Edisi kali ini menampilkan salah tokoh muda yang sangat unik, dan langka, karena keahliannya, khususnya dalam bidang Pertahanan / Defence dan Hubungan Internasional di Indonesia.
Edy Prasetyono, lelaki kelahiran Jombang, 21 Maret 1964. Alumni SPGN Jombang ini, adalah salah satu putrra terbaik Jombang, yang mampu menembus salah satu universitas terbaik di Indonesia, tepatnya, di FISIP UI jurusan Hubungan Internasional. Edy Prasetyono, kemudian melanjutkan jejang Master di University of Birmingham UK. Pada tahun 1995, ia mengikuti kursus singkat di National Security Studies di Kiel University Jerman. Pada tahun 1995 juga, ia mengikuti Simposium tentang Kajian Keamanan Asia Timur di AS-Pasifik Komando Hawaii di Amerika Serikat. Dia juga mengikuti program pelatihan di Institut Perdamaian Amerika Serikat, Hanoi, Vietnam.
Tahun 2001 menyelesaikan PhD, di University of Birmingham UK, , dalam bidang Pertahanan Eropa dengan melakukan Riset di Markas Besar NATO di Brussel Belgia, sejak tahun 1999.
Tak ayal, keahlian ini dilirik sama CSIS, sebagai salah satu lembaga kebijakan yang termasyur negeri ini, sebagai Head of International Relations. selain juga mengajar di Departemen Hubungan Internasional Universitas Indonesia sejak tahun 1995, Edy, Prasetyono memiliki beberapa pengalaman kerja. Selama 1990-2008 ia bekerja sebagai peneliti di Pusat Kajian Strategis dan Internasional (CSIS) Jakarta Indonesia. Pada tahun 1991, ia bekerja sebagai tamu tamu di Japan Institute of International Affairs (JIIA) Tokyo Jepang.
Dia bekerja juga sebagai tamu pada 1993 di Pusat Studi Pertahanan Australia, Akademi Angkatan Pertahanan Australia, Universitas New South Wales, Canberra Australia. Sejak 1992/1993 hingga sekarang ia bekerja sebagai dosen tamu di SESKO Angkatan Udara (SESKO-AU) Republik Indonesia. Sejak 1994/1995 ia juga bekerja sebagai dosen di SESKO Tentara Nasional Indonesia (SESKO-TNI) dan SESKO Angkatan Laut (SESKO-AL).
Selama 1994 / 1995-2007 ia bekerja sebagai dewan anggota untuk Kerja Sama Keamanan di Asia Pasifik (CSCAP). Selama 1999-2001 dia bekerja sebagai Editoral Board the Journal of Contemporary Security Policy. Frank Cass, London, Kerajaan Inggris. Selama 2001-2007 ia bekerja sebagai Kepala Departemen Hubungan Internasional di Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS) Jakarta Indonesia.
Sejak 2002 ia bekerja sebagai anggota Kelompok Kerja Indonesia tentang Reformasi Sektor Keamanan, Propatria, untuk merumuskan rencana untuk Undang-Undang Keamanan Nasional. Pada tahun 2002, ia bekerja sebagai anggota kelompok kerja Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bersama dengan SESKO-TNI untuk menyusun Doktrin Milataris (TNI).
Pada tahun 2003/2004 dia bekerja di kelompok kerja untuk menyusun Rancangan Undang Undang Tentang TNI . Pada tahun 2003/2004 dan 2007/2008 dia bekerja sebagai anggota kelompok kerja untuk membuat Peninjauan Kembali Pertahanan (Defence Review) di Departemen Pertahanan Republik Indonesia.
Pada 2003/2004 ia bekerja sebagai anggota kelompok kerja untuk menyusun Undang-undang Pertahanan Departemen Pertahanan Republik Indonesia. Pada tahun 2005/2006 ia adalah Kepala Kelompok Kerja Reformasi Intelijen, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik PACIVIS, Universitas Indonesia. Pada tahun 2008 ia bekerja sebagai anggota kelompok kerja “Restrukturisasi Bisnis Militer” di Institut Indonesia. Pada tahun 2006 ia menjadi Ketua Tim Peneliti “Pertahanan Indonesia di Abad ke-21”.
Pada 2007 dia menjadi dosen di Sekolah Strategi Perang Semesta SESKOAD Bandung Jawa Barat Indonesia. Dia juga memberikan beberapa dosen umum di seminar dan diskusi terutama di Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhanas atau Insitut Pertahanan Nasional), Departemen Pertahanan Republik Indonesia, dan Departemen Luar Negeri Republik Indonesia.
Berturut-turut pada tahun 2003 Edy Prasetyono diberi penghargaan “Satya Lencana Dwidya Sistha” dari Markas Besar Tentara Angkatan Laut Republik Indonesia dan Pada ada tahun 2004 ia juga diberi penghargaan Satya Lencana Dwidya Sistha dari Mabes TNI. Puncaknya, pada tahun 2012, Presiden Republik Indonesia memberikan penghargaan “Satya Lencana Dwidya Sistha.
Setelah bertahun tahun mengabdi di CSIS, keinginan untuk full mengajar di almamaternya, mendorongnya kembali ke FISIP UI jurusan Hubungan International, bahkan Karirnya melesat menjadi Wakil Dekan FISIP UI.
Pria kelahiran Desa Sumberagung Kecamatan Megaluh ini, ketika kecil Edy Prasetyono mengaku sering diceritai banyak kisah perjuangan heroik oleh sang bapak. Tidak hanya cerita pertempuran yang benar terjadi atau malah dialami sendiri oleh bapaknya, tetapi juga beberapa kisah pewayangan yang sarat nilai dan pesan moral.
Orangtua Edy seorang purnawirawan perwira Angkatan Darat yang memulai karier kemiliteran dari Tentara Republik Indonesia Pelajar dan terakhir berdinas di Komando Daerah Militer V Brawijaya.
Dari sekian banyak cerita, ada satu episode kisah pewayangan yang sangat menggugah dan terus diingat oleh dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia itu, bahkan sampai sekarang.
Cerita soal dilema tokoh pewayangan Kumbakarna sesaat sebelum maju ke medan pertempuran memerangi Raja Ayodhya, Rama, yang istrinya, Dewi Sita, diculik kakak Kumbakarna, seorang raja raksasa, Rahwana alias Dhasamuka.
Peperangan itu menjadi dilematis, terutama karena Kumbakarna sadar perang disebabkan alasan yang salah. Namun, di sisi lain, dia tetap harus membela dan mempertahankan bangsa serta tanah airnya dari serangan negara lain. Kumbakarna pun sempat memperingatkan Rahwana soal itu.
Menurut Edy, loyalitas dan heroisme Kumbakarna identik dengan prajurit TNI, termasuk bapaknya sendiri, yang semasa aktif juga terlibat dalam pertempuran membasmi pemberontakan di sejumlah wilayah RI.
Meski begitu, dilema yang dihadapi sekarang oleh para penjaga kedaulatan bangsa dan negara tentunya berbeda dan sangatlah kompleks dari sekadar dilema yang dipaparkan dalam kisah Kumbakarna di epik Ramayana tadi.
Sebagai seorang “anak kolong”, Edy mengaku paham benar persoalan kesejahteraan menjadi masalah utama yang konkret dan dihadapi sehari-hari oleh prajurit TNI, terutama berpangkat rendah, beserta keluarganya.
Kendala yang terutama disebabkan minimnya kemampuan negara dalam mengalokasikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara untuk keperluan pertahanan dimafhumi menjadi akar persoalan masih rendahnya kesejahteraan prajurit TNI hingga saat ini.
Tak Terhitung research paper yang telah dipubilkasikan, ini beberapa diantaranya.
1. Edy Prasetyono, 2010, “Transnational Threats: Its Nature, Impacts, and How to Deal With”, Indonesian Social Science Review, Vol. I, No. 2.
2. Edy Prasetyono, 2008, “Energy Security: An Indonesian Perspective”, in A. Marquina (ed.), Energy Security: Visions from Asia and Europe (New York and Basingstoke, UK: Palgrave Macmillan).
3. Andi Widjajanto and Edy Prasetyono, 2009, “Penguatan Komunitas Keamanan ASEAN untuk menopang Integrasi Nasional Indonesia” [“Strengthening ASEAN Political and Security Community to Support Indonesia’s National Integration], Research Project from the Directorate of Research and Community Service, Universitas Indonesia [DRPM UI].
4. Edy Prasetyono, 23 October 2009, “PR Departemen Pertahanan” [‘Homework of the Department of Defense”], Kompas Daily Newspaper.
5. Edy Prasetyono, 26 August 2009, “Mengapa Malaysia” [“Why Malaysia”], Kompas Daily Newspaper.
Sistem Keamanan Nasional Indonesia: Aktor, Regulasi, dan Mekanisme Koordinasi, a book co-authored with Ali A. Wibisono, Dwi Ardhanariswari, Broto Wardoyo and Makmur Keliat, 2008, Jakarta: Pacivis.
6. Edy Prasetyono, 11 March 2008, “DK PBB dan Nuklir Iran” [“UN Security Council and Iranian Nuclear”], Kompas Daily Newspaper.
Sumber : FISIP UI, CSIS, Tokoh ID, dan beberapa sumber lainnya