Menjadi rektor memang bukanlah hal yang mudah. Visi dan misi yang dulu telah disampaikan nantinya akan ditanyakan oleh banyak pihak. Pada akhirnya semua bergantung pada bagaimana menjaga amanat yang telah diberikan.
Bapak Rofi’uddin telah menyatakan kesiapannya untuk memimpin UM empat tahun ke depan. Kemauan untuk menjadikan UM lebih hebat mendorongnya untuk mencalonkan diri menjadi rektor. Kegagalan dua periode yang lalu tidak membuat niatnya surut. Dengan pengalaman menjadi ketua jurusan hingga wakil rektor II, beliau pun merasa mampu untuk memikul tugas tersebut hingga dinyatakan terpilih untuk meneruskan estafet kepemimpinan Bapak Suparno.
Sebelum dinyatakan secara resmi menjadi rektor UM
periode 2014—2018 dalam pelantikan, Bapak Rofi’uddin tetap menjalankan tugas sebagai wakil rektor II. Disela-sela pekerjaannya Kru Komunikasi berkesempatan untuk mendengarkan penjelasan langsung mengenai gambaran UM ke depan. Dengan keramahan dan kehangatannya beliau menjawab pertanyaan kami dengan tenang. Berikut wawancaranya.
Bagaimana awal mula Bapak mencalonkan menjadi rektor UM?
Sebagai warga UM saya merasa ikut bertanggung jawab untuk menjadikan UM yang lebih baik dan lebih hebat. Hal ini berasal dari panggilan jiwa. Dengan berbekal pengalaman manajerial saya merasa siap menjadi calon rektor. Ternyata, langkah saya didukung oleh warga UM secara umum. Pada akhirnya senator dan menteri pun memberikan jabatan rektor kepada saya.
Perjalanan Karier Bapak sebelum mengemban tugas rektor?
Tahun 1996 saya menjabat menjadi ketua jurusan. Lalu pernah di BIPA. Juga pernah di salah satu program studi di pascasarjana. Paling akhir sebelum menjadi rektor, saya mengemban tugas sebagai wakil rektor II.
Sebagai seorang rektor, wewenang apa saja yang Bapak pegang?
Memang ini jabatan yang berat karena rektor memegang dua dimensi tugas. Rektor bertanggung jawab dalam hal manajerial dan dalam hal kuasa penggunaan anggaran. Sebagai kuasa pengguna anggaran, saya bertanggung jawab terhadap setiap rupiah yang akan digunakan oleh UM. Semua anggaran tentunya harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk pengembangan akademik.
Bagaimana Bapak menjaga wewenang tersebut?
Kullukum ra’in wa kullu ra’in mas’ulun ‘an raiyatihi. Saat ini saya diberikan tanggung jawab dan nantinya juga akan dimintai pertanggungjawaban. Sebagai seorang muslim, bagaimana menjalankan amanat dan mempertanggung jawabkannya.
Pekerjaan rektor apa yang harus segera dipersiapkan?
Setelah pelantikan, yang perlu dipersiapkan adalah pembentukan kabinet. Karena sistemnya, semua jabatan wakil rektor akan berakhir bersama dengan berakhirnya jabatan rektor yang lama. Semua pimpinan harus segera dipersiapkan setelah saya resmi dilantik menjadi rektor. mulai dari ketua jurusan, ketua program studi, dan sebagainya. Paling lambat dua bulan setelah pelantikan.
Kriteria yang nantinya akan Bapak percaya untuk menjadi petinggi UM?
Saya melihat pengalaman, integritas, loyalitas, serta profesionalitas. Kriteria dasar untuk melihat seseorang cocok atau tidak dengan suatu jabatan.
Target apa yang ingin dicapai saat menjadi rektor?
Bagaimana saya nantinya akan menjalankan visi dan misi saya dulu. Karena semua target yang akan dicapai terdapat di sana. Mulai dari bidang akademik seperti apa, manajerial seperti apa, dan sebagainya.
Jika berbicara mengenai UM ke depan, apa yang ada dalam pandangan Bapak?
Jika pada tingkat nasional, kita sudah di posisi menengah atas. UM ke depan adalah bagaimana kita bisa tampil di kancah internasional. Mungkin ada enam atau tujuh situs yang menyediakan rating perguruan tinggi internasional. Nah, apakah kita masuk atau tidak di sana? karena, keberadaan kita dapat dilihat dalam rating itu.
Bapak menganggap UM sudah baik jika bagaimana?
Sudah ada aturan normatif yang ditentukan oleh kementerian. UM dianggap baik jika akreditasi dari setiap program studinya bertambah. Paling tidak ada 60% program studi yang memiliki akreditasi A. Selanjutnya, jika dosen-dosennya dapat berkarya. Juga mahasiswanya dapat berprestasi dalam berbagai event.
Namun, lebih dari itu ada hal yang tidak dapat diukur secara kuantitatif. Dimana peran alumni dan lembaganya dalam menjadikan UM lebih baik. Mereka mampu mendorong dan menciptakan dinamika dalam masyarakat. Sehingga kampus kita mendapat tempat di hati.
Bagaimana Bapak meneruskan pengembangan UM dari rektor yang sebelumnya?
Menjadikan UM baik tidak hanya satu atau dua tahun. Kita tidak dapat melakukan program-program yang seutuhnya mulai dari awal. Pastinya kita akan melanjutkan program-program terdahulu secara sistemik. Memang masing-masing rektor yang sebelumnya menjabat punya inovasi tersendiri. Karena, setiap zaman tantangannya berbeda. Namun, tujuannya untuk menjadikan UM lebih baik.
Sebagai pemegang kuasa anggaran, bagaimana strategi pengelolaan anggaran Bapak?
Jika berbicara mengenai anggaran dari mana anggaran didapat dan dibelanjakan untuk apa. Ada dua sumber pendapatan di sini. Dari negara dan dari mahasiswa. Jika kita dapat berprestasi di semua lini maka akan berdampak pada anggaran dari negara. Sementara itu, dana mahasiswa sudah diatur jumlahnya dan untuk apa penggunaannya.
Masalahnya, bagaimana perencanaan anggaran yang bagus. Dalam penggunaan anggaran, satu tahun sebelum digunakan, perencanaan anggaran harus sudah ada. Tentunya dengan melihat penggunaan sebelumnya.
Selanjutnya mengenai kontrol penggunaan. Jika anggaran tidak sesuai dengan perencanaan, itu bisa menjadi suatu pelanggaran.
Lalu, untuk monitoring kegiatan akademik?
Rektor tidak hanya bekerja sendiri dalam melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan akademik. Pada dasarnya ada tiga lapis pengawasan. Pertama, terdapat satuan pengawas internal (SPI). SPI ini bertugas mengawasi apakah semua sudah sesuai dengan standar mutu. Selanjutnya ada dewan pengawas. Yang terakhir adalah senat urusan akademik. Senat akademik pada tingkat fakultas juga ada. Ini bertugas mengawasi kegiatan akademik di tingkat fakultas.
Jika nantinya ada gesekan dengan organisasi kemahasiswaan, pandangan Bapak bagaimana?
Sebenarnya tugas UM adalah untuk membimbing, membesarkan, serta menyiapkan mahasiswa yang nantinya sebagai sumber daya yang diunggulkan dalam masyarakat.
Saya kira jika ada masalah, itu soal komunikasi. Kita bisa duduk bersama membicarakan masalahnya seperti apa dan penyelesaiannya bagaimana. Jika mau berkepala dingin dan berdiskusi dengan baik, masalahnya akan selesai.
Harapannya untuk seluruh civitas akademika UM?
Jika tidak mampu bekerja sama, sehebat apapun rektornya tidak akan berdampak apa-apa. Ketika semua dapat bergandengan tangan, tugas rektor akan lebih mudah dan semua dapat saling bekerja sama untuk menunjukkan prestasi baik di tingkat nasional maupun internasional.
Nama : Prof. Dr. H. Ahmad Rofi’uddin, M.Pd.
TTL : Jombang, 3 Maret 1962
Riwayat pendidikan:
1. S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Malang tahun 1984
2 S2 Pendidikan Bahasa Indonesia IKIP Malang tahun 1990
3. S3 Pendidikan Bahasa Indonesia IKIP Malang tahun 1994
Pengalaman pekerjaan:
1. Tim Pengembang Kurikulum S2 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Sekolah Dasar (1995)
2. Ketua BIPA UM (1997—2002)
3. Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FPBS, IKIP Malang (1997—1999)
4. Ketua S2/S3 Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, PPS, UM (1999—2003)
5. Asisten Direktur II PPS UM (2001—2005)
6. Pembantu Rektor II UM (2005—2009)
7. Wakil Rektor II (2009—2014)
Prestasi:
1. Anggota South East Language Project, Regional Language Centre, Singapore
2. Ketua Penyunting Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia (1994—2001)
3. Ketua Penyunting Jurnal Bahasa dan Seni (2001—2006)
4. Penyunting Jurnal Forum Penelitian (1995—2001)
Ketua Tim Pengembang Pendidikan Sabilillah, Malang
5. Anggota BAN-PT, Depdiknas
6. Anggota Penyusun Pedoman Penulisan Karya Ilmiah: Skripsi, Tesis, Disertasi, Artikel, Makalah, Laporan Penelitian
