Prof. DR Ahmad Rofi’uddin:, MPd Arek Jombang yang jadi Rektor Universitas Negeri Malang, 2 Periode 2014-2018, 2018-2022

Menjadi rektor memang bukanlah hal yang mudah. Visi dan misi yang dulu telah disampaikan nantinya akan ditanyakan oleh banyak pihak. Pada akhirnya semua bergantung pada bagaimana menjaga amanat yang telah diberikan.

Bapak Rofi’uddin telah menyatakan kesiapannya untuk memimpin UM empat tahun ke depan. Kemauan untuk menjadikan UM lebih hebat mendorongnya untuk mencalonkan diri menjadi rektor. Kegagalan dua periode yang lalu tidak membuat niatnya surut. Dengan pengalaman menjadi ketua jurusan hingga wakil rektor II, beliau pun merasa mampu untuk memikul tugas tersebut hingga dinyatakan terpilih untuk meneruskan estafet kepemimpinan Bapak Suparno.

Sebelum dinyatakan secara resmi menjadi rektor UM 
periode 2014—2018 dalam pelantikan, Bapak Rofi’uddin tetap menjalankan tugas sebagai wakil rektor II. Disela-sela pekerjaannya Kru Komunikasi berkesempatan untuk mendengarkan penjelasan langsung mengenai gambaran UM ke depan. Dengan keramahan dan kehangatannya beliau menjawab pertanyaan kami dengan tenang. Berikut wawancaranya.

Bagaimana awal mula Bapak mencalonkan menjadi rektor UM?

Sebagai warga UM saya merasa ikut bertanggung jawab untuk menjadikan UM yang lebih baik dan lebih hebat. Hal ini berasal dari panggilan jiwa. Dengan berbekal pengalaman manajerial saya merasa siap menjadi calon rektor. Ternyata, langkah saya didukung oleh warga UM secara umum. Pada akhirnya senator dan menteri pun memberikan jabatan rektor kepada saya.

Perjalanan Karier Bapak sebelum mengemban tugas rektor?

Tahun 1996 saya menjabat menjadi ketua jurusan. Lalu pernah di BIPA. Juga pernah di salah satu program studi di pascasarjana. Paling akhir sebelum menjadi rektor, saya mengemban tugas sebagai wakil rektor II.

Sebagai seorang rektor, wewenang apa saja yang Bapak pegang?

Memang ini jabatan yang berat karena rektor memegang dua dimensi tugas. Rektor bertanggung jawab dalam hal manajerial dan dalam hal kuasa penggunaan anggaran. Sebagai kuasa pengguna anggaran, saya bertanggung jawab terhadap setiap rupiah yang akan digunakan oleh UM. Semua anggaran tentunya harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk pengembangan akademik.

Bagaimana Bapak menjaga wewenang tersebut?
Kullukum ra’in wa kullu ra’in mas’ulun ‘an raiyatihi. Saat ini saya diberikan tanggung jawab dan nantinya juga akan dimintai pertanggungjawaban. Sebagai seorang muslim, bagaimana menjalankan amanat dan mempertanggung jawabkannya.

Pekerjaan rektor apa yang harus segera dipersiapkan?
Setelah pelantikan, yang perlu dipersiapkan adalah pembentukan kabinet. Karena sistemnya, semua jabatan wakil rektor akan berakhir bersama dengan berakhirnya jabatan rektor yang lama. Semua pimpinan harus segera dipersiapkan setelah saya resmi dilantik menjadi rektor. mulai dari ketua jurusan, ketua program studi, dan sebagainya. Paling lambat dua bulan setelah pelantikan.

Kriteria yang nantinya akan Bapak percaya untuk menjadi petinggi UM?

Saya melihat pengalaman, integritas, loyalitas, serta profesionalitas. Kriteria dasar untuk melihat seseorang cocok atau tidak dengan suatu jabatan.

Target apa yang ingin dicapai saat menjadi rektor?
Bagaimana saya nantinya akan menjalankan visi dan misi saya dulu. Karena semua target yang akan dicapai terdapat di sana. Mulai dari bidang akademik seperti apa, manajerial seperti apa, dan sebagainya.

Jika berbicara mengenai UM ke depan, apa yang ada dalam pandangan Bapak?

Jika pada tingkat nasional, kita sudah di posisi menengah atas. UM ke depan adalah bagaimana kita bisa tampil di kancah internasional. Mungkin ada enam atau tujuh situs yang menyediakan rating perguruan tinggi internasional. Nah, apakah kita masuk atau tidak di sana? karena, keberadaan kita dapat dilihat dalam rating itu.

Bapak menganggap UM sudah baik jika bagaimana?

Sudah ada aturan normatif yang ditentukan oleh kementerian. UM dianggap baik jika akreditasi dari setiap program studinya bertambah. Paling tidak ada 60% program studi yang memiliki akreditasi A. Selanjutnya, jika dosen-dosennya dapat berkarya. Juga mahasiswanya dapat berprestasi dalam berbagai event.
Namun, lebih dari itu ada hal yang tidak dapat diukur secara kuantitatif. Dimana peran alumni dan lembaganya dalam menjadikan UM lebih baik. Mereka mampu mendorong dan menciptakan dinamika dalam masyarakat. Sehingga kampus kita mendapat tempat di hati.

Bagaimana Bapak meneruskan pengembangan UM dari rektor yang sebelumnya?

Menjadikan UM baik tidak hanya satu atau dua tahun. Kita tidak dapat melakukan program-program yang seutuhnya mulai dari awal. Pastinya kita akan melanjutkan program-program terdahulu secara sistemik. Memang masing-masing rektor yang sebelumnya menjabat punya inovasi tersendiri. Karena, setiap zaman tantangannya berbeda. Namun, tujuannya untuk menjadikan UM lebih baik.

Sebagai pemegang kuasa anggaran, bagaimana strategi pengelolaan anggaran Bapak?

Jika berbicara mengenai anggaran dari mana anggaran didapat dan dibelanjakan untuk apa. Ada dua sumber pendapatan di sini. Dari negara dan dari mahasiswa. Jika kita dapat berprestasi di semua lini maka akan berdampak pada anggaran dari negara. Sementara itu, dana mahasiswa sudah diatur jumlahnya dan untuk apa penggunaannya.
Masalahnya, bagaimana perencanaan anggaran yang bagus. Dalam penggunaan anggaran, satu tahun sebelum digunakan, perencanaan anggaran harus sudah ada. Tentunya dengan melihat penggunaan sebelumnya.
Selanjutnya mengenai kontrol penggunaan. Jika anggaran tidak sesuai dengan perencanaan, itu bisa menjadi suatu pelanggaran.

Lalu, untuk monitoring kegiatan akademik?

Rektor tidak hanya bekerja sendiri dalam melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan akademik. Pada dasarnya ada tiga lapis pengawasan. Pertama, terdapat satuan pengawas internal (SPI). SPI ini bertugas mengawasi apakah semua sudah sesuai dengan standar mutu. Selanjutnya ada dewan pengawas. Yang terakhir adalah senat urusan akademik. Senat akademik pada tingkat fakultas juga ada. Ini bertugas mengawasi kegiatan akademik di tingkat fakultas.

Jika nantinya ada gesekan dengan organisasi kemahasiswaan, pandangan Bapak bagaimana?
Sebenarnya tugas UM adalah untuk membimbing, membesarkan, serta menyiapkan mahasiswa yang nantinya sebagai sumber daya yang diunggulkan dalam masyarakat.
Saya kira jika ada masalah, itu soal komunikasi. Kita bisa duduk bersama membicarakan masalahnya seperti apa dan penyelesaiannya bagaimana. Jika mau berkepala dingin dan berdiskusi dengan baik, masalahnya akan selesai.

Harapannya untuk seluruh civitas akademika UM?
Jika tidak mampu bekerja sama, sehebat apapun rektornya tidak akan berdampak apa-apa. Ketika semua dapat bergandengan tangan, tugas rektor akan lebih mudah dan semua dapat saling bekerja sama untuk menunjukkan prestasi baik di tingkat nasional maupun internasional.

Nama : Prof. Dr. H. Ahmad Rofi’uddin, M.Pd.
TTL : Jombang, 3 Maret 1962

Riwayat pendidikan:

1. S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Malang tahun 1984
2 S2 Pendidikan Bahasa Indonesia IKIP Malang tahun 1990
3. S3 Pendidikan Bahasa Indonesia IKIP Malang tahun 1994

Pengalaman pekerjaan:
1. Tim Pengembang Kurikulum S2 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Sekolah Dasar (1995)
2. Ketua BIPA UM (1997—2002)
3. Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FPBS, IKIP Malang (1997—1999)
4. Ketua S2/S3 Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, PPS, UM (1999—2003)
5. Asisten Direktur II PPS UM (2001—2005)
6. Pembantu Rektor II UM (2005—2009)
7. Wakil Rektor II (2009—2014)

Prestasi:

1. Anggota South East Language Project, Regional Language Centre, Singapore
2. Ketua Penyunting Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia (1994—2001)
3. Ketua Penyunting Jurnal Bahasa dan Seni (2001—2006)
4. Penyunting Jurnal Forum Penelitian (1995—2001)
Ketua Tim Pengembang Pendidikan Sabilillah, Malang
5. Anggota BAN-PT, Depdiknas
6. Anggota Penyusun Pedoman Penulisan Karya Ilmiah: Skripsi, Tesis, Disertasi, Artikel, Makalah, Laporan Penelitian

Atmaji Sapto Anggoro, Arek Jombang, Pendiri Situs Berita Tirto.ID, Salah satu Portal Berita Paling NgeTop.

Anda, pernah mendengar atau membaca situs berita Tirto,id.yang mengulas berita begitu tajam dan mencerdaskan. Tapi Tahukah Anda, bahwa ada orang Jombang dibalik situs berita ini.

Tirto.id adalah sebuah situs berita, artikel dan infografik di Indonesia. Nama Tirto diambil dari pahlawan nasional bapak pers Tirto Adhi Soerjo yang pada masanya mendirikan surat kabar Soenda Berita, Medan Prijaji, dan Poetri Hindia juga pembentukan Sarekat Dagang Islam (SDI).

Situs berita Tirto.id didirikan oleh Atmaji Sapto Anggoro yang sekaligus menjabat sebagai Pimpinan Redaksi dan CEO. Sajian tulisan Tirto.id meliputi rubrik Mild Report, Indepth, Hardnews, Current Issue, dan Tirto Visual Report (TVR).

Atmaji Sapto Anggoro sendiri lahir dan dibesarkan di Jombang. Ia adalah anak dari Kapten Purn (CPM) Tamyas Mintoredjo. Ia menamatkan pendidikan menengahnya di SMAN 1 Jombang, kemudian meneruskan pendidikannya di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Surabaya – Almamater Wartawan Surabaya (Stikosa-AWS) untuk meraih gelar Sarjana. Ia memulai karier jurnalistiknya di Surabaya Post, Harian Buana, dan Republika sebelum bergabung dengan Detik.com pada 1999. Ditahun 2011, ia mendirikan Merdeka.com bekerjasama dengan KapanLagi Network dan sukses membawanya ke peringkat tiga besar berdasarkan ranking Alexa untuk portal berita dalam Bahasa Indonesia. Pada 2016, Sapto mendirikan portal berita Tirto.id.

Ia, lahir di Jombang, Jawa Timur, 4 Oktober 1966; umur 52 tahun adalah anggota pendiri PANDI dan mantan Sekretaris Jenderal APJII periode 2012-2015.Ia juga merupakan pendiri media monitoring Binokular dan juga Padepokan ASA yang bergerak di bidang sosial, pendidikan dan kebudayaan.Sepanjang kariernya, Sapto menerbitkan dua buah buku, ‘Legenda Media Online (detikcom); dan ‘Mantra Justru’.

Pada Januari 2018, Situs besutannya, Tirto.id berhasil lolos verifikasi International Fact-Checking Network (IFCN) . Bahkan Facebook Indonesia juga bekerjasama dengan Tirto.id yang sudah bergabung dalam Jaringan Periksa Fakta Internasional (International Fact-Checking Network/IFCN) melalui Third Party Fact Checker dan melakukan literasi digital untuk melawan berita palsu (hoax) di Tanah Air.

Kemitraan FB Indonesia & Tirto.id dianggap strategis dengan kondisi beberapa wilayah RI yang sedang berlangsung Pemilihan Kepala Daerah serta jelang Pemilihan Presiden tahun 2019.

“Kami ingin menunjukkan kepada masyarakat serta pemangku kepentingan bahwa Facebook berkomitmen untuk membangun komunitas dengan penyajian informasi yang lengkap dan menjaga keaslian identitas di platform Facebook. Untuk itulah kami mengajak Tirto sebagai mitra yang pertama di Indonesia sebagai Fact Checker” ungkap Alice Budisatrijo, News Partnership Lead (third party fact checker)

Sementara CEO sekaligus co-Founder Tirto.id Sapto Anggoro menyatakan pihaknya sangat menghargai kepercayaan yang diberikan oleh IFCN sejak 12 Januari 2018 dengan brand Tirto-Periksa Data, sebagai yang pertama di Indonesia. “Dan sekarang dengan FB Indonesia sebagai mitra untuk melakukan literasi digital,” Ungkap Sapto.

Kerjasama antara Facebook dengan lembaga independen IFCN untuk melakukan cek fakta informasi berita yang ada inilah yang digunakan mengurangi konten hoax. IFCN memiliki mekanisme dalam menentukan berita apakah itu berita palsu, berita benar, campuran antara keduanya, dan berita tidak jelas (undetermined). Sedangkan di Indonesia, Tirto-Periksa Data sebagai pemilik badge IFCN mendapat kepercayaan melakukan fact-checking (periksa data) konten-konten di Facebook dan akan memberikan rekomendasi kepada pengguna Facebook.

“Dengan begitu banyak informasi yang tersedia secara online, informasi yang merupakan berita palsu datang sedemikian deras dan cepat. Dengan bermitra dengan Facebook, kami berupaya membuat informasi yang kredibel tersedia untuk orang Indonesia dan mengurangi penyebaran berita palsu. Bagi kami yang terpenting adalah kualitas berita, bukan kuantitas,” tambah Sapto mempertegas.

IFCN sendiri adalah jaringan media internasional yang berkomitmen mengurangi berita keliru (miss information) atau berita palsu (fake news/hoax) melalui pemeriksaan fakta dan penjelasan secara rinci. Jaringan ini berdiri pada 2015 dan sampai saat ini ada 49 media internasional yang lolos verifikasi dan sudah bergabung sebagai anggota.
Untuk itu, jelas Alice, FB Indonesia dan Tirto.id akan melakukan literasi digital agar masyarakat dapat menemukan, mengevaluasi, memanfaatkan, membuat dan mengkomunikasikan konten informasi, dengan kecapakan kognitif maupun teknikal.

Terpisah, Kepala Kebijakan Publik Indonesia Ruben Hattari mengungkapkan kerjasama FB Indonesia dengan Tirto.id ini sangat strategis dalam melakukan literasi digital mengingat banyaknya hoax yang beredar di media sosial. “Ini adalah inisiatif integrasi komunitas yang akan dilakukan menjelang Pemilihan Kepala Daerah 2018 dan Pemilihan Umum Presiden tahun 2019 di Indonesia untuk menunjukkan kepada komunitas serta pemangku kepentingan bahwa Facebook berkomitmen untuk membangun komunitas dengan keterpaparan informasi yang cukup dan menjaga keaslian identitas di platform Facebook,” kata Ruben. Ruben yang didampingi Alice Budisatrijo yang membidangi partnership pihak ketiga, untuk memenuhi komitmennya mengaku, memberdayakan masyarakat Indonesia dan meningkatkan literasi digital dan membangun komunitas dengan keterpaparan informasi yang cukup.

Berdasar hasil survei yang dilakukan Masyarakat Telekomunikasi Indonesia (Mastel) pada tahun lalu yang melibatkan 1.116 responden, 92,4% responden mengaku mendapatkan berita hoax dari media sosial, 62,8% dari aplikasi pesan instan, dan 34,9% dari situs web. Sementara itu, Facebook sebagai penyedia platform konten, saat ini sedang mendapat sorotan luas karena banyak kontennya terdiri dari berita palsu. Berita palsu tersebut marak pada saat pemilihan kepala negara dan politik di berbagai negara termasuk Amerika dan Indonesia. Pendiri Facebook Mark Zuckerberg sendiri ikut bertanggungjawab terhadap fakta tersebut.

Hasil kerja Tim Periksa Data Tirto diharapkan dapat memberikan informasi kepada masyarakat Indonesia. Informasi yang sesuai dengan yang mereka butuhkan dan bisa dijadikan acuan pengambilan keputusan dan mengidentifikasi secara lebih baik informasi dan fakta secara online. Dengan mendapatkan badge IFCN dan mendapat kepercayaan bekerjasama dengan platform media sosial Facebook, Tirto sendiri berkesempatan memberikan kontribusi peradaban baru dalam literasi digital di Indonesia. Sekaligus tanggungjawab sosial dan tantangan besar untuk mewujudkan media yang kredibel.

“Dalam tiga bulan ini kami secara aktif melakukan literasi digital ke berbagai kampus di Indonesia dan mengidentifikasi berbagai hoax yang ada di sosial media,” kata Sapto. Selain IFCN, Tirto yang diluncurkan pertama 3 Agustus 2016 lalu, juga anggota Asosiasi Media Online Indonesia (AMSI) dan media yang terverifikasi oleh Dewan Pers. Selain itu, Facebook juga menggelar Facebook Journalism Project yang menyertakan perwakilan dari Indonesia di Sydney awal April, serta kampanye “Think Before You Share” yang sudah digelar sejak Februari 2018.

Tirto.id bersama Kompas.com dan Mafindo diundang oleh Facebook untuk hadir dalam roundtable discussion di Sydney, Australia pada tanggal 4 April 2018. Tidak mudah untuk mendapat kepercayaan Facebook. Dengan jumlah berita yang sangat banyak, sementara pengalaman baru, Tirto ingin mendapat dukungan dari banyak pihak dalam pelaksanaannya.

“Saya berharap, ada pihak lain yang mendapat badge dari IFCN agar jumlah konten yang diperiksa data lebih banyak,” katanya. Untuk mendapatkan kepercayaan AFCN sebagai lembaga independen tidak mudah. Prosesnya terjadi sejak Juli tahun lalu dengan adanya tim dari Poynter.org dan dilanjutkan pengiriman assesor yang mewawancarai pihak Tirto dan melakukan beberapa penelitian yang tidak diketahui Tirto. Setelah itu, selama Desember 2017 Tirto berkewajiban mengisi berbagai dokumen dan juga mencantumkan beberapa dokumen di halaman Tirto.id.

Pria kelahiran Jombang Jawa Timur ini mengaku proses yang ia jalani cukup melelahkan namun sebuah tantangan baru baginya. “Melelahkan, hampir 6 bulan kami dituntut untuk mengisi data secara transparan dan benar termasuk mengenai pemodal, apakah ada hubungannya dengan partai, dan bagaimana mekanisme melakukan fact-checking,” ulasnya. Sejak didirikan Tirto sudah berkomitmen untuk memberikan konten yang layak pada pembacanya, maka sejak awal Tirto sudah melengkapi divisi riset data dan analisa di newsroom.

Dari berbagai Sumber