen Agama dan Departemen Hankam.

Tokoh yang gemar mengoleksi kaset Michael Jackson dan lagu-lagu klasik ini juga pernah menjadi Ketua Dewan Kesenian Jakarta periode 1984-1985. Dalam Festival Film Indonesia tahun 1985 di Bandung, ia menjadi ketua dewan juri. Ia fasih beberapa bahasa asing, antara lain bahasa Arab, Inggris, Jerman, dan Prancis. Esai-esainya tersebar di berbagai media massa, antara lain Kompas dan Tempo.

Kiprahnya di dunia politik bagi sebagian orang terasa
membingungkan saja, cenderung kelihatan plin-plan dan terlalu
kompromistis. Misalnya ketika Habibie mendirikan Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) di akhir 1990, ia menolak bergabung. Gus Dur terkesan mengadakan perlawanan dengan mendirikan Forum Demokrasi. Tapi pendulum Gus Dur mengarah lagi ke arah pemerintah pada Pemilu 1997. Walaupun bisa bergaul dengan Megawati, saat itu ia justru membuka jalan bagi Golkar berkampanye di depan massa NU.

Saat orang-orang menghujati para pelaku Orde Baru, Gus Dur justru menemui Habibie, Wiranto bahkan Soeharto. Alasannya masuk akal, walau sulit dipahami sebagian orang, yaitu untuk membangun dialog dan mencairkan kebekuan. Langkah kompromis Gus Dur, walau terkesan menentang arus, tak
berpengaruh negatif pada perolehan suara Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), partai yang didirikannya dalam naungan NU. Dalam Pemilu 7 Juni 1999, PKB menduduki urutan ketiga (di bawah PDIP dan Golkar) dengan meraih suara 12 %. Berdasarkan hasil itu, di atas kertas PDIP dan Golkar paling berpeluang mendudukkan jagoannya sebagai presiden. Tapi dalam Sidang Umum MPR, koalisi Poros Tengah (PAN, PPP dan partai-partai Islam) yang dipelopori Amien Rais mengajukan Gus Dur sebagai calon presiden, yang akhirnya terpilih secara demokratis mengalahkan Megawati.

Gus Dur menduduki kursi presiden hanya dalam kurun waktu
kurang dari dua tahun, sebelum ia dipaksa mundur terkait dengan beberapa kontroversi. Buloggate hanyalah pemicunya saja, namun faktor utama yang menyebabkan Gus Dur kehilangan dukungan adalah sikapnya yang sering kontroversial.

Namun Gus Dur tetap memiliki karakter unik yang beperan besar dalam proses demokratisasi di Indonesia. Semangatnya dalam mengkampanyekan inklusivisme, pluralisme dan toleransi patut diteladani. Energinya yang tak pernah habis untuk menjaga kebersamaan dalam kehidupan yang plural layak kita catat dalam sejarah. Dan humorhumornya selalu mampu memberi inspirasi.

Kendati suaranya sering mengundang kontroversi, tapi suara itu tak jarang malah menjadi kemudi arus perjalanan sosial, politik dan budaya ke depan. Dia memang seorang yang tak gentar menyatakan sesuatu yang diyakininya benar. Bahkan dia juga tak gentar menyatakan sesuatu yang berbeda dengan pendapat banyak orang. Jika ditelisik, kebenaran itu memang seringkali tampak radikal dan mengundang kontroversi.

Kendati pendapatnya tidak selalu benar – untuk menyebut seringkali tidak benar menurut pandangan pihak lain – adalah suatu hal yang sulit dibantah bahwa banyak pendapat yang mengarahkan arus perjalanan bangsa pada rel yang benar sesuai dengan tujuan bangsa dalam Pembukaan UUD 1945.

Pendapatnya seringkali terlihat tanpa interes politik pribadi atau 
kelompoknya. Ia berani di depan untuk kepentingan orang lain atau golongan lain yang diyakininya benar. Malah sering seperti berlawanan dengan suara kelompoknya sendiri. Juga bahkan ketika ia menjabat presiden, sepertinya jabatan itu tak mampu mengeremnya untuk menyatakan sesuatu. Sepertinya, ia melupakan jabatan politis yang empuk itu demi sesuatu yang diyakininya benar. Sehingga saat ia menjabat presiden, banyak orang menganggapnya aneh karena sering kali melontarkan pernyataan yang mengundang kontroversi.

Belum satu bulan menjabat presiden, Gus Dur sudah mencetuskan pendapat yang memerahkan kuping sebagian besar anggota DPR. Di hadapan sidang lembaga legislatif, yang anggotanya sekaligus sebagai anggota MPR, yang baru saja memilihnya itu, Gus Dur menyebut para anggota legislatif itu seperti anak Taman Kanak-Kanak.

Tak lama kemudian, ia pun menyatakan akan membuka hubungan dagang dengan Israel, negara yang dibenci banyak orang di Indonesia. Pertanyaan ini mengundang reaksi keras dari beberapa komponen Islam.

Namun seperti kata pepatah: Sepandai-pandai tupai meloncat
akhirnya jatuh ke tanah jua. Di mata banyak orang, kepercayaan diri Gus Dur tampak terlalu berlebihan. Ia sering kali melontarkan pendapat dan mengambil kebijakan yang kontroversial. Penglihatannya yang semakin buruk mungkin juga dimanfaatkan oleh para pembisik di sekitarnya. Gus
Dur pun sering kali mengganti anggota kebinetnya dengan berdasarkan pentingnya tugas yang sifatnya sangat pribadi dan berpayung hak prerogatif. Tindakan penggantian menteri ini berpuncak pada penggantian Laksamana Sukardi (PDIP-pemenang Pemilu 1999) dari Jabatan Meneg
BUMN dan Jusuf Kalla (Golkar-pemenang kedua Pemilu 1999) dari jabatan Menperindag, tanpa sepengetahuan Wapres Megawati dan Ketua DPR Akbar Tandjung.

DPR menginterpelasi Gus Dur dan mempertanyakan alasan
pemecatan Laksamana dan Jusuf Kalla yang dituding Gus Dur melakukan KKN. Tudingan yang tidak dibuktikan Gus Dur sampai akhir.

Sejak saat itu, Megawati mulai dengan jelas mengambil jarak dari Gus Dur. Dukungan politik dari legislatif kepada Gus Dur menjadi sangat rendah. Di sini Gus Dur tampaknya lupa bahwa dalam sebuah negara demokrasi tidak mungkin ada seorang presiden (eksekutif) dapat memimpin tanpa dukungan politik (yang terwakili dalam legislatif dan partai).

Celakanya, setelah itu Gus Dur justru semakin lantang menyatakan diri mendapat dukungan rakyat. Sementara sebagian besar wakil rakyat di DPR dan MPR semakin menunjukkan sikap berbeda, tidak lagi mendukung Gus Dur.

Gus Dur melakukan perlawanan, tindakan DPR dan MPR itu
dianggapnya melanggar UUD. Ia menolak penyelenggaraan SI-MPR dan mengeluarkan dekrit membubarkan DPR dan MPR. Tapi Dekrit Gus Dur ini tidak mendapat dukungan. Hanya kekuatan PKB dan PDKB (Partai Demokrasi Kasih Bangsa) yang memberi dukungan. Bahkan, karena dekrit itu, MPR mempercepat penyelenggaraan Sidang Istimewa (SI) pada 23
Juli 2001. Gus Dur akhirnya kehilangan jabatannya sebagai presiden keempat setelah ia menolak memberikan pertanggungjawaban dalam SI MPR itu. Dan Wapres Megawati, diangkat menjadi presiden pada 24 Juli 2001.

Selepas SI-MPR, Gus Dur selaku Ketua Dewan Syuro PKB
memecat pula Matori Abdul Djalil dari jabatan Ketua Umum PKB. Tindakan ini kemudian direspon Matori dengan menggelar Muktamar PKB yang melahirkan munculnya dua kepengurusan PKB, yang kemudian popular disebut PKB Batu Tulis (pimpinan Matori) dan PKB Kuningan (pimpinan Gus Dur-Alwi Sihab). Kepengurusan kembar PKB ini harus
berlanjut ke pengadilan kendati upaya rujuk juga terus berlangsung.

Bapak Bangsa

Setelah tidak lagi menjabat presiden, Gus Dur kembali ke 
kehidupannya semula. Kendati sudah menjadi partisan, dalam
kapasitasnya sebagai deklarator dan Ketua Dewan Syuro PKB, ia berupaya kembali muncul sebagai Bapak Bangsa. Seperti sosoknya sebelum menjabat presiden.

Ia masih popular sebagai tokoh yang membela pihak yang dinilai
benar, apakah itu kelompok minoritas atau mayoritas. Pembelaannya kepada kelompok minoritas dipandang sebagai suatu hal yang berani. Reputasi ini sangat menonjol di tahun-tahun akhir era Orde Baru. Begitu menonjolnya peran ini hingga ia malah dituduh lebih dekat dengan kelompok minoritas daripada komunitas mayoritas Muslim. Padahal sebagian pengagumnya menganggapnya sebagai seorang waliullah.

Selain menjadi idola bagi banyak orang, Gus Dur juga menjadi idola bagi keempat puterinya: Alisa Qotrunnada Munawarah (Lisa), Zannuba Arifah (Venny), Anisa Hayatunufus (Nufus) dan Inayah Wulandari (Ina). Hal ini tercermin dari pengakuan puteri sulungnya Lisa. Lisa bilang, sosok tokoh LSM Gus Dur menurun padanya, bakat kolumnis menurun ke Venny, kesastrawanannya pada Nufus dan sifat egaliternya pada Ina.

Dalam Pemilu Presiden 2004, Gus Dur sempat dicalonkan PKB
menjadi Capres berpasangan dengan Marwah Daud Ibrahim sebagai

Cawapres. Namun pasangan ini tidak diloloskan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) dengan alasan Gus Dur tidak memenuhi persyaratan kemampuan rohani dan jasmani untuk melaksanakan kewajiban sebagai presiden, sesuai dengan pemeriksaan kesehatan tim Ikatan Dokter Indonesia. Akibat penolakan KPU ini, Gus Dur melakukan berbagai upaya
hukum, antara lain menggugat ganti rugi Rp 1 triliun, melaporkan ke Panwaslu, setelah sebelumnya melakukan judicial review ke MA dan MK. Ia pun berketetapan akan berada di luar sistem jika upaya pencalonannya tidak berhasil.

Namun beberapa pengamat politik berharap, Gus Dur bisa
mengoptimalkan perannya sebagai salah seorang “Bapak Bangsa”.

Gus Dur menderita banyak penyakit, bahkan sejak ia mulai menjabat sebagai presiden. Ia menderita gangguan penglihatan sehingga seringkali surat dan buku yang harus dibaca atau ditulisnya harus dibacakan atau dituliskan oleh orang lain. Beberapa kali ia mengalami serangan stroke. Diabetes dan gangguan ginjal juga dideritanya. Ia wafat pada hari Rabu,
30 Desember 2009, di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, pada pukul 18.45 WIB akibat berbagai komplikasi penyakit, yang dideritanya sejak lama. Sebelum wafat ia harus menjalani hemodialisis (cuci darah) rutin. Menurut Salahuddin Wahid adiknya, Gus Dur wafat akibat sumbatan pada arteri. Seminggu sebelum dipindahkan ke Jakarta ia sempat dirawat di Jombang seusai mengadakan perjalanan di Jawa Timur. Janazah

Gus Dur dimakamkan secara kenegaraan yang dipimpin langsung oleh Presiden RI di kompleks Pondok Pesantren Tebuireng pada tanggal 31 Desember 2009. Pondok pesantren tempat Gus Dur dimakamkan menjadi maskot Kabupaten Jombang sebagai tempat ziarah yang memiliki daya tarik tak
tertandingi. Bahkan orang-orang yang selama ini berseberangan politik dengan Gus Dur akan cenderung mengagungkan Gus Dur bukan karena prestasi politiknya melainkan karena berkahnya yang diyakini mampu memberikan perlindungan dan rasa aman.[]

KH. Abdul Aziz Manshur – Ketua Dewan Syuro DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)

KH. Abdul Aziz Manshur dilahirkan di Paculgowang Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang Jawa Timur, tahun 1942 M. Sewaktu Jepang mulai berkuasa di Indonesia.

Sejak usia dini beliau telah dididik oleh kedua orang tuanya. Pada usia 4 tahun beliau diajar orang tuanya mengenal fasolatan, thoharoh (sesuci) dan menghafal juz Amma langsung oleh Ibu beliau. Memasuki usia 6 tahun beliau mulai ikut sekolah, kemudian dilanjutkan dengan belajar Al-Quran. Dalam mengkaji Al-Quran, hanya butuh waktu 1 tahun bagi beliau untuk mengkhatamkan Al-Quran, dan mengadakan tasykuran.

Memasuki usia 7 tahun, KH. Abdul Aziz Manshur mulai masuk sekolah rakyat (SR) yang kedudukannya setingkat dengan Sekolah Dasar (sekarang) berada di desa Bandung. Pada kelas satu beliau diajar oleh seorang guru bernama Suroto, dengan tetap mempelajari Al-Quran dan Al-Barzanji, Diba’ sekaligus dengan makna oleh orang tua beliau.

Di sekolah rakyat ini, beliau berhasil menguasai baca, tulis, berhitung, sejarah, berbahasa Indonesia, dan beberapa keterampilan, seperti; membuat kaset, kipas, dan lain-lain. Beliau terpaksa masuk sekolah rakyat ini karena memamng sekolah yang ada pada waktu itu hanya sekolah rakyat. Setengah tahun lamanya sekolah di SR beliau pindah ke Madrasah Ibtida’iyyah Paculgowang yang sempat vakum beberapa tahun akibat agresi Belanda ke II.

Sejak kecil KH. Aziz Manshur selalu diajarkan sholat dan puasa oleh kedua orang tuanya dengan pengawasan yang ketat. Meskipun demikian, masa kecil beliau juga tidak luput dari permainan, beberapa permainan yang beliau gemari di antaranya sepakbola, kasti, obak sodor, dan lain sebagainya. Dari berbagai macam permainan yang paling digemari adalah perang-perangan, di dalam permainan perang-perangan itu beliau mengatur dan mempin peperangan. Pada waktu itu KH> Aziz Manshur belum mempunyai keinginan untuk menjadi pemimpin, yang ada dalam angan-angan dan cita-cita beliau adalah alangkah bahagianya bilamana hidup di tengah masyrakat bisa memberi pertolongan dan membahagiakan orang lain.

Ajaran dari orang tua yang melekat di sanubari di samping hal ikhwal yang dicontohkan dalam kehidupan sehari-hari adalah berupa kepingan-kepingan dawuh (mauidloh) yang disampaikan dengan senda gurau saat berkumpul dengan keluarga. Kitab-kitab yang sering disampaikan sebagai landasan yang kemudian melekat di sanubari adalah Sullam Safinah, Bidayatul Hidayah dan Aqidatul Awam.

Orang tuanya selalu mengajarkan dalam kehidupan sehari-hari agar tidak malas, hal tersebut dilakukan orang tua beliau dengan cara memberikan dengan suatu perjanjian. Contoh beliau senang dengan kelinci atau kambing, maka orang tua beliau membelikan semua itu dengan janji agar beliau mau merawat sendiri, mencarikan makan, merawat kandang dan membersihkannya. Begitu juga ketika beliau menginginkan baju, kedua orang tua pun membelikan dengan janji untuk merawat, mencuci, melipat sampai menyimpannya di almari sendiri.

Setelah pindah di MI paculgowang maka perhatian beliau terfokus pada pelajaran, dan pelajaran agamalah yang menjadi idaman beliau, alangkah bahagia seandainya dapat membaca kitab-kitab tanpa makna seperti orang tua dan kakek, nenek beliau. Begitu juga, alangkah bahagianya andaikata bisa mengajarkan ilmu agama kepada orang lain. Orang tua beliau juga sering menceritakan keberhasilan Mbah KH. Abdul Karim Lirboyo.

Setelah dua setengah tahun di Tebuireng, ada pergantian kurikulum dengan tujuh jam pelajaran yang terdiri dari empat matapelajaran umum dan tiga pelajaran agama. Ini menjadi pertimbangan khusus karena saat itu beliau sedang fokus dengan ilmu agama, kemudian memutuskan untuk pindah. KH. Abdul Aziz Manshur kemudian berpindah ke Sarang, Watu Congol, Banten, Cirebon. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya beliau memutuskan untuk menggapai cita-citanya di Pondok Pesantren Lirboyo. Yang mana Lirboyo adalah pondok yang fokus untuk mempelajari ilmu alat (nahwu & sorof). Dan saat bulan puasa tiba, beliau tabarrukan di pondok pesantren lain.

Selama menimba ilmu di Lirboyo, KH. Abdul Aziz Manshur termasuk santri yang berprestasi, sehingga Almaghfurlah KH. Marzuki Dahlan (Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo) mengambil beliau sebagai menantu. Setelah melangsungkan pernikahan, tak lama kemudian KH. Abdul Aziz Manshur menggantikan ayahandanya yang telah kembali kerahmatullah sebagai pengasuh Pondok Pesantren Tarbiyatun Nasyi’in.

KH. Abdul Aziz Manshur dengan penuh tanggungjawab memikul amanah dari ayahandanya, mengasuh Pondok Pesantren Tarbiyatun Nasyiin dengan sepenuh hati, percaya diri, dan rasa ikhlas. Pondokpun semakin maju dan berkembang, meski era globalisasi telah menggeser semua “barang lama” dan menyebabkan pergeseran nilai-nilai kehidupan di tengah masyarakat, tetapi beliau tetap mempertahankan sistem kesalafan yang murni dan konsisten. (memori ’97)

KH Anwar Alwi – Pendiri Pondok Pesantren Pacul Gowang Jombang Diwek Jombang

A. Tanah Kelahiran

KH. Anwar alwi dilahirkan pada tanggal 3 Romadlon, 1291 Hijrah ke Klaten Jawa Tengan. Dari pasangan KH. Alwi dan Nyao Hj. Sholikhah. KH. Anwar adalah putra kedua dari empat bersaudara masing-masing adalah :

1. Ny. Warsitah Alwi
2. KH. Anwar Alwi
3. K. Mussorib Alwi
4. K. Manshur Alwi

B. Hijrah ke Timur

Pada zaman kolonial belanda, penduduk di daerah klaen dipaksa oleh kompeni untuk menanami sawah dengan tanaman tebu. Untuk mengawasi pekerjaan penduduk itu juga diangkat seorang sinder atau mandor yang asli orang belanda sendiri. Sudah barang tentu sikap mandor ini kurang bersahabat dan cenderung congkak kepada warga pribumi.

Saat itulah K. Alwi salah seorang tokoh masyarakat merasa terhina. Saat bersama panduduk menggali parit untuk menanam tebu, beliau yang melihat mandor yang petentang-petenteng tersebut langsung saja mengambil tindakan. Mandor belanda tersebut dikubur hidup-hidup. Akibat perbuatannya itulah beliau menjadi target operasi dari kompeni belanda untuk dibunuh.

Merasa jiwanya terancam K. Alwi pergi kesumatra namun bukan belanda jikalau tidak dapat menemukan keberadaan beliau. K. Alwi pun akhirnya pulang dan pamid kepada ayah handanya yaitu K. daud untuk hijrah kearah timur yang tepatnya berada di desa cukir. Tapi sayang di desa Cukir ternyata ada pabrik gula milik belanda. Untuk menjaga kemungkinan yang tidak di inginkan akhirnya K. Alwi pindah ke desa terpencil di sebelah utara Cukir yaitu Paculgowang Kecamatan Diwek Kab. Jombang. Disitulah kemudian K. Alwi menetapdan berdakwah untuk mendidik masyarakat agar memahami Agama Islam pada waktu umur KH. Anwar kira-kira 23 tahun.

C. Riwayat Pendidikan KH. Anwar

Si kecil anwar mendapat pendidikan langsung dari ayah handanya. Gemblengan dan keteladanan dari K. Alwi mampu membuat anwar kecil mampu menjadi anwar kecil menjadi anak yang berbudi luhur, dopan dan menjadi tauladan bagi anak-anak sebayanya. Anwar selalu saja haus akan ilmu pengetahuan agama yang beliau pernah terima dari ayah handanya, yang akhirnya membuat beliau ingin belajar kepondok pesantren yang lain. Beliau pernah menjadi santri di beberapa pondok pesantren yang antara lain :

1. Pondok Pesantren Wonokoyo Jogoroto Jombang
2. Pondok Pesantren Tenggilis Wonokromo Surabaya
3. Pondok pesantren Panji Sidoarjo
4. Pondok Pesantren Bangkalan Madura

Di Pondok Pesantren Bangkalan Madura ada kisah yang unik mengenai beliau. Ketika beliau datang kebangkalan beliau di kejar-kejar oleh Almaghfirullah Syaichuna KH. Kholil Bangkalan. Tetapi itu berubah dalam beberapa hari saja. Anwar dulu yang dikejar-kejar oleh kyainya sekarang menjadi salah satu santri kesayangan dari Kyai Kholil. Banyak sekali teman-teman satu angkatan Kyai Anwar di Pondok Pesantren Bangkalan yang menjadi Ulama’ dan tokoh-tokoh besar lainnya diantaranya : Hadratussyeikh KH. Hasyim Asy’ari (Tebuireng), KH Abdul Karim (Lirboyo), KH. Ma’ruf (Kedunglo Kediri) dan lain-lain.

Setelah empat tahun di bangkalan Kyai Anwar dikabari oleh orangtuanya di Paculgowang bahwa Kyai Alwi dan Nyai Sholikhah akan berangkat untuk menunaikan ibadah haji. Dengan berat hati beliau harus berpisah dengan guru yang paling dicintainya itu untuk pulang ke Paculgowangdan berangkat untuk menuaikan ibadah haji bersama kedua orang tua beliau.

Kira-kira pada tahun 1890 M K. Alwi sekeluarga berangkat untuk menunaikan ibadah haji ketanah suci. Danketika akan pulang untuk kembali ke jawa, K. Anwar memohon izin untuk tetap tinggal di tanah suci tersebut. Yang tanpa dapat disangka ternyata KH. Anwar bertemu dengan teman akrab beliau pada saat beliau menimba ilmu di Pondok Pesantren Bangkalan tersebut yaitu Hadratussyeikh KH. Hasyim Asy’ari (Tebuireng), ternyata keduanya memiliki tekad yang sama yaitu untuk menimba ilmu agama di tanah suci tersebut. Ulama’-Ulama’ besar yang menjadi guru beliau di tanah suci tersebut diantaranya adalah :

1. Syaikh Nawawi Al Bantany yaitu Ulama’ besar yang berasal dari banten yang bermukin di Mekkah yang mengarang kitab antara lain : Tafsir Munir.
2. Syaikh Makhfudz At Tirmizy yaitu Ulam’ besar yang berasal dari termas Jawa timur, yang terkenal menguasai beberapa banyak hadits. Salah satu kitab karangan beliau adalah : Minhaju Dzawin Nadlri.
3. Syaikh Khotib Al Minangkabawy yaitu Ulama’ besar yang berasal dari ranah Minang kabau yang bermukin di Makkah.

Dari beberapa Ulama’ tersebut yang paling sering di kaji oleh KH. Anwar adalah Syaikh Makhfudz At Tirmizy yang banyak sekali mengijasahkan kitabnya kepada KH. Anwar.

D. Mengasuh Pondok Pesantren

Setelah empat tahun berada di tanah suci Mekkah. KH. Alwy menunaikan Ibdah haji yang kedua kalinya sambil menjenguk putra tercintanya yaitu KH. Anwar dan mengajaknya pulang ke paculgowang bersama dengan beliau. Dan beberapa waktu setelah setibanya beliau dirumah KH. Alwi menghadap ke ilahi robbu “INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI ROJI’UN” semoga Allah SWT. Menerima segala amaliahnya dan mengampuni segala dosa-dosanya amiin.

Kedudukan KH. Alwi sebagi pengasuh Pondok Pesantren praktis pindah ke tangan KH. Anwar karena beliaulah putra tertua dari KH. Alwi. Beliau mendidik para santri berbagai disiplin ilmu agama. Banyak kitab yang dikaji oleh KH. Anwar diantaranya yaitu :

1. Assyarqowi (Fiqih)
2. Jam’ul Jamawu (Ushul Fiqih)
3. Fathul Mu’in (Fiqih)
4. Ihya’ Ulumuddin (Filsafat)
5. Tafsir Jalalain dan lain sebagainya.

Ada beberapa sistem / metode yang dipakai oleh KH. Anwar untuk mengajar para santri yaitu antara lain :

1. Sistem Sorogan (murid menghadap kepada guru) yang dimulai dari ba’da subuh sampai pkul 06.30 pagi.
2. Sistem Wethonan (Kajian Kitab besar yang memakan banya waktu agak lama minimal setengah tahun) yang biasanya dimulai dari pukul 07.00 s/d 11.00 siang.
3. Sistem Wiridan (Kajian dengan sistem estefet / terus-menerus) yang biasanya di mulai dari ba’da ashar hingga menjelang maghrib tiba.

Pada malam hari KH. Anwar tidak pernah lalai untuk mengajak para santri untuk beribadah kepada Allah SWT.

1. Dakwah dan Perjuangan KH. Anwar

KH. Anwar adalah seorang yang bijak dalam mensyiarkan agama Allah SWT. Cara KH. Anwar dalam mengajak orang untuk beribadah adalah dengan cara mendatangi rumah orang tersebut. Beliau kurang sependapat dengan modek dakwah yang hanya ceramah dan pengajian umum. Bahkan KH. Anwar pernah diadakannya lomba pidato di Pondok Pesantren Tebuireng yang pada waktu itu ketua pondoknya adalah KH. Wahab Hasbullah (Tambak Beras). Prinsip dakwah ini rupanya ada sedikit perbedaan dengan yang dilakukan oleh Hadratussyeikh KH. Hasyim Asy’ari yang kerap berdakwah dengan cara ceramah. Walaupun begitu perbedaan ini tidak menjadikan perpisahan diantara keduanya. Bahkan keakraban keduanya seperti sulit dipisahkan, Hadratussyeikh KH. Hasyim Asy’ari sering sekali untuk mengajak KH. Anwar untuk pergi ke berbagai acara pembentukan jam’iyah yang diantaranya Nahdlotul Ulama’ (NU), KH. Anwar aktif juga mengikuti muktamar NU ke- I, II, III, IV.

Untuk urusan penjajah beliau selalu keras, bakha beliaupun pernah membuat geger masyarakat yang ada disekitarya, konon ketika itu belanda membuat sumur bor dengan ukuran besar. Masyarakat paculgowang merasa dirugikan karena sumber air sumur menjadi kering. KH Anwar kemudian mengajak masyarakat berdo’a bersama untuk memohon kepada Allah SWT. Betul beberapa hari kemudian sumur bor belanda itu macet total dan tidak dapat digunakan lagi.

KH. Anwar senantiasa aktif mengajak rakyat indonesia untuk berjihad, berjihad pada diri sendiri dengan melaksanakan Amar Ma’ruf Nahi Mungkar atau siapa saja yang merongrong agama dan bangsa, bahkan KH. Anwar dan beberapa kyai lainnya pernah dituduh oleh belanda sebagai provokator rakyat indonesia untuk melaksanakan pemogokan. Padahal hal itu dilakukan oleh PKI dan sebagaian anggota Syarekat Islam, namun akhirnya tuduhan itu dicabut karena memang beliau tidak terbukti.

Disamping memiliki ilmu yang tinggi KH. Anwar juga seorang kyai yang memiliki kelebihan, dengan mengendarai dokar beliau pernah ada kecepatan kereta api jurusan Jombang – Pare, ketika berserempetan antara dokar KH. Anwar dengan Kereta Api tersebut bukannya dokar yang ditumpangi oleh kyai Anwar melainkan Kereta Api tersebut.

2. KH. Anwar Menghadap Rohmatullah

Beberapa bulan setelah mengikuti Muktamar NU yang ke-IV di hotel arabisan kampung melayu semarang Jawa Tengah pada tanggal 17 – 20 September 1929 M, KH. Anwar tetap melaksanakan aktifitasnya sebagai pengasuh pondok pesantren paculgowang, Hari Ahad Wage 9 Jumadil Awal 1346 H / 1929 M, KH. Anwar Alwy mengakhiri pengajiannya pada jam 09.00 WIB. Pagi untuk pamid akan keluar desa, dengan mengendarai sepeda pancal beliau pergi ke desa ngelaban (sebelah timur cukir) untuk melihat-lihat genting yang akan dipasang untuk pembangunan masjid sokopuro (pondok milik menantu beliau yaitu KH. Kholil Abdul Hadi). Setelah di ngelaban beliau melanjutkan perjalanan ke sokopuro, setibanya disana beliau langsung memeriksa bagian atas dengan menaiki tangga. Tetapi karena beliau sudah udzur, beliau terjatuh dan taksadarkan diri. Memang ketika bersepeda dari ngelaban beliau juga sudah jatuh karena menabrak buk (jembatan), sementara itu masyarakat sokopuro dan para santri berusaha memberikan pertolongan yang maksimal, namun takdir berkehendak lain, KH. Anwar akhirnya meninggal dunia, “INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI ROJI’UN” segenap kaum muslimin dan Ulama’-Ulama’ merasa sangat kehilangan seseorang tokoh yang dengan segenap jiwa dan raga untuk membela agama dan bangsa, iring-iringan masyarakat yang berkakziyah memenuhi paculgowang, walaupun jenazah beliau masih di sokopuro, setelah jenazah beliau datang segeralah diadakannya sholat jenazah berulang kali, jama’ah lain , setelah dirasa cukup akhirnya jenazah KH. Anwar disemayamkan di pemakaman desa paculgowang, semoga Allah SWT. Menerima segala amaliahnya dan mengampuni segala dosa-dosanya amiin.

Sumber: Ponpes Pacul Gowang

Choirun Nasikhin – Haji Nunut Sumobito Jombang

Penampilannya tetap sederhana. Dengan pakaian seadanya, Choirun Nasikhin Z masih tampil khas dengan topi haji putihnya. Bicaranya juga tetap lugu. Sikapnya polos. Bagaimana Choirun bisa naik haji gratis dengan nunut (nebeng, mendompleng) pesawat angkutan haji?

“Harus ditegaskan bahwa saya tidak nekat. Saya hanya punya niat murni untuk berhaji. Tapi, karena nggak ada biaya, saya pikir hanya bisa dengan nunut,” kenangnya.

Choirun mengaku lahir dari keluarga miskin. Ongkos naik haji saat itu sekitar Rp 6 juta tak terjangkau koceknya. Padahal, keinginan warga asli Sumobito, Jombang, Jawa Timur, untuk berhaji sudah mengganggu benaknya sejak tahun 1990.

Eloknya, saking seringnya memakai topi haji putih, sehari-hari Choirun sudah sering dipanggil dengan sebutan ‘haji’ oleh warga kampungnya, meski dia belum pernah ke Tanah Suci. Tak hanya berdoa, Choirun juga rajin mengikuti undian berhadiah sebagai modal untuk membayar ONH. Pernah ia mengirim 900 lembar kupon sebuah undian.

Niatnya berhaji tak terbendung lagi ketika dia memenangi sebuah undian sampo pada 1992. Choirun menerima hadiah berupa emas seberat lima gram. Setelah diuangkan menjadi Rp 70 ribu, Choirun memakainya sebagai persiapan mengikut haji tahun itu juga. “Uangnya saya belikan sandal, pakaian ihram, dan perlengkapan haji yang lain,” kata pria yang bekerja sebagai petani dan pedagang ini.

Merasa tak cukup bekal, pria 45 tahun ini mencari kiat jitu. Sederhana saja. Dia ingin menerapkan kebisaannya nunut kendaraan bermotor, utamanya truk, jika ingin pergi ke mana-mana tanpa ongkos. “Seperti naik truk, kalau nanti saya disuruh turun, ya, turun. Wong namanya nunut,” kata pria yang betah melajang ini.

Entah karena kepolosannya itu, niat Choirun terbukti mulus-mulus saja. Berbekal uang Rp 49.950, sisa penjualan emas hadiah, ditambah Rp 5 ribu dari ibunya, Siti Khoniah, Choirun mantap pergi haji. “Pada ibu, saya bilang jika dalam satu dua hari itu saya nggak kembali, berarti saya bisa naik haji. Benar juga kan? Senin berangkat, Selasa pulang, Rabu sampai Jombang,” katanya.

Dari Jombang ia naik bis ke Surabaya dan diteruskan dengan bemo ke bandara. Choirun sempat kecewa karena tak tampak jamaah haji akan berangkat. Namun, oleh seseorang ia diberitahu bahwa sore hari ada satu rombongan haji akan berangkat. Benar saja, pukul 19.00 WIB Kloter IX telihat turun dari bisa siap berangkat.

Tanpa ragu, Choirun bergabung dengan rombongan tanpa satu pun jamaah calon haji (JCH) merasa janggal, apalagi petugas bandara. Malah tanpa kecurigaan, ia sempat berfoto-foto sebagai kenangan. Sadar jika ia nunut, di dalam pesawat Chorun tak memilih kursi bernomor. Ada empat kursi pramugari di bagian lambung yang kosong. Di situlah ia duduk hingga seorang pramugari menegurnya saat pesawat sudah terbang menuju Jeddah.

“Saya jawab nggak apa-apa karena saya nunut,” katanya. Si pramugari tersenyum saja karena disangka bercanda. Hingga para jamaah memperolah jatah makan dan minum, posisi Choirun masih aman.

Entah kenapa, di tengah penerbangan, seorang pramugari meminta dokumen perjalanan Choirun. Pria desa yang tak paham apa itu paspor dan dokumen JCH akhirnya membuat geger seisi pesawat. Sadarlah JCH Kloter IX bahwa ada seorang penumpang gelap yang nunut di pesawat Garuda tersebut. Untung ada JCH yang satu desa dengan Choirun di Ngrumek, Sumobito, Jombang, mengenal Choirun. Namanya Pak Harto, juragan ikan, dan Pak Yazid.

“Pak Yazid Abdullah itu guru madrasah saya. Beliau meyakinkan kalau saya bukan orang gila. Dia juga bilang, saya warga satu desa dengannya. Saya miskin, tapi berniat betul menjadi haji karena sudah lama dipanggil Pak Haji,” jelentrehnya.

Meski sempat bikin heboh, di sepanjang perjalanan ke Jeddah, Choirun justru beroleh simpati seisi pesawat. Bahkan, dari rapat kru pesawat dan ketua rombongan, mulanya Choirun akan diupayakan memperoleh paspor. Sementara biaya akan ditanggung bersama oleh semua jamaah Kloter IX. Tapi, akhirnya, Choirun diputuskan harus kembali ke tanah air.

Sempat disembunyikan kru pesawat dalam toilet pesawat selama satu jam untuk menghindari pemeriksaan Imigrasi Kerajaan Arab Saudi. Bahkan, agar petugas Imigrasi tidak curiga, toilet pesawat ditulisi ‘rusak’. Trik jitu ini membuat Choirun tak sampai berurusan dengan aparat keamanan Arab Saudi.

Singkatnya, Choirun dipulangkan langsung hari itu juga. Dalam perjalanan, dia malah merasa dimanjakan. Dia menjadi satu-satunya penumpang di pesawat berkapasitas 500-an kursi itu. Dia bisa menyaksikan film serta menikmati makanan kesukaannya. “Kayak wong sugih, aku iso carter pesawat. Opo ora hebat? Hehehe…,” ungkapnya.

Kasus Choirun ini mendapat liputan luas dari media massa saat itu. Maka, dia pun dijuluki HAJI NUNUT. Choirun kemudian mendapat simpati dari berbagai pihak, termasuk harian Jawa Pos. Bahkan, ada empat pihak lain yang menawarkan ONH gratis untuk Choirun. Salah satunya Haji Tosim yang akhirnya memberangkatkan haji si Choirun pada 1994.

Pada 2005, seorang pengusaha yang juga menaruh simpati padanya juga memberikan fasilitas Choirun naik haji gratis. “Tahun depan, saya juga akan berhaji lagi,” kata Choirun.

Kini, Choirun sering diminta berbagai kalangan untuk membacakan doa dalam hajatan atau memberikan tausiyah di majelis taklim. Meski sudah dua kali naik haji (beneran), Choirun Nasichin masih tetap dijuluki ‘haji nunut’.

Meski telah dua kali menunaikkan ibadah haji, Choirun Nasikhin lebih senang dijuluki HAJI NUNUT. Sebab, untuk memperoleh predikat tersebut bukan hal yang mudah. Julukan Haji Nunut sudah melekat pada Choirun Nasikhin. Dia sangat bangga dengan julukan Haji Nunut daripada dipanggil namanya sendiri.

Maklum, tidak mudah untuk lolos ke pesawat hingga Jeddah tanpa dokumen keimigrasian selembar pun. Namun, hal itu bisa ia lakukan dengan mulus. ”Kenapa harus marah? Saya memang pernah nunut berangkat haji, meski dipulangkan dari Jeddah. Saya kira sampai sekarang belum ada yang bisa melakukan seperti itu.”

Lantas ia pun berkisah. Ketika melompat pagar masuk ke pesawat yang parkir di Bandara Juanda, dia masuk lewat pagar di ujung timur ruang kedatangan internasional. ”Sambil wirid, saya jalan biasa saja. Tidak ada yang menegur sampai saya berada di atas pesawat.”

Choirun mengaku memang sering nunut bus dari Jombang ke Surabaya. Dengan modal wiridnya itu, kondektur jarang meminta karcis padanya. Begitu sebelahnya membayar, ia dilewati. ”Tapi saya juga sudah siap, bila disuruh turun kendektur, ya akan turun. Habis mau gimana lagi? Memang saya tidak punya uang,” cerita Choirun yang sering ke Surabaya untuk berziarah di Masjid Sunan Ampel itu.

Setelah Jawa Pos gencar memberitakan tentang kasus haji nunut, 1992, banyak pihak yang merasa iba . Salah satunya, H Tosim, pengusaha tambak di kawasan Osowilangon. H Anas Saduruwan, bos Fath Indah, biro perjalanan haji dan umrah, juga saat itu mau memberangkatkan Choirun, namun kalah duluan dengan H Tosim.

Kala itu H Tosim yang mendapat rezeki miliaran rupiah dari pembebasan tambak untuk Tol Surabaya-Gresik memberangkatkan Choirun untuk beribadah haji tujuh anggota keluarga dan tetangganya, termasuk Choirun, warga Sumobito, Jombang. H Tosim secara diam-diam mengontak Jawa Pos.

Ia menyanggupi untuk memberangkatkan Choirun untuk beribadah haji setahun kemudian. Pemuda lajang itu pun menyatakan kegembiraannya, setelah Jawa Pos memberitahukan keinginan pengusaha tambak tersebut. Tahun sebelumnya H Tosim juga memberangkatkan keluarga dekatnya ke tanah suci, Makkah.

Surat-surat pun mulai dipersiapkan untuk pendaftaran haji tersebut. Saya [Nasaruddin Ismail] saat itu sibuk menangani keberangkatan Choirun ke rumah H Tosim di kawasan Osowilangon. Petani tambak yang kaya mendadak itu betul-betul mewujudkan janjinya untuk memberangkan Choirun. Akhirnya, berangkatlah dia bersama enam calon haji lainnya, yang semuanya dibiayai oleh H Tosim.

”Ini sudah nazar saya, kalau tanah itu laku saya berangkatkan haji famili dan tetangga,”`kata H Tosim saat itu.

Hingga sekarang, hubungan Chairun dengan Grup Jawa Pos tak pernah putus. Bila ke Surabaya, ia selalu mampir di Graha Pena, hanya sekadar menyambung silaturahim. Bahkan, ia mampir ke rumah wartawan Jawa Pos yang saat itu membantunya untuk menghubungkan dengan H Tosim.

Ada pengalaman menarik lainnya yang dialami Choirun . Meski ia tidak berurusan dengan pihak imigrasi, kepolisian, dan bandara, karena ia nyelonong masuk ke pesawat tanpa izin petugas , dia harus berurusan dengan Detasmen Intelijen (Deintel) Kodam V/Brawijaya di Wonocolo. Berhari-hari dia menginap di sana untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Maklumlah, pada zaman Orde Baru Den Intel cukup besar pengaruhnya dalam berbagai persoalan. Wartawan yang salah nulis pun harus ‘disekolahkan’ di Wonocolo. Nah, ketika pulang dari Wonocolo, di bawah mata Choirun terlihat seperti bekas benda tumpul. Bekas itu masih ada hingga sekarang. Namun, ketika ditanya ia mengaku jatuh terpeleset di kamar mandi ketika dimintai keterangan di Wonocolo.

Sumber : Jawapos

Prof. Ir Gamantyo Hendrantoro MEng Phd, Salah satu Guru Besar Termuda ITS di usia 37 Tahun, Asli Arek Jombang,

Salah satu dari dua guru besar ITS (Institut Teknologi Sepuluh Nopember) Surabaya di Graha ITS Sukolilo hari ini adalah Ir Gamantyo Hendrantoro MEng Phd. Dia berusia 37 tahun. Cukup membanggakan karena belum banyak guru besar berusia muda di Indonesia.

RUMAH Nomor 15 Blok U Kompleks Perumahan Dosen ITS itu tampak berbeda dari rumah-rumah sekelilingnya. Modelnya minimalis dengan cat pink. Itulah rumah Gamantyo Hendrantoro. ”Saya Senin kemarin drop, kecapekan, terpaksa pergi ke UGD dan tidak bisa memberikan orasi ilmiah,” katanya lantas tersenyum. ”Tapi, dalam pengukuhan besok (hari ini, Red) saya akan datang,” lanjut calon guru besar itu.ngurusnya sama repotnya dengan mantu,” katanya.pingin jadi insinyur yang pandai memasak,” sambungnya.ngurus,” kata pria murah senyum itu.progressive rock dan menjadi anggota Indonesia Progressive Society (IPS). Gamantyo juga pernah menjadi panitia dalam acara progressive rock yang diadakan mahasiswa ITS.postdoctoral,” tuturnya.chatting dengan orang-orang dari Indonesia. Salah satunya Endang yang juga sedang kuliah di Australia.ya di ITS sini,” katanya.
Sebuah lemari penuh buku mendominasi ruang tamu. Gamantyo duduk di sisi kiri sofa, mengenakan kemeja cokelat muda. Wajahnya pucat. Sesekali keringat dingin mengalir di dahinya.

Mengurus berbagai hal terkait pengukuhannya itulah yang membuat Gamantyo kelelahan. ”Maklum, acara seperti ini

Dia menganggap biasa saja keberhasilannya menjadi guru besar di usia muda. ”Waktu kecil saya tak pernah bercita-cita menjadi guru besar. Saya hanya

Tambahan keinginan pandai memasak karena dia melihat salah seorang teman ibunya yang tinggal sendiri dan harus memasak sendiri. Cita-cita jadi insinyur sudah tercapai. Memasak? ”Meski tidak terlalu ahli, kalau sekadar masak biasa saja saya bisa,” ujarnya.

Pengukuhan hari ini, diakuinya, tak terlepas dari kerja keras sang istri, Endang Widjiati. Sebagai ilmuwan, Gamantyo terlalu sibuk melakukan penelitian sehingga hampir-hampir tak sempat mengurusi pengangkatannya sebagai guru besar. ”Istri sayalah yang mengurus semuanya,” ungkapnya. Cara itu dinilai sangat efektif sehingga perlu ditularkan kepada teman-temannya. ”Kalau mau cepat memang harus diuruskan. Biasanya profesor-profesor itu lama diangkat karena tidak sempat

Menjadi guru besar bukanlah tujuan akhir Gamantyo. ”Justru ini batu pijakan untuk mengabdi lebih baik lagi,” katanya. Sebab, dosen itu punya tiga pekerjaan, mengajar, meneliti, dan melakukan pengabdian masyarakat. ”Mumpung masih muda, kita masih punya banyak waktu dan ide untuk melakukan ketiganya sehingga bisa meraih gelar dengan cepat,” ungkapnya.

Pria kelahiran Jombang itu memang sosok dosen tulen. Hidupnya seakan tak pernah lepas dari buku dan belajar. Yang baru mengenalnya, tak akan mengira bahwa dia penggemar lagu-lagu rock eksperimental.

Koleksinya penuh dengan lagu-lagu jenis itu. Termasuk, koleksi lagu gamelan eksperimental. Salah satu komposer eksperimental favoritnya adalah Wayan Sadre dari Solo.

Tak sebatas koleksi, dia bahkan ikut dalam komunitas

Begitu cintanya dengan hal-hal yang berbau progresif dan eksperimental, guru besar ini punya sebuah milis tentang rock progresif. Alamatnya, prog-rock@yahoogroup.com.

”Kalau tidak ada halangan, saya mau memutar salah satu koleksi gamelan eksperimental di acara pengukuhan,” katanya sambil menunjukkan salah satu koleksinya.

Gamelan eksperimental yang ingin diputar nanti dimainkan Jaduk Ferianto, Sapto Raharjo, dan Robert Macht. Gamantyo mengaku menyukai segala hal yang berbau eksperimental karena mampu memberinya inspirasi. ”Lagi pula para komposer tersebut sangat kreatif,” katanya.

Gamantyo berhasil menggapai guru besar di usia muda karena hampir selalu masuk kelas percepatan. Pendidikan formalnya dimulai di TK Pertiwi Surabaya pada 1976. Pria kelahiran Jombang 11 Nopember 1970 itu hanya satu tahun duduk di bangku TK.

Dia kemudian masuk SD PPSP IKIP pada 1977. Di SD ini dia selalu juara di kelasnya. Di bangku SMP dan SMA, Gamantyo mengikuti kelas percepatan. Masing-masing jenjang dia tempuh dalam 2,5 tahun. ”Jadi total saya hanya menempuh lima tahun untuk menyelesaikan SMP dan SMA,” terangnya.

Lulus SMA, dia mendaftar di Teknik Elektro ITS lewat jalur PMDK. Dia belajar di kampus itu sejak 1987 sampai 1992. Pada tahun terakhir, dia mendapat beasiswa STAID dari PT PAL. Beasiswa itu membiayai satu tahun terakhir kuliahnya. Syaratnya, jika lulus dia harus bekerja di PT PAL.

”Saya tidak ingin bekerja di sana, jadi ya saya kembalikan (beasiswanya, Red.). Saya lebih memilih menjadi dosen di ITS,” ujarnya.

Begitu lulus, putra ketiga pasangan (alm) Djoko Moesono dan Sri Retnaningdyah itu memang langsung diterima sebagai dosen di jurusan elektro. Salah satu faktor dia diterima sebagai dosen karena IPK-nya yang terbilang tinggi, 3,56.

Setelah bekerja tiga tahun, dia mendapat beasiswa Asian Development Bank (ADB) untuk melanjutkan S-2 di Kanada. ”Saya mengambil Master of Engineering in Electrical Engineering, Carleton University,” ujar Gamantyo.

Pria berperawakan kalem itu menyelesaikan studi dua tahun. Setelah lulus S-2 dia sempat pulang ke Indonesia untuk melihat keluarga. Saat itu ayahnya mulai sakit-sakitan. Setelah ayahnya meninggal, Gamantyo kembali meneruskan kuliah.

Dia mendapat beasiswa yang sama dan kuliah di tempat yang sama. Program doktornya ini dia selesaikan pada 2001. ”Namun, saat itu saya tidak langsung pulang. Saya tinggal setahun lebih lama sebagai peneliti

Di tahun itulah Gamantyo berkenalan dengan Endang Widjiati, istrinya sekarang. Saat itu di waktu-waktu senggang dia selalu

Karena mendalami bidang serupa, elektro, keduanya merasa cocok. Pertemuan pertama terjadi di Jakarta ketika dia pulang dari Kanada. ”Saat itu dia menjemput saya di bandara,” ungkapnya, tersipu.

Mereka menikah pada 20 Juli 2003. Gamantyo memboyong istrinya ke Surabaya. ”Sebenarnya dia bekerja di Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT) di Jakarta, tapi minta mutasi ke BPPT di Surabaya, tepatnya

Gamantyo tak hanya cepat menyelesaikan studi. Dia juga punya segudang prestasi. Antara lain, mendapatkan R.F. Chinnick Scholarship Award, di Telesat Kanada pada 2000. Setahun kemudian dia meraih Post-Graduate Award for Research Excellence dari Canadian Institute for Telecommunications Research (CITR).

Dia juga meraih Young Scientist Award dari International Union of Radio Science (URSI) pada 2005. Pada tahun yang sama dia meraih gelar Dosen Berprestasi Terbaik III Tingkat Nasional dari Depdiknas. (cfu)

Sumber : Jawapos

Prof. EDY TRI BASKORO DAN TEORI GRAF, Pakar Matematika ITB, Arek Jombang.

Ada berapa banyak matematikawan di Indonesia? Hmm.. kalau dosen matematika sih banyak. Tapi, kalau yang benar-benar matematikawan, tidak banyak. Di antara yang sedikit itu, Edy Tri Baskoro adalah salah satunya. Bahkan, ia adalah yang paling berkibar karena produktivitasnya dalam penelitian, khususnya dalam bidang Teori Graf. Karya-karyanya banyak dipublikasikan di berbagai jurnal, antara lain di Utilitas Mathematics dan Ars Combinatorics.

Edy Tri Baskoro lahir di Jombang pada tahun 1964. SD, SMP, dan SMA di Jombang, Ia meraih gelar Ph.D. dari The University of Newcastle, Australia, pada tahun 1996. Sejak tahun 2006, ia menjabat sebagai Guru Besar dalam bidang Matematika Kombinatorika di FMIPA ITB Bandung. Pada tahun 2009, ia menerima Habibie Award untuk bidang sains dasar. Saat ini ia juga menjabat sebagai Ketua Badan Standar Nasional Pendidikan, setelah kurang lebih 10 tahun terlibat sebagai anggota Badan ini.

Educational Background

1. Ph.D, University of Newcastle Australia, “Optimal Interconnection Networks”, 1996
2 Master, University of New England (UNE) Australia, “Optimal Directed Graphs”, 1991
1. Sarjana, ITB Indonesia, “Computer Aided Learning (CAL) in Mathematics”, 1987

Research Topics
1. Graph Theory and Combinatorics: Graph and digraph construction, Ramsey numbers, graph labeling, Metric and

2. Partition Dimensions of Graphs, Locating-Chromatics Numbers of Graphs, Latin squares, Coding and Cryptography.

Members of professional organisations

1. Scientific Committee of Centre International de Mathematiques Pures et Appliquees (CIMPA), 2009 – Now.
2. Executive Secretary, Board of National Standard for Education, Indonesia, 2005- Now.
3. Vice President, South East Asian Mathematical Society (SEAMS), 2010-2011.
4. Member, Institute of Combinatorics and its Applications, 1996 – Now.
5. President, Indonesian Combinatorial Society (InaCombS), 2006 – Now
6. President, Indonesian Mathematical Society (IndoMS), 2006- 2008
7. Vice President, Indonesian Mathematical Society (IndoMS), 2002 – 2006

Editorial Board of Journals

1. Journal of Indonesian Mathematical Society (MIHMI)
2. Journal of Prime Research in Mathematics, Pakistan.