MS. Hidayat – Ketua KADIN, Menteri Perindustrian 2009-2014

Mohamad Suleman Hidayat (lahir di Jombang, Jawa Timur, 2 Desember 1944; umur 73 tahun), adalah seorang politikus Indonesia yang pernah menjabat sebagai Menteri Perindustrian Indonesia dari 22 Oktober 2009 hingga 20 Oktober 2014. Sebelumnya ia menjabat sebagai Ketua KADIN sejak 2003. hingga 2013.

Dia memperoleh gelar S1 dari Fakultas Ekonomi dan bisnis Universitas Padjadjaran. Karena ingin menfokuskan diri di jabatan Menteri Industri, jabatan ketua Kadin dilepas dan digantikan oleh Adi Putra Darmawan Tahir pada tahun 2010. Sebelumnya ia juga pernah menjabat sebagai ketua Real Estate Indonesia (1989 – 1992) dan wakil ketua Federasi Real Estate Asia Pasifik (Asia Pacific Real Estate Federation/APREF)[2], dan juga sebagai anggota komisi keuangan dan perbankan DPR pada periode 2004-2009.

DR Machfud Sidik, MSc. – Dirjen Pajak 2000-2001

Tidak hanya Mentri, atau petinggi Militer dan Penegak Hukum seperti Kepolisian, Kejaksaaan. Jabatan Dirjen Pajak juga pernah ditampuk oleh salah satu putra terbaik Jombang, meski dalam waktu yang cukup singkat, di era kabinet Presiden Abdurahman Wahid..

DR. Machfud Sidik. MSc. putra kelahiran Jombang 18 Agustus 1946 adalah Lulusan Unair, yang melanjutkan S1 Extension di FE UI, , Master dari Carnegie Mellon University, Pittsburgh, Pennsylvania, Amerika Serikat dan Doktor Ekonomi dari UGM. Machfud Sidik menikahi, Ny Hj Siti Komariyanah; wanita kelahiran di Klaten 25 September 1951, Dari hasil pernikahannya, mendapatkan 3 orang anak, yani Dahlia Erlani, SE; Lahir di Surabaya 28 Maret 1974 (Kawin), Yan Ari Nugroho, SE, MM; Lahir di Klaten 4 Januari 1977 (Kawin) dan Muh. Kemal Basya, SE; Lahir di Klaten 5 Mei 1978 (Klaten).

Machfud Sidik adalah pejabat Karir dari Kementrian keuangan yang mengawali jabatannya sebagai Staf Direktorat Jenderal Moneter sampai dipuncak karirnya menjadi Dirjen Pajak di tahun 2000-2001. Selain menjadi mengajar di berbagai perguruan Tinggi juga menjadi Komisaris di berbagai BUMN, saat ini menjadi Komisaris di Pelindo III Surabaya.

Sensei H. Sugeng Pramono – Tokoh Karateka Nasional dari Jombang

Sukses di masa lalu akan membantu setiap orang untuk memotivasi kesuksesan di masa mendatang. Setidaknya, kenyataan inilah yang berlaku pada sosok H. Sugeng Pramono. Karena kecintaannya terhadap seni bela diri memang sudah tumbuh sejak kecil, maka apa yang dicita-citakannya pun kini sudah ada dalam genggaman.

Kecintaannya pada seni bela diri ini justeru mendorong Sugeng untuk terus mendedikasikan diri di dunia yang baginya penuh tantangan.

Banyak pengalaman yang diperolehnya selama menggeluti dunia yang satu ini. Bahkan, saat usianya baru 7 tahun Sugeng sudah tercatat sebagai murid di Indonesia Karate-Do (INKADO) Jombang. Karena kecerdasannya, waktu itu ia sudah sempat melatih beberapa Dojo di Jombang dan Kediri.

Kecintaannya pada ilmu bela diri pula yang kemudian membawanya melihat dunia luar. Ceritanya, dalam suatu turnamen pencak silat, Sugeng dapat menunjukkan kemampuannya bertarung menghadapi lawan dengan mata tertutup. Sejumlah media cetak kemudian memberitakan kehebatan anak muda ini. Salah satunya adalah majalah Liberty yang juga beredar di negeri jiran, Malaysia.

Berkat pemberitaan di majalah tersebut, Sugeng akhirnya bertemu dengan seseorang yang berwarga negara Malaysia yang ketika itu merintis Perguruan Pencak Silat Tenaga Dalam yang berpusat di Kuala Lumpur Malaysia.

Di penghujung 1996 Sugeng pulang ke Tanah Air, setelah menglanglang buana ke sejumlah negara, termasuk Cina dan Tibet, untuk memperdalam ilmu bela diri. Ia lalu membuka perguruan tenaga dalam di Jakarta. Banyak muridnya yang berasal dari kalangan anggota kepolisian dan TNI.

Waktu itu namanya sudah mulai dikenal luas. Namun, karena sadar bahwa untuk mencapai puncak dirinya harus melalui anak tangga dan terus menerus naik, maka ia pun menyusun rencana untuk mencapai puncak yang diinginkannya.

Walau hidupnya telah berubah menjadi seorang pengusaha sukses, kecintaan Sugeng pada seni bela diri tidak pernah pupus. Di tengah waktu luang, ia masih sering melanglang ke berbagai negara untuk mengenal bela diri yang ada di negara-negara tersebut. Sampai akhirnya ia berkunjung ke Jepang dan langsung jatuh cinta pada seni bela diri Kyokushinkaikan, perguruan karate terbesar di negeri Matahari Terbit.

Dengan percaya sepenuhnya bahwa setiap rencana yang telah disusun akan memberikan arah langkah yang pasti, H. Sugeng Pramono yang sebelumnya telah meraih Sabuk Hitam berupaya agar bisa membuka perguruan Kyokushin karate di Indonesia. Secara pribadi dirinya melihat aliran karate ini kurang berkembang di Tanah Air. Padahal, aliran ini sudah demikian terkenal dan tersebar di 125 negara, dengan lebih dari 12 juta anggota di seluruh dunia serta memiliki agenda turnamen tersendiri.

Berkat perjuangannya dan dukungan dari pihak Pengurus Daerah (PENGDA) DKI yang lama, Tanggal 23 Februari 2008 di Hotel Mulia Senayan, Jakarta. H. Sugeng Pramono dikukuhkan sebagai Branch Chief Indonesia yang baru oleh Kancho Shokei Matsui, selaku Presiden International Karate Organization (I.K.O.). Dengan pengukuhannya ini, ia bertekad akan mengembangkan Kyokushin di seluruh Tanah Air, disamping juga bertekad lebih memperkenalkan Indonesia lewat cabang olah raga ini. Dengan nama Perguruan Bela Diri Tangan Kosong I.K.O. Kyokushinkaikan Indonesia.

Dan setelah H. Sugeng Pramono menjadi Branch Chief, banyak warga Kyokushin Karate Indonesia menyatakan Deklarasi bergabung dengannya. Diantaranya Kyokushin PENGDA Bali, Jawa Tengah, Jawa Barat, Daerah Istimewah Jogjakarta, Kalimantan Sumatera Utara dan terus berkembang dengan pesat.

Sugeng meyakini, bila seseorang memandang dirinya besar, maka dunia terlihat luas, dan kitapun bisa melakukan hal – hal penting dan berharga.“Tindakan anda adalah cermin bagaimana anda melihat dunia, sementara dunia anda tidak lebih luas dari pikiran anda tentang diri anda sendiri. Itulah mengapa kita diajarkan untuk berprasangka positif pada diri sendiri, agar kita bisa melihat dunia lebih indah, dan bertindak selaras dengan kebaikan – kebaikan yang ada dalam pikiran kita”. tekad pria kalem ini.

Karena itulah, menurutnya, setiap orang perlu jujur melihat dirinya sendiri dengan apa adanya. Sebab, dengan kejujuran dunia pun akan menampakkan realitanya yang tersembunyi.

Ketekunan dan kesabaran jika digabungkan akan menjadi modal yang sangat besar untuk eraih sukwes. Kenyataan inilah yang dibuktikan oleh H. Sugeng Pramono.

Sumber :www.ikokyokushinkaikan-indonesia.com

30People Reached4Engagements

Halim Mahfudz – Sekjen PSSI

Tidak cuma, dunia militer, birokrasi, dunia Olahraga, putra terbaik Jombang juga pernah menduduki jabatan bergengsi di dunia keolahragaan sebagai Sekretaris Jendral PSSI, olahraga yang paling digemari di seluruh Indonesia. Iya. lengkapnya pria kelahiran Jombang ini, Abdul Halim Mahfudz..adalah pendiri sekaligus CEO, Halma Strategic, sebuah perusahaan konsultan Public Relations yang fokus pada crisis management dan reputation management.

Sebelumnya pernah berkarir dan bergabung dengan televisi berlangganan Astro (2006), Partnership for Governance Reform (Kemitraan) (2004), Standard Chartered Bank (2000), Coca-Cola Indonesia (1997) , Burson-Marsteller (1996, perusahaan PR terbesar dan The Asia Foundation (1995). Halim lulusan Cornell University, Ithaca, New York.

Halim bukanlah sosok yang asing bagi PSSI. Halim dinilai sebagai motor perubahan dalam iklim sepakbola nasional. Halim adalah sosok dibalik keberhasilan kompetisi Liga Primer Indonesia (LPI), yang disebut-sebut berhasil menggaet konsorsium dan beberapa sponsor besar seperti Microsoft, Coca Cola, dan juga Astro Asia sehingga beberapa pertandingan LPI saat itu disiarkan pula oleh televisi berbayar asal Malaysia tersebut.

Halim Mahfudz sangat berpengalaman dalam bidang public relations. Saat masih di Astro, Halim-lah yang memperjuangkan hak dan nasib para pelanggan Astro, serta karyawan Direct Vision yang sempat terlantar karena ketidakjelasan nasib mereka setelah PT. Direct Vision tidak lagi menjalankan kegiatan usaha penyiaran televisi berbayar Astro sejak 20 Oktober 2008.

Kesibukannya saat ini selain mengurus perusahaan konsultannya, juga sebagai Mudir Pengembangan Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur.

Diolah Dari berbagai Sumber

DR. Tjuk Kasturi Sukiadi :Organisator Dan Provokator

Legenda Jombang kali ini menurunkan Profile dari salah satu Tokoh yang malang melintang di dunia pergerakan, bisnis dan pendidikan. Di Jawa Timur, tokoh ini sangat dikenal, Beliau adalah Tjuk Kasturi Sukiadi dikenal sebagai seorang yang teguh dalam pendirian dan idealisme. Sejak muda, tepatnya pada tingkat usia SMP dia sudah berkiprah diorganisasi dan berperan aktif didalamnya.

Dr Tjuk Kasturi Sukiadi atau biasa disapa Pak Tjuk yang saat ini masih tetap mengajar sebagai dosen di Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya sejak tahun 1976 silam.

Menurut Pak Tjuk lulusan SMAN Jombang 1958 ini, idealisme nasionalis dia ditempa saat bergabung dengan GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia) pada tahun 1963 pada waktu itu dia masih Mahasiswa Fakultas Ekonomi Unair notabene saat ini tempat dia mengajar.

“Saya menjadi pengurus pertama dalam organisasi GMNI yakni sebagai Sekretaris Komisariat,” katanya. Pak Tjuk adalah tokoh utama yang menggerakan arus reformasi di Jawa Timur.Karena dia sebagai motor penggerak Mahasiswa untuk mengawal proses reformasi.

“Karena idealisme tadi dan ingin adanya perubahan di negeri ini pada era reformasi , saya sempat mau ditangkap Kodam V/Brawijaya,” urainya.

Pada jaman Orde Baru dia sempat bekerja di PTP dan pada jaman tersebut dia diidentifikasi oleh rezim saat itu adalah orang GMNI sehingga kariernya terhambat. Dan saat dia bekerja di PTP, Pak Tjuk dengan idealismenya mendirikan Serikat Pekerja yang mengakibatkan dirinya diawasi secara ketat oleh rezim yang berkuasa saat itu.

“Sampai akhirnya saya mengundurkan diri dari PTP daripada mengorbankan idealisme saya,” cetus dia.

Diketahui, Pak Tjuk juga pernah menduduki jabatan Komisaris Utama BUMN diantaranya PT Jamsostek dan PT Semen Gresik.
Pernah menjabat sebagai Komisaris Independen dan Ketua Komite Audit PT. Semen Gresik dan merupakan dosen tetap Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga, Surabaya. Beliau juga aktif di lembaga sosial, seperti Yayasan Indonesia Forum (YIF) dimana beliau dipercaya sebagai Wakil Ketua

Selain itu, berdasarkan catatan dia, sampai hari ini masih memberikan kritikan dan pendapat tentang lumpur Lapindo serta penggalang dukungan penolakan penjualan saham 51% PT Semen Gresik.

Melalui Gerakan Menutup Lumpur Lapindo (GMLL) yang juga diprakarsai Tjuk Kasturi Sukiadi bersama Gus Sholahudin dan purnawirawan Letjen (marinir) Suharto, mengajukan permohonan judicial review ke Mahkamah Konstitusi. Ketiganya mempersoalkan Pasal 18 Undang-Undang Anggaran Pendapatan Belanja Negara Perubahan (APBNP) yang memberikan alokasi anggaran negara untuk penanganan lumpur Lapindo

Yang terbaru, Tjuk juga aktif menggalang kekuatan rakyat terpinggirkan dalam pemilihan walikota Surabayan beberapa tahun silam. Waktu itu, dirinya bersama berbagai komponen masyarakat dan aktifis eks 98 mencalonkan walikota Independen yaitu Fitradjaya dan Naen.

“Walau kalah setidaknya itu adalah suatu pembelajaran politik bagi kita semua. Hoby saya itu memang berorganisasi dan provokasi,” imbuhnya sambil tertawa lepas.

Sementara itu, didalam keluarga Pak Tjuk adalah seorang yang bertanggungjawab dan teguh pendiriannya. Beliau mempunyai 4 orang anak yakni 1 putra dan 3 orang putri serta 7 orang cucu.(Jto/nas)

Sumber : Suara Kawan dan ditambah dari berbagai sumber lain

Sinta Nuriyah, masuk daftar ‘100 Orang Paling Berpengaruh di Dunia’ versi majalah Time 2018.

Sedulur Legenda Jombang, Kabar baik datang dari salah satu Putri Terbaik Jombang, Istri presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Sinta Nuriyah, masuk daftar ‘100 Orang Paling Berpengaruh di Dunia’ versi majalah Time. Sinta menjadi satu-satunya orang Indonesia yang masuk daftar tersebut.

Pada edisi Time 100 Most Influential People tahun ini, majalah ternama Amerika Serikat itu memilih sejumlah tokoh, termasuk seniman, aktivis, pemimpin, dan visionaris.

Dirilis majalah Time, Jumat (20/4/2018), Sinta masuk kategori ‘icons’ di daftar tersebut. Jurnalis keturunan Mesir-Amerika, Mona Eltahawy, menulis sosok Sinta sebagai feminis muslim yang memiliki perhatian soal keberagaman agama di Indonesia.

“Sinta Nuriyah mengibaratkan keanekaragaman agama Indonesia sebagai taman bunga. Ada mawar, melati, anggrek. Semua bunga itu indah. Tidak ada yang bisa memaksa mawar menjadi melati atau anggrek,” tulis Eltahawy.

“Dalam beberapa tahun terakhir, kelompok Islam garis keras membuatnya semakin sulit untuk ke taman itu. Namun dia tidak gentar. Dia mengerti bagaimana agama yang dipolitisasi sangat kejam terhadap wanita dan minoritas,” lanjut Eltahawy tentang sosok Sinta.

Nama Sinta bersanding dengan tokoh lainnya, seperti Daniela Vega, Jennifer Lopez, Rihanna, Tarana Burke, dan Kesha di kategori ‘icons’.

Sebelumnya, majalah Time juga menobatkan Presiden Joko Widodo sebagai orang paling berpengaruh di dunia pada 2015. SBY juga pernah masuk daftar ini pada 2009.

Buat Sedulur Legenda Jombang, yang belum mengetahui profile Ibu Sinta Nuriyah Wahid, tak bisa dipisahkan dengan suaminya Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Aktivitasnya terlihat sejak mendampingi Gus Dur sebagai aktivis, pemikir, ketua PBNU, hingga menjadi Presiden RI ke-4. Meskipun Gus Dur telah meninggal, Sinta tetap konsisten seperti suaminya yang selalu menyuarakan Hak Asasi Manusia, pemberdayaan perempuan, dan kebebasan beragama.

Perempuan kelahiran Jombang, 8 Maret 1948 ini menikah denganm Abdurrahman Wahid pada tanggal 11 September 1971 dan dikaruniai 4 anak; Alissa Qotrunnada Munawaroh (Lissa), Zannuba Arifah Chafsoh (Yenny), Anita Hayatunnufus (Nita), Inayah Wulandari (Ina).

Sinta dibesarkan dalam lingkungan pesantren. Bahkan pendidikan dasar hingga menengah tak jauh dari lingkungan agama. Puncaknya, ia mengikuti pendidikan pesantren mualimat khusus perempuan.

Memasuki usia remaja. Dia dijodohkan dengan anak kiai besar Nahdlatul Ulama (NU) Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Kisah cinta Sinta dengan Abdurrahman Wahid ini menarik. Gus Dur merupakan gurunya ketika belajar di Muallimat. Mereka dijodohkan oleh Kiai Fatah, pamannya Abdurrahman Wahid. Gus Dur segera mengiyakan tawaran itu. Namun, Sinta belum bersedia lantaran trauma dengan salah seorang guru yang pernah meminangnya ketika dia masih berusia 13 tahun.

Celakanya, nama guru itu juga Abdurrahman. Namun, akhirnya Sinta mulai simpati kepada Gus Dur setelah saling berhubungan melalui surat, melalui surat-surat itulah Sinta bisa mengetahui kepribadian Gus Dur yang lembut dan tajam pikirannya.

Setelah sekian lama bertukar surat, Gus Dur pun melamarnya, namun Sinta masih bimbang, tapi lama-lama kelamaan akhirnya dia memutuskan menerima Gus Dur sebagai teman hidupnya. Pada pertengahan 1966, Gus Dur meminangnya, dan keduanya lalu bertunangan.

Dua tahun kemudian, September 1968, Gus Dur akhirnya menikahi Sinta. Tapi pernikahan keduanya bisa dibilang unik. Sebab Gus Dur berada jauh di Kairo, Mesir, sekitar 12.000 kilo meter dari Jombang, Jawa Timur, Indonesia, tempat Sinta Nuriyah berada. Karena Gus Dur tidak bisa datang saat pernikahan, akhirnya dia diwakili kakeknya, Kiai Bisri Syansuri yang berusia 81 tahun dan membuat heboh tamu undangan.

Keduanya sepakat bakal menikah lagi setelah sama-sama lulus kuliah. Dan benar saja, sepulang dari Mesir, yang pertama dilakukan oleh Gus Dur adalah nikah lagi dengan gadis yang dicintainya Sinta Nuriyah.

Semasa muda Sinta pernah berprofesi sebagai wartawan di Majalah Zaman antara tahun 1980-1985 dan berhenti karenaa majalahnya ditutup. Lalu berpindah membantu Syu’ban Asa di majalah TEMPO.

Ia aktif sebagai aktivis yang memperjuangkan hak-hak perempuan dan bergabung dalam beberapa organisasi, yaitu menjadi anggota Kongres wanita Indonesia (Kowani) dan anggota Komite Nasional Kedudukan wanita Indonesia (National Commission on the Status of Women).

Aktivitas Sinta tak jauh berbeda dengan suaminya yang lebih super sibuk lagi dalam hal berorganisasi. Sinta selalu mendampingi suaminya dengan setia. Tak hanya menjaga fisik, tapi juga ikut membantu dan memahami pemikiran-pemikiran Gus Dur yang acap kali dibilang “kontroversial”.

Mulai mendampingi Gus Dur sebagai aktivis, pemikir, ketua PBNU, hingga menjadi Presiden RI ke-4. Sinta tetap konsisten seperti suaminya yang selalu menyuarakan Hak Asasi Manusia, pemberdayaan perempuan, dan kebebasan.

Bersama organisasi-organisasi perempuan, seperti ditulis di situs yayasannya, Sinta mendirikan Yayasan Puan Amal Hayati yang memiliki arti “Pesantren Untuk Pemberdayaan Perempuan” pada 3 Juli 2000, namun baru beroperasi pada tahun 2001, untuk menghindari menghindari kemungkinan timbulnya persepsi buruk di masyarakat, sebab tidak mau dikatakan memanfaatkan kedudukan Ibu Negara untuk mendirikan yayasan.

Sinta tak hanya bersuara untuk orang lain, tapi dia juga tetap mengembangkan dirinya dengan kuliah hingga S2. Ia berhasil menyelesaikan jenjang S2 pada Program Studi Kajian Wanita Universitas Indonesia pada 1999. Pada saat semester 4 sempat mengalami kecelakaan lalu lintas yang menyebabkannya harus banyak beraktivitas di atas kursi roda, namun tak menyulutkan semangatnya untuk menyelesaikan pendidikannya.

Bahkan setelah suaminya wafat, Sinta tetap seperti yang dulu. Dia tak pernah lelah menyuarakan kebebasan beragama dan membela hak-hak konstitusional kelompok minoritas. Sinta diapresiasi sebagai srikandi pemberdayaan perempuan.

KELUARGA 
Nama Suami : Abdurrahman Wahid 
Anak : Alissa Qotrunnada Munawaroh (Lissa) 
Zannuba Arifah Chafsoh (Yenny)
Anita Hayatunnufus (Nita)
Inayah Wulandari (Ina)

PENDIDIKAN
SD, Jombang
SMP, Jombang
Mualimat, Jombang
Program S-2 Studi Kajian Wanita, Universitas Indonesia, Depok

KARIER
Wartawan di Majalah Zaman, 1980-1985 
Pendiri dan Pimpinan Yayasan PUAN Amal Hayati, 2000 
Anggota Kongres wanita Indonesia (Kowani) 
Anggota Komite Nasional Kedudukan Wanita Indonesia (National Commission on the Status of Women).
Ibu Negara, 1999-2001

Sumber : Detik.com & Viva.co.id

Mengenal Dr Angka Nitisastro – Pendiri Institut Teknologi Sepuluh November – Surabaya, dokter berdarah Jombang.

Dr. Angka Nitisastro, mempunyai kesejarahan dengan Tokoh pendiri NU, beliau adalah dokter terakhir yang menangani KH Hasyim Asy’ari (pendiri organisasi Nahdlatul Ulama) sebelum sang kyai wafat. Cerita tentang Dr, Angka Nitisastro ini berasal dari putranya, Kyai Yusuf Hasyim yang waktu itu sedang berada di markas tentara pejuang, kemudian dapat hadir dan mendatangkan dokter, yakni dr. Angka Nitisastro.

Setelah diperiksa, barulah diketahui bahwa Mbah Hasyim mengalami pendarahan otak (asemblonding) yang sangat serius. Walaupun dokter telah berusaha mengurangi penyakitnya, namun Tuhan berkehendak lain. Hadhratus Syaikh KH. M. Hasyim Asy’ari akhirnya wafat pada waktu sahur (pukul 03.00 dini hari) tanggal 07 Ramadhan 1366 H (25 Juli 1947)

Tetapi tahukah Anda semua, bahwa Dr, Angka Nitisastro adalah adalah seorang dokter yang tidak mempunyai latar belakang pendidikan teknik, namun berani mendirikan perguruan tinggi teknik.yang saat ini dikenal sebagai Institut Sepuluh November Surabaya

Beliau adalah anak ke 3 dari 7 bersaudara. Berasal dari keluarga seorang duru di zaman kolonial, Ayahnya, Nitisastro, akhirnya pensiun sebagai penilik Sekolah Rakyat (sekarang SD) di Jombang. Sang ayah juga dikenal sebagai seorang aktivis Partai Indonesia Raya (Parindra) yang menggerakkan Rukun Tani. Beberapa saudaranya menolak bekerja untuk pemerintah kolonial Belanda dan menjadi guru Taman Siswa.

Ide mendirikan ITS itu terjadi saat para insinyur yang tergabung dalam PII (Persatuan Insinyur Indonesia) Jawa Timur mengadakan lustrum pertama tahun 1957. Adapun tanah yang ditempati oleh ITS merupakan sumbangan dari tokoh pejuang kemerdekaan a.l Mbah K.H. Yahya Hasyim (alm) dan Mbah K.H. Ridwan Abdullah (alm) yang dimakamkan di Makam Tembok di jln. Semarang, Surabaya. didukung oleh Soedjasmono dan Roeslan Abdulgani

Waktu itu dr. Angka Nitisastro, bersama dengan insinyur-insinyur PII cabang Jawa Timur, memutuskan untuk mewujudkan berdirinya sebuah Yayasan Perguruan Tinggi Teknik (YPTT), tepatnya tanggal 17 Agustus 1957. Sebagai penghargaan kepada penggagas, para insinyur anggota PII itu mempercayakan kepada dr. Angka Nitisastro sebagai ketua YPTT tersebut. Selain itu Dr. Angka Nitisastro juga aktif di Taman Siswa Surabaya. Beliau menjadi rektor dari tahun 1960-1964.

Waktu itu, tempat kuliah yang masih terpencar di banyak tempat, hingga Kampus Sukolilo, adalah buah usaha dr Angka bersama anggota Yayasan lainnya.

Alasan pokok pendirian yayasan waktu itu, antara lain dinyatakan bahwa kebutuhan tenaga insinyur sekitar 7000 untuk melaksanakan program-program pembangunan dan industri di dalam negeri. Melihat perbandingan dengan jumlah insinyur di negara maju dan berkembang lainnya jumlah insinyur di Indonesia jauh ketinggalan.

Tahun 1957, YPTT mendirikan “Perguruan Teknik 10 Nopember Surabaya.Tiga tahun kemudian, tepatnya 10 November 1960 diresmikan oleh presiden Soekarno. Saat diresmikan, Perguruan Tinggi Teknik 10 Nopember Surabaya baru memiliki dua jurusan yaitu, Jurusan Teknik Sipil dan Jurusan Teknik Mesin.

Untuk mempertahankan sejarah pemberian nama awal, kata “Nopember” dalam kepanjangan ITS tidak diubah menjadi “November” sebagaimana kosakata yang baku dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Dr. Angka Nitisastro, almarhum dikebumikan di Jombang, Jawa Timur, menurut penuturan kerabatnya, saat ini Keluarga Nitisastro sangat disiplin dalam mendidik anak-anaknya, sampai-sampai uang pengeluaran untuk anak-anaknya harus detail di gunakan untuk membeli apa, jika ingin berpergian jauh harus di jelaskan mau naik apa dan nanti habis berapa, untuk bekal pun harus di bawa dari rumah dan tidak boleh beli di jalan.

Rumah keluarga Nitisastro di Jombang hingga kini masih dihuni keturunan guru tersebut. Adiknya dikenal sebagai arsitek Ekonomi Orde Baru, Prof, Widjojo Nitisastro. Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional periode 1971-1973 dan Menteri Koordinator Bidang Ekonomi dan Keuangan sekaligus merangkap sebagai Ketua Bappenas pada periode 1973-1978 dan 1978-19

Rumah yang ditempati saat ini belum di rehab, bentuknya masih sama dengan dulu. Hanya atapnya saja yang di perbarui karena kayu-kayu rusuknya sudah tua dan perlu di ganti dengan yang baru yang mana tidak mempengaruhi bentuk asli. Foto-foto keluarga Dr. Angka terpasang di sudut-sudut dinding dan di atas almari tua.

Disadur dari berbagai Sumber..

Isa Rachmatawarta – Arek Jombang yang jadi Komisaris Telkom & Dirjen Kekayaan Negara Kementrian Keuangan RI

Isa Rachmatawarta adalah seorang pelaku ekonomi Indonesia yang saat ini menjadi Kepala Biro Perasuransian Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK). Isa menempati posisi tersebut sejak Mei 2006 hingga saat ini. Selain menjadi petinggi Bapepam-LK, ia juga tercatat sebagai dosen program sarjana Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Sebagai seorang tokoh yang berkecimpung di industri asuransi, Isa tentu banyak berurusan dengan isu-isu jual beli asuransi dan segala peraturannya, tidak hanya di dalam negeri namun juga di dunia internasional. Salah satu contohnya adalah ketika ia menanggapi reformasi asuransi kesehatan di Amerika Serikat tahun 2010 yang menitik beratkan pada mahalnya harga asuransi terutama ketika krisis moneter melanda negara tersebut.

Menurut Isa, biaya yang harus dikeluarkan masyarakat untuk membeli asuransi sangat tidak terjangkau kala itu sehingga menimbulkan keengganan untuk merealisasikan niat tersebut. Ia menambahkan bahwa ada tiga poin utama yang harus dipertimbangkan untuk mereformasi asuransi kesehatan di AS, antara lain mengedepankan kesadaran masyarakat mengenai program yang akan diselenggarakan pihak asuransi, melibatkan banyak pihak dalam pelaksanaannya, serta menyediakan pilihan dan transparansi harga.

Di Indonesia sendiri, Isa menilai bahwa reformasi perlu dilakukan dalam sektor transparansi biaya yang dibebankan kepada pemegang asuransi, misalnya ketika ia menggunakan jasa rumah sakit. Hal ini tentu saja melanggar hak dan merugikan konsumen.

Dengan pemikiran-pemikiran cemerlang dan keahliannya dalam industri asuransi, Isa berhasil mengukir prestasi tersendiri dengan lolos seleksi Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan tahap IV bersama Firdaus Djaelani yang menjabat sebagai Kepala Eksekutif LPS. Isa berhasil mengungguli koleganya di Bapepam-LK yaitu Mulabasa Hutabarat, Kepala Biro Pembiayaan dan Penjaminan yang hanya berhasil menembus babak 37 besar di seleksi tersebut.

Tempat Lahir : Jombang 
Tanggal Lahir : Jumat, 30 Desember 1966

PENDIDIKAN

1. Sarjana Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dari Institut Teknologi Bandung.
2. Gelar Master of Mathematics dari University of Waterloo, Kanada.
3. Pendidikan keahlian di Fellow of The Society of Actuaries of Indonesia dan Associate of The Society of Actuaries.

KARIR
1. Komisaris Telkom – sampai sekarang
2. Direktur Jenderal Kekayaan Negara, Kementerian Keuangan (2017 sd sekarang), 
3 Staf Ahli Menteri Keuangan bidang Kebijakan dan Regulasi Jasa Keuangan dan Pasar Modal (2013 – 2017)
4. Kepala Biro Perasuransian Bapepam-LK (2006-sekarang)
5. Ketua Unit Pelaksana Penjaminan Pemerintah, 2004
6. Ketua Pengawas Badan Mediasi Asuransi Indonesia

PENGHARGAAN
Penghargaan Satyalancana Karya Satya 10 tahun, 2005

Edy Prasetyono, S.Sos. MIS, PhD, Ahli Pertahanan asli Arek Jombang.

Edisi kali ini menampilkan salah tokoh muda yang sangat unik, dan langka, karena keahliannya, khususnya dalam bidang Pertahanan / Defence dan Hubungan Internasional di Indonesia.

Edy Prasetyono, lelaki kelahiran Jombang, 21 Maret 1964. Alumni SPGN Jombang ini, adalah salah satu putrra terbaik Jombang, yang mampu menembus salah satu universitas terbaik di Indonesia, tepatnya, di FISIP UI jurusan Hubungan Internasional. Edy Prasetyono, kemudian melanjutkan jejang Master di University of Birmingham UK. Pada tahun 1995, ia mengikuti kursus singkat di National Security Studies di Kiel University Jerman. Pada tahun 1995 juga, ia mengikuti Simposium tentang Kajian Keamanan Asia Timur di AS-Pasifik Komando Hawaii di Amerika Serikat. Dia juga mengikuti program pelatihan di Institut Perdamaian Amerika Serikat, Hanoi, Vietnam.

Tahun 2001 menyelesaikan PhD, di University of Birmingham UK, , dalam bidang Pertahanan Eropa dengan melakukan Riset di Markas Besar NATO di Brussel Belgia, sejak tahun 1999.

Tak ayal, keahlian ini dilirik sama CSIS, sebagai salah satu lembaga kebijakan yang termasyur negeri ini, sebagai Head of International Relations. selain juga mengajar di Departemen Hubungan Internasional Universitas Indonesia sejak tahun 1995, Edy, Prasetyono memiliki beberapa pengalaman kerja. Selama 1990-2008 ia bekerja sebagai peneliti di Pusat Kajian Strategis dan Internasional (CSIS) Jakarta Indonesia. Pada tahun 1991, ia bekerja sebagai tamu tamu di Japan Institute of International Affairs (JIIA) Tokyo Jepang.

Dia bekerja juga sebagai tamu pada 1993 di Pusat Studi Pertahanan Australia, Akademi Angkatan Pertahanan Australia, Universitas New South Wales, Canberra Australia. Sejak 1992/1993 hingga sekarang ia bekerja sebagai dosen tamu di SESKO Angkatan Udara (SESKO-AU) Republik Indonesia. Sejak 1994/1995 ia juga bekerja sebagai dosen di SESKO Tentara Nasional Indonesia (SESKO-TNI) dan SESKO Angkatan Laut (SESKO-AL).

Selama 1994 / 1995-2007 ia bekerja sebagai dewan anggota untuk Kerja Sama Keamanan di Asia Pasifik (CSCAP). Selama 1999-2001 dia bekerja sebagai Editoral Board the Journal of Contemporary Security Policy. Frank Cass, London, Kerajaan Inggris. Selama 2001-2007 ia bekerja sebagai Kepala Departemen Hubungan Internasional di Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS) Jakarta Indonesia.

Sejak 2002 ia bekerja sebagai anggota Kelompok Kerja Indonesia tentang Reformasi Sektor Keamanan, Propatria, untuk merumuskan rencana untuk Undang-Undang Keamanan Nasional. Pada tahun 2002, ia bekerja sebagai anggota kelompok kerja Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bersama dengan SESKO-TNI untuk menyusun Doktrin Milataris (TNI).

Pada tahun 2003/2004 dia bekerja di kelompok kerja untuk menyusun Rancangan Undang Undang Tentang TNI . Pada tahun 2003/2004 dan 2007/2008 dia bekerja sebagai anggota kelompok kerja untuk membuat Peninjauan Kembali Pertahanan (Defence Review) di Departemen Pertahanan Republik Indonesia.

Pada 2003/2004 ia bekerja sebagai anggota kelompok kerja untuk menyusun Undang-undang Pertahanan Departemen Pertahanan Republik Indonesia. Pada tahun 2005/2006 ia adalah Kepala Kelompok Kerja Reformasi Intelijen, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik PACIVIS, Universitas Indonesia. Pada tahun 2008 ia bekerja sebagai anggota kelompok kerja “Restrukturisasi Bisnis Militer” di Institut Indonesia. Pada tahun 2006 ia menjadi Ketua Tim Peneliti “Pertahanan Indonesia di Abad ke-21”.

Pada 2007 dia menjadi dosen di Sekolah Strategi Perang Semesta SESKOAD Bandung Jawa Barat Indonesia. Dia juga memberikan beberapa dosen umum di seminar dan diskusi terutama di Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhanas atau Insitut Pertahanan Nasional), Departemen Pertahanan Republik Indonesia, dan Departemen Luar Negeri Republik Indonesia.

Berturut-turut pada tahun 2003 Edy Prasetyono diberi penghargaan “Satya Lencana Dwidya Sistha” dari Markas Besar Tentara Angkatan Laut Republik Indonesia dan Pada ada tahun 2004 ia juga diberi penghargaan Satya Lencana Dwidya Sistha dari Mabes TNI. Puncaknya, pada tahun 2012, Presiden Republik Indonesia memberikan penghargaan “Satya Lencana Dwidya Sistha.

Setelah bertahun tahun mengabdi di CSIS, keinginan untuk full mengajar di almamaternya, mendorongnya kembali ke FISIP UI jurusan Hubungan International, bahkan Karirnya melesat menjadi Wakil Dekan FISIP UI.

Pria kelahiran Desa Sumberagung Kecamatan Megaluh ini, ketika kecil Edy Prasetyono mengaku sering diceritai banyak kisah perjuangan heroik oleh sang bapak. Tidak hanya cerita pertempuran yang benar terjadi atau malah dialami sendiri oleh bapaknya, tetapi juga beberapa kisah pewayangan yang sarat nilai dan pesan moral.

Orangtua Edy seorang purnawirawan perwira Angkatan Darat yang memulai karier kemiliteran dari Tentara Republik Indonesia Pelajar dan terakhir berdinas di Komando Daerah Militer V Brawijaya.

Dari sekian banyak cerita, ada satu episode kisah pewayangan yang sangat menggugah dan terus diingat oleh dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia itu, bahkan sampai sekarang.

Cerita soal dilema tokoh pewayangan Kumbakarna sesaat sebelum maju ke medan pertempuran memerangi Raja Ayodhya, Rama, yang istrinya, Dewi Sita, diculik kakak Kumbakarna, seorang raja raksasa, Rahwana alias Dhasamuka.

Peperangan itu menjadi dilematis, terutama karena Kumbakarna sadar perang disebabkan alasan yang salah. Namun, di sisi lain, dia tetap harus membela dan mempertahankan bangsa serta tanah airnya dari serangan negara lain. Kumbakarna pun sempat memperingatkan Rahwana soal itu.

Menurut Edy, loyalitas dan heroisme Kumbakarna identik dengan prajurit TNI, termasuk bapaknya sendiri, yang semasa aktif juga terlibat dalam pertempuran membasmi pemberontakan di sejumlah wilayah RI.

Meski begitu, dilema yang dihadapi sekarang oleh para penjaga kedaulatan bangsa dan negara tentunya berbeda dan sangatlah kompleks dari sekadar dilema yang dipaparkan dalam kisah Kumbakarna di epik Ramayana tadi.

Sebagai seorang “anak kolong”, Edy mengaku paham benar persoalan kesejahteraan menjadi masalah utama yang konkret dan dihadapi sehari-hari oleh prajurit TNI, terutama berpangkat rendah, beserta keluarganya.

Kendala yang terutama disebabkan minimnya kemampuan negara dalam mengalokasikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara untuk keperluan pertahanan dimafhumi menjadi akar persoalan masih rendahnya kesejahteraan prajurit TNI hingga saat ini.

Tak Terhitung research paper yang telah dipubilkasikan, ini beberapa diantaranya.

1. Edy Prasetyono, 2010, “Transnational Threats: Its Nature, Impacts, and How to Deal With”, Indonesian Social Science Review, Vol. I, No. 2.
2. Edy Prasetyono, 2008, “Energy Security: An Indonesian Perspective”, in A. Marquina (ed.), Energy Security: Visions from Asia and Europe (New York and Basingstoke, UK: Palgrave Macmillan).
3. Andi Widjajanto and Edy Prasetyono, 2009, “Penguatan Komunitas Keamanan ASEAN untuk menopang Integrasi Nasional Indonesia” [“Strengthening ASEAN Political and Security Community to Support Indonesia’s National Integration], Research Project from the Directorate of Research and Community Service, Universitas Indonesia [DRPM UI].
4. Edy Prasetyono, 23 October 2009, “PR Departemen Pertahanan” [‘Homework of the Department of Defense”], Kompas Daily Newspaper.
5. Edy Prasetyono, 26 August 2009, “Mengapa Malaysia” [“Why Malaysia”], Kompas Daily Newspaper.
Sistem Keamanan Nasional Indonesia: Aktor, Regulasi, dan Mekanisme Koordinasi, a book co-authored with Ali A. Wibisono, Dwi Ardhanariswari, Broto Wardoyo and Makmur Keliat, 2008, Jakarta: Pacivis.
6. Edy Prasetyono, 11 March 2008, “DK PBB dan Nuklir Iran” [“UN Security Council and Iranian Nuclear”], Kompas Daily Newspaper.

Sumber : FISIP UI, CSIS, Tokoh ID, dan beberapa sumber lainnya

Mengenal Prof. Dr. Dra. Hj. Istibsjaroh, B.A., S.H, M.A, – Ulama Perempuan, kelahiran Jombang.

Prof Istibsjaroh, dikenal sebagai Guru Besar Ilmu Tafsir, di UIN/IAIN Sunan Ampel Surabaya ini memiliki rekam jejak yang luar biasa. Perempuan kelahiran Jombang, 19 September 1955 lalu, dia pernah menjadi anggota DPD/MPR RI. dan dinobatkan sebagai Ketua Komisi Perempuan Remaja dan Keluarga Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Riwayat Pendidikan

1. Madrasah Ibtidaiyyah ( MI ) Bulurejo Diwek Jombang (1965)
2. Mu’allimat VI Tahun Cukir Jombang (1971)
3. UNHASY Tebuireng Jombang (BA.) (1974)
4. Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Malang (1976)
Fakultas Hukum UNDAR Jombang (1997)
5. S2 Program Pascasarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya (2000)
6. S3 program Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (2004).

Sedangkan Riwayat Pekerjaan diawali berkarir sebagai Guru.sebelum menjadi legistatif, Dosen, anggota DPD RI, a.l
1. Guru MI Seblak Jombang (1971-1975)
2. Guru Madrasah Tsanawiyah Bulurejo Jombang (1975-1979)
3. Guru Madrasah Aliyah Negeri Purwoasri Kediri (1979-1991)
4. DPRD Kab. Kediri Anggota Komisi E (1992-1997)
5. DPRD Kab. Kediri Anggota Komisi A dan Ketua Komisi E (1997-1999)
6. Dosen Fakultas Syari`ah IAIN Sunan Ampel Surabaya (1999-2009)
7. Guru Gesar Ilmu Tafsir pada IAIN Sunan Ampel Surabaya (2004- Sekarang)
8. Dosen Pascasarjana IAIN Sunan Ampal Surabaya (Sekarang)
9. Anggota DPD RI, MPR RI priode 2009-2014
Pengabdiannya di dunia Pendidikan dan Nahdhatul Ulama, MUI, juga luar biasa antara lain :

1. Ketua Forum Muballighah Peduli Perempuan dan Anak (FMP2A) Provinsi. Jatim.
2. Wakil ketua PSG/PSW PTAI-PTAIS Se-Jatim. 
3. Penasihat Pusat Studi Gender (PSG) IAIN Sunan Ampel Surabaya.
4. Wakil Ketua PW LP Ma`arif NU Jawa Timur.
5. Wakil Ketua Muslimat NU Wilayah Jawa Timur.
6. Dewan Pakar Muslimat NU cabang Surabaya.
7. Dewan Pakar Muslimat NU cabang Kabupaten Kediri.
8. Wakil Ketua Ikatan Alumni Sunan Ampel/IKASA. 
9. Penasehat IQMA IAIN Sunan Ampel.
10. Pengurus Lembaga Pengembangan Tilawah al-Qur’an (LPTQ) Prop. Jatim. 
11. Penasihat Jama’iyyatul Qurra’ wal Huffadz Wilayah Prov. Jatim.
12. Sekertaris Ikatan Qori, Qori’ah, Hafiz, Hafizah (IPQAH) Prov. Jatim.
13. Penasehat Ikatan Qori, Qori’ah, Hafiz, Hafizah (IPQAH) Pusat.
14. Dewan Pakar Majelis Ulama’ Indonesia (MUI) Prov.Jatim. 
15. Ketua Forum Komunikasi Perempuan Lintas Agama (FKPLA) Jawa Timur.
16. Pengasuh Pondok Pesantren al-Hikmah Purwoasri Kediri.
17. Ketua STIT al-Urwatul Wutsqo Bulurejo Diwek Jombang.

Beliau juga dikenal sangat produktif menulis Buku dan karya ilmiah. Karya-karya ilmiah, Buku, yang pernah dipublikasikan antara lain :

1. Peranan Pendidikan Membaca Al-Qur’an pada Anak-Anak Bagi Pembinaan Akhlak di Kecamatan Diwek Kab. Jombang, (Skripsi Fak.Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Malang 1979).
2 Peningkatan Kemampuan Pendapatan Asli Daerah Kab.Kediri (PAD) Dalam Rangka Pembangaunan Daerah (Skripsi UNDAR Jombang,1998).
3. Problematika Pembiayaan Pendidikan Islam (Studi Kasus Kab.Kediri), Tesis Program Magister IAIN Sunan Ampel Surabaya, 2000).
4. Konsep Relasi Gender dalam Tafsir Al-Sya’rawi (Disertasi Program Doktor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2004).
5. Tafsir Ayat-Ayat Ahkam (Diktat Kuliah).
Ilmu Hukum (Diktat Kuliah).
6. Analisis Hukum Islam Terhadap Batas Usia Perkawinan dalam Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 (penelitian individual).
7. Gender Dalam Islam Perspektif al-Qur’an dan Hadits (Penelitian Individual)
8. Buku ”Hak-Hak Perempuan Relasi Gender” (Jakarta, Teraju Mizan, 2004)
9. Buku “Poligami Dalam Cita dan Fakta” (Jakarta: Blantika Mizan, 2004)
10. Kontributor Buku ”Perempuan dalam Perspektif dan Aksi” (Surabya, IAIN Pres & Sinar Jaya, 2006).
11. Buku ”Aborsi dan Hak-Hak Reproduksi Dalam Islam” (Yogyakarta, LKiS)
12. Buku ”Menimbang Hukum P0rn0grafi, P0rn0aksi” (proses terbit)
13. Tulisan lainnya dalam berbagai jurnal baik yang sudah terakreditasi maupun yang belum terakreditasi.

Kiprahnya yang positif dan membanggakan membuatnya mendapatkan sejumlah prestasi dan penghargaan antara lain dari :

1. Menteri Agama R.I. Juara II MTQ Nasional Tingkat Remaja tahun 1972.
2. Menteri Agama R.I. Hakim Nasional MHQ 10 dan 20 juz Tahun 2001 di Jakarta.
3. Menteri Agama R.I. Hakim Nasional Tafsir al-Qur’an Bahasa Indonesia tahun 2002 di Mataram.
4. Menteri Agama R.I. Hakim Nasional Tafsir al-Qur’an Bahasa Indonesia dan MHQ 30 juz tahun 2003 di Palangkaraya.
5. Menteri Agama R.I. Hakim Nasional Tafsir al-Qur’an Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris tahun 2004 di Bengkulu.
6. Menteri Agama R.I. Hakim Nasional Bidang Tilawah tahun 2005 di Gorontalo.
7. Presiden R.I. Satya Lencana Karya Satya 30 Tahun.
Pemakalah pada acara Annual Conference Islam tahun 2006 di Bandung.
8. Wisudawati Terbaik S-3 (Commeloude) tahun 2004 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
9. Sebagai Narasumber dan Pembicara pada Seminar dan Lokakarya baik tingkat Regional maupun Nasional.
10. Woman International Award tahun 2011.
11. Best Mother Award tahun 2012.
12. Indonesian Most Popular tahun 2012

Disunting dari Berbagai Sumber.