Mengenang, Prof. Dr. Hari Poerwanto, Guru Besar Antropologi FIB UGM, Penggagas Ide Asimilasi Etnis China bagi Integrasi Nasional Bangsa Indonesia,

Legenda Jombang, kali ini menampilkan tokohnya dari UGM, setelah sebelumnya dari ITB, ITS, UI, UIN, Salah satu yang ingin kami angkat adalah mengenang jejak Prof. Dr. Hari Poerwanto, Pria kelahiran Jombang, 18 November 1946 lalu,

Beliau dikukuhkan sebagai guru besar pada 29 Mei 2003 dengan pidato pengukuhan yang berjudul “Orang China di Indonesia dan Masalah Integrasi Nasional.

Dan tahun 2014, lalu, beliau telah meninggalkan seluruh civitas akademika UGM, khusunya Fakultas Ilmu Budaya, meninggal dunia pada Kamis, 6 Februari 2014.

Selama ini Prof. Dr. Hari Poerwanto telah mendarmabaktikan ilmunya secara luas. Salah satu sumbangsih almarhum adalah pada studi etnis China di Singkawang.

Disertasi beliau berjudul ‘Orang China Khek di Singkawang: Studi Tentang Asimilasi dalam Rangka Integrasi Nasional di Indonesia’

Ide dan pemikiran almarhum tentang asimilasi etnis China ini sangat penting bagi integrasi nasional bangsa Indonesia.

Proses integrasi tidak semata-mata ditentukan oleh persatuan namun juga turut didukung oleh tingkat kepuasan dan psikologis suatu suku bangsa tertentu

Disunting dari berbagai Sumber :

Guru Besar bidang oral medicine pada Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga Surabaya, kelahiran Jombang.

Sekali lagi, Aula Fakutas Kedokteran Unair, mampu menghipnotis diri sebagai tempat yang mengesankan. Tentunya, bagi dua Guru Besar yang baru dikukuhkan pada Sabtu (18/9) kemarin. Dimana tengah berlangsung upacara pengukuhan jabatan Guru Besar di lingkungan Universitas Airlangga. Prof. Dr. Hadi Soenartyo, drg. MSc., Sp.PM., Guru Besar bidang oral medicine pada Fakultas Kedokteran Gigi Unair.

Dalam pidato pengukuhannya, Prof. Dr. Hadi Soenartyo, drg. MSc., Sp.PM., menyampaikan pandangannya mengenai Candida Albicans dan Candidosis Rongga Mulut Sebagai Prediksi Dini Kesehatan. Oral medicine merupakan penyakit mulut yang paling muda. “Baru berkembang tahun 1970 an,” ujar mantan Pembantu Dekan I FKG ini. Bahasannya adalah jaringan kerak rongga mulut non bedah. Perlu diketahui, bahwa rongga mulut merupakan tempat pertama kali masuknya makanan ke dalam tubuh. Salah satu kelainan yang ada, disebabkan adanya berbagai macam mikroorganisme yang banyak ditemukan di rongga mulut, seperti bakteri, jamur, dan virus.

Candida albicans adalah salah satu jamur yang paling sering didapatkan dan merupakan mikroorganisme yang normal atau komensal di dalam rongga mulut. Tetapi karena merupakan jamur dimorfik, pada keadaan tertentu dapat berubah menjadi patogen, selanjutnya dapat menimbulkan infeksi yang disebut infeksi oportunistik.

Faktor-faktor sistemik seperti menurunnya ketahanan tubuh seseorang pada penderita HIV/AIDS, mempengaruhi timbulnya infeksi candida. Faktor lain dapat berupa kurangnya kebersihan rongga mulut, atau pemakaian gigi tiruan yang tidak ikuti aturan. Infeksi candida disebut Candidosis. Bila dibiarkan, secara lokal dapat berkembang menjadi candidal leukoplakia yang bersifat praganas. Secara klinis, infeksi candida dibagi dua, yakni dalam bentuk akut dan bentuk kronis. Menurut

Guru Besar kelahiran Jombang ini, penatalaksanaan infeksi ini dituntut kesabaran dan ketekunannya. Karena sifat jamur yang mampu bertahan, meski lingkungan hidupnya tidak menguntungkan. “Pemilihan obat anti jamur yang tepat, merupakan kunci keberhasilan,” ungkap Ketua IPMI Surabaya ini. Baik itu dalam bentuk topikal maupun per oral, peningkatan kebersihan rongga mulut, serta adanya evaluasi secara periodik.

Akibat timbulnya berbagai macam kelainan di jaringan lunak rongga mulut, kegiatan ilmiah mulai banyak dilakukan. Pada tahun terakhir ini, Depkes juga telah menetapkan bahwa Rumah Sakit Tipe B juga diharuskan memiliki tenaga ahli di bidang oral medicine dan bedah mulut. Filosofi Patient Centered telah mendorong Oral Medicine untuk berperan sebagai tali pengikat dan jembatan antara ilmu kedokteran dan ilmu kedokteran gigi. “Perkembangan ini merupakan hal yang menggembirakan. Terutama bagi masyarakat kesehatan dan umum,” ujar Prof. Dr. Hadi Soenartyo, drg. MSc., Sp.PM.

Sumber : Unair Surabaya

Profesor Multi-Ilmu ITS Surabaya, Danawati Hari Prajitno, wanita hebat kelahiran Jombang.

Pengangkatan Guru Besarnya terbilang unik, karena berbarengan dengan suaminya. Jadilah sepasang Suami Istri. Sepasang suami istri (pasutri) yang juga dosen di Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, Prof Dr Ir Kusno Budhikarjono, MT dan Prof Dr Ir Dra Danawati Hari Prajitno, SE, MPd secara bersamaan akan dikukuhkan menjadi Guru Besar (gubes) ITS ke-77 dan ke-78 pada 15 November 2008.

Selain pasutri, keduanya juga memiliki disiplin ilmu yang sama yakni mengajar di Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknologi Industri sejak tahun 1976 hingga sekarang. Prof Kusno mengatakan, keinginan untuk mengajukan diri menjadi guru besar tak lain pertama kali timbul atas dorongan dari istrinya. “Istri saya dulu adalah mahasiswa saya di ITS,” kata Kusno saat ditemui di ITS, Kamis.

Menurut dia, saat menikah tahun 1976, ia dan istrinya memang sama-sama mempunyai hobi sekolah. Berbagai disiplin ilmu mereka timba bersama mulai dari bahasa Inggris, sampai ilmu ekonomi mereka kejar bersama.

Hanya saja, di bidang ilmu Teknik Kimia, justru Danawati yang lebih dulu berhasil meraih gelar doktor. “Saya lulus doktor 1999, Pak Kusno ini baru mau melanjutkan S2 pada 2001,” kata wanita energik yang akrab disapa Dana ini.

Sebenarnya Kusno tidak mau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi karena faktor usia. Namun karena dorongan istrinya, akhirnya menginjak usia ke-53, Kusno baru mengambil Pascasarjana Teknik Kimia di ITS.

Sementara Kusno melanjutkan S2, Dana memilih untuk mengambil kuliah di bidang Bahasa Inggris di IKIP PGRI. Hal itu dilakukan untuk mengisi waktu. Dana sudah beberapa kali diminta untuk mengurus pengajuan berkas guru besar, namun ia memilih menunggu suaminya.

Penantian selama tujuh tahun ini akhirnya membuahkan tambahan dua gelar sarjana, dan dua gelar master untuk Danawati. “Daripada menunggu, saya sekolah lagi S1 dan master Bahasa Inggris, dan S1 dan master Ekonomi,” katanya.

Baru pada bulan Februari 2008, mereka akhirnya mengurus pengajuan guru besar ke Jakarta. “Kebetulan sekali, SK-nya turunnya juga bareng per 1 April 2008, tapi kami baru terima sekitar Agustus 2008,” kata ibu tiga anak ini.

Dana bersyukur SK pengangkatan guru besar mereka turun bersamaan. Sebab, menurutnya, hal ini langka. “Biasanya SK istri turun dulu, baru suami. Baru pengukuhannya yang bareng. Kalau ini benar-benar bareng,” katanya.

Istimewanya lagi, angka kredit mereka pun sama persis, 1010. Untuk memenuhi jabatan sebagai guru besar, hanya diperlukan 850 poin. “Kami sama-sama punya sisa 160 poin. Persis sama,” kata wanita kelahiran Jombang, 29 Juli 1951 ini.

Dana menekuni bidang “mixing” dan desain reaktor sedangkan Kusno bidang ilmu perpindahan massa dan panas. Walaupun sebenarnya berbeda, namun Dana dan Kusno saling mendukung satu sama lain.

Dana meneliti tentang gabungan beberapa “impeller” untuk proses “mixing”. Dari hasil sekolah doktornya di University of Birmingham Inggris, Dana mendapatkan kesempatan untuk meneliti “impeller” yang masih sangat jarang dan unik desainnya. “Namanya APV-B2, waktu saya ambil doktoral, alat itu masih baru, masih belum ada hak patennya,” katanya.

Alat ini mempunyai kelebihan karena mempunyai pola “mixing axial”, bukan seperti alat “mixing” konvensional yang mempunyai pola radial. Hasilnya ternyata lebih efisien, powernya lima kalinya dan mixing timenya hanya separuhnya.

Sedangkan Kusno memfokuskan untuk meneliti perpindahan massa dan panas. Hal ini merupakan sebuah dasar bagi seorang sarjana teknik kimia. “Ini seperti pelajaran dasarnya kimia,” katanya. ant/is

Sumber : Republika, JPNN.

Berkenalan, dengan Arek Jombang, Pakar Pertanian, IPB DR. Ir. Arief Daryanto,DipAgEc, MEc,

Mungkin pembaca Legenda Jombang, pernah mendengar bahwa Presiden Indonesia ke V I, Bpk, Soesilo Bambang Yudhoyono adalah alumni program S3 (Doktor) di IPB.

Nah kali ini kita berkenalan dengan, arek Jombang yang menjadi saksi hidup SBY sekolah S3 di IPB, karena kebetulan, beliau saat SBY kuliah diamanahi menjadi Direktur Program Pascarjana Manajemen dan Bisnis IPB, dimana Presiden SBY kala itu mengambil Doktornya di jurusan tersebut.

Iya, siapa lagi kalo bukan, DR. Ir. Arief Daryanto,DipAgEc, MEc, Pria Kelahiran Jombang, 18 Juni 1961 adalah salah satu Alumni SMPP Negeri Jombang tahun 1980, yang melanjutkan jenjang sarjananya di IPB,

Setelah lulus, melanjutkan 2 pendidikan master, di Australia, S2 (Magister) University, of New England Armidale, Australia 1988 Postgraduate Diploma in Agricultural Economics and Business Management dan S2 (Magister) University of New England Armidale, Australia 1990 Master of Economics.. Setelah lulus, kemudian melanjutkan jenangan S3 (Doktor) University of New England Armidale Australia 1999 PhD in Economics.

Pengalaman organisasinya luar biasa, beliau, pernah menjadi President, International Muslim Students’ Association at UNE Australia, 1995 – 1996, 
President, Indonesian Students’ Association at the University of New England (UNE) Australia, 1989 – 1990 Vice President, Indonesian Muslim Scholar Association (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia), University of New England, Australia. 1995 – 2000.

Saat ini DR. Arief Daryanto, diamanahi sebagai Dekan Sekolah Vokasi IPB. Sangat aktif menulis, dan tak terhitung, hasil karya dan publikasi ilmiahnya, berikut adalah sebagian darinya, a.l

1. 1996 Daryanto, A., Applications of Input-Output Analysis, Bogor Agricultural University, Bogor
2. 1996 Rusli, S., Krisnamurthy, B., Daryanto, A. and Syaukat, Y., Profil Kemiskinan di Propinsi Riau, Penerbit Gramedia, Jakarta
3. 1995 Rusli, S., Daryanto, A., Sumardjo,S. and Daryanto, H., Kajian Indeks Mutu Hidup di Kabupaten Indragiri Hulu Propinsi Riau, Penerbit Gramedia, Jakarta
4. 1989 Daryanto, A., Dasar-Dasar Ekonomi Sumberdaya, Jurusan Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian, Bogor Agricultural University, Bogor
5. 2004 Patrick, I., Simmons, P. and Daryanto, A., Contract farming in Indonesia: Smallholders and Agribusiness Working Together, ACIAR Technical Reports No. 54, Australian Center for International Agricultural Research (ACIAR), Canberra
6. 2006 Daryanto, A.. Peningkatan Dayasaing Sektor Perikanan Melalui Pendekatan Klaster, TROBOS 7(84), September 2006, 66-67
7. 2006 Daryanto, A., Pendekatan Klaster Sebagai Alternatif Strategi Pengembangan Industri Peternakan, TROBOS 7(83), Agustus 2006, 62-63
8. 2006 Daryanto, A., Ekonomi Poltik Impor Chicken Leg Quarter di Indonesia, TROBOS 7(82), Juli 2006, 54-55
9. 2006 Daryanto, A., Persusuan Indonesia: Kondisi, Permasalahan dan Arah Kebijakan, TROBOS 7(81), Juni 2006, 58-59
10. 2006 Daryanto, A., Contract Farming : Sumber Pertumbuhan Baru dalam Bidang Peternakan, TROBOS 7(80), Mei 2006, 58-59
11. 2006 Daryanto, A., Pentingnya SDM Berkualitas dan Peran Serta MMA-IPB dalam Mewujudkannya, TROBOS 7(79), April 2006, 58-59
12. 2005 Daryanto, A., Revitalisasi Pertanian: Arah Baru Pembangunan Pertanian, Agrimedia 10(2), 1-5
13. 2005 Siregar, H. and Daryanto, A., Perkembangan dan Diversifikasi Ekspor Indonesia, Jurnal Manajemen dan Agribisnis 2(2), 157-166.
14. 2003 Daryanto, A., Disparitas Pembangunan Perkotaan-Perdesaan, Agrimedia 8(2), 30-39.
15. 2001 Daryanto, A. Social Accounting Matrices: Model for Development Policy Analysis, Mimbar Sosek (Journal of Agricultural and Resource Socio-Economics) 14(3), 23-43
16. 2001 Daryanto, A., Hutang Luar Negeri Indonesia: Masalah dan Alternatif Solusinya, Agrimedia 7(1), 16-23
17. 2001 Daryanto, A., Peranan Sektor Pertanian dalam Pemulihan Ekonomi, Agrimedia 6(3), 42-47
18. 2001 Growth and Structural Change in the Indonesian Economy: An Input-Output Perspective, Mimbar Sosek (Journal of Agricultural and Resource Socio-Economics) 13(3), 1-22
19. 2000 Daryanto, A., Indonesia’s Crisis and Agricultural Sector: the Relevance of Agricultural Demand-Led Industrialization, Politics Administration and Change 33, 41-54
20. 1999 Daryanto, A., Structural Change and Determinants of Agriculture’s Relative Decline, Mimbar Sosek (Journal of Agricultural and Resource Socio-Economics) 12(3), 75-94
21, 1999 Simmons, P. and Daryanto, A., Agribusiness in Indonesia After the 1997 Financial Crisis, UNEAC Asia Papers 2, 53-62
22. 1999 Simmons, P. and Daryanto, A., Indonesian Agribusiness in the Aftermath of the East Asian Economic Crisis, Agrimedia 5(3), 38-43
23. 1999 Daryanto, H. and Daryanto, A., Motivational Theories and Organization Design, Agrimedia 5(1), 56-63
24. 1999 Daryanto, A. and Daryanto, H., Model Kepemimpinan dan Profil Pemimpin Agribusinis di Masa Depan, Agrimedia 5(1), 6-17
25. 1995 Daryanto, A. and Morison, J.B., The Structural Change of the Indonesian Economy: An Input-Output Decomposition Approach, Australasian Journal of Regional Science 1 (1), 65-87
26. 1994 Daryanto, H. and Daryanto, A., Measurement of Structural Decomposition Analysis of Indonesian Employment: An Input-Output Perspective, Mimbar Sosek (Journal of Agricultural Socio-Economics) 8, 141-156
27. 1992 Daryanto, A. and Morison, J.B., Structural Interdependence in the Indonesian Economy, with Emphasis on the Agricultural Sector, 1971-1985: An Input-Output Analysis, Mimbar Sosek (Journal of Agricultural Socio-Economics) 6, 74-99.

SUmber: Personal Blog, dan Sumber lain

Mengenal Dekat, arek Jombang Guru Besar Ilmu Pendidikan Anak Berbakat dan Mantan Rektor 2 Periode Univ Negeri Yogyakarta.

Iya, edisi kali ini Legenda Jombang menampilkan kembali salah satu putra terbaik Jombang,. Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A. putra kelahiran Jombang, 10 Januari 1957 adalah Guru Besar dalam bidang ilmu Pendidikan Anak Berbakat pada Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta.

Pernah menjabat rektor Universitas Negeri Yogyakarta untuk periode 2009-2017 ketua III Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) masa bakti 2014-2019[3], ketua umum Asosiasi Profesi Pendidikan Khusus Indonesia (APPKhI) periode 2011-2016 dan Ketua Tanfidliyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama DIY masa bakti 2011-2016

Sosok yang dekat dengan kyai ini memulai pendidikan di SD Negeri Karangprabon, Blimbing, Kesamben, Jombang (1971). Setelah itu melanjutkan pada Pendidikan Guru Agama (PGA) 4 Tahun Pancasila, Kesamben, Jombang, Jatim (1975) dan Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) 6 Tahun Mojokerto, Jawa Timur (1977) dan SGPLB Surabaya (1980).

Jenjang S-1 ia selesaikan pada jurusan Pendidikan Luar Biasa (PLB), FIP, IKIP Bandung. Jenjang S-2 berhasil ia selesaikan pada program Bimbingan dan Konseling, PPS IKIP Bandung dan Curriculum and Instruction for Elementary Education, College of Education, University of Iowa Amerika Serikat (1995). Sedangkan S-3-nya lulus 2003 pada konsentrasi Bimbingan dan Konseling, PPS Universitas Pendidikan Indonesia.

Rochmat kecil lahir dari keluarga sederhana di Jombang. Ayahnya merupakan seorang petani di Blimbing, Kesamben, Jombang, yang tidak lulus SD. Kondisi keluarganya yang sederhana tidak menghalangi ia untuk meraih sukses. Rochmat kala itu memiliki motivasi belajar yang tinggi. Pagi belajar di SD sedang sore hari menuntut ilmu pada madrasah diniyah (madin). Pria berkacamata ini saat masih sekolah senang membantu pekerjaan orang tuanya di kebun. Ia tidak lelah untuk terus belajar walaupun merasa capek karena membantu pekerjaan orang tua. Di samping itu, ketika berangkat sekolah, ia juga bonceng temannya yang sudah mempunyai sepeda onthel

Debut organisasi alumnus UPI ini cukup tinggi. Ia pernah menjabat ketua I pengurus besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) periode (2009-2013), ketua umum pengurus pusat Asosiasi Profesi Pendidikan Khusus Indonesia (APPKhI) periode 2011-2015, ketua pengurus wilayah Nahdlatul Ulama provinsi DIY masa bakti 2011-2016, ketua III pengurus pusat Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) masa bakti 2014-2019, bendahara Umum Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI) periode 2014-2016, ketua umum Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tingggi Negeri (SNMPTN) tahun 2015 dan anggota dewan pertimbangan Forum Rektor Indonesia (FRI) tahun 2015.

Rochmat Wahab yang senang berorganisasi itu terpilih kembali menjadi rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) untuk periode kedua kalinya, periode 2013-2017. Ia berhasil menyisihkan pesaing beratnya,Prof. Dr. Pratomo Widodo, MPd dari FBS dan Dr. Suyanta dari FMIPA. Saat pemilihan rektor yang kedua tersebut berhasil meraih suara sebanyak 88 suara[2]. Sebelumnya Rochmat Wahab menjabat Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) periode 2009-2013.

Kesibukannya sebagai pimpinan UNY tidak menghalanginya untuk aktif di organisasi keagamaan. Rochmat Wahab memimpin ormas keagamaan dengan didaulat menjadi ketua PWNU DIY periode 2011-2016. Ia yang dibesarkan dari keluarga nahdiyin berkomitmen untuk terus di NU. Istri dari Rochmat Wahab merupakan cucu dari tokoh pendiri NU, KH A. Wahab Hasbullah. Para gurunya juga ustadz dan kiai yang dilahirkan dari rahim pesantren. Maka dari itu, ia tidak meninggalkan NU dan ingin terus mengabdikan diri di ormas Nahdlatul Ulama.

Sumber : Wikipedia

Prof. Dr. Hj. Juwairiyah Dahlan, MA, Arek Jombang, Guru Besar IAIN Sunan Ampel, Bidang Bahasa dan Sastra Arab

Ada yang berbeda ketika Guru Besar IAIN Sunan Ampel Surabaya bidang Bahasa dan Sastra Arab berbicara tentang Hari Ibu. Ketika dimintai komentar soal ibu, Prof. Dr. Hj. Juwairiyah Dahlan, MA langsung menyitir syair asy-Syauqi: “al Ummu madrasatun idza a’dadtaha syaiban thayyibal a’raq” (Ibu laksana taman pendidikan, jika dipersiapkan dengan matang).

Untuk berfungsi sebagai madrasah, seorang ibu harus memenuhi prasyarat; memiliki sifat cerdeik-cendekia, punya kesabaran ekstra dan ketabahan, serta memiliki pendidikan yang cukup. “Namun demikian, dengan berbagai kelebihan itu tak lantas menurunkan ketataannya pada suami,” tukasnya mengingatkan.

Tapi yang disayangkan putri pasangan Dahlan dan Fatimah ini, kini peran ibu sebagai madrasah bagi anak-anaknya makin terkikis. Sebab para wanita lebih suka memilih karir publik ketimbang domestik. “Berkarir itu sah-sah saja. Tapi perlu dipilih mana yang masih memungkinkan untuk tetap bisa merawat dan mendidik anak,” ujarnya. “Jadi, jangan sampai lebih mengutamakan karir dengan meninggalkan tanggung jawab terhadap keluarga,” tegasnya.

Sebab hilangnya tanggung jawab itulah, yang berimbas pada terjadinya kenakalan remaja. Oleh karenanya dirinya menyarankan, agar seorang ibu memiliki kepekaan yang tinggi terhadap perubahan perilaku dan sifat anaknya. “Makanya seorang ibu itu dituntut untuk mendalami agama. Jika hal ini bisa teraih, tentu keluarga akan terselamatkan,” paparnya. “Jadi.. antara kesabaran, keteladanan dan kontrol harus tiada henti. Dan yang terpenting lagi, seorang ibu harus berani hidup sengsara karena Allah,” tandasnya.

Juwairiyah Dahlan lahir di Jombang pada tanggal 29 Agustus 1954. Masa kecilnya lebih banyak dihabiskan di kampung halamannya bersama neneknya Mbah Haji Asma Hasyim. Banyak kenangan semasa kecil yang tersimpan di memori jiwanya; memanjat pohon sawo sebelah rumah, loncat tali bersama teman-teman, lomba balap lari, dan sejuta kenangan indah lainnya.

Yang tak bisa dilupakannya, ketika dirinya harus rela berjalan tanpa alas kaki sepanjang 6 Km untuk pergi ke Madrasah Ibtidaiyah Nahdhatul ‘Ulama’ (MINU) di Tapen. “Itu terjadi sekitar tahun 1962 hingga 1965-an,” jelasnya. “Waktu di MI, hampir setiap tahun saya selalu menjadi juara kelas,” tambahnya sambil mengulum senyum.

Setelah itu dirinya melanjutkan ke PGAPNU (Pendidikan Guru Agama Pertama NU). Tapi hanya berlangsung selama satu setengah tahun. Lalu mondok ke pesantren Tambakberas. Karena nilai ijazahnya cukup bagus, langsung dimasukkan kelas 2 Tsanawiyah. Hal itu berulang kembali ketika dirinya mondok di pesantren Denanyar. Lagi-lagi karena nilai rapornya bagus langsung dimasukkan ke kelas 2 Aliyah.

Sejak remaja, istri (Purn.) Kol. Drs. HA. Fauzie, SH ini memang dikenal sebagai gadis yang cerdas. Bayangkan, ketika dirinya diminta mewakili kelasnya dalam lomba membaca kitab, pidato bahasa Arab dan Inggris, dia tampil sebagai juara pertama dalam tiga cabang lomba tersebut. “Saya merasa sebagai orang bodoh yang kebetulan saja selalu beruntung,” kilahnya merendah.

Saat nyantri di Denanyar inilah, ibu tiga anak ini selalu shalat berjamaah di samping kanan Bu Nyai. Lantaran cakap dalam al-Qur’an, dirinya kerap didapuk Bu Nyai sebagai badal untuk mengajarkan al-Qur’an. “Yang menggembirakan hati, seusai mengaji saya selalu memperoleh sebungkus nasi goreng dari Bu Nyai,” kenangnya.

Yang unik, pada tahun 1967 sebenarnya dirinya sempat memiliki ijazah UGA (Ujian Guru Agama) saat di Tambak beras. Tapi ijazah itu baru diketahuinya sekitar tahun 2003 lalu. Lho? “Barangkali ayah menyimpannya karena khawatir kalau saya tahu akan memilih mengajar ketimbang meneruskan kuliah,” paparnya memberikan alasan.

Terbukti, kemudian dia melanjutkan kuliah ke IAIN Sunan Ampel Surabaya. Meski awalnya merasa minder, berkat ketekunannya belajar akhirnya berhasil menyelesaikan Sarjana Mudanya. Padahal waktu itu dua pertiga teman sekelasnya tidak lulus. Karena proses menjadi sarjana penuh itu lama, di tengah penantiannya itulah dirinya lantas menikah sambil ikut mengajar di lab bahasa Arab IAIN Sunan Ampel. “Honornya seratus rupiah setiap pertemuan. Uangnya waktu itu masih bentuk recehan,” ucapnya sambil tertawa lirih.

Lantaran bersuamikan seorang perwira AL, dirinya sering ditinggal bertugas ke luar negeri. Untuk mengisi kekosongan waktu, dirinya diperkenankan untuk melanjutkan S2 di IAIN Sunan Kalijaga dan lulus tahun 1998. Ketika minta izin untuk melanjutkan ke jenjang S3, suaminya pun mengizinkannya. ”Anak-anak saya boyong ke Jogja. Jadi saya kuliah di sana sambil momong anak,” tuturnya. “Karena jarang sekali ketemu suami, ada teman yang menganggap saya sebagai istri kedua. Ya.. hal itu saya anggap sebagai gurauan saja,” tepisnya enteng.

Pada saat menempuh S3 inilah, dirinya sempat disambar perasaan jenuh yang amat sangat. Apalagi teman-temannya sudah banyak yang selesai. Lantas rasa jenuh itu pun dihilangkannya dengan saban hari mengurung diri di perpustakaan IAIN Sunan Kalijaga. Dengan banyak membaca itulah yang membuatnya berhasil merampungkan beberapa buku; Tarikh Adab Masa Kebangkitan, Sejarah Islam di Afrika Utara, Sejarah Sastra Arab Masa Andalus, Qosim Amin sebagai Patriotisme Mesir, serta Puisi Rifa’ah Tahtawi dan Patriotisme Mesir. “Buku-buku inilah yang juga turut menghantarkan saya dalam meraih Guru Besar,” kilahnya.

Pengalaman itu pula yang membuatnya selalu ingin menulis dan terus menulis. Banyak sekali buku – baik buku ajar maupun buku umum – yang telah berhasil ditulisnya. Bahkan sebagian besar telah diterbitkan oleh penerbit dan terpampang di toko-toko buku. Seperti Al-Islam Yuqarrir Huquq al-Islam, Hamka wa Manfaluthy Ittakhadza al-Adab Wasilatan li Islah al-Mujtama’, Problematika Pengajaran Bahasa Arab di IAIN Sunan Ampel Surabaya, dan Peranan Wanita dalam Islam; Studi Tentang Wanita Karir dan Pendidikan Anak.

Buku-buku lainnya, semisal Metode Belajar Mengajar Bahasa Arab, Sastra Arab Jahili, Sastra Arab Islami, Sastra Arab Abbasi, Sastra Arab Kebangkitan, Sastra Arab Andalus dan Mamalik, Puisi Syauqi Mengenai Pendidikan Anak, Islam di Afrika Utara, Puisi Baktsir dan Pendidikan Bangsa, Paradigma Baru dalam Pembelajaran Bahasa Arab, Al-Ma’arry dan Puisinya, serta Basyar bin Burdin dan Puisinya.

Itu masih secuil dari karya-karyanya. Sebab buku-bukunya yang lain masih seabrek. Sebut saja misalnya; Mahfudhat Ma’had dan Pendidikan Akhlak, Maqamat al-Hariri, Nasihat Ibn Qutaibah pada Fanatisme, Puisi Madh Ali bin Jahm, Taushiyah Abu Hayan pada Para Pemimpin, Puisi Madh al-Buhturi, Keberanian dan Kejujuran Umar bin Munqidz, Pidato Mushtafa Kamil Bapak Kemerdekaan Mesir, seta Thaha Husain Reformasi Pendidikan Mesir.

Juga karya-karya lainnya; Psikologi Pendidikan Islam dan Kesehatan Mental Islami, Tokoh Pemikir dan Pembaharu dalam Islam, Tokoh Puisi-Prosa pada Masa Modern, Abu al-Qasim al-Syabi dan Puisinya; Telaah Psikologi Sosial, Puisi Syauqi dalam Patriotisme Mesir dan Kerukunan Umat Beragama, Pasang Surut Puisi dan Prosa Masa Kebangkitan, Peranan Ahmad Khan dalam Pembaharuan dan Pendidikan, Antara Jamaluddin al-Afghani dan Abdullah Nadim dalam Kebangsaan dan Kesusastraan, serta Puisi Syauqi dalam Pendidikan Beriman dan Bernegara.

Disamping aktif menulis buku, Prof. Dr. Hj. Juwairiyah Dahlan, MA juga aktif dalam organisasi kemasyarakatan. Sejak tahun 1970 hingga 1977, dirinya aktif di Fatayat/Muslimat Jombang dan Wonocolo Surabaya. Dirinya juga pernah aktif ngisi ceramah di beberapa masjid di Jombang, Sidoarjo, Surabaya dan Yogyakarta.

Disamping itu dirinya juga bergabung dengan LSM FMPI (Forum Masyarakat Peduli Indonesia) sebagai Kasi Hubungan Luar Negeri. Forkemas (Forum Komunikasi Elemen Masyarakat Surabaya), Sevy Amira; Pusat Konsultasi para Perempuan/Anak Tertindas Surabaya, dan bergabung pula dengan JEN (Jaringan Epidemiologi Nasional) konsentrasi kesehatan reproduksi dan kesehatan mahasiswa, serta bergabung pula dengan UNIM (Universitas Islam Majapahit) Mojokerto sebagai Pembantu Rektor III.

Pengalaman Riset + Penulisan Buku
Penyelesaian BA/S-1/S-2/S-3; telah dicetak/terbit
1) Al-Islam Yuqarrir Huquq al-Islam. 
2) Hamka wa Manfaluthy Ittakhadza al-Adab Wasilatan li Islah al-Mujtama’.
3) Problematika pengajaran bahasa Arab di IAIN Sunan Ampel Surabaya.
4) Peranan Wanita dalam Islam (Studi Tentang Wanita Karir dan Pendidikan Anak).

Pelayanan masyarakat (ceramah agama) tiap bulan/minggu mengacu pada buku karya sendiri yang telah diterbitkan Jauhar Surabaya, 1999-2006, yaitu:
1) Pembinaan Mental dan Pedoman Hidup jilid I.
2) Pembinaan Mental dan Pedoman Hidup jilid II.
3) Kerukunan umat beragama di Propinsi Jatim pada semua Kepala Desa dan Aparat Desa Kecamatan Tegal Sari.

Pengembangan Ilmu/Tugas/buku: 
Penerbit karya anda Surabaya, 1992: telah menerbitkan buku pedoman dengan judul:
1) Metode Belajar Mengajar Bahasa Arab.

Penerbit Sumbangsih, Yogyakarta, 1990-1999, buku yang diterbitkannya:
1) Sastra Arab Jahili.
2) Sastra Arab Islami.
3) Sastra Arab Abbasi.

Penerbit Alpha Surabaya, 2000-2004 dengan buku yang diterbitkan yaitu:

1) Sastra Arab Kebangkitan.
2) Sastra Arab Andalus dan Mamalik.
3) Rif’a’ah Rafi’ Thahtawi dan Nasionalisme Mesir.
4) Qasim Amin dan Reformis Mesir.

Penerbit Diantama Surabaya, 2000-2005. Buku yang telah diterbitkan yaitu:
1) Puisi Syauqi mengenai Pendidikan Anak.
2) Islam di Afrika Utara.
3) Puisi baktsir dan Pendidikan Bangsa.
4) Paradigma baru dalam pembelajaran bahasa Arab.

Penerbit Jauhar Surabaya, 2005-2006. buku yang telah diterbitkan yaitu:
1) Al-Ma’arry dan Puisinya
2) Basyar bin Burdin dan Puisinya.
3) Mahfudhat Ma’had dan Pendidikan Akhlak.
3) Maqamat al-Hariri
4) Nasihat Ibn Qutaibah pada Fanatisme.
5) Puisi Madh Ali bin Jahm
6) Taushiyah Abu Hayan pada Para Pemimpin.
7) Puisi madh al-Buhturi.
8) Keberanian dan Kejujuran Umar bin Munqidz.
9) Pidato Mushtafa Kamil Bapak Kemerdekaan Mesir.
10) Thaha Husain Reformasi Pendidikan Mesir.

Buku yang diterbitkan oleh Penerbit Jauhar Surabaya, 2005-2006 (dalam pengembangan tugas /mengajar Pasca Sarjana):
1) Psikologi Pendidikan Islam dan Kesehatan Mental Islami jilid I & II.
2) Tokoh Pemikir dan Pembaharu dalam Islam, jilid I & II
3) Tokoh Puisi-Prosa pada Masa Modern.
4) Abu al-Qasim al-Syabi dan Puisinya, (Tela’ah Psikologi Sosial).
5) Puisi Syauqi dalam Patriotisme Mesir dan Kerukunan Umat Beragama.
6) Pasang surut Puisi dan Prosa Masa Kebangkitan.
7) Peranan Ahmad Khan dalam Pembaharuan dan Pendidikan.
8) Antara Jamaluddin al-Afghani dan Abdullah Nadim dalam Kebangsaan dan Kesusastraan.
9) Puisi Syauqi dalam Pendidikan Beriman dan Bernegara.

Makalah-makalah yang terbit dijurnal: Madania Fakultas Adab, 1998-2005, yaitu:
1) Syauqi Amir Syu’ara wa Syi’ruhu.
2) Ibnu Rumi wa Aristu (Dirasah Muqaranah).
3) Syi’ir Ibrahim wa tarbiyaht al-Athfal.
4) Bilal muadzdzin Rasulullah wa al-Jinsiyyah al-Islamiyah.

Makalah-makalah yang terbit dijurnal: Terakriditasi Akademika Pasca Sarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya, 2003, yaitu:

1) Mahmud Sami al-Barudi si raja Pedang dan Pena.
Makalah-makalah yang terbit dijurnal: Terakriditasi Akademika Pasca Sarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya dari tahun 1998- 2004, yaitu:
2) Wanita Karir dalam Islam.
3) Busana Wanita Karir Muslimah.
4) Piagam Madinah Pemersatu Umat.
5) Perkawinan Rasulullah dan penghapus Perbudakan dalam Islam.

Makalah yang terbit di Majalah al-Amin, milik Jawa Pos 22-2003, yaitu:
1) Wanita sebagai Kepala Negara.

Pengalaman Kemasyarakatan yang rutin:
1. Berorganisasi dengan Fatayat/Muslimat Jombang & Wonocolo Surabaya sebagai penceramah agama/ ustadzah; 1970-177.
2. Ustadzah di Masjid Syuhada Yogyakarta, 1990-1996.
3. Ustadzah di Masjid Kauman Sekaru Kabuh Jombang, 1975-1999.
4. Ustadzah di Masjid al-Munawwar Mega Asri Sidoarjo Jatim.
5. Ustadzah di Masjid al-Ikhlas Dupak Legundi Surabaya.
6. Ustadzah di Masjid al-Huda Dupak Rukun Pasar Surabaya.
7. Ustadzah di Masjid al-Ikhlas Kompleks Jala Bumi Amca Candi Sidoarjo Jatim.
8. Bergabung dengan Partai/Organisasi Golkar, 1980-2005, sebagai KASI POKJA KEAGAMAAN.
9. Bergabung dengan LSM FMPI (Forum Masyarakat Peduli Indonesia sebagai Kasi Hubungan Luar Negeri).
10. Bergabung dengan Organisasi Forkemas (Forum Komunikasi Elemen Masyarakat Surabaya), sebagai Kasi Pemberdayaan Perempuan.
11. Bergabung dengan UNIM (Universitas Islam Majapahit) Mojokerto dan masjidnya al-Kautsar, sebagai Pembantu Rektor III.
12. Bergabung dengan Sevy Amira – Pusat Konsultasi para Perempuan/Anak Tertindas Surabaya.
13. Bergabung dengan JEN (Jaringan Epidemiologi Nasional), konsentrasi kesehatan reproduksi dan kesehatan mahasiswa didukung dokter dan ilmuan ITS, IAIN, IDI, UNIBRA, UNESA, UNAIR dan BKKBN, bekerjasama dengan universitas-universitas Surabaya.

Pengalaman di Bidang Internasional:
1. Bergabung dengan tokoh dan Presiden Pakistan Zaul Haqq, dalam kunjungan dan Seminar Internasional di IAIN Surabaya, tahun 1978.
2. Bergabung Seminar dengan Rabithah ‘Alam Islami tahun 1979, pengusul sebagai pembicara dan sambutan atas nama mahasiswa IAIN Surabaya.
3. Mengikuti pendidikan “Worshop Education” diadakan oleh MC. Gill-Depag Indonesia –di Yogyakarta/Hotel Satria Nugraha, tahap 1, 6 bulan, 1996.
4. Bergabung dengan tokoh Hasan Langgulung Malaysia, dalam Seminar Internasional Pasca Sarjana IAIN Yogyakara tahun 1987.
5. Bergabung dengan tokoh Rif’at Hasan (India-Pakistan), dalam Seminar Internasional Pasca Sarjana IAIN Yogyakara tahun 1987.
6. Bergabung dengan tokoh Amerika asli Pakistan Fazlurrahman dalam Seminar Internasional Pasca Sarjana IAIN Yogyakarta tahun 1990.
7. Bergabung Seminar Internasional dengan UKM kerjasama Fakultas Ushuluddin IAIN Surabaya dengan UKM Malaysia, di Rektorat IAIN Surabaya pada 12-20 Mei 2006.
8. Bergabung Seminar Internasional dengan Australia, Jerman, Belanda, Indonesia dalam Seminar Kerukunan Umat Beragama dan Pluralisme, diadakan di IAIN di hotel satelit Surabaya, tahun 2004.
9. Bergabung Seminar dengan tokoh dan Rektor al-Azhar di Kantor Rektorat IAIN Sunan Ampel Surabaya, tahun 2000.

Penghargaan yang pernah diterima:
Lancana Karya Satya tahun, 10-12-2000.

Sumber : Ruangbening WordPress & Personal Blog CV

Arek nJombang, juga punya Pakar Marketing : Mengenal dekat Dr. Handito Hadi Joewono.

Handito Hadi Joewono, adalah sosok pencampuran antara konsultan intelektual, pengalaman, dan semangat bisnis. Didukung oleh nasionalisme semangat, motivasi untuk bekerja keras dan fress terlihat membuatnya dapat memberikan nilai bagi banyak orang untuk klien dan bangsa ini. Pria yang biasanya dipanggil Han ini adalah anak dari Hadi Joewono dan ibunya Sri Soehartini yang lahir 2 Oktober 1963.

Ia menghabiskan masa kecilnya sampai lulus SMA di pinggiran kota Jombang yang majemuk dan penghasil produk pertanian. Lulusan SMPPN / SMAN2 Jombang, dikenal bertekad kuat, kondisi lingkungan tersebut merupakan salah satu dorongan kuat sehingga akhirnya ia belajar di Institut Pertania Bogor (IPB).

Masa kecil Handito yang berada di lingkungan bisnis memberinya inspirasi untuk berwirausaha. Pengalaman bisnis pertamanya dimulai saat ia duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) yaitu berbisnis ayam petelor, meskipun ia harus merasakan kegagalan secara langsung karena ratusan ayam yang dipeliharanya terserang penyakit tetelo dan mati, ia tetap berpikiran positif karena adanya dukungan sang ayah.

Han merupakan alumni jurusan Teknologi Industri Pertanian (TIN) IPB yang mendapatkan gelar sarjananya pada tahun 1987, dan ia pun kembali meraih gelar Doktor Ilmu Ekonomi Pertanian di IPB tahun 2008.

Handto, tercatatat sebagai salah satu team inti yang turut bersama dengan Guru Marketing Indonesia, Hermawan Kartajaya, mengembangkan Markplus di Jakarta, menjadi salah satu konsultan Pemasaran ternama di Tanah air..

Jiwa kewirausahaan yang telah ia miliki sejak kecil kembali diwujudkannya saat ia kuliah S! di IPB, ia memproduksi dan menjual copy stensil koleksi soal ujian sebelumnya ke teman kuliahnya. Baginya, pengalaman berkuliah di IPB merupakan pengalaman yang sangat mengesankan. “Selama kuliah di IPB, saya belajar menjadi orang Indonesia yang ‘Bhineka Tunggal Ika’. Inspirasi bisnis di Arrbey yang bergerak di bidang konsultasi bisnis dan pemasaran pun saya peroleh saat saya kuliah S3 di IPB,” ujar Han.

Selain aktif berbisnis, Ayah dari Vania Stella, Roberto Evans, Alberto Hans, dan Davin Johann juga aktif dalam kegiatan organisasi. Handito bergabung dalam Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) sebagai anggota dan Kementerian Perdagangan RI sebagai juri Primaniyarta Award di tahun 2005 hingga 2011, ia juga bergabung dalam Lembaga Produktivitas Nasional sebagai anggota di tahun 2005 hingga 2013, sekaligus ambil andil menjadi anggota dewan pendidikan tinggi di Kementerian Pendidikan Nasional.

Salah satu prestasi besar yang ditrehkan Han ialah saat ia bergabung dengan salah satu organisasi bisnis terkemuka, Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia. Ia sempat menjadi sekretaris tim review RUU Perdagangan, ketua panitia pelaksana Rakornas Perdagangan KADIN, ketua pokja pemasaran dan pemrakarsa gerakan nasional gemar produk Indonesia, wakil ketua komite tetap pengembangan produk dan pemasaran, ketua komite tetap pendidikan, pelatihan, dan magang, ketua tim perumus roadmap SDM dan ketenagakerjaan, hingga pada tahun 2010, ia dipercaya menjadi ketua tim perumus buku butir-butir pemikiran sinergi dunia usaha, pendidikan, dan pelatihan dan pada tahun yang sama KADIN Indonesia mempercayakan ia sebagai ketua Panpel Eco Products International Fair.

Keaktifannya di KADIN Indonesia inilah yang kemudian membawanya dipercaya untuk menjadi ketua komite tetap peningkatan penggunaan produksi dalam negeri.

Perjalanan karirnya yang panjang tentu didukung oleh berbagai kegiatan dan keaktifan yang ia lakukan. Ia menapakkan jejak karirnya di PT. Branding Indonesia dan PT. Arrbey. Pada tahun 2007-2009 ia menjadi presiden PT. Branding Indonesia, kemudian di tahun 2009 ia menjadi chairman PT. Branding Indonesia, dan tentunya ia sebagai Direktur PT. Arrbey Indonesia sejak tahun 2003. Kontribusinya di PT. Arrbey memberikan peningkatan yang signifikan. Tahun 2005 sampai sekarang ia dipercaya menjadi Chairman PT. Arrbey International. Sejak tahun 2003-sekarang alumnus IPB ini semakin meneguhkan karirnya dengan menjadi president & chief strategy consultant Arbeyy Group (bidang konsultasi strategi dan pemasaran).

Sumber : Arrbey, IPB Alumni, dll.

H.M Lukminto, Pemilik Sritex – juragan tekstil, kelahiran Jombang.

Pria kelahiran Jombang, 1 Juni 1946, ini adalah dikenal salah satu raja tekstil yang gigih di Tanah Air, sebagai salah satu filantropis..

Tahun 1966, H.M Lukminto memulai kariernya di bidang tekstil dari Pasar Kelewer di Solo, Jawa Tengah.

Orang yang dijuluki sebagai raja batik itu dulunya hanya seorang pedagang di Pasar Klewer, Solo, Jawa Tengah. Ia mulai berbisnis tekstil sejak usia 20 tahun, tepatnya pada tahun 1966. Usai peristiwa G30S-PKI, pemerintah Orde Baru melarang segala sesuatu yang berhubungan dengan etnis Cina.

Akibat kebijakan itu, Lukminto yang kala itu masih duduk di kelas 2 SMA Chong Hua Chong Hui yang berbasis Cina harus berhenti sekolah. Sekolah Lukminto ditutup. Ia akhirnya mengikuti jejak kakaknya Ie Ay Djing atau Emilia yang telah lebih dulu berdagang di Pasar Klewer.

Orang tua Lukminto, memberikan modal Rp 100 ribu. Uang tersebut terbilang besar pada waktu itu. Dari modal itu, dia membeli kain belaco di Semarang dan Bandung. Kemudian menjualnya di Pasar Klewer, Pasar Kliwon dan sejumlah pabrik batik rumahan dengan berkeliling sejak pagi hingga petang.

Dari hasil berjualan keliling, pada Tahun 1967, Lukminto berhasil membeli dua buah kios di Pasar Klewer. Sejak mengembangkan toko itu lah, bisnis Lukminto makin berkembang.

Lukminto mulai mengembangkan industri tekstil pada tahun 1972 dengan mendirikan pabrik pertamanya di Semanggi Solo.

Pada sekitar tahun 1980-an, ia merelokasi dan membangun pabrik tekstil ke Desa Jetis, Sukoharjo dengan nama PT Sri Rejeki Isman atau sekarang lebih dikenal dengan sebutan PT Sritex. Dari lahan awal seluas 10 hektare, terus bertambah 65 hektare dan kini sudah mencapai 100 hektare lebih.

Tahun 1982 Sritex mendirikan pabrik Weaving. 10 Tahun kemudian (1992) mereka memperbesar pabrik dan produksi hingga menjadi perusahaan tekstil yang terintegrasi secara vertikal. Unit bisnis yang dimiliki Sritex menjadi Spinning, Weaving, Finishing dan Garment.

Pada Tanggal 3 Maret 1992, pabrik tersebut diresmikan Presiden Soeharto bersama 275 pabrik aneka industri lainnya di daerah Surakarta. Pada tahun itu juga Sritex mulai menggarap tekstil militer dalam negeri. Saat itu Sritex diminta menjadi penyedia logistik ABRI dalam bidang pengadaan seragam prajurit.

Sukses menggarap pasar dalam negeri, di tahun itu pula Sritex mencoba menembus Eropa. Kala itu German Army yang menjadi bidikan utamanya. Hingga akhirnya German Army mengakui kualitas seragam buatan PT Sritex.

Lukminto yang pernah memiliki nama Seger Waras ini resmi mengubah nama menjadi Haji Muhammad Lukminto sejak menunaikan ibadah haji pada 1994

Tahun 1994, Sritex mulai mengerjakan seragam pesanan pasukan negara-negara di bawah North Atlantic Treaty Organization (NATO). Sritex berhasil mengantongi sertifikat dari organisasi pakta pertahanan Atlantik Utara itu sehingga pesanan pun mulai berdatangan. Hingga kini Sritex telah membuat pakaian militer untuk lebih dari 33 negara.

Di bidang tekstil, Sritex menjadi perusahaan yang bergerak dari hulu ke hilir yang menjadikannya terbesar di Asia Tenggara. Produksi garmennya rata-rata 24 juta potong per tahun yang didistribusikan ke 40 negara.

Sritex mengerjakan busana pesanan label ternama, antara lain Uniqlo, Zara, JCPenney, New Yorker, Sears, serta untuk jaringan Walmart. Sritex juga memproduksi seragam militer yang diekspor ke 30 negara sejak tahun 1994, di antaranya negara-negara anggota North Atlantic Treaty Organization, selain untuk TNI/Polri.

Kelompok usaha dengan 40.000 karyawan ini juga memiliki hotel, restoran, dan proyek properti lainnya serta GOR Sritex Arena, dan tim basket Sritex Dragon yang berlaga di liga bola basket nasional WNBL

Tahun 2013 lalu Sritex resmi melantai di bursa saham dan merubah namanya menjadi PT Sri Rejeki Isman Tbk dengan kode emiten (SRIL). Mereka mengumumkan laba perseroan pada 2012 sebesar Rp 229 miliar. Capaian itu mengalami peningkatan sebesar Rp 68 miliar dibanding tahun sebelumnya.

H.M Lukminto meninggal dunia pada tahun 2014 di Singapura akibat sakit yang dideritanya.

Penghargaan :

1. Peng­har­ga­an Mu­ri atas pe­nye­dia se­ra­gam ang­kat­an ber­sen­ja­ta di du­nia de­ngan jumlah ter­ba­nyak, 16 ne­ga­ra, 2007
2. Peng­har­ga­an Mu­ri atas pem­ra­ka­sa dan pe­nye­lang­ga­ra pem­bu­at­an de­sain ka­in ter­banyak se­ba­nyak 300.000 de­sain, 2007
3. Peng­har­ga­an Mu­ri atas per­usa­ha­an yang me­lak­sa­na­kan upa­ca­ra ben­de­ra pa­da tang­gal 17 se­tiap bu­lan

Dari berbagai Sumber : wikipedia, Kompas, Tempo, dll

Mengenal Margaret Aliyatul Maimunah – Tokoh Muda Jombang, anggota Komisioner KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia)

Margaret Aliyatul Maimunah adalah putri kedua dari pasangan Bapak H. Mohammad Faruq dan Hj. Lilik Chodijah Aziz Bisri. Sejak kecil, ia menempuh pendidikannya di Pondok Pesantren Denanyar Jombang (MI-MTs-MAN). Pasca lulus dr MAN, ia kuliah di IAIN Sunan Ampel Surabaya, lalu menjadi mahasiswa Pascasarjana di Universitas Indonesia (UI), tepatnya di Program Studi Kajian Wanita.

Putri dari kabupaten Jombang di Jawa Timur ini sejak kecil memang aktif dan senang dengan dunia organisasi. sejak di MI hingga di MAN, ia aktif di OSIS, Pramuka, maupun olahraga. Selanjutnya, pada saat di kampus hingga saat ini, ia memiliki berbagai pengalaman di beberapa organisasi. Antara lain adalah Ketua Korp Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Putri di Rayon Adab, IAIN Sunan Ampel Surabaya (2000-2001), Ketua PMII Komisariat Adab Cabang Surabaya Selatan (2001-2002), pengurus di Pimpinan Wilayah Ikatan Putri-Putri Provinsi Jawa Timur sebagai Anggota Bidang Minat dan Bakat (1999-2001) dan Bendahara II (2001-2002), pengurus di Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama sebagai Sekretaris Umum (2006-2009) dan Ketua Umum (2009-2012), Pimpinan Pusat Fatayat Nahdlatul Ulama sebagai Wakil Koordinator Bidang Ekonomi (2009-2015) dan Sekretaris Umum (2015-2020). Pada saat menjadi Ketua Umum PP IPPNU, ia telah menginisiasi beberapa program, yaitu 1). Laskar Pelajar Putri Anti Narkoba, Anti Pornografi, Anti Radikalisme, dan Anti Kekerasan; 2) Rumah Pelajar; dan 3). Sekolah Kebangsaan Pelajar.

Liya, begitu dia biasa disapa, memiliki kepedulian terhadap berbagai persoalan dan upaya pemberdayaan kaum perempuan dan perlindungan anak. Usai lulus dari UI, ia langsung bergabung dengan lembaga penelitian perempuan, Women Research Institute (WRI). Sejak kuliah di UI, ia aktif melakukan berbagai penelitian mengenai perempuan dan anak, antara lain: Kehidupan Perempuan Pesantren yang Dipoligami serta Dampaknya terhadap Anak-anak; Perempuan yang Bekerja di Salon Spa di Jakarta; Perempuan Penderita HIV; Kebijakan tentang Terminal Tiga (terminal khusus TKI), implementasinya, dan dampaknya terhadap TKW yang bekerja sebagai Pembantu Rumah Tangga. Kegiatan penelitian nya tersebut terus berlanjut hingga bekerja di WRI. Selama di WRI, ia melakukan penelitian terkait masalah perempuan dan anak di berbagai provinsi di Indonesia, antara lain: Nusa Tenggara Timur, Jakarta, Riau, Banten, dan Bali. Berbagai topik penelitian yang dilakukannya yaitu: anggaran berkeadilan gender (gender budgeting), posisi buruh perempuan, pekerja anak perempuan, dan kesehatan perempuan.

Selain melakukan penelitian, Liya juga aktif menjadi Fasilitator dalam pelatihan-pelatihan maupun pembicara dalam seminar, konferensi dan workshop terkait dengan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak di berbagai komunitas hingga saat ini. Beberapa topik pembahasannya antara lain Advokasi Anggaran Berkeadilan Gender, Pengorganisasian Perempuan Korban Kekerasan, Pornografi, kepemimpinan perempuan, kekerasan berbasis gender, kesehatan reproduksi remaja, parenting, radikalisme, kaderisasi, aswaja, pemberdayaan ekonomi perempuan, trafficking, pekerja anak, analisas gender, dan lain sebagainya.

Putri kelahiran 11 Mei 1979 ini juga menulis beberapa artikel tentang perempuan dan anak. Antara lain adalah “Analisa Undang-Undang Ketenagakerjaan kaitannya dengan Perlindungan Maternalitas Buruh Perempuan”, di majalah EGALITA, Pusat Studi Gender, UIN Malang. 2012, “Perempuan Muda Menjadi Pemimpin, Siapa Takut?”, di majalah Rekanita, PP IPPNU, Jakarta. Agustus 2008, “Remaja Putri: Awas….. tertular HIV/AIDS”, di Majalah Rekanita, PP IPPNU, Jakarta, Januari 2008, “Haruskan Ujian Nasional Dilanjutkan?”, di Majalah Rekanita, PP IPPNU, Jakarta, Agustus 2007. Ia juga bahkan menulis beberapa buku terkait dengan perempuan, yaitu: “Perempuan Berdaya Nusantara Jaya: Landasan Advokasi Pemberdayaan Perempuan”, Paramuda Cendekia Muda. Jakarta. 2015, “Panduan Amaliah Ramadhan untuk Pelajar Putri”, kolaborasi dengan Latifatus Sun’iyyah, Litbang PP IPPNU. Jakarta. Agustus 2012, dan “Balada Buruh Perempuan: Tahan Hidup di Kota, Tahan Hidup di Desa”, kolaborasi dengan Aris Arif Mundayat, Erni Agustini, dan Keppi Sukesi, Women Research Institute. Jakarta. Juni 2008.

Pasca dari WRI, Liya bergabung menjadi Tenaga Ahli Komisi IX DPR RI (membidangi ketenagakerjaan, kesehatan, BKKBN, Badan POM, BNP2TKI) pada tahun 2008-2009. Pada tahun 2010-2014, ia bergabung sebagai Tenaga Ahli Komisi VIII DPR RI (membidangi agama, sosial penanggulangan bencana, pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak, BAZNAS), dan terakhir menjadi Tenaga Ahli Anggota Komisi X DPR RI (membidangi pendidikan dan kebudayaan, Pendidikan Tinggi, Pemuda dan Olahraga, Pariwisata) tahun 2014-2017. Sesekali, ia diminta juga mengajar mahasiswa di Universitas Indonesia pada Program Studi Kajian Wanita mengenai Metodologi Feminis dan Pengalaman Penelitian Perempuan.

Pada saat sebagai Tenaga Ahli di DPR, ia memiliki pengalaman dalam melaksanakan tugas fungsi DPR, yaitu anggaran, pengawasan, dan penyusunan beberapa Undang-Undang, antara lain: Undang-Undang nomor 23 tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat; Undang-Undang Pengelolaan Keuangan Haji yang disahkan pada tanggal 29 September 2014; Undang-Undang nomor 9 tahun 2012 tentang Protokol Opsional Konvensi Hak-hak Anak mengenai Keterlibatan Anak dalam Konflik Bersenjata; Undang-Undang nomor 9 tahun 2012 Protokol Opsional Konvensi Hak-Hak Anak Mengenai Penjualan Anak, Prostitusi Anak, dan Pornografi Anak; Rancangan Undang-Undang tentang Kesetaraan dan Keadilan Gender, belum disahkan; dan Rancangan Undang-Undang tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umrah, belum disahkan.

Sumber : KPAI.go.id

Laily Prihatiningtyas : Direktur Utama BUMN Termuda, asli Arek Jombang

Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) telah memiliki satu orang direktur utama termuda berjenis kelamin perempuan, untuk memimpin salah satu perusahaan milik negara. Dia adalah Laily Prihatiningtyas yang memimpin PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko.

Menteri BUMN Dahlan Iskan telah mengeluarkan Surat Keputusan (SK) pengangkatan Laily Prihatiningtyas sebagai Direktur Utama PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko (PT TWC) setelah Tyas (panggilannya) melalui uji kelayakan dan kepatutan yang digelar Kementrian BUMN dalam Rapat Pimpinan.

Tyas menjadi Direktur Utama PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko (Persero), menggantikan Ricky Siahaan. Tyas menjadi perbincangan karena karena perempuan Wanita kelahiran Jombang, 22 Desember 1985 menjadi Dirut termuda di usia 28 tahun di perusahaan plat merah tersebut.

Tyas yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Penyajian Informasi Divisi Riset dan Informasi Kementerian BUMN dan merangkap posisi Sekretaris Dewan Komisaris PT Perusahaan Pengelola Aset (Persero). Terpilihnya Tyas sebagai dirut baru PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko (Persero), karena dia dinilai memiliki latar pendidikan yang mumpuni. Setelah menamatkan pendidikan di Sekolah Akuntansi Negara, Tyas kemudian menempuh S1 di UI kemudian melanjutkan program S2 nnya di di Tilburg University Belanda.

Kini, predikat calon bos membuat hidupnya berubah. Saat menaiki elevator, beberapa kolega menggoda dengan memanggilnya “Ibu Dirut”. Tyas hanyalah gadis muda biasa saat masuk ke Kementerian BUMN pada 2007. Berasal dari Jombang, Jawa Timur, ia dicap tomboi saat kecil karena kerap bermain layang-layang. Tumbuh dalam suasana sederhana, dandanannya sejak remaja sampai kini tak berubah: berkerudung, celana bahan, dan tanpa gincu di bibir.

Masa awal kepemimpinannya di PT TWC, Tyas melakukan konsolidasi dengan jajaran manajemen PT TWC. Langkah ini dilakukan untuk menjaring aspirasi dan mengetahui persoalan yang dihadapi BUMN pengelola obyek wisata di Jawa Tengah dan Jogjakarta ini. “Saya bersama dengan BoD (board of director) sudah bertemu dengan karyawan juga dalam tahap audiensi dengan berbagai stakeholder,” sebutnya.

Berbagai kenangan pahit justru membuatnya berdiri tegak melawan setiap tantangan. Tyas melakukan banyak hal sendiri dan tidak pernah bergantung pada orang lain. Ia selalu menjadi bos bagi dirinya sendiri. “Yang penting, semua dilakukan bukan dengan sepenuh hati, tapi sebaik mungkin,” kata lulusan akuntansi keuangan Tilburg University, Belanda, ini.
Tyas akan berada di depan komputer sampai pagi untuk menyelesaikan tugas. Terkadang, dia membawa pulang pekerjaan. Cuma memejamkan mata beberapa jam, dia sigap bekerja kembali esok pagi.

Untuk menghilangkan rasa jenuh, Tyas mendaki gunung. Hobi ini ia geluti sejak empat tahun belakangan. Tiga pekan lalu, ia baru saja dari Lombok, mendaki Gunung Rinjani. Baginya, mendaki adalah bentuk relaksasi. Meski kegiatan ini menuntut kekuatan fisik, justru menjauhkannya dari rasa bosan. “Alam menghilangkan stres dari besarnya tanggung jawab pada pekerjaan sehari-hari,” katanya.

Mendaki gunung juga dia nilai bagus untuk melatih kepemimpinan, kepercayaan diri, dan kerja kelompok. Di atas gunung, ia bisa mengenal diri sendiri dan sifat asli para sahabatnya. Di situ, ia sadar bahwa setiap orang memiliki batasan dan butuh bantuan orang lain.

Kini, Tyas hanya memimpin empat anak buah. Namun, ketika menjadi Direktur Utama PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko nanti, ia akan memimpin sekitar 600 karyawan, termasuk pekerja alih daya. Secara jujur, ia terkejut saat mendapat informasi akan memimpin orang sebanyak itu. Tapi dia percaya bisa menginspirasi orang untuk bekerja. “Kepemimpinan harus bisa menggerakkan orang lain untuk bertindak,” kata pengagum berat Sri Mulyani ini.

Sejumlah prestasi telah dia catat di Kementerian BUMN. Salah satunya adalah menjadi pejabat eselon IV termuda di usia 26 tahun. Ia juga merangkap Sekretaris Dewan Komisaris PT Perusahaan Pengelola Aset (Persero) BUMN. Dengan posisi itu, ia selalu mengikuti rapat pimpinan dan bersentuhan langsung dengan para pengambil keputusan.

Pengalaman selama tujuh tahun di BUMN telah mengajarkannya untuk tidak memusingkan hal kecil yang tidak penting. Ia berfokus pada hal yang penting saja: keluarga, pekerjaan, teman, dan kesehatan. Sepertinya ia melewatkan satu hal: pasangan hidup. “Mungkin saya masih terlalu muda untuk berpikir tentang itu,” katanya sambil tertawa terbahak. Ely