Jendral Timur Pradopo – Kapolri

Timur Pradopo adalah Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) yang menjabat dari tahun 2010 hingga sekarang. Pada tanggal 4 Oktober 2010, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengajukan namanya sebagai calon Kapolri menggantikan Jenderal (Pol) Bambang Hendarso Danuri. Dalam sidang Paripurna DPR tanggal 19 Oktober 2010, Timur disahkan sebagai Kapolri.

Timur lahir di Jombang, Jawa Timur pada tanggal 10 Januari 1956. Ia merupakan lulusan Akademi Kepolisian (1978) dan Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) (1989). Ia kemudian menempuh pendidikan khusus di Kejuruan: PA Lantas, Sekolah Staf dan Pimpinan Polisi (Sespimpol) (1996), serta Sekolah Staf Administrasi Tingkat Tinggi (Sespati Polri) (2001).

Sebelum menjabat sebagai Kapolri, pria yang identik dengan kumisnya ini mengawali karirnya sebagai Perwira Samapta Poltabes Semarang. Di awal reformasi, ia menduduki posisi sebagai Kapolres Metro Jakarta Barat (1997-1999) dan Kapolres Metro Jakarta Pusat (1999-2000).

Karirinya berlanjut dengan menjabat Kapuskodal Ops Polda Jawa Barat (2000-2001) dan Kepala Polwiltabes Bandung (2001-2002). Diangkat menjadi Kakortarsis Dediklat Akpol (2002-2004) dan Irwasda Polda Bali (2004-2005), sebelum menjabat Kapolda Banten (2005-2008). Lalu sempat mengambil posisi Kaselapa Lemdiklat Polri (2008) dan Staf Ahli Bidang Sosial Politik Kapolri (2008) sebelum kembali menduduki posisi Kapolda Jawa Barat (2008-2010) dan Kapolda Metro Jaya (22 Juni 2010 – 4 Oktober 2010). Hanya tiga bulan lebih menjabat Kapolda Metro Jaya, penerima penghargaan Satya Lencana 16 Tahun, ini diangkat menjabat Kepala Badan Pemeliharaan Keamanan (Kabaharkam)

Seperti yang telah banyak diberitakan media massa, pengajuan nama Timur Pradopo sebagai calon Kapolri tanggal 4 Oktober 2010 mengejutkan banyak pihak. Hal ini dikarenakan sebelum namanya muncul sebagai calon Kapolri, nama Komjen Nanan Soekarna dan Komjen Imam Sudjarwo lah yang digadang-gadang menjadi bakal calon Kapolri terkuat. Timur kemudian menjalani uji kelayakan dan kepatutan yang digelar Komisi III DPR pada tanggal 14 Oktober 2010. Setelah dinyatakan lulus dan hasil uji ini disahkan dalam sidang Paripurna tanggal 19 Oktober 2010, ia pun resmi menjabat sebagai Kepala Kepolisian Republik Indonesia.

PENDIDIKAN :

Umum : – Akademi Kepolisian (1978) – Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) (1989)

Khusus : – Kejuruan: PA Lantas – Sekolah Staf dan Pimpinan Polisi (Sespimpol) (1996) – Sekolah Staf Administrasi Tingkat Tinggi (Sespati Polri), (2001)

PERJALANAN KARIER DI POLRI :

Kepangkatan : – Komjen

Jabatan : – Perwira Samapta Poltabes Semarang – Perwira Operasi Satuan Lalu Lintas Semarang – Kepala Seksi Ops Poltabes Semarang – Kapolsekta Semarang Timur – Kabag Lantas Polwil Kedu – Kasubag Ops Dit Lantas Polda Metro Jaya – Kasat Lantas Restro Jakarta Pusat – Kapolsek Metro Sawah Besar – Waka Polres Tangerang – Kabag Jianma Dit Lantas Polda Metro Jaya – Kapolres Metro Jakarta Barat (1997-1999) – Kapolres Metro Jakarta Pusat (1999-2000) – Kapuskodal Ops Polda Jawa Barat (2000) – Kepala Polwiltabes Bandung (2001) – Kakortarsis Dediklat Akpol (2002) – Irwasda Polda Bali (2004) – Kapolda Banten (2005) – Kaselapa Lemdiklat Polri (2008) – Staf Ahli Bidang Sosial Politik Kapolri (2008) – Kapolda Jawa Barat (2008-2010) – Kapolda Metro Jaya (2010) – Kepala Badan Pemeliharaan Keamanan (Kabaharkam) Polri (2010)

PENGHARGAAN : – Satya Lencana 16 Tahun

KELUARGA : – Irianti Sari Andayani (istri) – 1. Moh Bimo Aryo Seto (anak) – 2. Dhea Istigfarina Miranti (anak)

Suka Main di Sawah, Selalu Jadi Bintang Kelas

JOMBANG-Bangunan rumah tembok itu meski sederhana tampak masih kokoh. Cat dindingnya yang didominasi warna putih mulai memudar. Rumah di Dusun Gempol, Desa Gempol Legi, Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, itu saat ini menjadi perhatian warga. Di rumah itulah Komisaris Jenderal (Komjen) Pol Timur Pradopo, yang namanya tiba-tiba mencuat sebagai kandidat Kapolri dibesarkan. Di dusun itu pula Timur menghabiskan masa kecil hingga dewasa.

Dusun yang menjadi kampung bagi sebagian kecil perjalanan hidup Timur Pradopo terletak di tengah hamparan sawah, jauh dari ingar bingar kota. Jaraknya sekitar 15 kilometer dari ibukota Kabupaten Jombang. Jalan aspal menuju kampung itu penuh lubang. Mayoritas warga bekerja sebagai petani dan buruh tani. Menanam padi, kedelai, dan jagung merupakan aktivitas warga sehari-hari.

Di dusun itu, warga dan para sahabatnya memanggil Timur Pradopo kecil dengan Timung. “Timung tinggal di sini sejak kecil sampai dewasa,” kenang Suarti, bibi Timur Pradopo saat ditemui Selasa (5/10). Kini, Suarti berusia 77 tahun.

Menurut cerita Suarti, Timur Pradopo mulai tinggal di kampung itu ketika berusia tujuh bulan. Dia dibawa orang tuanya dari Kabupaten Blitar, Jawa Timur, karena alasan pekerjaan. Sang ayah, Sigit Sai’un, dan ibunya, Sriati, sama-sama bekerja sebagai guru sekolah negeri di Kertosono dan Jombang.

Di Gempol itulah Timung menamatkan pendidikan Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas. Dia meninggalkan Dusun Gempol, menurut sepengetahuan Sriati, setelah Timung diterima di sekolah kepolisian. Sriati tidak tahu persis nama sekolah yang ditempuh keponakannya tersebut.

Usia Suarti terlalu tua untuk mengingat satu persatu riwayat Timung, termasuk tahun kelulusan sekolahnya. “Yang saya ingat. Timung pendiam, tapi disiplin dan tegas. Beranjak dewasa, dia baik dan cerdas. Dia itu kan anak pertama dari tujuh bersaudara, jadi harus seperti itu,” tutur Suarti yang juga bekas pengasuh Timur kecil itu.

Sriati bahkan mengaku lupa bagaimana wajah keponakanya itu. Maklum, sudah hampir 10 tahun Timur Pradopo tidak pernah berkunjung ke Jombang. “Yang saya tahu dia sibuk,” ucap Sriati.

Kedisiplinan dan ketegasan Timur Pradopo juga dirasakan sepupunya, Wilujeng. Dia menceritakan, pernah suatu waktu warga Gempol mengalami kecelakaan. Seperti biasa, warga korban kecelakaan itu tidak mau beresiko mengurusi masalahnya. Dia meminta bantuan Timur Pradopo. Tapi ditolak. Timur justeru meminta warga tersebut menyelesaikan masalahnya sesuai dengan prosedur kepolisian.

Slamet Sutrisno, salah seorang sahabat Timur Pradopo semasa SD, mengisahkan Timur kecil juga suka bermain di sawah. Dia jago bermain bola voli. Menurut Slamet, yang membedakan Timur kecil dengan siswa lainnya, Timur memiliki otak yang cerdas. Timur Pradopo selalu menjadi bintang kelas. “Timung itu cerdas, serius, disiplin belajarnya. Dia pernah tidak lulus SD. Tapi itu karena usianya masih belia,” kisah Slamet.

Perangai Timur Pradopo di kampung juga sederhana. Setiap hari dia bergaul dengan anak-anak seusianya. Dia juga tekun merawat tujuh adiknya. Kondisi perekonomian keluarga Timur Pradopo saat itu juga terbilang biasa-biasa. Rumah tinggal Timur terlampau sempit untuk menampung seluruh anggota keluarga. Hanya ada empat kamar, satu ruang tamu, dan satu dapur.

Saat ini rumah itu tak berpenghuni. Seluruh anggota keluarga pergi, termasuk ibu dan adik-adiknya. “Rumah ini saya bersihkan dengan beberapa kawan. Wong gak ada penghuninya,” tutur Slamet. Hal itu dibenarkan warga lain, Gatot Subianto, yang ikut membersihkan rumah itu.

Selain tak berpenghuni, tidak ada perabot lain yang tersisa di rumah itu, kecuali dua ranjang bambu, satu meja, dan sebuah lemari tua berisi tumpukan buku yang dipenuhi rayap.

Gatot tidak tahu kapan terakhir kali Timur Pradopo menyambangi kampung yang pernah membesarkannya. Gatot hanya sempat mendengar kabar bahwa Timur berziarah ke makam ayahnya beberapa tahun lalu. Usai berziarah, Timur menyalami seluruh warga yang dijumpainya. Bahkan, beberapa warga mengaku diberi uang. “Seandainya saya ketemu, pasti saya juga diberi uang,” candanya sambil terkekeh.

dari berbagai sumber

Ani Ema Susanti, dari TKW Jadi Produser Film Dokumenter

ANI Ema Susanti tumbuh dan besar di Desa Pulogedang, Kecamatan Tembelang, Jombang. Di desa tersebut hampir sebagian besar warganya berprofesi TKW. Karena itu, sejak kecil Ani akrab dengan berbagai hal yang berkaitan dengan kehidupan TKW. Dia sudah terbiasa menyaksikan penderitaan keluarga para TKW maupun kisah TKW yang sukses di desanya.

Ani berasal dari keluarga pas-pasan. Orang tuanya hanya lulusan SD. Meski begitu, dia tidak mau menyerah dengan keadaan. Dia bahkan mewanti-wanti diri agar tidak ikut-ikutan menjadi buruh migran seperti para tetangganya.

Menurut perempuan berjilbab tersebut, kehidupan sebagian keluarga para TKW memang terkesan makmur. Sebab, begitu pulang ke tanah air, mereka membeli sawah, membangun rumah, dan memborong perabotan rumah tangga. “Mereka juga beli motor,” ujar Ani saat ditemui di Cilandak Town Square Jakarta Selatan, Rabu (30/5).

Tetapi, di balik “kemakmuran” tersebut, Ani menyaksikan sederet kenyataan pahit dari kehidupan para buruh migran yang mengais penghidupan di negeri orang tersebut. Banyak keluarga TKW yang tidak terurus, bahkan kacau-balau, setelah ditinggal bekerja di luar negeri bertahun-tahun.

“Banyak juga yang pulang dari luar negeri malah cerai. Ada juga yang keluarganya telantar. Belum lagi yang dapat siksaan fisik dari majikan dan pulang dengan kondisi cacat atau sakit parah,” urainya.

Ketika Ani duduk di bangku SD, guru-gurunya rajin mengingatkan agar tidak mengikuti jejak warga yang menjadi TKW. Hingga SMA, nasihat gurunya tersebut terus terngiang dalam ingatan. Apalagi, Ani bersekolah di SMA favorit di Jombang. Meski keluarganya miskin, dia ingin melanjutkan kuliah di perguruan tinggi.

Perempuan kelahiran 6 Agustus 1983 itu ingin meraih gelar sarjana dan menjadi guru seperti adik ibunya. Dia melihat kehidupan pamannya jauh lebih layak bila dibandingkan dengan orang tuanya yang hanya buruh tani.

“Kalau ibu kerja dari pagi sampai siang hanya dapat Rp 2.000. Waktu puasa ibu sampai nyuruh saya ikut jualan beras agar bisa membeli ikan asin untuk buka,” jelasnya.

Kendati demikian, keinginan Ani untuk meneruskan kuliah didukung penuh orang tuanya. Mereka berjanji akan berusaha membiayai kuliah Ani. Namun, usaha dan kerja keras Ani, tampaknya, belum membuahkan hasil. Dia gagal menembus ujian masuk perguruan tinggi negeri. Anak pertama di antara dua bersaudara itu juga tidak lolos seleksi masuk di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN).

Karena tidak mungkin melanjutkan kuliah di perguruan tinggi swasta (PTS), Ani akhirnya memutuskan untuk bekerja. Dia berharap bisa mengumpulkan uang untuk kuliah. Namun, Ani hanya mampu mendapatkan pekerjaan dengan gaji tidak seberapa.

Dia pernah bekerja di pabrik snack bagian pengemasan. Baru beberapa bulan bekerja, dia keluar karena pabriknya didemo. Hal tersebut kembali berulang saat dia bekerja di pabrik kayu.

Ani lalu pindah ke UKM (usaha kecil menengah). Namun, karena penghasilannya yang minim, Ani tidak bisa menabung maupun membantu orang tua. Dia kemudian mencoba untuk menjadi sales kosmetik keliling dari rumah ke rumah. “Tapi, ibu dan bapak nggak tega saya bekerja seperti itu. Saya disuruh berhenti,” jelasnya.

Pada saat yang sama, orang tua Ani menghadapi masalah ekonomi. Mereka terlilit utang di bank. Tidak ada pilihan, Ani akhirnya mengikut jejak para tetangganya, menjadi TKW. Meski berat hati, dia tidak mau sembarangan dalam menjalankan profesi itu.

Sebelum berangkat, Ani meneliti negara-negara tujuan TKW yang mengutamakan jaminan keamanan dan kesehatan. Hasilnya, dia memilih Hongkong sebagai tempat bekerja. Dari bekerja sebagai TKW itu, Ani berharap dapat menabung untuk biaya kuliah sekaligus membantu orang tua di desa.

Petualangan Ani sebagai TKW pun dimulai. Dia mendaftar di sebuah PJTKI (pengerah jasa tenaga kerja Indonesia) di Bekasi. Selama enam bulan dia tinggal di penampungan TKI untuk dididik dan diberi bekal keterampilan.

Awalnya Ani mengaku cukup tersiksa dengan kondisi di penampungan yang penuh larangan dan serba terbatas. Misalnya, untuk mandi, dia harus rela antre lama sebelum mendapat giliran. Sebab, di penampungan yang dihuni 300 calon TKW itu hanya ada delapan kamar mandi.

Namun, di penampungan itu dia bisa belajar banyak hal, mulai cara mengerjakan tugas-tugas rumah tangga hingga berkomunikasi dengan majikan. “Kami diajari merapikan spring bed lengkap dengan seprainya yang berlapis-lapis kayak di hotel. Kecepatan merapikannya dihitung pakai stop watch,” cerita dia.

Kelar menjalani pelatihan selama enam bulan, 30 Juli 2001 Ani terbang ke Hongkong. Dia tinggal di vila milik keluarga Mr Leung Yeuk Chung di kawasan New Territories. Di sana dia tinggal bersama TKW lain yang sudah lama hidup di keluarga tersebut.

Dia diajari mengerjakan tugas-tugas rumah tangga serta diberi tahu segala hal terkait dengan makanan kesukaan hingga hal-hal yang tidak disukai sang majikan. Ani kadang juga diperbantukan di rumah orang tua majikannya di kawasan Kowloon.

Awalnya dia sulit berkomunikasi dengan majikan karena bahasa yang digunakan Cantonese. Namun, lama-kelamaan dia mulai terbiasa. Bahkan, Ani merasa beruntung karena bisa bekerja pada keluarga tersebut.

Mereka memberikan hak libur sehari dalam sepekan. Ani juga leluasa menjalankan ibadah salat lima waktu. “Saya juga diperbolehkan mengakses internet paling tidak sejam setiap hari,” ungkapnya.

Tidak hanya itu, dari keluarga tersebut, Ani belajar banyak tentang pentingnya pendidikan. Kebetulan Mr Leung Yeuk Chung dan istrinya bekerja di Chinese University. Anak pertama mereka kuliah di Inggris. Mereka sangat mengutamakan pendidikan akademik dan pembentukan karakter.

“Dari mereka saya belajar betapa pentingnya pendidikan. Mereka juga selalu membiasakan sarapan dan makan malam bersama-sama satu meja,” kenang Ani.

Berdasar pelajaran itu, Ani pun bertekad tidak akan menjadi TKW selamanya. Dia ingin kuliah. Apalagi, tabungannya sudah cukup untuk biaya kuliah dan membantu keluarga di desa.

Selama menjadi TKW Hongkong, Ani sering mengisi hari libur dengan pergi ke perpustakaan. Dia juga kerap mengunjungi Kowloon Mosque untuk bertemu umat muslim dari beberapa negara seperti Pakistan, Jerman, hingga London. Di sela-sela kegiatan itu, Ani selalu menyempatkan untuk menulis catatan harian.

Tepat dua tahun kontraknya habis, Ani memutuskan untuk pulang ke tanah air. Istri Ibnu Nahrozi tersebut tidak membuang waktu lama-lama guna mewujudkan cita-citanya menempuh pendidikan tinggi. Sepulang ke tanah air, dia langsung mendaftarkan diri masuk Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya. Dia memilih jurusan psikologi karena ingin mewujudkan keinginan menjadi penulis novel.

“Menurut saya, menulis novel bisa lebih hidup jika kita memahami karakter orang. Untuk itu, perlu ilmu psikologi,” kata dia.

Sejak saat itu Ani kerap mengirimkan tulisannya ke berbagai perlombaan menulis fiksi dan penerbit. Dia juga membukukan pengalamannya menjadi TKW di Hongkong dalam bukunya yang berjudul Once Upon Time in Hongkong. Namun, Ani kurang beruntung dalam hal itu. Tidak ada satu pun karyanya yang mampu menembus redaksi penerbit maupun memenangi lomba.

Tapi, dia tidak patah semangat. Dia terus berkreasi. Pada semester tujuh, Ani secara tidak sengaja melihat iklan kompetisi film dokumenter amatir Eagle Awards yang diadakan Metro TV. Ani kembali mencoba peruntungan di dunia tulis-menulis dengan membuat proposal film.

Semula Ani malu dengan statusnya yang mantan TKW. Namun, profesi itulah yang justru menginspirasi keikutsertaannya dalam ajang kompetisi film dokumenter tersebut.

“Sebelum itu saya benar-benar berusaha menutup rapat-rapat latar belakang saya yang mantan TKW di Hongkong. Tapi, dari ajang Eagle Awards itu saya malah terpikir untuk mengambil kehidupan TKW sebagai subjek film,” ujarnya.

Dalam film tersebut, Ani memilih berada di balik layar. Dia mendokumentasikan kehidupan rekannya sesama TKW di Hongkong. Tidak disangka, proposal film Ani terpilih. Dia dan Yunni, rekannya, lalu diundang ke Jakarta untuk memfilmkan naskah tersebut. Film yang diberi judul Helper Hongkong Ngampus itu akhirnya berhasil masuk lima besar Eagle Awards 2007.

Selain di Metro TV, film karya perdana Ani bersama temannya tersebut diputar di berbagai event yang berkaitan dengan pemberdayaan perempuan. Nama Ani Ema Susanti makin dikenal luas.

Itu berdampak pada novel Once Upon Time In Hongkong yang awalnya selalu ditolak penerbit. Akhirnya ada yang tertarik menerbitkan. “Mungkin mereka mikirnya lebih mudah promosinya kalau orangnya sudah dikenal,” ujarnya.

Setahun kemudian Ani berhasil menyelesaikan kuliah. Namun, dia tidak mencari pekerjaan sesuai dengan bidangnya. Dia justru ketagihan untuk membuat film lagi. Tidak disangka, dia diundang ke Jakarta guna mengikuti workshop film yang dikelola Ford Foundation. Di bawah bimbingan sineas tenar Nia Dinata, Ani membuat film berjudul Mengusahakan Cinta yang kembali bercerita tentang TKW di Hongkong. Kali ini Ani harus kembali ke Hongkong, namun bukan sebagai TKW, melainkan sineas.

Film pendek yang disatukan dalam film Pertaruhan tersebut juga kembali meraih penghargaan. Tidak tanggung-tanggung, film itu terpilih dalam Festival Film Berlinale di Jerman. Film tersebut juga meraih Best Feature Documenter pada The 2009 Documentary Film Festival.

Dari situ, Ani lantas bergabung dengan proyek Nia Dinata, Kalyana Shira Film. Ibu satu anak itu pun banyak belajar dari sutradara film Arisan 2 tersebut. Dari Nia, Ani belajar menjadi percaya diri, termasuk ketika harus berbicara di depan umum. “Teteh (Nia) banyak membantu saya. Dia juga yang memotivasi saya untuk pede,” ujarnya.

Berbekal kemampuannya membikin film, Ani kemudian direkrut Mizan Production. Dia menjadi asisten produser film-film peraih penghargaan seperti film 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta dan Rindu Purnama. Namun, setelah menikah, Ani memutuskan untuk keluar dari production house (PH) tersebut. Meski begitu, keinginan menulis naskah sekaligus membuat film tak pernah surut.

Karena itu, tak lama kemudian dia memproduksi film dokumenter ketiganya. Kali ini dia mengangkat tema yang berbeda, yakni Donor ASI.

Film tersebut ternyata mendapat apresiasi luar biasa. Lewat film Donor ASI, karya Ani meraih penghargaan sebagai film dokumenter terbaik dalam Festival Film Indonesia 2011. Pada tahun yang sama, Ani membikin film tentang kewirausahaan berjudul Genuine Entrepreneur yang tayang di Metro TV.

Saat ini Ani tengah menyelesaikan film dokumenter yang kelima. Film tersebut berkisah tentang kelahiran bayi secara alami. Ani sengaja memilih tema tersebut karena berkaitan dengan pengalamannya melahirkan anak secara caesar. Padahal, dia sangat ingin bisa melahirkan dengan normal.

“Banyak yang mengatakan kalau kelahiran pertama sudah caesar pasti yang kedua dan ketiga juga caesar. Padahal, tidak selalu. Subjek film saya yang baru ini seorang dokter yang berhasil melahirkan normal setelah dia melahirkan caesar. Jadi, ini tentang konsep melahirkan natural tanpa dibantu intervensi medis,” urainya.

Selain membikin film, beberapa bulan terakhir Ani menjadi koordinator distributor film ke sejumlah festival film internasional. Ada dua PH yang ditangani Ani, yakni Keana Production dan Smaradana Pro Production.

“Saya bertugas mengirimkan film-film dua PH ini ke festival film internasional. Selain film mereka, saya juga mengirimkan karya saya sendiri. Karena itu, saya belum ingin berhenti berkarya,” tandas dia. (*/c10/ari)

Sumber : Jawapos / JPPN

ABIDAH EL KHALIEQY – penyair, novelis, dan cerpenis

Abidah El Khalieqy dikenal sebagai penyair, novelis, dan cerpenis, tinggal di kota budaya (Yogyakarta)—dilahirkan di Jombang, Jawa Timur, 1 Maret 1965. Ia menyelesaikan pendidikan di Fakultas Syariah IAIN Sunan Kalijaga (sekarang UIN). Setamat dari Madrasah Ibtidaiyah, ia melanjutkan sekolah ke Pesantren Putri Modern PERSIS, Bangil, Pasuruan.

Di Pesantren itu, ia mulai belajar menulis puisi dan cerpen dengan menggunakan nama samaran Idasmara Prameswari, Ida Arek Ronopati, atau Ida Bani Kadir. Abidah memperoleh ijazah persamaan dari Madrasah Aliyah Muhammadiyah Klaten. Bakatnya menulis dibuktikan dengan menjadi juara Lomba Penulisan Puisi Remaja Se-Jawa Tengah (1984). Ia aktif dalam Forum Pengadilan Puisi Yogyakarta (1987-1988), Kelompok Diskusi Perempuan Internasional (KDPI) Yogyakarta (1988-1989), dan menjadi peserta dalam pertemuan APWLD (Asia Pasific Forum on Women, Law And Development) 1988.

Karya-karya Abidah berupa puisi, novel, dan cerpen dipublikasikan di berbagai media masa lokal maupun nasional, diantaranya, The Jakarta Post, Jurnal Ulumul Quran, Majalah Horizon, Republika, Media Indonesia, Suara Merdeka,

Kedaulatan Rakyat, Jawa Post, dan lain-lain, serta dikumpulkan dalam berbagai buku antologi (bersama), seperti: Kitab Sastra Indonesia, Angkatan Sastra 2000, Wanita Pengarang Indonesia, ASEANO: An Antologi of Poems Shoustheast Asia, Album Cyber Indonesia (Australia), Selendang Pelangi (antologi perempuan penyair Indonesia), Para Pembisik, Dokumen Jibril (antologi cerpen), Nyanyian Cinta (antologi cerpen santri pilihan), Mikraj Odyssey (antologi cerpen), dan lain-lain. Selain itu, sejumlah puisi dan cerpennya juga terpublikasikan dalam beberapa antologi bersama: Sembilu, Pagelaran, Embun Tajjali, Ambang dan Perempuan Bermulut Api (2009).

Di samping memiliki kemampuan menulis, Abidah juga bisa membaca puisi dengan baik. Ia membacakan karya-karyanya (puisi) di Taman Ismail Marzuki (1994 dan 2000), di sekretariat ASEAN (1998), di Konferensi Perempuan Islam Se Asia-Fasifik dan Timur Tengah (1999), dan dalam acara Internasional Literary Biennale (2007). Mewakili Indonesia dalam ASEAN Writers Conferenc/Workshop Poetry di Manila, Philipina (1995), menjadi pendamping dalam Bengkel Kerja Penulisan Kreatif MASTERA (Majlis Sastra Asia Tenggara, 1997), mengikuti Program SBSB (Sastrawan Bicara Siswa Bertanya) di berbagai SMU di kota besar Indonesia (2000-2005) yang diprakarsai oleh Taufik Ismail, menjadi pemakalah dalam Pertemuan Sastrawan Melayu-Nusantara (2005), dan mengikuti Dialog tentang Sastra, Agama dan Perempuan bersama Camillia Gibs di Kedutaan Kanada (2007).

Penghargaan yang pernah ia peroleh, di antaranya Penghargaan Seni dari Pemerintah DIY (1998), pemenang Lomba Penulisan Novel yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2003), dan dinobatkan sebagai salah satu tokoh muda “Anak Zaman Menerobos Batas” versi Majalah Syir’ah (2004).

Buku-bukunya yang sudah terbit, di antaranya, berupa novel, berjudul Ibuku Laut Berkobar (1987), Menari di Atas Gunting (2001), Atas Singgasana (2002), Genijora (2004), Mahabbah Rindu (2007), dan Nirzona (2008); berupa antologi cerpen dalam bentuk draft, berjudul Jalan Ke Sorga (2007) dan The Heavens Gulf (2008). Selain itu, beberapa cerpennya yang telah dipublikasikan di beberapa harian, seperti Bernas, di antaranya berjudul ”Shappire Pengembara” (10 Mei 1998), dan ”Andainya Aku” (6 Desember 1998); Suara Merdeka, di antaranya berjudul ”Putri Sang Pemimpi” (23 Januari 2011), ”Penjagal Kota Tua” (18 September 2006); Jawa Pos, di antaranya berjudul ”Kamar Dua Belas” (1 April 2012), ”Menunggu Kapak Ibrahim” (29 Januari 2012).

sumber : balaibahasa

Kyai Muhammad Muchtar Mu’thi – Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah

Kyai Muhammad Muchtar Mu’thi adalah Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah beliau putra dari pasangan suami isteri H Abdul Mu’thi bin Kyai Ahmad Syuhada berasal dari Demak dan Nyai Nashihah binti Abdul Karimberasal dari Pati. Di lahirkan di desa Losari, Ploso, Jombang, Jawa Timur, tanggal 14 Oktober 1928. Kyai Muhammad Muchtar Mu’thi adalah anak yang ke 12 dari 17 bersaudara.

Dilihat dari silsilah nasab, Kyai Muhammad Muchtar Mu’thi memang keturunan dari kyai, baik dari pihak ayah maupun dari pihak ibu, tak heran Kyai Muhammad Muchtar Mu’thi sejak kecil telah mendapatkan bimbingan pendidikan ilmu ilmu agama dalam lingkungan keluarganya. Meskipun demikian secara formal Kyai Muhammad Muchtar Mu’thi juga mengenyam pendidikan di madrasah Islamiyah, Ngeloh (sekarang Rejo Agung) kecamatan Ploso.

Selanjutnya, Kyai Muhammad Muchtar Mu’thi belajar di pesantren Rejoso, Peterongan, kemudian dilanjutkan di Pesantren Tambak Beras, Jombang. Sepeninggal ayahnya H Abdul Mu’thi, Kyai Muhammad Muchtar Mu’thi mulai belajar ilmu Tasawuf pada Kyai Muntoha Kedung Macan, Sambong, Jombang. Setelah menempuh pendidikan pesantren Kyai Muhammad Muchtar Mu’thimenjadi guru madrasah di Lamongan, dan pada saat itulah bertemu denganSyeikh Ahmad Syuaib Jamali Al Bateni yang pada akhirnya melimpahkan ilmu Thoriqoh pada Kyai Muhammad Muchtar Mu’thi. Beliau mendapat pendidikan dan pengajaran Thoriqoh dari Sheikh Ahmad Syuaib Jamali Al Bateni dalam crass program atau program intensif lima tahun.Mulai tahun 1959 M Kyai Muhammad Muchtar Mu’thi mengajarkan Thoriqoh Shiddiqiyyah di desa Losari PlosoJombang.

Pada perkembangan terakhir ini, Thoriqoh Shiddiqiyyah sudah tersebar ke berbagai pelosok tanah air Indonesia bahkan ke negara tetangga seperti Singapura, Malaysia dan Brunei Darussalam. Murid murid Shiddiqiyyah terus bertambah setiap hari dan diperkirakan sekarang ini lebih dari 5 juta orang. Mereka terdiri dari segala umur, berbagai tingkat sosial ekonomi dan berbagai profesi dan keahlian.Karena pesatnya perkembangan kaum muslimin muslimat yang memerlukan bimbingan pelajaran Thoriqoh Shiddiqiyyah Kyai Muhammad Muchtar Mu’thisebagai Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah mengangkat wakil wakil yang disebut Kholifah yang bertugas mewakili Mursyid memberikan bimbingan pada murid murid Shiddiqiyyah diseluruh penjuru Nusantara.

Kholifah yang pertama diangkat adalah Slamet Makmun sebagai murid pertama, kemudian di ikuti Duchan Iskandar, Sunyoto Hasan Ahmad, Ahmad Syafi’in, Syaifu Umar Ahmadi, Muhammad Munif dan lain lain hingga lebih dari 40 orang Kholifah.

Biografi singkat pimpinan atau Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah: Kyai Muhammad Muchtar Mu’thi Lahir: Losari Ploso Jombang 28 Agustus 1928 Alamat: Desa Losari Kecamatan Ploso Kabupaten Jombang Jawa Timur. Pendidikan: Madrasah Islamiyah Rejo Agung Ploso Jombang.

Laksamana Madya TNI (Purn.) Hari Bowo, S.E., M.Sc. – Wakasal

Terlahir di Surabaya, Jawa Timur, 11 Juni 1956; umur 61 tahun, masa kecil sampai remaja, dihabiskan di Jombang Jawa Timur, merupakan satu putra Lurah Desa Denanyar Jombang, yang sekarang menjadi purnawirawan perwira tinggi TNI Angkatan Laut lulusan Akademi Angkatan Laut (AAL) tahun 1982. Ia adalah mantan Wakil KSAL sejak 27 Desember 2012 sampai 12 Mei 2014.

Berbagai jabatan strategis pernah diemban oleh lulusan S-2 Tahnas/PKN, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta ini, antara lain Komandan Lantamal I Belawan tahun 2007, Komandan Gugus Tempur Laut Kawasan Barat (Guspurlabar) tahun 2008, Kepala Staf Komando Armada RI Kawasan Barat tahun 2009, Gubernur Akademi Angkatan Laut tahun 2010, Panglima Koarmabar tahun 2010, Asisten Operasi Kasal tahun 2011, dan Koordinator Staf Ahli Kasal tahun 2012.

Saat ini ia menjalani penugasan sebagai Komisaris Utama di PT. PELINDO III… Disela-sela kesibukannya menjadi penasehat Paguyuban Arek-Arek Jombang (Pagerijo) di Jakarta.

Dr. H. Imam Anshori Saleh, S.H., M.Hum. – Wakil Ketua Komisi Yudisial

Berbagai profesi telah dijalani oleh Imam Anshori Saleh, S.H., M.Hum., hingga akhirnya mengantarkannya duduk sebagai Wakil Ketua Komisi Yudisial. Pria kelahiran Jombang pada tanggal 8 Juni 1955, tercatat sebagai peneliti di Lembaga Penelitian dan Penerbitan Yogya (LP3Y) pada tahun 1981-1983, selanjutnya meniti karier sebagai wartawan Kedaulatan Rakyat di Yogyakarta pada tahun 1983-1990 dan jabatan terakhir sebagai Wakil Pemimpin Redaksi.

Pada tahun 1990-2004 memutuskan bergabung di Media Indonesia, Jakarta, dengan jabatan sebagai Redaktur Eksekutif. Pemilu tahun 2004 membawanya duduk sebagai anggota legislatif dari Partai Kebangkitan Bangsa. Setelah menyelesaikan tugas di DPR, tahun 2009, Suami Hj. Dies Fatmawati bekerja sebagai konsultan hukum di Jakarta dan Presiden Direktur sebuah perusahaan pertambangan hingga terpilih sebagai Anggota KY.

Sementara dalam riwayat pendidikan, ia Imam tercatat menyelesaikan pendidikan S1 Fakultas Hukum UGM pada tahun 1980, pendidikan S2 di UGM, dan menyelesaikan studi doktoral di UNPAD.

Cucuk Espe – penyair, eseis, cerpenis penulis naskah drama, dan aktor

Cucuk Espe (lahir di Jombang, Jawa Timur, 19 Maret 1974; umur 43 tahun) adalah penyair, eseis, cerpenis penulis naskah drama, dan aktor berkebangsaan Indonesia yang dikenal produktif menulis di berbagai surat kabar Indonesia dan beberapa jurnal seni di luar negeri. Ia belajar bahasa Indonesia di IKIP Malang, namun kemudian menggeluti sebagai seniman dan mendirikan Teater Kopi Hitam Indonesia.

Cucuk Espe pernah menjadi aktor teater terbaik pada Peksiminas III di Taman Ismail Marzuki Jakarta (1995). Selanjutnya, ia mendirikan dan memimpin Teater Kopi Hitam Indonesia yang telah berpentas di hampir seluruh kota besar di Indonesia. Kini aktivitasnya hanya berteater dan menulis. Juga bersama sejumlah pegiat seni di Jawa Timur menggagas Lembaga Baca-Tulis Indonesia (LBTI), sebuah komunitas nirlaba yang bergerak di bidang kebudayaan (menuju masyarakat makin berbudaya). Sejumlah eseinya sering dipublikasikan di Jawa Pos, Kompas, Republika, Media Indonesia, Lampung Post, Radar Surabaya, Bali Post, Banjarmasin Post, Surabaya Pagi, Harian Bhirawa, danmedia daring

Cucuk Espe pada tahun 2015 aktif dalam gerakan Gugat Ikon Jombang yang dilakukan bersama pemuda-pemuda di Jombang. Gerakan ini dilakukan sebagai protes terhadap Pemerintah Kota Jombang perihal ikon jombang yang menggunakan tower. Warga Jombang menginginkan ikon Jombang menggunakan besut , karena besut merupakan cikal bakal ludruk.

Karya drama/teater

Para Pejabat, (1995)
Monolog Sang Penari, (1997)
Bukan Mimpi Buruk, (1998)
Mengejar Kereta Mimpi, (2001)
Rembulan Retak, (2003)
Juliet dan Juliet, (2004)
13 Pagi, (2010)
Trilogi monolog JENDERAL MARKUS, (2010)
INONG dongeng rumah jalang, (2011)
Wisma Presiden, (2012)
Ganasrev, (monolog-2013)
Puisinolog; MANIVESTO ORGIL, (2014)

Skenario film televisi

Kuda Lumping dari Gunung Sumbing, (TVRI, 1996)
Ketupat Lebaran, (sinema lebaran, 1998)
Perempuan Bukan Perempuan, (IndMovie Festival, SCTV, 1999)
Matahari dalam Selokan, (SCTV Movie, 2001)
Jadikan Aku Perempuan, (IndiePro, 2010)
Mbok, (Rumah Imaji Pictures, 2015)

Novel/cerpen/buku
Bulan Sabit di Atas Kubah (Pustaka Radar Minggu, 2010)
13 Pagi diangkat dari repertoar teater (Pustaka Radar Minggu, 2011)
Ketika Karya Sastra Dipanggungkan (Lembaga Baca-Tulis Indonesia, 2012)
Revolusi Senyap (Harfeey, 2014)
3 Repertoar Cucuk Espe (DJMPublisher, 2014)
Jentir (Kumpulan Cerpen, Rasibook, 2015) [1]
Sejumlah cerpen dan esai yang tersebar di media cetak dalam dan luar negeri

Penghargaan
Aktor Teater Terbaik Peksiminas III di Jakarta (1995)
Cerpenis Terbaik 2 FolkFEST II Desember 2010 di Bangkok, Thailand

18People Reached2Engagements

Jenderal TNI (Purn.) Dr. Moeldoko, S.IP. – KSAD, Panglima TNI, Kepala Staf Kepresidenan.

Jendral Moeldoko, adalah salah satu tokoh Jombang yang menjadi petinggi militer d Indonesia, sebelumnya terlahir KSAU, (Marsekal Rilo Pambudi) KSAL (Laksamana Slamet Subiyanto) , Kapolri (Jendral Timur Pradopo), dan terakhir Jendral Moeldoko, melengkapi matra ketiga yakni TNI AD sebagai KSAD dan menjadi Panglima TNI.. Profil beliau kami masukan menjadi salah satu Legenda Jombang, meskipun beliau adalah orang yang lahir di Desa Pesing, Kecamatan Purwoasri, Kediri.. Beliau masa remajanya dihabiskan di Jombang Jawa Timur, bersekolah di SMPP/ SMAN 2 Jombang, sebelum masuk ke AKABRI.. Bahkan tahun 2016 kemarin membangun Masjid, Islamic Center. Dr. H. Moeldoko di Bandar Kedung Mulyo Jombang.

Dalam kisahnya, Mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Moeldoko pernah mengalami zaman susah. Yakni, saat masa-masa sekolah. Betapa tidak, untuk membayar ongkos angkutan sekolah, Moeldoko harus kucing-kucingan dengan kondektur bus. Dia tak mampu membayar, padahal saat itu onkos angkutan dari Papar, Kediri menuju Jombang hanya Rp 25,.

Belum lagi saat ibu kos melayangkan tagihan bulanan. Moeldoko harus pusing tujuh keliling. Keuangannya kembang kempis. Demikian diceritakan mantan Panglima TNI ini saat meresmikan ‘Islamic Centre Dr H Moeldoko’ di Jl Raya Kayen, Kecamatan Bandar Kedungmulyo, Jombang, Rabu (1/6/2016).

Moeldoko menjelaskan, lokasi Islamic Centre yang di dalamnya terdapat masjid mewah itu sengaja dipilih di kawasan Bandar Kedungmulyo. Pasalnya, lokasi tersebut jaraknya dekat Kecamatan, Purwoasri, Kabupaten Kediri dan juga dekat dengan Kota Jombang. Masing-masing jaraknya hanya 10 kilometer.

Kecamatan Purwoasri, Kediri dan Jombang memang memiliki sejarah tersendiri bagi mantan Panglima TNI. Betapa tidak, Moeldoko dilahirkan di Desa Pesing, Kecamatan Purwoasri. Sedangkan Jombang adalah tempat Moeldoko mengahabiskan masa mudanya. Dia bersekolah di SMPP Jombang (sekarang SMA Negeri 2 Jombang).

“Keluarga saya itu pas-pasan. Makanya saat SMA saya ikut kakak di Jombang. Bahkan untuk membayar ongkos bus Rp 25 saja, saya harus kejar-kejaran sama kondektur. Sampai sekarang saya masih ingat zaman susah itu,” ujar Moeldoko di hadapan ratusan hadirin.

Moeldoko mengungkapkan, atas dasar itu pula dirinya ingin memberikan hal terbaik untuk masyarakat Jombang dan Kediri. Yakni dengan mendirikan komplek Islamic Centre. Dalam komplek tersebut terdapat masjid mewah berarsitek Turki Istambul dengan dua menara tinggi menjulang.

Masjid yang mampu menampung sekitar 1500 jamaah itu berukuran 30X30 meter persegi. Sedangkan luas lahan mancapai 6.685 meter persegi. Bukan hanya itu. Di komplek tersebut juga terdapat sekolah TK dan TPQ berukuran 8X24 meter persegi, serta panti asuhan. Terakhir terdapat tiga unit toko atau pusat oleh-oleh.

Moeldoko menegaskan, seluruh aset tersebut pengelolaannya diserahkan ke Pemkab Jombang. “Kecuali untuk panti asuhan, tetap saya tangani sendiri. Di panti asuhan tersebut terdapat 14 anak yatim. Mereka akan saya sekolahkan hingga tingkat tinggi,” ujarnya.

Berapa anggaran untuk membangun komplek Islamic Centre itu? “Tidak etis kalau saya sebut. Karena anggaran tersebut akan saya pertanggungjawabkan kepada Allah,” ungkap Moeldoko tanpa mau menyebut nominal anggaran dan dari mana sunbernya.

Peresmian masjid itu ditandai dengan pengguntingan pita. Selain Moeldoko, Bupati Jombang Nyono Suharli Wihandoko dan Ketua DPDR Jawa Timur A Halim Iskandar atau Pak Halim, juga ikut serta. Selanjutnya, mereka meninjau sejumlah ruangan di masjid tersebut.

“Mewakili masyarakat Jombang, saya mengucapkan terima kasih kepada Pak Moeldoko, karena telah membangun komplek Islamic Centre di Kecamatan Bandar Kedungmulyo. Selanjutnya, pengelolaan masjid ini akan ditangani pemkab,” ujar Bupati Nyono.

Moeldoko ini merupakan putra bungsu dari 12 bersaudara pasangan Moestaman dan Masfu’ah. Saudara-saudaranya adalah Moesadi, Muhammad Sujak, Poerwono, Suyono, Sugeng Hariyono, Supiyani, dan Siti Rahayu. Ia menikah dengan Koesni Harningsih dan memiliki 2 anak, yaitu: Randy Bimantara dan Joanina Rachmaa.

Moeldoko, lahir di Kediri, Jawa Timur, 8 Juli 1957; umur 60 tahun) adalah tokoh militer Indonesia. Ia pernah menjabat sebagai Panglima TNI sejak 30 Agustus 2013 hingga 8 Juli 2015. Ia juga pernah menjabat sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Darat sejak 20 Mei 2013 hingga 30 Agustus 2013.

Sidang Paripurna DPR-RI pada tanggal 27 Agustus 2013 menyetujui jenderal asal Kediri tersebut sebagai Panglima TNI baru pengganti Laksamana Agus Suhartono.[1] Ia adalah KSAD terpendek dalam sejarah militer di Indonesia seiring pengangkatan dirinya sebagai panglima.[2]

Moeldoko merupakan alumnus Akabri tahun 1981 dengan predikat terbaik dan berhak meraih penghargaan bergengsi Bintang Adhi Makayasa.[3] Selama karier militernya, Moeldoko juga banyak memperoleh tanda jasa yaitu Bintang Dharma, Bintang Bhayangkara Utama, Bintang Yudha Dharma Pratama, Bintang Kartika Eka Paksi Pratama, Bintang Yudha Dharma Nararya, Bintang Kartika Eka Paksi Nararya, Satya Lencana Dharma Santala, Satya Lencana Kesetiaan XXIV tahun, Satya Lencana Kesetiaan XIV tahun, Satya Lencana Kesetiaan VIII tahun, Satya Lencana Seroja, Satya Lencana Wira Dharma, dan Satya Widya Sista.

Operasi militer yang pernah diikuti antara lain Operasi Seroja Timor-Timur tahun 1984 dan Konga Garuda XI/A tahun 1995. Ia juga pernah mendapat penugasan di Selandia Baru (1983 dan 1987), Singapura dan Jepang (1991), Irak-Kuwait (1992), Amerika Serikat, dan Kanada.

Pada 15 Januari 2014, Moeldoko meraih gelar doktor Program Pascasarjana Ilmu Administrasi FISIP Universitas Indonesia, dengan desertasinya berjudul “Kebijakan dan Scenario Planning Pengelolaan Kawasan Perbatasan di Indonesia (Studi Kasus Perbatasan Darat di Kalimantan)”.[4] Ia lulus dan mendapatkan gelar tersebut dengan predikat sangat memuaskan

Pendidikan militer

Akabri (1981) (Lulusan Terbaik – Adhi Makayasa & Tri Sakti Wiratama)
Kursus Dasar Kecabangan Infanteri
Kursus Dasar Para
Susjurpa Jumpmaster
Sus Bahasa Inggris
Sus Kasi Ops
Suslapa-1 Inf
Suslapa Inf
Seskoad (1995) (Lulusan Terbaik)
Sesko TNI (2001)
Susdanrem
Susstrat Perang Semesta
PPRA XLII Lemhannas (2008)

Riwayat jabatan

Danton Yonif Linud 700/BS Kodam VII/Wirabuana (1981)
Danki A Yonif Linud 700/BS Kodam VII/Wirabuana (1983)
Kasi Operasi Yonif Linud 700/BS Kodam VII/Wirabuana
Perwira Operasi Kodim 1408/BS Makassar
Wakil Komandan Yonif 202/Tajimalela
Kasi Teritorial Brigif-1 PAM IK/JS
Komandan Yonif 201/Jaya Yudha (1995)
Komandan Kodim 0501 Jakarta Pusat (1996)
Sespri Wakasad (1998)
Pabandya-3 Ops PB-IV/Sopsad
Komandan Brigif-1/Jaya Sakti (1999)
Asops Kasdam VI/Tanjung Pura
Dirbindiklat Pussenif
Komandan Rindam VI/Tanjung Pura (2005)
Komandan Korem 141/Toddopuli Bone (2006)
Pa Ahli Kasad Bidang Ekonomi (2007)
Direktur Doktrin Kodiklat TNI AD (2008)
Kasdam Jaya (2008)
Panglima Divisi Infanteri 1/Kostrad (2010)
Panglima Kodam XII/Tanjungpura (2010)
Panglima Kodam III/Siliwangi (2010)
Wakil Gubernur Lemhannas (2011)
Wakasad (2013)
KSAD (2013)
Panglima TNI (2013-2015)[6][7]

Riwayat Organisasi

Anggota Dewan Pembina DPP Partai Hanura (2016-2017)
Wakil Ketua Umum DPP Partai Hanura (2017-sekarang)
Ketua Umum HKTI (2017-2020)

Berbagai Sumber : Wikipedia, Berita Jatim dsb

Agus Pramono – Orang Jombang di Balik Rahasia Progam Kick Andy

Sedulur Jombang, pasti pernah menonton tayangan Metro TV yang paling terkenal, siapa kalo tidak kenal KicK Andy.. Tahukah Anda, bahwa ada sosok orang Jombang, dibalik suksesnya tayangan ini.. Iya Mas Agus Pramomo, pria kelahiran Jombang, Jawa Timur, 3 Agustus 1961 ini akrab dipanggil APR atau Mas Agus. Pria yang hobi nonton film dan travelling ini adalah jebolan Sekolah Tinggi Publisistik Jakarta (sekarang Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik/IISIP) .

Agus Pramono mengawali karir di dunia televisi di Anteve. Di televisi swasta itu, Agus bekerja selama sekitar 7 tahun (1993-2000). Di sana, dia pernah menjadi produser program ‘’Planet Remaja’’ dan program fashion and lifestyle ‘’Trend.’’

Pada 2001 dia bergabung dengan MetroTV sebagai produser. Program-program di MetroTV tempat Agus pernah menjadi produser adalah ‘’Metro Malam,’’ ‘’Metro Pagi,’’ ‘’Headline News,’’ ‘’Bidik,’’ dan ‘’Reklame.’’ Agus juga pernah menjadi koordinator peliputan daerah (korda). Dia menjadi produser program ‘’Kick Andy’’ sejak 2006.

Agus mengaku mendapat banyak pengalaman batin selama di Kick Andy. “Melalui Kick Andy saya bisa berbagi dengan sesama dan banyak mendapat pengalaman kehidupan yang luar biasa. ‘Kick Andy’ selalu mengingatkan agar saya tidak sombong dan mau mendengar penderitaan orang lain.” ujar Agus.

Prof Dr Ir H Akhmad Fauzi MT – PR 2 – UPN Surabaya, Guru Besar Termuda – Kopertis Jawa Timur, Ahli Sistem Informasi

Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Jatim kembali menambah jumlah guru besar (Gubes), menyusul dikukuhkannya Prof Dr Ir H Akhmad Fauzi MT sebagai gubes bidang sistem informasi manajemen, Kamis (12/2) hari ini di Gedung Giri Loka. Keberhasilan Fauzi ini membawa kebanggaan sendiri bagi UPN.

Karena pria kelahiran Jombang, 9 Nopember 1965 ini tercatat sebagai gubes termuda yang ditelorkan PTS di Jatim. “Saya sendiri juga tak menyangka ketika Kopertis menyampaikan hal itu,” ujar Prof Fauzi, Rabu (11/2). Di UPN, alumni IKIP Malang (sekarang UM) dan Unibraw ini tercatat sebagai orang kedelapan yang menyandang gelar tertinggi di bidang akademik itu sejak kampus tersebut didirikan 5 Juli 1959 lalu. Dalam pidato pengukuhan pada sidang terbuka senat berjudul Peran Strategis Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Pembangunan di Indonesia, Fauzi menegaskan pentingnya penerapan teknologi berbasis online untuk semua layanan publik pada sistem informasi nasional (Sisfomas).

Tujuannya, untuk menciptakan good governance, sehingga berbagai praktik suap, korupsi, dan percaloan yang kerap terjadi di tempat layanan publik, dapat di putus serta dihilangkan. “Semua layanan masyarakat benar-benar transparan, cepat, dan sesuai aturan. Tidak ada upaya mengolor-olor dan memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan,” tegas bapak dua anak yang juga mantan Kepala Biro Umum UPN ini. Selain untuk kepentingan e-goverment, teknologi informasi dan komunikasi (TIK) juga harus diterapkan untuk e-learning dan e-university.

TIK memudahkan mengolah data, memproses, mendapatkan, menyusun, menyimpan, dan memanipulasinya dalam berbagai cara untuk menghasilkan informasi yang berkualitas, relevan, akurat, serta tepat waktu. Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) ini yakin upaya membumikan pemanfaatan TIK itu dapat terwujud. Sebab, bersamaan dengan peringatan 100 tahun Hari Kebangkitan Nasional 2008 lalu, pemerintah menjadikan momentum dimulainya kebangkitan TIK untuk Bangsa Indonesia.

Prof. Dr. Ir. H. Akhmad Fauzi, M.MT NIP Guru Besar Sistem Informasi
Jabatan : Kepala LPPM UPN “Veteran” Jatim
Keahlian : Management Information System (MIS)
Pendidikan : S-1 Unibraw Malang
S-2 ITS Surabaya
S-3 Unibraw Malang
Sort Course : Cyber education and MIS. Korea Selatan, Malaysia dan Singapura

dengan 9 judul buku Referensi yang Ditulis dan 21 Penelitian tentang Teknologi Informasi
Selain itu Sebagai narasumber tingkat nasional & internasional
Konsultan ICT Kementerian Agama RI
Konsultan Bidang Minergi Kementerian Negara PDT RI
Ketua TUK Sertifikasi Profesi Telematika
Anggota Senat Fakultas dan Universitas
Anggota APTIKOM Jawa Timur
Penghargaan Pemerintah RI : Satyalancana Karya Satya
Pengalaman Pekerjaan : Kajur Teknik Informatika, Kepala Puskom, Kepala Telematika, Dosen PT. Telkom, Dosen UMM, Wartawan Jawa Pos, Anggota MUI Jatim, dll

SUmber : Surabaya Tribunnews, dsb